JADI GURU DEMI CALON ISTRI

JADI GURU DEMI CALON ISTRI
18. Bukan Adek


__ADS_3

Angga menuju parkiran untuk mengeluarkan motor gedenya. Ia memakai helm full face dan menaiki motor, hanya tinggal menunggu Anila datang, ia akan segera pulang.


Tiba-tiba Angga mendapatkan seorang menepuk bahunya. Tanpa menolehkan kepala, Angga pun berkata, "Gue udah nunggu lo, ayo berangkat?"


"Wih, lo seriusan?"


"Peka juga, kebetulan mobil gue lagi di bengkel." Tunggu! Itu bukan suara Anila, melainkan ....


"Niora?" Angga terkejut kala melihat siapa yang sekarang berasa di sisinya bukanlah Anila. Dengan cepat ia turun sari motor dan melepas helmnya. Angga menarik gadis itu menjauh dari parkiran.


"Tangan gue anjir." Niora menghentakkan tangan Angga sehingga membuatnya terlepas.


"Lo kenapa sih? Malah bawa gue ke sini?" sergah Niora meminta penjelasan.


"Gue tanya, kenapa lo sekolah di sini?"


Gadis itu menatap Angga dengan sengit, "Lalu? Lo mau bilang sekolah ini punya lo gitu? Terus tendang gue keluar?"


"Gue tanya sekali lagi sama lo!" Angga menggertakan giginya dengan tangan mencengkram bahu gadis di depannya.


"Kenapa lo bisa sekolah di sini," sambung Angga penuh tekanan di setiap kata-katanya. Niora takut dengan tatapan itu, dua tahun mereka tak bertemu. Namun, Angga tak merubah sikapnya terhadap Niora.


"Papa yang nyuruh gue," jawab Niora kemudian.


"Kenapa?" Angga kembali bertanya.


"Apa gue perlu menjawabnya?" Niora seakan menantangnya. Gadis itu selalu memprovokasi Angga jika mereka bertemu. Namun, ketika pemuda itu mengeluarkan kembali tatapan tajamnya mampu membuat Niora ciut.


"Gu-gue mana tahu."

__ADS_1


"Papa sama Mama tiba-tiba jemput gue. Bilang gak perlu sekolah di London lagi. Lalu nyekolahin gue di mana lo sekolah. Ternyata, lo sekolah di tempat begini, miris sekali."


Angga tidak menjawab, yang ada dipikirannya hanyalah tentang Lucas, apa yang pria itu kali ini rencanakan?


"Gue udah jawab pertanyaan lo. Sekarang nebeng lo balik," tutur Niora membuyarkan lamunan Angga.


"Kita beda arah, gue ogah anterin lo." Angga hendak berlalu meninggalkan Niora. Jika bukan karena gadis itu berteriak, ia tidak ada berbalik.


"Lo abang gue!."


"Gue gak ngerasa punya adek," jawab Angga dingin.


Niora mengepalkan tangan, ia mendekatkan dirinya pada Angga. "Papa lo, nikah sama Mama gue," jelasnya setengah berbisik.


Niora adalah Putri dari pasangan Vian dan Fiona. Namun mereka bercerai, sehingga tak lama Fiona menikah dengan Lucas—Ayah Angga. Sekarang Niora adalah anak tiri dari Ayah Angga. Walau sekedar anak tiri tetapi, Niora cukup dimanja olehnya, daripada Angga yang anak kandung dari Lucas, namun tak mempedulikannya.


"Lalu? Apa hubungannya sama gue?" Niora semakin geram. Kenapa pemuda di depannya ini sangat tidak peka?


"Jangan mentang-mentang lo dapat seluruh harta warisan dari Kakek Liam, bisa sombong seperti itu. Lihat saja! Cepat atau lambat harta itu akan jatuh pada Papa Lucas," sergahnya. Angga kini tertawa, tertawa karena gadis di depannya sangat bodoh. Sekarang ia tahu mengapa Niora berada satu sekolah sekolah dengannya.


"Oh, jadi dia mengirimmu karena ingin meminta harta dari putranya yang telah dibuang ini? Ck." Angga berdecak.


"Apa keluargamu sekarang jatuh miskin? Sehingga tak berhenti mengejarku untuk mendapatkan harta itu!?" Pemuda itu tersenyum miring dan memutar matanya jengah.


"Jaga ucapanmu itu!?" titah Niora dengan suara tinggi.


Angga berdecih, "Apa ucapanku itu benar?" pekiknya dengan suara tak kalah tinggi. Niora hanya diam, jujur ia takut jika sudah mendengar teriakan Angga.


"Bukankah dia sudah membuangku? Tidak peduli aku sendirian setiap hari. Sedangkan dia senang-senang dengan keluarga barunya." Angga menghembuskan nafas kasar. Matanya menatap ke atas dengan bibir bawah digigitnya. Entah mengapa cairan bening dari matanya seperti ingin jatuh begitu saja. Angga sedang melampiaskan emosinya, ia tidak mungkin membuat dirinya sendiri malu. Sungguh tidak lucu, bisa-bisa Niora menertawakannya.

__ADS_1


"Ela!" Terdengar teriakan Anila memanggil namanya. Semakin didengar semakin jelas pula suaranya.


"Bilang pada pria itu. Bekerjalah dengan baik jika ingin mendapat uang. Tidak perlu repot-repot mengirim putri kesayangannya untuk meminta padaku."


"Dan ingat ...!"


"Aku ... tidak memilki adek," tutur Angga sebelum akhirnya pergi meninggalkan Niora.


"Lo kemana aja? Tersesat di sekolah sendiri? Sumpah kayak anak hilang," sungut Anila kala Angga sudah berada di hadapannya.


"Sorry, gue tadi bosen nunggu lo yang lama itu." Angga sangat hebat dalam membalikan kata-kata Anila.


Gadis itu memicingkan matanya, menatap Angga lekat, "Tunggu! Mata lo kok merah?" sergahnya, kemudian gadis itu tertawa.


"Lo abis nangis?"


Angga mengusap ujung matanya yang ternyata memang ada jejak air di sana.


"Gak lah, yakali cowok macho kayak gue nangis."


"Gue mau pulang, kalau masih mau ketawa gue tinggalin aja," anjir Angga yang sudah menaiki motornya.


"Iya-iya, baperan amat lo!" Anila dengan segera merampas helm yang berada di tangan Angga dan memakainya.


Tanpa keduanya sadari, Niora sedari tadi memperhatikan mereka. Tangannya terkepal di bawah sana.


"Apa dia kekasih lo? Hebat sekali gadis itu. Bahkan lo selalu marah-marah saat kita ketemu. Sedangkan dengannya lo bisa melempar tawa."


...***...

__ADS_1


Hallo, aku bawain lagi rekomendasi novel keren nih, kalian wajib baca karya satu ini.



__ADS_2