JADI GURU DEMI CALON ISTRI

JADI GURU DEMI CALON ISTRI
30. Guru Privat?


__ADS_3

Tok Tok Tok


Terdengar suara ketukan pintu di telinga Anila. Setelah kedua orang tuanya pergi bekerja, gadis itu memutuskan untuk kembali tidur. Akhir-akhir ini ia telah menjadi murid baik di sekolahnya. Bangun pun ia menyempatkan lebih pagi. Namun, selama dua hari sekolah diliburkan. Gadis itu begitu senang, sehingga ia bisa menikmati kebersamaan dengan tempat tidurnya. Minggu depan akan melaksanakan ujian akhir tahun, artinya setelah itu ia akan naik ke kelas XII.


Namun, di tengah-tengah ia akan masuk dunia mimpinya, suara ketukan pintu itu menggangu Anila. Ia tidak menghiraukan itu, dan malah menyamping dan menutup telinganya dengan bantal. Sekarang ia bisa tenang.


Tok Tok


Lagi-lagi suara itu terdengar, Anila sedikit menekan bantal sekarang digunakan untuk menutupi telinganya.


Tok Tok


Suara itu semakin keras, Anila muak. Orang tuanya sudah berangkat bekerja dari tadi, kalaupun itu mereka, pasti akan masuk tanpa mengetuk. Anila mengacak rambut hingga acak-acakan. Beberapa detik ia turun dari tempat tidur. Gadis itu melangkah malas menuju pintu.


“Siapa …?“ Anila membuka pintu, ketika melihat siapa yang ada di luar ia membulatkan mata tanda terkejut.


“P-pak?“ gugupnya.


Rafin, entah ada angin apa ia tiba-tiba ke rumah Anila. Pria itu hanya diam seraya kedua tangan ia masukan dalam saku celana. Beberapa detik kemudian Anila dibuat kicep kala Rafin tiba-tiba saja masuk ke rumah tanpa Anila persilahkan. Bahkan duduk di sofa dengan santai seperti itu adalah rumah miliknya.

__ADS_1


“Ayah sudah—”


“Saya tidak mencari Ayah-mu,” potong pria itu tanpa mengijinkan Anila menyelesaikan kalimatnya.


“Tap—”


“Ambilkan saya air!“ Anila hendak berucap kembali, tetapi Rafin lagi-lagi menyelanya.


Anila melotot, bisa-bisanya seorang tamu memerintah tuan rumah. Namun, pria di hadapannya bukanlah tandingan seorang Anila. Alhasil gadis itu tetap menurutinya.


Suara benturan pun terdengar kala Anila meletakkan segelas air putih pada meja. Tatapan Rafin menilik gadis itu ketika Anila sudah berdiri tegap. Tatapan bak elang yang siap menyergap mangsanya. Anila yang tidak nyaman ditatap seperti itu, bergerak tak karuan.


Selalu saja, selalu Anila tak dapat menebak Rafin. Pria itu bersikap seperti beruang kutub, namun setelah itu akan berubah menjadi singa tanpa aba-aba.


Kepala Anila tertunduk dan menjawab, “Sa-saya tidak dengar.“


“Saya sudah mengetuk beberapa kali, bahkan begitu keras. Tidak mendengar atau pura-pura tidak mendengar?“ tutur Rafin dengan sikap tegasnya yang masih ia bawa.


Jeda sejenak sekadar mata Anila beralih menatap langit-langit. Keningnya berkerut untuk mengingat apa yang tadi ia lakukan.

__ADS_1


“Iya sih tadi gue bukan gak denger, tapi pura-pura gak denger.“


“Dan lihatlah!“ Anila kembali beralih melihat Rafin yang masih terduduk di sofa tengah memarahinya.


“Pakaianmu! Begitukah setiap kali kau menyambut tamu?“


Anila memutar kepalanya melihat-lihat pakaian yang ia kenakan. Baju tidur sutera bergambarkan beruang, serta celana pendek begitu berjarak dengan lutut. Sungguh menggoda iman, tapi itu membuatnya nyaman.


“Untung saja bukan orang lain yang melihatnya.“


“Hah?“ Anila menyahut kala mendengar gumaman Rafin yang begitu pelan, namun samar dapat ia dengar.


“Kau tak ingat ucapanku kala itu?“ Rafin berdiri, berjalan pelan mendekati Anila dengan bersedekap dada.


Kini, mereka berhadapan begitu dekat, bibir Rafin sedikit menyeringai. Pria itu mulai mendekatkan wajahnya pada Anila dan berhenti pada telinga gadis itu.


Rafin berbisik, “Denda karena tidak mengisi semua soal yang diberikan.“


“Aku … mulai sekarang akan menjadi guru privatmu.“

__ADS_1


__ADS_2