JADI GURU DEMI CALON ISTRI

JADI GURU DEMI CALON ISTRI
27. Kebenaran di Pemakaman


__ADS_3

Angga menyenderkan tubuhnya pada punggung sofa. Dirinya nampak tak bergairah setelah pulang dari sekolah. Matanya mulai terpejam, sampai hanya beberapa detik lagi kesadaran hilang sepenuhnya. Namun, dering ponsel bersuara membangunkannya. Angga meraih benda pipih itu dengan malas.


Kontak 'Pak Lucas' muncul saat layar ponselnya menyala. Untuk apa pria itu menghubunginya? Angga hanya melihat benda itu dengan kening berkerut. Entah naluri dari mana, ia menggeser logo hijau di sana. Membuat panggilan tersambung.


"Angga?" sapa Lucas dari seberang.


Angga tidak menjawab sapaan dari sang ayah kandung. Hening beberapa detik, sampai Lucas kembali berucap karena tahu pasti Angga tidak akan bersuara.


"Hari ini tepat meninggalnya kakekmu yang kedua tahun."


Kening Angga berkerut, ia hampir lupa akan hal itu. Namun, sejak kapan pria itu peduli?


"Lalu?" Di seberang sana Lucas membulatkan mata, tidak menyangka apa jawaban dari putranya. Bukankah ia selalu peduli terhadap kakeknya?


"Tentu saja kami akan mendoakannya sore ini. Jika kita bareng mungkin akan lebih baik. Kakekmu akan senang."


Angga tersenyum sinis, senang? Benarkah hal itu?


"Kami siapa yang kau maksud?"


"Ahh, keluargaku dan keluarga ibumu. Kami sudah tidak berhubungan, namun walaupun begitu dia sempat menjadi menantunya. Dan memutuskan akan berziarah bersama."


Angga mematikan telpon sepihak, melemparkan ponselnya begitu saja pada sofa. Ia muak dengan kata-kata yang dilontarkan sang ayah. Seakan ia peduli akan sang kakek yang telah tiada.


...***...


Rafin tengah menggoreskan pena pada beberapa lembar kertas yang berharga. Membentuk coretan tanda tangannya. Sampai kepalanya mendongak melihat ke pintu. Rajen tengah berjalan ke arahnya. Rafin menggelengkan kepala, dan kembali menandatangi berkasnya. Entah apa yang akan dibicarakan sang ayah kali ini.

__ADS_1


"Fin?" panggil Rajen namun tak mendapat sahutan dari Rafin.


"Rafin, hari ini keluarga Agata akan pergi berziarah, kau juga harus ikut." Rafin menghentikan coretannya, mengisyaratkan sang karyawan yang menunggu tanda tangannya agar pergi dari sana.


Rafin lantas melemparkan punggungnya pada punggung kursi, tangannya saling menaut dengan siku menjadi penompangnya di atas meja.


"Urusan apa aku harus ikut ke sana?"


"Fin, keluarga Agata sudah berhutang banyak pada keluarga kita. Tidak salah jika kau ikut berziarah bersama mereka."


"Papa yang berhutang, bukan aku." Rajen terdiam, tangannya terkepal di bawah sana. Putranya itu sungguh tidak mengerti, namun agar Rafin menurutinya ia harus bersabar.


Rafin berucap kembali, "Kenapa bukan Papa yang pergi ke sana?"


"Maka dari itu, Nak. Papa tidak akan pergi, kau yang menggantikan," jawab Rajen dengan kelembutan. Rafin menghela nafas panjang, pria itu berdiri dari kursi kebesarannya. Begitu saja melewati sang ayah tanpa mengeluarkan sepatah katapun.


"Dasar anak tidak berguna! Aku sudah mati-matian menahan amarah, dia malah pergi seenaknya tanpa bicara dahulu." Rajen mengumpat di dalam sana, sementara Rafin yang berada di luar mendengar hal itu dan tersenyum smirk.


...***...


Sesuai janji, Lucas dan Meta beserta keluarganya pergi ke pemakaman Liam yang sudah tiada. Mereka kompak mengenakan pakaian hitam beserta kacamata. Lucas membawa seorang pria tua yang paham agama untuk menuntunnya berdoa. Namun hal itu tidak ada gunanya. Meta menyalahkan Lucas sebab tidak bisa membawa Angga ke sana. Sekarang kedatangan mereka serasa tidak berguna. Mereka hanya saling diam menahan kekesalan.


"Kenapa belum dimulai?" Suara seorang pemuda mengalihkan perhatiannya. Mereka terkejut dengan kedatangan Angga yang tiba-tiba.


Pemuda itu kembali berucap, "Bukankah akan mendoakan kakekku? Atau itu hanya alibi saja?" sindirnya. Keluarga orang tuanya menatap sini ke arahnya. Terkecuali Lucas, Meta serta Niora.


"Iya, Nak. Kami hanya tengah menunggumu datang," sangkal Lucas.

__ADS_1


"Kenapa kau sangat yakin jika aku akan datang. Bukankah aku tidak mengatakan hal itu?" jawab sekaligus tanya Angga yang membuat pria itu terdiam.


"Aku yakin kau pasti datang."


Sementara, seorang wanita dari keluarga Meta sedari tadi memperhatikan Angga. Ia teringat akan gadis yang disukai cintanya. Pemuda itu menjadi penolong gadis itu yang ia siksa habis-habisan. Ia adalah Agata, putri tiri dari Meta. Pandangannya tertunduk kala pandangan ia dan sodara tirinya itu saling menaut.


Ia tidak tahu jika Angga adalah putra dari ibu tirinya. Agata takut, membayangkan nasibnya ketika kekurangan tahu akan hal itu.


Sementara, Angga yang melihat ke arah wanita itu berpikiran hal sama tentang Anila waktu itu. Ia masih mengingat wajah itu. Wajah yang menyiksa sahabatnya di toilet.


Meta yang tidak ingin Angga berucap lebih jauh, ia pun akhirnya yang berbicara, "Sekarang sudah lengkap, mulai saja, Pak." Mereka berjalan ke makam Liam. Pria itu itu memimpin doa sesuai ajaran Islam.


Lucas, Meta beserta keluarga mereka tidak tahu harus apa, sebab tidak mengerti akan hal dilakukannya sekarang. Mereka melihat Angga yang nampak mengadahkan tangan dengan mata terpejam. Mereka pun mengikutinya.


Sementara, tak jauh dari pemakaman, nampak seorang pria memperhatikan ke arah keluarga itu.


"Agata dan pemuda itu keluarga?" tebaknya. Tidak mungkin bukan jika mereka bersama.


"Angga cucu dari Liam Narendra?"


"Agata, Angga, dan anak baru itu." Pria itu tersenyum smirk. Kebenaran yang ia lihat berasa menarik.


Dalam satu tempat, terdapat banyak kebenaran terungkap tidak mereka ketahui. Hal itu bukan akhir dari ceritanya, sekarang baru dimulai.


...***...


Wait ... kalian pasti penasaran akan kelanjutannya. Mening mampir dulu ke karya teman aku sembari tunggu up.

__ADS_1



__ADS_2