JADI GURU DEMI CALON ISTRI

JADI GURU DEMI CALON ISTRI
04. Kenapa?


__ADS_3

..."Jangan melihat seseorang dari tampilan luarnya saja. Jangan pula engkau melontarkan kata yang membuat mereka terluka. Walau terbiasa, dan berpikir mereka memakluminya. Sungguh engkau tidak tahu apa kata hatinya. Luarnya bisa terlihat sekuat baja tetapi dalam hatinya mungkin berbeda."...


Suasana ricuh terjadi di kelas XI IPS 3. Anila sedari tadi hanya memainkan ponsel tanpa tahu apa yang harus ia lakukan. Memang benar roda itu akan selalu berputar. Tak selamanya Anila yang paling berisik di kelas, dan yang lainnya hanya diam tanpa berani menggangu. Sekarang malah sebaliknya, Anila si berandal sekolah yang diam.


Kelas tersebut kembali hening pada saat seorang guru masuk ke sana. Mata pelajaran sejarah, mapel yang Anila tidak suka selain matematika. Pelajaran itu selalu membuatnya mengantuk, bahkan bisa sampai tertidur. Namun, karena dulu bangkunya terdapat di belakang, guru tak dapat melihatnya.


Anila mengeluarkan buku paket dan alat tulis dari ranselnya dengan tidak bersemangat.


"Baik, buka halaman 107," ucap Bu Nanda—guru sejarah setelah terdapat buku paket di meja para muridnya.


"Indonesia adalah negara demokrasi. Demokrasi sendiri terbagi menjadi dua, yaitu: Demokrasi langsung dan perwakilan." Bu Nanda menjelaskan materi yang terdapat dari buku.


"Demokrasi langsung adalah ketika terjadinya pemilihan umum, semua warga negara berpartisipasi langsung dan aktif dalam pengambilan keputusan. Sedangkan, demokrasi perwakilan ...." Suara Bu Nanda perlahan hilang dari pendengaran Anila. Pelajaran baru dimulai tetapi, gadis itu sudah mulai mengantuk.


Anila akhirnya membaringkan kepala di meja, dengan buku paket ia biarkan menutupinya agar Bu Nanda mengira, Anila mendengarkan materi seraya membaca.


Laudya teman sebangku Anila melihatnya. Gadis itu mengangkat tangan. "Bu!" panggilnya yang membuat pandangan murid-murid seketika tertuju padanya.


"Anila tidur di dalam kelas," adunya. Anila yang masih setengah sadar itu mendengarnya segera duduk tegap dan merapikan rambut tergerainya.


Gadis itu menjelaskan dengan gagap, "Haa? E-enggak, Bu. Laudya menuduh yang tidak benar. Anila hanya mendengarkan materi Ibu sembari membacanya juga." Gadis itu mengeluarkan side eye pada teman sebangkunya, dasar cepu! Untung Anila dapat tersadar sebelum Bu Nanda melihatnya.

__ADS_1


"Halah, gak usah ngelak. Gue liat sendiri lo tidur. Mana mungkin berandalan kayak lo baca buku. Bodoh, miskin," timpal Laudya dengan memelankan kalimat akhirnya.


"Sudah! Jangan buang waktu, Ibu lanjut materinya. Kalian harap perhatikan."


Namun, Anila tak terima, gadis itu mengepalkan tangannya di bawah meja. Enak saja Laudya menyebutnya berandalan. Dasar murid paling pintar, bisanya menindas orang bodoh.


Laudya dan Anila adalah teman SMP, teman sekedar tahu nama. Laudya dari kecil adalah murid pintar, selalu mendapat juara 1 bahkan mengharumkan nama sekolahnya karena menang dalam berbagai lomba.


Namun, perilaku gadis itu tak sesuai kepintarannya. Hanya berteman dengan orang sekelas dengannya, dan menindas orang di bawahnya. Disaat murid lain takut pada Anila yang note bane memang benar berandal sekolah. Malah, Laudya satu-satunya murid yang selalu membuat masalah dengannya.


"Anak pintar, orang kaya, sukanya menindas orang lain. Kenapa? Gak ada kasih sayang orang tua?" Anila menyeletuk. Laudya menggertakan gigi, dan tersadar ucapan Anila memang benar. Orang tuanya hanya peduli terhadap nilainya, tetapi tak sedikit pun mereka memperhatikannya. Nyatanya, walau mereka banyak harta ... belum tentu hidupnya bahagia.


Laudya hanya melirik Anila dengan tatapan mautnya. Matanya terlihat berkaca-kaca tetapi, wajahnya menampakkan kemarahan.


"Bu! Saya ijin ke toilet." Laudya keluar kelas dengan emosi memuncak. Wajah Anila menampakkan kebingungan. Dasar baperan.


"Mengapa di Indonesia ditetapkan hukum demokrasi ...?" Materi Bu Nanda terpotong kala seorang murid laki-laki memasuki kelas.


"Bu, saya ijin masuk." Itu Angga. Wajahnya terlihat memerah dengan keringat bercucuran.


"Kamu telat ke kelas saya, berdiri di depan sebagai hukuman." Angga hanya diam dan menurut. Anila hanya memperhatikan pemuda itu dengan ekspresi bingung.

__ADS_1


Apapun kondisinya, jika mereka bertemu salah satunya pasti akan seperti orang gila. Namun, kali ini Angga memasang wajah tidak peduli kala Anila tersenyum padanya. Alih-alih membalas, Angga hanya memalingkan wajah.


Angga berdiri di depan papan tulis dengan kedua tangan menjewer telinga. Hal itu membuatnya pegal, sampai akhirnya ia bisa bernapas lega kala jam istirahat dan Bu Nanda melepaskan hukumannya.


Karena tak memiliki teman lain selain Angga, Anila pergi ke kantin hanya sendiri. Berpikir jika Angga masih dihukum. Anila ingin menunggunya sampai hukumannya berakhir tetapi, Bu Nanda mengawasi pemuda itu.


Bangku kantin sudah terisi penuh. Ingin menumpang, tetapi gadis itu bukan siapa-siapa. Walaupun seorang murid nakal, ia tidak berani mengusir murid untuk mendapat bangku. Kecuali jika Angga yang melakukannya. Anila sungguh masih memiliki hati nurani.


Anila melihat sekitar, hingga akhirnya tersenyum kala melihat seorang pemuda tengah makan sendirian. Gadis itu membawa semangkuk Mie ayam dan segelas minuman menghampiri Angga.


"Wih, udah gak dihukum nih?" celetuknya dan tanpa aba-aba, gadis itu duduk di kursi berhadapan dengan Angga. Sementara, pemuda di depannya hanya melirik sekilas, dan segera menghabiskan makanan yang tinggal satu sendok.


Anila baru hendak makan tetapi, terlihat Angga sudah berdiri dan ingin meninggalkannya. Lantas, Anila mencegahnya.


"Eh, lo mau kemana? Gue baru makan, jangan pergi dulu."


"Gue ada urusan." Angga menjawab dengan ketus.


"Eeh ...." Anila hendak mengejar tetapi, sayang mangkuknya masih terisi penuh.


"Ishh. Gue kejar lo setelah masuk deh."

__ADS_1


Apa yang terjadi pada pemuda itu? Apakah marah pada Anila? tetapi gadis itu tidak merasa melakukan kesalahan. Bahkan mereka baru bertemu.


__ADS_2