
“Anil pergi sekolah dulu Ma, Yah.” Anila mencium pipi kedua orang tuanya yang mulai beranjak tua itu dengan sayang. Sudah rutinitas setiap paginya gadis itu lakukan ketika hendak berangkat sekolah.
Ardi dan Almira melakukan hal sama pada putrinya. “Hati-hati, Sayang.” Sebelum pergi, Anila melirik Ardi. Sepertinya pria itu sudah melupakan hal tentang teh kemarin, terlihat dari senyum bahagianya ketika mereka berpamitan sebelum Anila pergi sekolah.
"Babai." Anila melambaikan tangan pada kedua orang tuanya, sebelum akhirnya ia pergi dan menghilang dari pandangan Ardi dan Almira.
Anila menunggu di depan gerbang rumahnya. Sebab, Angga bilang akan menjemputnya dan berangkat sekolah bareng.
Pukul 06.35 WIB. Tidak seperti biasanya, Anila sudah siap berangkat. Biasanya jam pelajaran pertama di mulai ia baru datang. Tetapi menurutnya lebih parah Angga, pemuda itu kadang tiba di sekolah pada jam istirahat.
Tin!
Suara klakson berbunyi, Anila melihat sebuah mobil berada di depannya. Apa itu sahabatnya? Tapi, mana mungkin membawa mobil.
Sampai terlihat Sebah kepala keluar dari jendela mobil. Yang memperlihatkan wajah seorang pria yang akhir-akhir sering ia temui. Gadis itu melirik sekilas, lantas membuang wajah seolah tak melihat Rafin. Ia juga merutuki sahabatnya mengapa belum menjemputnya.
"Belum berangkat?" tanya Rafin yang berada di dalam mobil pula dengan kepalanya yang masih menyembul keluar.
Anila mengulangi ucapan pria itu dengan mengejeknya. "Bilim biringkit?"
"Gue udah di sekolah, yang di sini mah jelmaannya doang." Gadis itu mengatakan dengan pelan. Yang hanya di dengar ia dan Tuhan. Entah apa yang akan Rafin lakukan ketika mendengar ejekannya.
"Hey! Saya bertanya padamu. Tidak dengar?" Tak mendapat jawaban dari Anila. Rafin dengan segera turun sari mobilnya dan menghampiri gadis itu.
__ADS_1
"Hiy! Siyi birtinyi pidimu. Tidik dingir?" Gadis itu kembali mengejek Rafin, dalam batinnya.
"Akh ...!" Anila berteriak. Gadis itu kaget ketika mendengar mobil guru barunya berbunyi seperti ambulan. Sangat tiba-tiba tanpa mengeluarkan aba-aba, hingga mampu membuatnya melompat ke belakang dengan menutup telinga.
Anila melihat Rafin, lantas berdehem dan kembali bersiap biasa saja untuk menutupi kekonyolan dirinya.
"Oh, iya, nunggu jemputan." Akhirnya Anila menjawab, walau sedikit ketus.
"Siapa?" Rafin bertanya tak kalah cetus.
Anila membatin, gadis itu mendadak tidak mood diajak bicara. Lalu mengapa orang di depannya banyak bertanya? "Kamu nanya?"
"Angga."
Rafin berpikir sebentar. Angga? pemuda yang duduk sebangku dengan Anila sebelum ia mengajar di SMA pelita merdeka.
"Saya sudah bilang mau dijemput," keukeuh Anila yang mulai kesal dan sedikit menghentakkan kakinya.
Akhirnya Rafin berbalik badan, menatap Anila yang juga tengah melihat ke arahnya.
"Lihatlah yang sudah pasti ada di depan mu. Siapa yang tahu jika pemuda itu berbohong dan meninggalkan mu." Rafin berbicara dengan ekspresi yang sulit diartikan. Apakah pria itu cemburu hanya karena Anila bilang akan berangkat sekolah bersama sahabat laki-lakinya dan menolak Rafin? Mungkin saja.
"Cepatlah naik. Daripada nanti terlambat dan dihukum."
__ADS_1
"Ta-tapi ...." Anila hendak memotongnya tetapi, pria itu sudah memasuki mobil. Ia berdecak, lantas tanpa menunggu lama berlari dan membuka pintu belakang mobil.
"Duduklah di depan," ujar Rafin yang melihat Anila lewat kaca yang menggantung di langit-langit mobil bagian depan.
"Sudahlah, Pak. Sudah terlanjur, saya mager."
Rafin menghidupkan mesin mobilnya seraya berkata, "Yasudah, sekalian kenal dengan Ayah ku yang duduk di sana."
Anila membulatkan mata, "A-apa maksudnya?" Anila melirik ke samping kiri, kursi yang kosong. Tidak ada siapa-siapa di sana. Sedangkan, Rafin susah siap melajukan mobilnya.
"Tunggu," cegat Anila. "A-aku duduk di depan," lanjutnya. Rafin tersenyum tipis kala Anila kembali turun dari mobil dan duduk di sampingnya.
Ardi:
Fin? Sudah sampai rumah saya?
06.41
^^^Anda:^^^
^^^Tunggu saja. Saya sedang ada urusan sebentar^^^
^^^06.45^^^
__ADS_1
Mobil itu melaju membelah jalanan. Semakin jauh semakin cepat pula kecepatannya. Anila mengambil ponsel dan mengetikan pesan pada nomor Angga.
"Ela, lo lama! Lumutan gue nungguinnya. Gue duluan berangkat, keduluan orang lain lo."