JADI GURU DEMI CALON ISTRI

JADI GURU DEMI CALON ISTRI
15. Pertemuan Yang Tidak Terduga


__ADS_3

"Apa kau masih mengharapkan gadis itu?"


"Kau tidak ingat bagaimana dia tidak menghormatimu beserta Om Rajen? Semalam apa kau dengar penjelasannya? Cih, gadis itu bahkan tidak berbicaralah sama sekali." Agata sengaja mengompor-ngompori Rafin yang sekarang berdiri di hadapannya.


Agata bukanlah orang yang suka pergi ke tempat orang biasa kunjungi. Pikirnya, untuk apa ia pergi ke sana? ia hanya akan pergi pada tempat yang menurut Agata setara dengan orang kaya biasa kunjungi. Namun entah mengapa ia berani datang ke sebuah taman kota. Bukan apa-apa, ia ingin mencari Rafin yang tentu taman kota adalah tempat favorit pria itu, apalagi ketika hatinya sedang tidak baik-baik saja. Taman kota adalah saksi betapa Rafin kecil hingga dewasa betapa bahagianya ketika mendiang sang mama selalu mengajaknya bermain di sana.


Benar saja, tak butuh waktu lama mencari, Agata sudah menemukan Rafin yang tengah sendirian, menatap anak kecil yang tengah bermain dengan gembira bersama kedua orang tuanya.


"Kau tahu jika aku berada di sini berarti tidak ingin diganggu." Rafin menjawab dengan dingin.


"Kau kemari karena gadis itu? Kau sakit hati? Ka—"


"Cukup!" potong Rafin dengan cepat membuat Agata tersentak.


"Hidupku adalah milikku, apa aku harus menceritakan semua tentangku padamu!?" lanjut Rafin membuatnya Agata akhirnya terdiam. Ia datang ke mencari Rafin berharap menjadi penenang untuk pria itu. Namun, sikapnya masih sama saja terhadapnya.


"Ta—" Agata hendak kembali berucap tetapi, ia melihat seorang gadis tak jauh dari tempatnya berdiri tengah menurunkan ponsel dan melangkah mundur. Gadis itu seperti ingin melarikan diri. Agata tersenyum miring, hal itu dilihat Rafin yang lantas mengikuti arah pandang wanita di depannya.


"Hei, gadis kecil. Tunggu!" cegah Agata tanpa tunggu lama langsung berlari kepada Anila.

__ADS_1


Anila menghentikan langkah. Agata tidak menyebut namanya tetapi, Anila tahu bahwa Agata pasti memanggilnya. Gadis itu menggenggam ponselnya dengan erat. Ia tidak ingin bertemu dengan kedua orang itu.


"Tidak menyangka kita bertemu di sini," tutur Agata kala sudah berhadapan dengan Anila.


Ya, Anila juga tidak menyangka. ketika Agata melontarkan kalimat padanya, Anila tidak tahu harus menjawab apa. Beberapa detik keheningan tercipta di antara mereka. Bahkan, Rafin pun kini sudah bergabung dengan kedua perempuan itu.


"A-aa iya, Anila juga tidak menyangka," sahut Anila kemudian.


Agata yang menyadari Rafin berada di sisinya, segera wanita itu bergelayut di lengan Rafin. "Kami kemari berdua," ujarnya.


Agata kembali melanjutkan kalimatnya, "Kau ... tidak bersama kekasihmu?" Entah mengapa Rafin kesal mendengarnya, dengan paksa ia melepaskan tangan Agata yang memeluk lengannya. Pria itu memalingkan wajah, dengan sedikit menahan amarah.


"Kekasih? Emm ... Anila tidak memiliki seorang kekasih."


"Agata!" Rafin berteriak. Agata maupun Anila sama-sama tersentak.


"Cukup! Jangan mencampuri urusan orang lain. Hari ini cukup panas, kekasihnya mungkin sedang membelikan sesuatu untuknya. Sebaiknya kita pulang." Agata tertegun. Ia tidan peduli apa yang diucapkannya Rafin di awal. Namun, apa benar Rafin mengajaknya pulang bersama? Tidak, ini seperti mimpi baginya.


Tak ingin menghilangkan kesempatan emasnya. Agata segera menyusul Rafin yang mulai meninggalkannya. Ia tidak ingin jika Rafin sampai berubah pikiran.

__ADS_1


"Aku sungguh tidak mengerti dengan mereka." Anila bermonolog seraya memandang punggung Agata dan Rafin yang perlahan menghilang ditelan jarak.


Namun, Anila lebih memilih tidak peduli. Gadis itu kembali menikmati hari minggu kali ini. Bahagia baginya itu sederhana, hanya dengan pergi ke taman melihat orang-orang bersenang-senang dapat membuatnya tersenyum gembira.


"Woi, Nil! Lo di sini juga." Saat tengah melihat anak kecil bermain bola. Anila menoleh pada suara yang seperti memanggilnya. Itu adalah sahabatnya.


Anila tersenyum memperlihatkan gigi-giginya yang berderet rapi. "Wih, seneng nih bisa diajak jalan sama Mak Bapak?"


"Anil pergi sendiri." Angga terkejut, matanya menyipit berusaha mencari kebenaran. Sejak kapan gadis itu bisa bepergian keluar sendiri?


"Dunia liat ternyata tidak seburuk yang Anil bayangkan. Anil cuma bosen di rumah tanpa ada Ayah sama Mama." Angga mangut-mangut, ia akhirnya mengerti apa yang Anila ucapkan.


"Keren, ada kemajuan." Angga mengacungkan kedua ibu jarinya di hadapan wajah Anila.


"Sudah sampai mana hubungan kalian berlanjut. Apa kau tidak ada niatan sekadar meminta maaf padaku? Bukan hanya karena dorongan orang tuamu yang gila harta itu?" Entah sejak kapan Rafin kembali ke taman. Pria itu nampak mengepalkan tangan, sehingga urat-urat di sana terlihat. Giginya menggertak, beserta wajahnya yang mulai memerah. Lihatlah apa yang akan ia lakukan selanjutnya jika sedang marah.


...***...


Besok tanggal merah, yuhuu ....

__ADS_1


Karya satu ini bisa menemani kalian, jangan lupa baca ya kawan.



__ADS_2