
“Lemes gitu, kenapa lo?” Angga bertanya kala Anila memasuki kelas dengan wajah tak bergairah.
Bibir gadis itu cemberut, lantas duduk di samping kursi Angga—teman sebangkunya. “Gak ngereog lo?” tanya Angga heran ketika melihat sahabatnya itu tidur dengan menggunakan kedua tangan sebagai topangan. Biasanya Anila baru datang langsung mengajak Angga ghibah ataupun mengusilinya.
“Huaa, Ela. Bapak gue kayaknya gak butuhin anaknya ini lagi. Gue mau dibuang.” Akhirnya gadis itu menjawab. Wajahnya menyedihkan dengan bibir monyong dan alis hampir menyatu.
Angga menggebrak meja, “Seriusan lo!?” Pumuda itu menatap intens wajah Anila. Setelah itu, ia tertawa kencang.
“Gak salah sih Om Ardi ataupun Tante Almira mau buang lo. Sikap lo aja kayak titisan setan gitu, hfttt,” lanjutnya.
“Sialan lo!”
“GUE MAU DIJODOHIN ANJIR!!!” pekiknya membuat murid yang ada di kelas seketika melihat ke arah bangku Anila dan Angga. Namun kembali pada aktifitas masing-masing kala kedua remaja itu berbarengan memelototinya.
Angga kembali tertawa, “Yang bener aja lo?” Ia menilik tubuh Anila dari atas hingga bawah. Lantas kembali berbicara. “Emang ada yang mau sama modelan kayak lo ini?”
Anila tertawa garing, tanpa ekspresi, hanya bibirnya menjadi sinis dan mengeluarkan sedikit tawa. “Lucu lo begitu?”
“Iya-iya serius, hfttt.” Angga lelah tertawa, pemuda itu memegangi perutnya dan serasa ingin buang air kecil.
“Ganteng gak?”
“Bapak-bapak,” jawab Anila pelan. Ia tak bertemu langsung dengan pria yang datang ke rumahnya kemarin, tetapi ia dapat melihat samar-samar wajahnya dan juga mendengar percakapan dia dengan kedua orang tuanya.
Sementara, Angga yang mendengar jawaban Anila, ia mati-matian menahan tawa. Namun, Angga sadar jika tidak bisa melakukannya.
“AHAHAHA, anu lo emang muat dimasukin bapak-bapak!?” Angga menyeka air matanya yang keluar akibat tawaannya.
“Lama-lama gue tipuk pala lo nih ya?”
“Ampun kanjeng ratu.” Angga melindungi kepala dengan kedua tangannya kala Anila bersiap memukulnya dengan buku. Namun, Anila tetap memukul kepala sahabatnya itu walau tertutup tangan.
__ADS_1
“Pagi semua!” sapa seorang pria memasuki kelas XI IPS 3. Semua murid menoleh, kecuali dua remaja yang bersikap layaknya Tom and Jerry.
Brakk
Pria itu menutup pintu dengan sedikit membantingnya, sehingga timbul suara mengganggu gendang telinga, namun tak sengeri terompet sasangkala.
Anila dan Angga akhirnya tersadar dan monoleh. Mereka tak mengenal pria yang berdiri di depan pintu, sebab baru bertemu. Namun, mereka dapat menyimpulkan jika dia galak. Diketahui dari sorot matanya yang menyorot menatap tajam keduanya. Sehingga mampu membuat ke dua berandal sekolah itu terdiam dan membisu seketika.
Pria itu nampak menuju bangku guru yang berada di depan. Semua itu tak luput dari perhatian para murid terutama murid perempuan. Berjalannya sungguh gagah, dia pula tegas, dan yang terpenting tampan seperti Chindo.
“Perkenalkan saya guru matematika yang baru untuk mengajar khusus di kelas ini,” ujar pria itu dengan menekan kalimat 'di kelas ini'.
“Nama saya Rafin Mavendra. Panggil sesuka hati kalian saja.”
Para siswa-siswi mengeluarkan alat tulis mereka masing-masing. Sebelum Rafin menuliskan materi di papan tulis. Pria itu teringat akan sesuatu dan kembali berbalik.
“Hei kalian di bangku paling belakang dekat jendela!” Anila dan Angga kompak mendongkakkan kepala, sebab yang disebut adalah bangku mereka. Sementara, murid lainnya menoleh ke arah kedua remaja itu. Kenapa? Apa kedua berandal itu melakukan kesalahan? Biasanya mereka bersikap seolah singa sang raja sekolah. Sekarang ciut seperti tikus yang dihadang kucing siap menerkam.
“Cepat pindah!” tegas Rafin. Kedua remaja itu saking pandang, tidak rela jika dipisahkan.
