JADI GURU DEMI CALON ISTRI

JADI GURU DEMI CALON ISTRI
14. Akhirnya Mandiri


__ADS_3

Anila baru terbangun dari tidurnya. Rambut gadis itu masih acak-acakan. Setelah pulang dari pertemuan semalam, Anila tak berhenti memikirkan bagaimana Rajen menghina dirinya.


"Tulis berapa pun yang kau mau. Kau tidak perlu berpura-pura mencintai Rafin. Dia akan aku nikahkan dengan Agata, dan kau bisa bersama kekasih mu itu."


Apa Anila semurah itu? Dan pula mengapa seperti ia yang mengejar Rafin. Anila tidak tahu pria itu, tiba-tiba datang ke rumah dan melamarnya, bahkan menjadi guru matematika di sekolahnya.


"Dia akan aku nikahkan dengan Agata. Huh, apa aku peduli?" Anila bermonolog di kamarnya, mengejek Rajen.


Setelah Rajen memberikan sebuah cek, tentu Anila tidak menerimanya. Tanpa uang pun ia tidak akan mendekati Rafin, apalagi ketika mengingat perlakuan Agata terhadapnya dahulu.


"Anil, bangun! Sarapan cepat!" Almira berteriak dari ruang makan. Suaranya cukup merusak gendang telinga Anila, yang kamarnya tidak terlalu jauh dari tempat sang mama bersuara.


Tak ingin jika Almira kembali mengeluarkan suara, Anila segera bergegas menuju kamar mandi. Bukan untuk membersihkan diri tetapi, hanya membasuh wajah dan menggosok gigi.


"Anak itu, selalu saja." Almira menggerutu seraya berjalan ke arah kamar Anila. Putrinya tidak akan bangun jika ia tidak membangunkannya. Bergadang tidak pernah, mengapa putrinya itu sangat kebo ketika tidur.


"An—" Almira menggedor pintu. Baru satu ketukan, tubuh Anila sudah nampak membuka pintu dan sekarang berada di hadapannya.


Almira memandang anak gadisnya heran, "Tumben udah bangun," sindirnya.


"Kenapa? Anila harus tidur lagi?" Anila hendak menutup pintu tetapi, Almira menahannya.


"Dih, kok gitu? Mama heran aja kamu udah bangun."

__ADS_1


"Anil bangun siang diomongin, bangun pagi sama aja."


Almira terkekeh mendengar jawaban putrinya, "Iya." Wanita itu mengangkat tangan dan menaruhnya di bahu Anila. Pandangannya berubah serius.


"Nil, seperti inilah ke depannya. Bangun mandiri, jangan selalu Mama yang membangunkan. Mama tidak mungkin terus melakukan ini sampai hari-hari berikutnya."


Dahi Anila berkerut, dengan kedua alis yang hampir tak berjarak. "Ihh, kenapa Mama bilang begitu? Sudahlah, Anil mau sarapan." Anila berlalu pergi begitu saja meninggalkan Almira yang menatapnya dengan sendu, namun bibirnya yang menampakkan senyuman.


...***...


Di ruang makan hanya tercipta keheningan. Tak ada dari Ayah, Mama ataupun anak yang memulai pembicaraan. Biasanya Anila selalu pecicilan ataupun meminta lauk dari dari kedua orang tuanya.


Anila sibuk dengan makannya, begitupun dengan Ardi. Hal itu membuat Almira membuka suara, karena tak biasanya meja makan hanya dipenuhi suara dentingan sendok dan piring.


"Nggak, Ma. Udah cukup."


...***...


"Bosen juga gue di rumah terus," gumam Anila yang tengah tengkurap di tempat tidur. Rambut panjangnya menjuntai ke lantai sebab gadis itu membiarkan kepalanya berada di tepi ranjang. Mengingat ini hari Minggu, gadis itu sekarang berada di rumah.


Entah apa yang orang tuanya lakukan ketika hari Minggu. Tidakah libur bekerja? Anila ingin memaki sang bos kedua orang tuanya jika memang begitu. Setidaknya biarkan mereka bersama Anila satu hari saja.


Anila iseng membuka instagram, melihat banyak postingan di berandanya yang penuh dengan orang menikmati hari weekend. Anila nampak iri, ia juga ingin walau hanya ke taman kota. Namun tidak ada yang mengajaknya.

__ADS_1


Orang tuanya yang selalu tidak ada waktu bersamanya. Apa ia harus pergi sendiri? Gadis itu masih tidak berani. Entah apa yang membuatnya takut bepergian sendiri. Angga? Ia sungguh bosan kemana-mana pergi dengannya, apalagi Angga seorang laki-laki, tentu berbeda versi dengannya. Jujur saja, Anila ingin memiliki teman perempuan.


"Tau lah, daripada Anil bosen." Gadis itu tidak tahan dengan orang-orang yang pamer hari mingguan bersama sahabat ataupun pacar. Ia akhirnya bertekad untuk jalan-jalan sendiri, ia sudah besar, tidak masalah bukan?


...***...


Anila menyusuri jalanan kota dengan kakinya. Menikmati udara pagi hari yang masih terasa sejuk. Anila biasanya merasakan hal ini ketika di sekolah, ataupun berada di motor bersama Angga. Anila sekarang senang, dunia luar ternyata tidak seburuk yang ia bayangkan dan orang tuanya dahulu ceritakan. Akhirnya ia bisa menikmatinya walau hanya seorang diri.


Gadis itu menuju ke taman kota yang juga tak jauh ada taman di dekatnya. Tempat yang selalu muncul di beranda Instagram Anila. Apakah tempat itu sangat menyenangkan sehingga banyak orang mengabadikannya?


Saat kecil, Anila bahkan tidak merasakan ke sana bersama orang tuanya. Ardi maupun Almira selalu mengajaknya untuk berbelanja dan berbelanja.


"Wah, apa ini yang mereka sebut taman itu?" kagumnya memandangi area taman kota yang penuh dengan orang-orang. Ada yang tengah fiknik, anak kecil yang bermain, ataupun sepasang remaja yang tengah menebar kemesraan mereka.


Anila meraih ponsel dari tas selempangnya dan membuka kamera dari sana. Anila juga ingin mengabadikannya dan memamerkan pada pengikut Anila di Instagram yang ribuan.


Anila belum menjepretnya, pandangan gadis itu berfokus pada pasangan orang dewasa yang seperti tengah beradu mulut.


"Bukankah itu ...?"


...***...


Hello, kalian udah pada baca karya yang aku rekomendasikan? Pasti udah dong. Nah, aku bawain yang baru lagi nih, perpus kalian auto nambah nih.

__ADS_1



__ADS_2