JADI GURU DEMI CALON ISTRI

JADI GURU DEMI CALON ISTRI
22. Santet 2


__ADS_3

"Tunggu! Apa kau punya obat untuk santet?"


"Haa? A-apa?" Mata Anila yang terpejam akhirnya terbuka dengan lebar. Apa ia tidak salah dengar? Santet?


"Aku bilang ...." Rafin mulai menggaruk lehernya, kalimatnya seketika tergantung.


"Ck ... apa kau punya obat untuk santet?" lanjut pria itu.


"Santet?" ulang Anila untuk memastikan jika pendengarannya tidak bermasalah.


Rafin tidak menjawab beberapa detik, pria masih menggaruk beberapa kulitnya yang terasa gatal.


"Kau tidak melihat ini?" Rafin menunjukan lehernya yang memerah. "Tanganku juga?"


Anila tak menjawab, gadis itu hanya memperhatikan Rafin dengan mulut sedikit terbuka. Anila melihat kulit Rafin yang terkena bintik-bintik merah. Namun, apa hubungannya dengan santet?


"Ini!?"


"Akhh ...." Anila berteriak, Rafin berulah kembali dengan membuka kemejanya. Reflek gadis itu menutup matanya dengan telapak tangan. Namun tak bisa dipungkiri jika tubuh pria di hadapannya begitu bagus. Terlihat roti sobek di sana, sepertinya Rafin sering pergi gym.


"Aku sedang kesakitan karena santet ini, tolong beri tahu aku obatnya." Lagi dan lagi Rafin mengatakan santet.


"Maksudnya santet itu, bintik-bintik merah?" tanya Anila memastikan.


"Kenapa malah bertanya? tentu saja."


Anila menggaruk tekuk yang tidak gatal. Ia teringat tentang ular bulu di dekat pohon lengkeng di halaman belakang kelas XI IPS 3.


"Sepertinya itu, emm ... karena ulat bulu."


"Ulat bulu?" Bukan santet? Tapi aku mendengar dari seorang di televisi. Jika santet itu menyakitkan bagi tubuh, dan ini sangat menyakitkan."


"Apakah itu pemikiran orang kaya?" batin Anila tak habis pikir, bagaimana hanya karena bintik-bintik merah bisa disebutkan sebagai santet?


"Bisakah kau tidak bengong? Beri tahu obatnya jika kau memang tahu." Anila tersadar dari lamunannya. Ia pernah mengalami hal sama. Almira mengobatinya dengan garam, walau perih tapi perlahan sembuh.


Namun, gadis itu berpikir, di mana ia mendapatkan garam? Di sekolah terdapat koperasi, tetapi tidak mungkin menjual garam. Hanya terdapat alat tulis dan perlengkapan sekolah lainnya.

__ADS_1


"Ibu Kantin." Anila menjentikkan jarinya di udara.


"Apanya yang Ibu Kantin? Apa obat ini adalah dia? Tapi bagaimana aku menggunakannya? Atau tangan di ajaib, bisa menyembuhkan ini?" Rafin berucap dengan polosnya. Anila sepertinya berhadapan dengan anak kecil sekarang.


"Ah, iya. Sebaiknya gosokkan tangan yang terkena bintik-bintik pada rambut. Aku akan pergi ke kantin sebentar." Tanpa menunggu jawaban dari Rafin, Anila pergi begitu saja dari perpustakaan.


"Ehh ...." Kepergian Anila menyisakan tanda tanya pada raut wajah Rafin.


"Apa dia lapar di saat seperti ini?" Rafin menggelengkan kepala. Pria itu akhirnya menuruti apa yang Anila katakan, menggosokkan tangannya pada rambut.


"Apa ini akan berhasil?"


...***...


Anila menuju kantin dengan berlari. Ini bukan hanya tentang Rafin, tetapi tidak tahu Pak Wawan sampai kapan dengan urusannya. Bisa saja datang tiba-tiba, entah mengapa gadis itu merasa ingin menjadi murid baik.


"Bi Ami!" Anila berteriak dari luar kantin seraya berlari tergopoh-gopoh. Bi Ami—Ibu Kantin mendengarnya dan tentu kaget. Wanita 40 tahun itu segera menghampiri Anila yang sekarang duduk di salah satu meja kantin. Nafas gadis itu terdengar ngos-ngosan.


"Ada apa, Nduk?"


Anila menghirup udara sebanyak mungkin sebelum akhirnya ia menjawab, "Bibi punya garam tidak?"


"Anila mau minta boleh tidak? Tidak banyak."


