
"Aku adalah putra dari Narendra. Jadi atas warisan itu, akulah yang paling berhak."
"Selama dia hidup, kau tidak pernah mengurusnya. Aku yang selalu membantunya. Jadi aku lebih berhak daripada kau!"
Saat Angga pulang sekolah, ia baru hendak memasuki rumah tetapi, terdengar suara orang tuanya yang telah bercerai tengah ribut, tak lain dan tak bukan tentang harta warisan. Angga bosan mendengarnya.
Lucas dan Meta—orang tua Angga telah lama bercerai, ketika umur Angga masih menginjak 7 tahun. Mereka memisahkan diri, Angga ditinggalkan bersama sang kakek yang sakit-sakitan. Meta ingin Liam menganggapnya sebagai wanita baik walau bukan lagi menantunya. Wanita itu selalu menjenguk bahkan mengurusnya. Namun, ia tidak melakukannya dengan ikhlas, ia hanya ingin mendapat warisan.
Lucas, pria itu sama sekali tidak peduli. Ia hanya sibuk pada keluarga barunya. Liam sangat merasa kasihan pada Angga yang mempunyai orang tua lengkap, namun bagai telah tiada.
Ketika Angga menginjak umur 15 tahun, tepat dua tahun lalu sang kakek meninggal akibat penyakit jantungnya. Betapa terpuruknya pemuda itu, sang kakek adalah keluarga satu-satunya yang ia miliki. Sedangkan, orang tuanya sama sekali tidak peduli padanya.
Angga membenci mereka, apalagi ketika ia melihat air mata yang dikeluarkan orang tuanya saat pemakaman Liam. Itu palsu! Angga tahu itu. Mereka hanya mencari simpati orang-orang.
Ketika hak ahli waris diumumkan lewat pengacara Liam. Kakek Angga menyerahkan harta warisan sepenuhnya pada Angga, tentu itu membuat Lucas dan Meta kecewa.
Selama 2 tahun, mereka tak henti-hentinya membujuk Angga agar menyerahkan sebagian harta yang ditinggalkan Liam. Angga tidak butuh harta, ia hanya ingin kasih sayang orang tua.
Angga menyimpan harta yang ditinggalkan sang kakek. Ia tidak tahu harus menggunakannya untuk apa, namun tidak juga Angga menyerahkan pada kedua orang tuanya.
Mereka selalu menodong Angga kala pulang sekolah. Seperti halnya saat ini. Angga tidak menggubris, membiarkan mereka berdebat di rumah Angga. Pemuda itu melepaskan knop pintu dan pergi untuk mendamaikan hatinya.
Tidak tahu arah tujuan, ia pergi ke sebuah pantai melihat senja. Setelah puas, pemuda itu tidak langsung pulang ke rumah, takut orang tuanya masih berada di sana. Kebetulan Angga belum sempat mengisi perut, akhirnya ia pergi ke sebuah caffe tak jauh dari tempatnya berada sekarang, dengan masih menggunakan seragam sekolah tetapi, ia membalutnya dengan jaket sehingga tak terlihat.
Pemuda itu tak sengaja melihat seorang gadis memaki dress putih. Seperti sahabatnya, Anila.
Angga heran, apakah itu memang Anila? Bersama siapa ia kemari? Ia tahu gadis itu tidak bisa pergi sendiri. Inipun bukan waktu orang tuanya pulang bekerja.
...***...
"Aku takut Anila tersesat ataupun butuh bantuan, aku akan menyusulnya." Agata mengusulkan.
"Kamu benar. Dia sepertinya gadis yang bergantung pada orang tua. Siapa tahu ke toilet saja tidak bisa," jawab Rajen yang berniat menyindir Putranya.
Agata tersenyum menanggapi Rajen. Sepertinya pria tua itu memang tidak menyukai gadis yang dibawa Rafin. Jika Rafin tidak menyukai Agata. Setidaknya Rajen berpihak padanya, sehingga tidak terlalu susah untuk mendapatkan Rafin.
__ADS_1
...***...
"Ihh, bagaimana menghilangkan ini?" Sedari tadi Anila tidak berhenti mengucek dress-nya dengan air sampai kusut. Noda jus yang ditumpahkan pelayan tadi sama sekali tidak hilang. Hanya sedikit pudar.
"Akhh ...." Anila bergeser kala merasakan air memercik padanya.
"Oh, kau. Maaf aku tidak sengaja," ujar wanita yang memercikan air padanya. Dia adalah Agata.
Anila hanya diam ketika tahu siapa itu. Gadis itu menunduk seraya menggenggam dress yang terkena noda.
