JADI GURU DEMI CALON ISTRI

JADI GURU DEMI CALON ISTRI
17. Anak Baru


__ADS_3

Setelah upacara bendera selesai dilaksanakan. Menahan panas teriknya matahari, juga pengumuman dari Kepala Sekolah yang memakan waktu cukup lama.


Anila mengeluarkan buku tulis dari dalam ranselnya. Bukan sebab mau belajar, tetapi untuk menjadikannya kipas. Sama seperti yang dilakukan murid lainnya. Wajah mereka memerah sebab awan abu tak melindungi mereka dari teriknya matahari.


Mereka tak berdaya dalam kelas. Ada yang tiduran di lantai untuk mendinginkan tubuh. Bibir Anila terangkat membentuk senyum tipis. Ia melirik kursi kosong di sebelahnya, Laudya tidak ada.


Anila tertawa dalam hati, entah Laudya saat upacara benar-benar pingsan atau hanya mengelabui semua orang agar terhindar dari teriknya matahari. Gadis itu harusnya jaga-jaga jika ada murid yang sakit ataupun pingsan. Namun, malah ia yang pingsan dan ditolong murid ke UKS.


...***...


Rafin menghentikan mobilnya di parkiran sekolah khusus guru. Gadis yang menumpang padanya turun begitu saja kala mengetahui sudah sampai tujuannya.


"Bahkan dia tidak mengucapkan terima kasih sama sekali." Entah bagaimana orang tua gadis itu mendidiknya. Sangat tidak sopan! Namun, Rafin terpikir, ia baru melihat gadis itu. Rafin menjadi guru belum lama ini, bahkan mengajar hanya di kelas Anila. Namun, ia sudah hafal siswa-siswi di sekolah SMA Pelita Merdeka.


...***...


"Pagi semua!" Rafin memasuki ruang kelas XI IPS 3. Ia mengerutkan kening ketika baru masuk di ambang pintu. Murid-muridnya kompak tak menghiraukan Rafin. Mereka sibuk mengipasi wajah dengan buku.


Brakk


Para murid terlonjak, Rafin membuat mereka terkejut ketika membanting buku paket pada meja guru.

__ADS_1


"Saya sudah menyapa kalian, mengapa tidak jawab!?"


"Pagi, Pak," sahut murid XI IPS 3 serentak. Suara mereka begitu kecil dan nampak lesu, sehingga terdengar seperti satu orang yang bersuara.


"Apa kalian habis upacara?"


"Iya."


"Panas?"


"Iya."


"Mengapa repot-repot pakai buku? Nyalakan AC nya," ucap Rafin enteng.


Rafin menaikan sebelah alisnya. Mengapa sekolah ini sangat pilih kasih? Yang ia ketahui sekolah SMA Pelita Merdeka salah satu sekolah terkenal di Ibukota. Bahkan dari luar daerah pun banyak yang bersekolah di sini. Ia pikir sekolah terkenal fasilitas di sana juga terbaik.


"Sekarang pelajaran matematika. Bersemangat kembalilah, ini masih pagi. Saya tidak ingin melihat murid-murid saya lesu seperti ini."


"Bukan semangat, tapi malah makin ngebul," ujar salah satu murid. Rafin hanya menghela nafas mendengarnya. Pandangannya tertuju pada Anila yang memalingkan wajah seraya mengipasi dirinya dengan buku. Rambut tergerainya terbang mengikuti arah angin dari buku Anila. Menambah aura kecantikan bertambah.


"Selamat pagi." Tiba-tiba seorang gadis memasuki kelas tersebut. Pandangan penghuni kelas langsung tertuju padanya. Mereka tidak mengenal gadis itu. Tak terkecuali Rafin, pria itu langsung tersadar jika memperhatikan Anila dan terkejut kala siapa yang baru saja memasuki kelas, gadis itu langsung pergi ke belakang untuk duduk. Namun, bangku di sana tidak ada yang kosong.

__ADS_1


"Apa kau salah kelas?" tanya Riza.


"Ya ampun masih muda, tapi pikirannya seperti orang tua yang pikun." Satu kelas sontak tertawa. Terkecuali Rafin yang masih kaget, Anila yang sibuk mengipasi wajahnya, beserta Angga yang merebahkan kepala di atas meja.


"Gue anak baru," jelas gadis itu.


"Kau anak baru? Setidaknya jelaskan di depan. Dan duduk setelah dipersilahkan. Berperilaku lah sebagai tamu yang tahu malu." Riza menyindir, gadis itu geram lantas menjawab, "Lalu sebagai tuan rumah, sudah benar langsung menertawakan tamu kalian?"


"Oke, nama gue Niora Ameta Narendra." Hening, kelas itu mendadak hening. Hanya ada kicauan burung dan hembusan angin yang terdengar dari luar jendela.


"Cih, kalian udah tahu nama gue 'kan? Gak biarin gue duduk gitu?"


Riza membulatkan matanya, anak baru itu mengapa tidak memiliki sopan santun. Mengapa gadis itu bisa masuk ke kelasnya, walau dia cantik sih.


"Kelas kami sepertinya tidak menerima gadis sombong. Jadi tidak ada bangku kosong." Para murid saling menahan tawa.


Gadis itu menahan amarah, jika bukan karena orang tua yang menyuruhnya untuk bersekolah di sini, ia pasti detik itu juga akan pindah. Lagipula sekolahnya sekarang tidak sebagus sekolahnya yang di luar negeri. Namun entah mengapa orang tuanya sangat ngotot memindahkan ia di sekolah seperti ini, padahal di luar negeri jauh lebih baik.


"Hei, Pak. Lihatlah muridmu! Setidaknya kau yang menyambutku dengan baik!" selorohnya. Rafin berdehem, dia gadis pembawa mobil sport tadi. Mengapa bisa menjadi anak baru di kelasnya?


"Baiklah, kau bisa duduk di bangku ...." Rafin tertuju pada bangku Angga, kursi di sebelahnya kosong sebab Anila sudah dipindahkan bersama Laudya. Sedangkan teman sebangku Laudya katanya pindah sekolah.

__ADS_1


Tanpa tunggu lama gadis itu segera duduk di bangku yang ditunjuk Rafin. Merasakan ada getaran, Angga mengangkat kepala. Melihat orang yang duduk di sebelah kursinya.


"Ni-niora!"


__ADS_2