
Anila membanting tubuhnya ke tempat tidur begitu saja dengan posisi menatap langit-langit. Ia masih memikirkan tentang kejadian tadi di sekolah. ketika ia akan bolos sekolah. Bisa-bisanya guru baru itu adalah orang sama yang kemarin menemui orang tuanya.
Pikiran Anila kalut, apa benar sang ayah akan menjodohkannya? Gadis itu memejamkan mata, merasakan keheningan yang semakin dalam. Selalu, setiap hari ia merasakan hal seperti itu. Jam yang menempel di dinding kamar Anila menunjukkan pukul 20.05 WIB. Belum saatnya kedua orang tuanya pulang.
Di saat gadis itu sudah nyaman dengan pejamannya, sampai merasakan akan terbang ke alam mimpi. Ia sudah berada di depan gerbang dan bersiap membukanya. Tetapi ia merasa ditarik dan kembali pada tempat asalnya.
Anila membuka mata, padahal rasa-rasanya ia akan mimpi indah tetapi, ketika pintu yang diketuk dengan keras dan berulang-ulang menyadarkannya.
Klekk
Gadis itu membuka pintu, ia melihat sosok ayahnya di sana bersama dengan seorang pria. Tapi tunggu ... tidak ada sang mama. Anila mengamati pria yang berdiri di samping ayahnya. Pria tinggi, gagah, tegas, tetapi sedikit tua. Namun, sekarang ia tahu jika memang pria itu memang tampan. Ia adalah guru matematika barunya, Rafin Mavendra.
“Anil, kamu tidak akan membiarkan kita terus-menerus di luar yang dingin ini bukan?” tanya sang sayang membuyarkan lamunannya.
“Eh, iya Ayah. Ayok masuk ... Pak, hehe.” Gadis itu tertawa garing di akhir kalimat.
“Tolong buatkan minuman hangat untuk kami, Nak," titah Ardi, Anila melotot dengan bibir sedikit terbuka. Anila? pergi ke dapur? Buat minuman pula. Apakah ia bisa?
Almira tidak pernah mengijinkan anak gadisnya itu pergi ke dapur. Ia takut Anila terluka, sebab waktu Anila hampir menginjak 2 tahun. Balita yang belum lepas dengan ASI itu selalu ikut sang mama ke dapur. menemaninya memasak, sedang Anila meminum ASI.
Tangan Anila yang tak bisa diam itu tak sengaja terluka oleh pisau yang sedang digunakan Almira memotong sayuran. Ataupun ketika Almira menggoreng, minyak panas menyiprat pada lengan Anila, membuat balita itu menangis tak hentinya.
Almira tidak ingin lagi terjadi hal sama pada Anila. Melihatnya masak saja tidak diperbolehkan. Hanya saat Anila mengambil minum ataupun camilan baru Almira mengijinkan.
Bahkan, ketika bekerja ia selalu berpesan agar tidak pergi ke dapur. Berbahaya! Padahal sebenarnya tidak se-mengerikan itu. Almira lebih memilih menambah uang jajan putrinya untuk memesan makanan daripada harus memasak sendiri.
Di saat teman sekelasnya pamer karena bisa memasang gas LPG, Anila bahkan tak bisa memasak mie instan yang dianggap paling mudah.
Anila celingukan ketika berada di dapur. Ia harus membuat harus melakukan apa? ia teringat membawa ponsel di kantung celananya. Ia menariknya keluar dan mengetikan sesuatu di sebuah aplikasi.
__ADS_1
Cara membuat teh manis
Ketiknya di kolom pencarian. Ia tersenyum bahagia ketika apa yang cari akhirnya nampak. Step demi step gadis itu praktekkan sesuai apa yang terlihat di video tersebut.
"Oh My God beneran nih seorang Anila buat teh? Gila! hebat juga gue. Udah cocoklah jadi istri Suga," monolog gadis itu setelah selesai membuat teh untuk ayahnya dan guru itu.
...***...
"Ini, Yah." Anila menaruh teh manis tersebut pada meja. Terlihat, kedua pria itu tengah membahas pekerjaan. Mereka terlihat dekat, apa benar Ardi akan menjodohkannya dengan pria itu? Lalu, kapan mereka menjadi rekan kerja? Bukankah baru bertemu?
"Silakan minumlah," ucap Ardi pada Rafin yang sibuk dengan berkas-berkasnya. Pria itu mengangguk, dan menyeruput teh manis buatan Anila.
Dalam hati Anila, ia tidak berhenti memuji dirinya sendiri karena telah berhasil membuat dua cangkir teh. Sekarang lihatlah mereka akan menyukai dan memuji dirinya.
Slurp
Hening, Rafin sedikit mengecap teh itu tanpa ekspresi. "Ada yang salah?" Melihat ekspresi Rafin, Ardi terheran dan bertanya. Rafin menggeleng lantas berkata, "Tidak ada, tehnya enak." Ia meminum kembali teh tersebut hingga tak menyisakan sedikitpun di cangkirnya.
Pyur
Tanda diduga, Ardi memuntahkan teh yang sudah berada di mulutnya. Anila membulatkan matanya tak percaya, sedangkan Rafin hanya menyibukkan diri dengan berkas-berkasnya.
"Kamu masukkan garam?" Ardi bertanya pada Anila.
"Hah? Tidak! Mana mungkin aku memasukan garam, jadinya bukan teh manis, malah teh asin."
Ardi beralih menatap Rafin, "Kau serius teh itu bisa diminum?"
"Tentu, buktinya aku menghabiskannya. Kau saja yang tidak beruntung."
__ADS_1
"Nak, apa kau ingin membalas dendam karena kemarin Ayah memarahi mu?"
...***...
Apes sekali, Anila tak dapat membedakan garam dan gula. Tapi kenapa rekan kerja ayahnya bilang tidak asin? Ia memasukan garam di wadah yang sama. Tidak mungkin menjadi gula.
Anila meraih ponsel yang berada di tempat tidurnya. Terdapat beberapa notifikasi dari Angga di sana.
Ela:
Sorry, ya, Nil? Tadi gue gak kasih contekan
20.45
Gue mau kasih, tapi guru baru itu kayak mau mangsa gue
20.45
Lo gak jadi tadi bolos? wkwk
Ternyata akhirnya ada yang menghentikan seorang Anila bolos
20.46
Tapi kalo dilihat-lihat dia keren. Ganteng anjir, padahal udah bapak-bapak
20.46
^^^Anda:^^^
__ADS_1
^^^Join homo lo?^^^
^^^21.05^^^