JADI GURU DEMI CALON ISTRI

JADI GURU DEMI CALON ISTRI
16. Gadis Aneh


__ADS_3

Hari berganti Senin. Siswa-siswi, Guru beserta penghuni SMA Pelita Merdeka lainnya melaksanakan upacara bendera. Matahari bersinar cukup terik, padahal hari masih menunjukan pukul 07.15 pagi.


Anila lebih tinggi dari teman-teman perempuannya, membuat Anila berdiri di barisan paling belakang. Di belakang gadis itu ada Laudya yang menjabat sebagai PMR, ia tengah berjaga bila ada yang sakit ataupun pingsan.


Laudya berdecih, "Cih, kalau dia sakit gue ogah bantuin."


Upacara dimulai dengan arahan sang protokol. Para murid saling diam ketika Pak Anhar—Guru BK datang ke lapangan.


...***...


Rafin mengemudikan mobilnya menuju sekolah SMA Pelita Merdeka. Tiba-tiba ponselnya berdering, ia meraihnya. Ketika sudah berada di genggamannya, ponsel itu terjatuh. Rafin hendak mengambilnya tetapi, pria itu terlonjak kala sebuah mobil sport dari arah belakang melaju dengan kecepatan tinggi mendahului mobil Rafin. Mobil itu atasnya terbuka, Rafin melihat pengendaranya, lantas menggelengkan kepala.


Tak habis pikir, sebab yang mengendarainya adalah seorang gadis SMA. Gadis itu yang mengendarainya tetapi Rafin yang merasa merinding. Bisa saja terjadi kecelakaan, walau pagi ini jalanan terlihat masih sepi.


Rafin meletakkan benda pipih yang baru saja ia ambil. Ia sedikit melemparkan ke dashboard, Rafin pikir siapa yang menghubunginya. Ternyata itu adalah Agata, akhir-akhir ini wanita itu selalu menggangunya. Kapanpun dan dimanapun Rafin berada. Baru pagi, Agata sudah menelponnya sebanyak 37 kali. Siapa yang tidak risih? Rafin memilih untuk menghidupkan mode pesawat dan membuat ponselnya dalam mode senyap.


Di depan Rafin terlihat kumpulan orang. Ada beberapa Ibu-ibu di sana beserta seorang gadis berseragam sekolah. Tunggu! ada mobil yang menyalipnya tadi juga di sana. Ketika jaraknya semakin dekat, Rafin melihat sayuran berserakan di terotoar bahkan sampai ke jalanan. Mobil sport itu pun terparkir sembarangan.


Seorang Ibu menampakan wajah marah, jari telunjuknya mengarah pada wajah gadis SMA itu. Rafin terkejut kala gadis itu mendorong sang ibu. Entah apa yang terjadi, sampai akhirnya Rafin memutuskan menepikan mobilnya dan menghampiri kerumunan itu.


Rafin membantu sang ibu yang terjatuh. Si gadis mengeluarkan kata-kata mutiara dari mulutnya, tak lupa ibu itu juga menyahutinya. Sementara ada tiga ibu-ibu yang hanya menonton mereka.


"Hei! Apa kata-kata yang kamu ucapkan itu pantas untuk ditunjukan pada yang lebih tua? Kau seperti berpendidikan tetapi, kelakuanmu sepertinya lain." Dada sang ibu naik turun setelah mengucapkan hal itu.


"Apa teriakkan lo juga pantas ditunjukkan buat gue!?" Jeda sebentar sampai gadis itu kembali melanjutkan kalimatnya, "Cih, dasar orang miskin." Ia berucap pelan tetapi, ibu itu bisa mendengarnya bahkan Rafin pula sama.

__ADS_1


"Aku tidak tahan lagi!" Si ibu terlihat menggulingkan lengannya. Menghampiri mobil sport gadis itu dan menendangnya sekuat tenaga.


"Hei! Ibu tua, mobilku jadi kotor gara-gara lo!"


"Apa lo bisa mengganti mobilku yang mahal ini!?" ucapnya seraya menunjuk bagian mobil yang ditendang hingga terdapat noda tanah di sana.


"Dasar tidak berguna!" Gadis itu mengambil sayur kangkung yang tergeletak di terotoar. Melemparnya begitu saja pada hadapan sang ibu.


Ibu itu tidak terima, berani sekali seorang gadis yang seumuran anaknya itu sungguh tidak menghargai orang tua. Tadi ia kebetulan baru pulang dari pasar dan membawa belanjaan. Ibu itu menyebrang, tiba-tiba ada sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi hampir menabraknya. Namun, kecelakaan itu bisa dihindari. Sebab sang ibu yang dengan cepat berlari.


Ibu itu beruntung nyawanya berhasil tidak melayang. Namun, barang belanjaan yang tidak ia bawa lari berserakan begitu saja ke jalanan bahkan sampai ke terotoar sebab ia melemparnya.


Siapa yang tidak marah? Sang ibu ingin meminta pertanggung jawaban, namun malah gadis itu yang menyalahkannya. Beralasan bahwa si ibu tidak melihat jalan sekitar. Di sana tidak terpasang lampu lalu lintas, sehingga tidak tahu bagaimana waktunya mobil berhenti ataupun pejalan kaki menyebrang.


"Ehh, Bu." Rafin menghentikan sang ibu ketika hendak kembali menendang mobil penyebab kekacauan ini.


"Ini atas kerugian yang gadis itu lakukan." Entah berapa lembar yang Rafin berikan. Ibu itu hanya memandangnya heran.


"Kau ayahnya? Ajari putrimu itu sopan santun," ucap sang ibu sebelum akhirnya pergi meninggalkan Rafin dan gadis itu.


"Kenapa melihatku begitu?" sungut sang gadis pada Rafin yang memang tengah melihatnya. Pria itu tak habis pikir, ia baru menemui gadis sepertinya.


Gadis itu bertanya kemudian, "Apa lo tidak akan mengganti kerugian gue?"


Rafin mengerutkan kening, kerugiannya? Ia tidak salah dengar?

__ADS_1


"Kerusakan ini ulahmu. Seharusnya kau yang mengganti rugi." Rafin hendak meninggalkan gadis itu tetapi langkahnya dihentikan.


"Mobilku perlu ke bengkel."


"Lalu?"


"Lo membantu ibu tadi yang tidak ada hubungannya sama lo. Lalu enggak bantu gue gitu?"


"Lo juga bukan siapa-siapa gue," sindir Rafin. Bukannya tersadar, gadis itu menghentakan kaki.


"Apa itu mobil lo?" Tunjuknya. Ia berjalan pada mobil Rafin dan masuk ke sana. Tanpa tunggu lama Rafin mengejarnya.


"Ini bukan mobilmu! Turunlah!" tegas Rafin lewat pintu mobil, gadis itu tidak peduli.


"Apa aku perlu mengusirmu?" Rafin tak kuasa menahan emosinya. Secara paksa ia menarik lengan gadis itu agar keluar. Namun nihil, sang gadis malah menghentakan lengannya membuat tangan Rafin terlepas begitu saja.


"Lihat!" Gadis itu memperlihatkan layar ponselnya.


"Asisten gue bakal membawa mobil itu ke bengkel. Lalu aku harus pergi ke sekolah."


"Kenapa tidak minta asistenmu itu juga yang mengantarmu sekolah?"


"Ehh ...." Gadis itu tidak mendengar sama sekali ucapan Rafin. Pintu mobil pria itu ditutupnya. Tak ada pilihan lain, Rafin memasuki mobilnya sebagai pengemudi.


"Ke mana?"

__ADS_1


"SMA Pelita Merdeka."


__ADS_2