JADI GURU DEMI CALON ISTRI

JADI GURU DEMI CALON ISTRI
20. Menghukum Calon Istri


__ADS_3

Anila bergegas menuju gerbang sekolah dengan berlari. Gadis itu melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan sebelah kirinya. Waktu sudah menunjukkan pukul 07.58 WIB, hanya dua menit lagi gerbang tertutup. Jarum semakin berputar tiap detiknya di benda bulat itu.


Karena mobil Ardi yang berpapasan dengan teman kuliahnya yang tengah berjalan kaki, membuat Ardi menepikan kendaraannya itu dan mengobrol sebentar dengan sang teman lama. Sudah hampir tiga tahun tidak bertemu, tentu saja bahagia ketika melepas rindu dengan cara bertemu.


Ardi menghabiskan waktu sedikit lama mengobrol, hingga lupa jika hendak mengantar Anila sekolah. Anila sudah tobat menjadi murid bandel, gadis itu tidak ingin terlambat lagi. Berulang kali gadis itu memanggil sang ayah dari mobil, tetapi Ardi hanya melirik putrinya sebentar dan kembali mengobrol.


Ketika selesai dan mobil kembali jalan, kendaraan itu tiba-tiba mogok. Ardi berusaha mengotak-atik mobilnya tersebut, tetapi nihil. Sepertinya harus dibawa ke bengkel. Untung saja jarak sekolah tidak terlalu jauh dari tempat Anila saat itu berada. Ia memilih berlari, jika menunggu mobil baik, ia tidak akan sempat tempat waktu.


Berlari ke sekolah dari tempat itu membutuhkan waktu sekitar sepuluh menit. Sekarang Anila sampai di gerbang sekolah. Namun, satpam telah menutupnya. Gadis itu melihat jam tangannya yang memang sudah menunjukan waktu 07.02.


"Ck." Anila berdecak dengan berkacak pinggang. Gadis itu membelakangi gerbang, tidak tahu apa yang harus dilakukan.


Srek


Terdengar gerbang itu terbuka, Anila membalikan badan seraya tersenyum penuh harap. Namun, senyuman itu pudar kala melihat siapa yang kini berada di hadapannya.


Rafin, pria itu Rafin. "Sudah lama?"


Anila kembali melihat jam tangannya, "Satu menit yang lalu," timpal gadis itu.

__ADS_1


"Hanya tiga menit, tapi tidak bisa ditoleransi, apalagi untuk murid yang terlalu sering terlambat," ungkap Rafin dingin.


Pria itu kembali bersuara, "Masuklah, untuk menerima hukuman."


Anila menurut, setidaknya ia bisa masuk kelas walau harus dihukum terlebih dahulu. Namun, mengapa orang yang menghukumnya harus dia?


Rafin membawa Anila pada halaman belakang kelas XI IPS 3. Gadis itu tercengang kala banyak sekali daun kering di sana. Ia dapat menebak apa hukuman yang akan diberikan terhadapnya.


"Ambil sapu lidi itu, dan bersihkan ini. Jangan sampai daun-daun ini berserakan di sini!" tegas Rafin dengan menekan setiap kalimat di akhir. Apa yang Anila duga benar, pria itu pasti memberinya hukuman tersebut.


Anila mengambil sapu lidi beserta pengki yang bersender di pohon lengkeng. Gadis itu mulai menyapu dedaunan dari area pohon tersebut terlebih dahulu.


"Sapu dengan benar!" Anila memperhatikan jika pria itu seperti tak biasanya. Ia bersikap lebih dingin pada Anila ketika berbicara. Biasanya akan mencari kesempatan dalam kesempitan. Namun, Anila berpikir jika Rafin melakukannya karena berada dalam lingkungan sekolah.


Lima belas menit Anila menyapu di sana. Gadis itu mengumpulkan dedaunan di satu gundukan, seperti yang biasa Almira lakukan. Anila mengusap dahi dengan pergelangannya untuk menghapus jejak keringat. Ternyata hanya menyapu membuatnya lelah. Tiba-tiba saja gundukan daun yang Anila kumpulkan tertiup angin, membuat beberapa daun beterbangan. Anila mengejarnya dan mengumpulkan kembali daun tersebut dengan antek-anteknya.


Rafin masih memperhatikan gadis itu, entah mengapa ia ingin tertawa. Ketika Anila mengejar daun itu, daun ini yang terbang. Hingga, Anila harus mengejarnya juga. Hal itu terjadi berulang. Rafin tak tahan melihatnya.


"Masukan daun itu pada tong sampah. Jika dibiarkan percuma saja, akan terus beterbangan." Anila mengembulkan pipinya. Kenapa tidak bilang dari tadi? Kalau begitu, ia tidak akan capek beberapa kali lipat.

__ADS_1


Anila melihat sekeliling untuk mencari di mana letak tong sampah. Sama dengan letak sapu dan pengki, tong sampah tersebut berada di dekat pohon lengkeng. Gadis itu segera membawanya, untuk melakukan apa yang Rafin perintahkan.


"Jangan bergerak!" usul Rafin menghampiri Anila yang sibuk memasukkan daun ke dalam tong sampah. Gadis heran, ada yang salah?


"Kya ... apa itu!?" Anila histeris ketika Rafin menyapit hewan kecil berbulu dengan telunjuk dan ibu jarinya. Hewan itu didapatkan dari rambut Anila.


"Hanya ulat bulu, mungkin dari pohon lengkeng." Anila bergidik, bisa-bisanya pria itu mengambil langsung ulat tersebut dengan tangannya.


"Selesaikan pekerjaanmu. Maka kau bisa mengikuti pelajaran!" ucap Rafin sebelum akhirnya membiarkan Anila sendiri di sana.


Anila merasa aneh, tetapi tidak memedulikannya. Ia hanya berfokus pada hukumannya, hanya tinggal membuangnya dan hukuman selesai. Anila bisa mengikuti pelajaran.


...***...


"Pak Rafin, kenapa? Apa anda baik-baik saja?"


...***...


Novel seru dari author skyl. Mesti masukin perpus dan dan tentunya baca juga. Rekomend banget nih buat baca.

__ADS_1



__ADS_2