Bi Ami masih bingung. Gadis itu tidak menjawab pertanyaan Anila membutuhkan garam untuk apa. Namun, wanita itu segera pergi ke dalam dan kembali lagi pada Anila dengan sebungkus garam masih tersegel.


"Kebanyakan, Bi."


"Tidak apa, Nona Anila bisa kembalikan sisanya." Wanita setengah baya itu tersenyum, Anila memandangnya dengan berbinar. Ia tanpa ragu mengambil garam itu, tak lupa mengucapkan terima kasih, serta berjanji akan mengembalikan sisanya.


...*** ...


"Hebat sekali, ternyata rambut bisa mengurangi rasa sakit ini." Rafin bermonolog di dalam perpustakaan. Senyumnya terlihat dengan terus menggosokan kedua tangan pada rambutnya silih berganti.


Bintik-bintik itu masih terlihat, bahkan mulai membuat tangannya membengkak, tetapi cara yang diberikan Anila cukup mengurangi rasa sakitnya.


Brakk

__ADS_1


Seorang mendobrak pintu perpustakaan, Rafin terlonjak hendak marah. Tak bisakah membukanya dengan baik? Namun, ia kembali pada aktivitas awalnya, ketika tahu siapa yang datang adalah Anila.


"Ini." Anila meletakkan sebungkus garam yang didapatnya itu ke atas meja. Kening Rafin berkerut, kedua alisnya pun hampir menyatu. Ia melirik garam itu dengan tatapan bingung, dan beralih tatapan itu jatuh pada Anila yang berdiri di hadapannya.


Anila bagai mengerti tatapan itu. Tatapan yang meminta sebuah penjelasan. Gadis itu akhirnya merobek bungkus garam yang ia letakkan di atas meja. Mengambil sedikitnya dan menyodorkan pada Rafin.


"Apa aku harus memakannya?" tanya Rafin dengan ragu. Menatap segenggam garam di tangan Anila. Garam memberi cita rasa pada masakan, tanpanya masakan akan menjadi hambar. Dalam pikiran Rafin, bukankah garam jika dimakan langsung dan banyak begitu akan sangat pahit?


Rafin mengangkat tangan. Mengambil separuh garam dari genggaman Anila. Mata Anila membulat kala pria itu malah memasukan garam pada mulut. Ekspresinya aneh, matanya menyipit dengan bibir terus mengecap. Berakhir bahu pria itu terangkat.


Uhuk


Rafin menjulurkan lidah, "Huek ...." Anila merinding. Pasti sangat pahit? Apa pria itu tidak mengerti apa yang harus dilakukan?


Gadis itu akhirnya mengambil secubit garam dengan tangan satunya lagi. Menempelkannya pada leher Rafin dan mulai menggosokkannya.


"Shh! Panas." Rafin meringis pelan. Hingga akhirnya kembali diam, menikmati gosokan tangan Anila di lehernya.


Jarak Anila begitu dekat dengannya. Hembusan nafas gadis itu terasa oleh lehernya. Rafin memejamkan mata, aroma dari parfum Anila tercium olehnya. Rafin merindukan gadis itu.


Anila tersadar jika jaraknya dengan Rafin begitu dekat. Gadis itu menyudahi gosokan tangannya dan mundur beberapa langkah.


"Biar Anda menggosoknya sendiri, dan garam itu bukan untuk dimakan."


Tanpa menjawab, Rafin menurut. Pria itu mulai mengambil sedikit demi banyak garam dan menggosok pada tangannya.


Semakin lama semakin tidak beraturan. Garam itu mulai berserakan dan sedikit di bungkusnya. Rafin tidak kira-kira mengambil garam. Anila teringat akan kata-katanya pada Bi Ami tentang garam itu yang dikembalikan sisanya. Nampaknya tidak mungkin, Rafin akan menghabiskan semuanya.


"Astaghfirullah, untung imanku kuat, tidak goyah hanya dengan melihat itu." Lagi-lagi Rafin membuka kemejanya, menggosokan garam itu pada tubuhnya. Kepala Anila tertunduk, tetapi sesekali ia mengintip kegiatan Rafin yang nampak elegan walau sekedar menggosokan garam.


"Kau hanya akan diam saja? Tidak membantu aku menggosokan garam ini pada tubuhku?"


"Ha-haa ...?"


...*** ...


Yang suka bawang-bawang ayok merapat. Cerita yang aku rekomendasikan bener-bener berbawang..Jangan lupa masukin perpus yaw.

__ADS_1



__ADS_2