JADI GURU DEMI CALON ISTRI

JADI GURU DEMI CALON ISTRI
09. Laki kok Melow?


__ADS_3

Rajen dan Rafin masih menunggu Anila dan Agata kembali. Mereka lama sekali berada di toilet, berpikir apakah noda jus itu sulit dihilangkan. Rafin khawatir, wajahnya gusar. Sementara, Rajen hanya diam pertanda tidak peduli sama sekali.


"Sudahlah, Fin. Dia sebentar lagi kembali, mengapa nampak khawatir begitu?"


Rafin mengusap wajahnya kasar, tiba-tiba Agata menghampiri mereka dengan wajah dibuat panik.


"Kamu kenapa Aga? Dimana gadis itu?" tanya Rajen. Mendengar Rajen mengatakan itu, Rafin segera berbalik melihat Agata.


"Saat aku ke toilet, gadis itu sudah pergi bersama seorang pemuda." Agata tidak tahu nama gadis yang dibawa Rafin, sehingga hanya memanggilnya dengan 'gadis itu'.


Rajen yang mendengar penjelasan dari Agata, emosinya memuncak. Pergi dengan laki-laki lain? Bukankah Rafin mencintainya? Mengapa ia berjalan lelaki lain.


Agata yang melihat wajah murka Rajen tertawa senang, dalam hati. Bagaimana jika ia tunjukan gambar yang tadi diambil?


"Aku tidak ingin lancang tetapi, aku tadi mengambil gambar mereka. Mungkin aku mengenal pemuda itu, Fin." Agata meletakkan ponselnya di atas meja.


"Sialan!" Rajen mengumpat setelah melihat foto tersebut.


"Lihatlah! Lihat, Fin. Dia sudah memiliki kekasih. Kau membawa padaku?" Rajen tertawa miring, lantas kembali melanjutkan kalimatnya, "Dia mendekatimu hanya karena harta, Papa sudah sering menemukan perempuan seperti itu. Usiamu dengannya jauh berbeda, mana mungkin ia mau. Lihatlah pemuda yang menggendongnya? seumuran." Rafin diam dengan mengepalkan tangan.


Dilihat dari belakang, pemuda yang menggendong Anila memakai seragam SMA Pelita Merdeka. Sekolah yang menjadi tempat mengajarnya. Rafin dapat menebak bahwa pemuda itu adalah Angga, yang dimanapun, kapanpun, selalu menempel dengan gadisnya.

__ADS_1


"Aku pergi," kata Rafin kemudian. Pria itu menyambar jas yang ia letakkan di punggung kursi dan segera pergi.


Rajen bersandar di kursi dengan menghela nafas panjang. Putranya begitu aneh, "Aga, kamu tenang saja. Om akan selalu mendukungmu, aku tidak akan membiarkan Rafin bersama perempuan lain selain dirimu."


"Terima kasih, Om."


...***...


Angga meletakkan Anila yang sudah lemas ke sofa. Angga tidak tahu harus membawa gadis itu ke mana. Anila menyuruhnya untuk mengantarkan ke rumah. Angga menurutinya, walau belum melupakan tentang sang sahabat yang baginya sudah memiliki sahabat baru. Angga tidak mungkin meninggalkan sang sahabat dalam keadaan mengenaskan seperti tadi.


"Lo gapapa, Nil?" tanya Angga khawatir.


"Kepala Anil sakit," lirihnya dengan suara yang hampir hilang.


Namun, sahabatnya hanya diam dengan mata tertutup. Sepertinya kepala gadis itu sangat sakit. Angga mengangkat tangan, menyentuh dahi Anila dan mulai memijitnya perlahan. Mata Anila perlahan terbuka.


"Anila gapapa. Angga boleh pulang kalau mau. Terima kasih susah mengantar Anila." Gadis itu berbalik memunggungi Angga. Angga dengan segera membenarkan jaket yang menutupi paha Anila sedikit terbuka.


Tunggu! Angga baru menyadari panggilan Anila terhadapnya berbeda. Angga? Sahabatnya itu bukannya terbiasa memanggil Ela? Walau menyebalkan tetapi, ketika panggilannya berubah mengapa ia tidak rela.


Melihat Anila yang memunggunginya dan tertidur di sofa membuat Angga kasihan. Pemuda itu mengepalkan tangan kala membayangkan tentang wanita tadi yang memperlakukan Anila dengan kejam.

__ADS_1


"Gue ijin ke kamar lo, ya, Nil." Angga bergumam. Ia berniat ingin membawakan selimut pada Anila yang nampak kedinginan dengan memakai dress sedikit terbukanya.


Tak butuh waktu Angga menemukan kamar Anila, di depan pintu sudah terdapat papan bertuliskan 'Anil' yang tak lain itu kamar Anila.


Setelah mengambil selimut, Angga kembali menghampiri Anila dan membalutkan selimut pada tubuh Anila.


"Maaf, ya, Nil. Gue gak bisa jaga lo."


...***...


Rafin melanjutkan mobil dengan kecepatan tinggi. Jalanan macet, membuatnya terpaksa melambatkan lajunya, padahal ingin sekali ia melampiaskan amarahnya, tidak peduli dengan nyawa yang menjadi taruhannya. Pria itu memukul stir kala lampu lalu lintas berganti merah. Bukan kesal karena lampu lalu lintas. Namun, karena Anila pergi tanpa memberitahunya. Apalagi pergi bersama Angga, digendong pula.


Entah mengapa cairan bening mulai meluncur ke pipi Rafin tanpa diminta. Dia menangis? Rafin tersenyum miring dan mengusap air matanya dengan kasar. Hanya karena seorang gadis ia menangis, sangat cemen.


"Hanya dia, dia, dan tetap dia."


"Apa kau tidak bisa menghargai ku? Setidaknya pergilah ketika acaranya sudah selesai." Rafin kembali menangis. Bedanya pria itu membiarkan air matanya meluncur ke pipi tanpa mengusapnya. Mengapa dia begitu sakit? Bukan hanya tentang seorang gadis tetapi, Anila adalah kekasih masa kecilnya.


...***...


Bang Rafin kok melow sih? Hilang sudah kejantannya.

__ADS_1


Tidak bosan-bosan aku membawakan karya-karya yang begitu keren dan seru tentunya. Intinya wajib dibaca sih. Baca blurdnya aja pasti udah penasaran dan pengen lanjut.



__ADS_2