"Belum bersih, ya?"
"Ah iya."
"Biar aku bantu." Agata mulai memegang dress Anila, dan ....
Brek
Dia merobeknya, membuat paha Anila seketika terekspos.
"Oh, tidak. Maafkan aku," sergah Agata dengan tangan menutup mulutnya. Sekarang menjadi rumit. Anila tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Melihat raut wajah wanita di depannya membuat Anila curiga. Dia seperti tidak merasa bersalah, apakah merobek dress Anila itu sengaja?
"Gadis j*lang! Berani sekali kamu merebut Rafin dariku. Apa hebat mu?"
Sekarang Anila takut. Bahunya kesakitan kala Agata mencengkramnya hingga kuku panjang wanita itu hampir menusuk kulitnya.
"Sa-saya tidak tahu apa-apa. Tolong lepaskan tanganmu dari bahuku," mohon Anila yang tidak digubris sama sekali.
Brakk
"Sialan!" Agata membanting tubuh Anila ke lantai, membuat gadis itu tersungkur dengan mengaduh kesakitan.
"Kemari kau!" Agata kembali meraih pundak Anila. Ia tidak akan membiarkan Anila begitu saja. Enak saja telah merebut sahabat kecil yang ingin dijodohkan dengannya.
"Ini balasan karena sudah merebut Rafin-ku." Agata membenturkan kepala Anila ke tembok, dengan posisi gadis itu yang masih duduk karena tersungkur tadi.
__ADS_1
"Dasar jal—"
Brakk
"Hei, kau!"
Agata belum puas. Ia ingin kembali membenturkan kepala gadis di depannya itu. Namun, entah dari mana asalnya seorang pemuda mendobrak pintu wc wanita.
"E-ela." Anila sudah lunglang, kepalanya berdenyut, badannya lemas.
Karena penasaran, Angga menunggu sampai gadis yang ia curigai Anila itu kembali melewatinya. Namun, sudah berapa lama ia menunggu, gadis itu tak kunjung kembali. Akhirnya Angga menyusul ke toilet.
Toilet di sana begitu sepi membuatnya sampai begidik ngeri. Walaupun terdapat cahaya lampu yang menerangi, tetap saja. Yang ia ketahui kamar mandi adalah tempat paling (mereka) sukai.
Angga hanya bersandar di tembok WC. Menunggu gadis tadi keluar. Suasananya hening, Angga mendengar keributan dari WC wanita. Ia tidak menghiraukannya, berpikir hanya salah dengar. Namun, terdengar suara benturan amat keras membuat pemuda itu segera menghampiri ke arah suara.
Ia menempelkan telinga pada pintu WC wanita. Benar saja, masih terdengar suara benturan. Dengan mantap bahwa Angga tak salah dengar, pemuda itu memutuskan mendobrak pintu. Betapa kagetnya ketika ia melihat seorang gadis ditindas yang badannya mulai lemas dan matanya memejam. Ia sahabatnya, Anila.
"Siapa kau!?" tanya Agata sewot. Wanita itu bahkan seperti bodo amat ketika seorang memergoki tindakan jahatnya. Angga tersulut emosi karena ada orang berani menyakiti sahabatnya, walau Angga sekarang sedang marah pada gadis itu.
Angga maju satu langkah. Sungguh ia ingin memberi pelajaran pada wanita itu.
"Ela," panggil Anila yang suaranya hampir hilang. Seketika Angga melupakan wanita di depannya. Yang terpenting baginya adalah Anila sang sahabat.
Pemuda itu berjongkok, melihat dress Anila yang robek, dengan segera melepas jaket hingga memperlihatkan seragam sekolah SMA Pelita Bangsa. Dengan segera ia membalutkannya untuk menutupi robekan itu. Sahabatnya tak berdaya, Angga membawa Anila dari WC dengan menggendongnya.
Agata marah, ia belum puas menyiksa gadis itu. Namun, ketika melihat pemuda itu menggendong Anila. Ia mengabadikannya dengan memotret mereka, bagaimana reaksi Rajen dan Rafin ketika melihat itu? Agata tersenyum smirk.
"Lihatlah betapa romantisnya mereka. Kau sudah memiliki kekasih gadis kecil. Mengapa mengambil Rafin-ku?"
...***...
Agata jahat banget. Apa yang bakal terjadi sama Anila, ya?
Anila mening aku jodohin sama Angga atau Rafin nih?
__ADS_1
Nah, aku bawain rekomendasi lagi nih dari karya temen. Seru banget, baca bab awal aja udah penasaran. Jangan lupa baca, ya.