JADI GURU DEMI CALON ISTRI

JADI GURU DEMI CALON ISTRI
29. Ulangan Dadakan


__ADS_3

Hari Senin, hari paling menyebalkan bagi Anila. Setelah upacara bendera yang membuatnya dijemur di bawah terik matahari. Saat masuk ada pelajaran matematika pada jam pertama.


"Pagi semua, minggu depan kalian akan melaksanakan ujian. Agar saat pelaksanaan tidak syok, Saya akan memberikan soal yang perlu kalian isi." Rafin berujar dengan santai, di tangannya terdapat beberapa kertas yang terisi angka juga rumus.


Murid XI IPS 3 saling membulatkan mata. Begitupun Anila yang sampai panas dingin. Tahu ia bodoh terhadap pelajaran tersebut, menghafal lebih dulu pun ia akan lupa. Dan Rafin memberikan ulangan dadakan?


Anila melirik ke samping, menatap Laudya yang kini tengah bersedekah dada dengan punggung tersender, terlihat tidak peduli sama sekali.


Rafin sampai di hadapan Anila, memberikan langsung kertas ulangan padanya. Gadis itu hanya melihat rumus-rumus yang tertera di sana, tak tahu harus melakukan apa. Ketika melihat sekitar, teman-temannya tengah sibuk mengerjakan.


Waktu terus berlalu, Anila masih tak menggoreskan penanya pada kertas ulangan. Dalam hatinya terus berdoa, meminta pada Tuhan supaya diberikan penghenti waktu, seperti dalam film. Gadis itu akan menghentikan waktu saat ini, dan akan berlari pada teman sekelasnya sekadar menyontek.


Matanya terpejam membayangkan hal tersebut, dengan bibir ikut tersenyum. Tanpa sadar ia berteriak.


"Selesai!" Anila bersorak dengan mengangkat kertas ulangannya. Pandangan semua orang teralihkan padanya tak terkecuali Rafin. Mereka terkejut, bagaimana bisa gadis itu menyelesaikannya dengan cepat.


Hening, hanya terdengar suara kicauan burung Daru luar jendela. Anila melihat sekitar, sadar jika hal itu hanyalah khayalannya ia merasa malu. Kembali meletakan kertas ulangan di atas meja dengan pura-pura mengerjakan.


"Mana? Katanya sudah selesai?" Tiba-tiba saja dan tanpa sepengetahuan Anila, Rafin sudah berada di hadapannya. Gadis itu mendongak, merutuki dirinya, apa yang harus ia katakan? Akhirnya tidak ada, ia hanya bisa memalingkan wajah ke samping.

__ADS_1


Rafin kembali berbicara seraya menyodorkan tangannya, memperlihatkan telapak tangan untuk meminta. "Mana?"


"Anu, Saya hanya—" papar Anila tak melanjutkan kalimat.


Kening Rafin berkerut. Begitupun dengan bibir Anila yang mulai bergetar menahan air mata.


"Saya belum, Pak," lanjut Anila kemudian menahan malu. Rafin ingin tertawa, gadis itu begitu lucu baginya. Rafin ingin segera memiliki gadis itu secepatnya. Hanya beberapa bulan lagi setelah gadis itu melaksanakan ujian, naik kelas dan hingga akhirnya keluar.


"Ekhem ...." Rafin berdehem agar tidak terpancing, pria itu melirik arloji di pergelangan tangan kirinya.


"Baiklah, waktu saya sudah habis, kumpulkan jawaban kalian!" tutur Rafin pada murid lainnya.


Rafin mengecek kertas-kertas itu, melihat kertas yang terdapat nama Anila Dayita ia tersenyum miring ketika tidak ada satupun soal yang terjawab.


"Terima kasih atas jawaban kalian. Semoga kalian lancar saat ujian minggu depan," anjur Rafin basa-basi.


"Pelajaran hari mungkin hanya Saya yang isi. Guru-guru akan melaksanakan rapat, sekarang kalian boleh pulang," sambung pria itu yang mendapat sorakan gembira dari para murid. Begitu juga dengan Anila, bibirnya menjadi melengkung mendengar ungkapan tersebut.


"Kecuali yang tidak menjawab semua soal-soal ini." Senyum Anila pudar.

__ADS_1


"Makanya pinter," sindir Laudya yang tengah membereskan alat tulisnya.


"Nyenyenye ...." Anila mengejeknya, Laudya melihat itu, ia ingin menjambak rambut Anila, namun diurungkan. Lebih baik pulang daripada berurusan dengan gadis bodoh seperti Anila, pikirnya.


Kelas itu mulai kosong, para murid sudah keluar menuju jalan pulang. "Gue duluan, ya, Nil!" Angga melambaikan tangannya di ambang pintu dengan senyum mengejek.


"Kau seharusnya berpikir untuk menjawab soal, bukan malah mengkhayal," cibir Rafin yang berjalan ke bangku Anila.


Anila menekuk wajahnya, bukan ia yang bodoh, tetapi Rafinlah yang tidak masuk akal, tiba-tiba saja memberikan soal tanpa ia lebih dulu menghafalnya.


"Aku tidak tahu harus melakukan apa padamu? Sebentar lagi ujian, bagaimana jika hal ini terulang?" Anila hanya diam menyimak pria di depannya.


"Aku akan menjadi guru privat mu dalam seminggu."


"Hah ...?"


...***...


Lanjut?

__ADS_1


__ADS_2