Salah satu dari mereka tak ada yang bergerak. Kenapa juga harus pindah? Lagipula guru lain tidak mempermasalahkannya.
Tok tok tok
Rafin mengetuk meja dengan pulpennya, “Kenapa diam saja?”
“ANILA DAYITA! duduk di bangku depan ini.“ Rafin menunjuk bangku yang dihuni satu orang siswi, sementara satu lagi ditinggal pemiliknya tengah rebahan di rumah.
Anila tersentak, tapi tunggu … mengapa guru baru itu tahu namanya? Lengkap pula. Anila berdiri terdiam dengan memeluk tas ranselnya, gadis itu malah bergelut dengan pikirannya.
“Jangan buang waktu, cepat pindah!” Rafin kembali berkata yang membuat gadis itu tersadar dari lamunannya. Ia berjalan ke bangku paling depan, gadis itu berjalan seraya menengok ke belakang, ke tempat Angga berada. Bibirnya bergerak mengucapkan kalimat, tidak terdengar tetapi, Angga memahaminya.
__ADS_1
“Dadah bestiee.”
Sangat menyedihkan, Anila terlihat memelas padanya, juga bibir bawah yang lebih maju dari bibir atasnya.
Selama pelajaran, Anila hanya celingak-celinguk ketika melihat soal-soal angka yang dirinya tidak paham sama sekali untuk menjawabnya. Dia bego terhadap pelajar matematika. Sedangkan, Angga walau nakal, dia pintar terhadap mata pelajaran tersebut. Sehingga, Anila tidak perlu takut walau bodoh, karena ada teman yang dapat ia contek.
Sekarang mereka berpisah, teman sebangku yang baru Anila nampaknya juga pelit. Terlihat, ketika mengerjakan soal, Laudya menutup buku dengan tangannya, sehingga jawaban pun tidak terhalangi.
Tak ada cara lain, Anila menoleh ke belakang. Gadis itu melihat Angga yang fokus mengerjakan soal, menulis lancar no hambatan. Anila memanggilnya dengan suara pelan, namun tak sedikitpun Angga menoleh ke arahnya, ia hanya menunduk dan mengerjakan soal. Anila memanggilnya sedikit keras, nihil, tetap tak ada jawaban.
Suara Anila terdengar oleh Rafin yang tengah menulis buku agendanya. Ia berjalan ke arah bangku Anila yang masih berusaha memanggil Angga. Gadis itu akhirnya melemparkan pulpen yang ada digenggaman tangannya. Tepat sasaran, pulpen itu mengenai kepala Angga membuat si empu mengusap kepalanya dan mendongkak.
Di depan, Anila menaik turunkan alisnya. Angga lupa jika Anila selalu menyontek padanya, sekarang gadis itu pasti tengah kesusahan. Ia hendak menyobek kertas untuk menyalin jawabannya. Namun, Rafin kini sudah berada di belakang Anila dan menatap Angga. Pemuda itu takut, lantas berpura-pura tidak melihat Anila dan kembali mengerjakan soal.
Rafin mengambil pulpen Anila yang terjatuh di dekat bangku Angga. “Jatuhnya sampai jauh, gunakan ini dan segeralah menjawab soal-soalnya.” Rafin menaruh pulpen Anila di meja pemiliknya. Anila melongo tak percaya, dan sekarang ia pun sadar jika pria itu seperti pernah ia temui.
***
“Mau kemana lo, Nil?” tanya Angga pada Anila yang mengendap-endap di koridor sekolah.
“Bolos,” singkatnya. Gadis itu berjalan ke gerbang belakang. Angga hanya menatap punggung gadis itu dengan berharap bisa ikut, tetapi ia urungkan karena kemarin ada yang melaporkannya, dan kedua orang tuanya sampai memarahi Angga.
“Akhirnya! Ketenangan? I'm coming. Gila! Guru baru itu ngeselin, baru masuk udah ngasih soal. Mana harus ada tugas tambahan buat gue, tahu gak bisa ngerjain,” umpatnya. Anila bersiap memanjat gerbang itu. Namun, tubuhnya terseret ke belakang kala merasa ada orang yang menarik ranselnya.
“Eh, siapa nih?"
“Ransel gue putus mau beliin?” sungut Anila. Ia tidak tahu siapa yang berada di belakangnya.
“Lepasin, gila. Kalo mau ikut, gak usah tarik ransel gue.“ Tarikan dari orang itu terlepas, Anila juga sedikit memberontak. Gadis itu hampir terhuyung ke belakang akibat badannya yang ikut condong. Namun, dengan segera orang di belakang menarik pinggangnya membuat gadis itu kini berada dalam dekapannya.
“Mau bolos, hm? Calon istri ....”
__ADS_1