
"Nil, nanti pulang Ayah juga yang jemput, ya?" ungkap Ardi setelah berhasil mengantarkan Anila ke sekolah SMA Pelita Merdeka.
"Oke, Ayah!" Sebenarnya Anila ingin menanyakan hal tersebut. Tumben sekali, namun Anila melihat akhir-akhir ini Ardi pulang lebih awal dari biasanya. Kenapa Anila harus memikirkan hal itu? Harusnya ia senang.
Gadis itu masih berdiri menunggu Ardi sudah benar-benar pergi dari penglihatannya. Tanpa ia sadari, kedua perempuan baru saja datang melihatnya.
"Itu gadis yang gue bicarakan," gumam si gadis serasa melihat Anila. Perempuan yang berada di kursi pengemudi mengarahkan pandangan pada Anila pula.
Perempuan itu nampak tersenyum sinis tanpa disadari seorang pun, "Ternyata gadis itu, sekalian aku bermain-main dengannya. Dan gadis bodoh ini ...." Perempuan itu beralih melihat Niora yang masih melihat ke arah Anila.
"Aku bisa memanfaatkannya," lanjutnya dalam batin.
"Kenapa bengong?" Niora berbicara membuat lamunan perempuan di sampingnya buyar begitu saja.
"Tidak! Emm ... siapa namanya?"
"Kalau tidak salah, Anila," jawab Niora seraya mengerutkan kening tanda mengingat-ingat.
"Baiklah, gunakan cara itu, kau harus mendekatinya terlebih dahulu."
"Ya ampun, Agata. Gak ada cara lain gitu? Gue udah coba," protes Niora.
"Dasar bodoh! Ternyata benar kata orang, sekolah di luar negeri gak cukup buat lo. Mulutmu juga perlu disekolahkan. Panggil gue kakak!"
"Dan, jangan hanya mencoba, kau harus berusaha," lanjut Agata dengan menekan akhir kata.
Niora memutar matanya jengah, tetapi tetap saja ia melakukannya, "Iya, Kak Agata!"
__ADS_1
"Mungkin karena itu dia tidak menerima pertemananmu." Agata terkekeh mengejek.
"Gue buktiin kalau gue bisa!" tekadnya percaya diri. Lagi-lagi Agata menegurnya.
"Sopanlah jika berbicara dengan orang yang lebih tua."
"Ya ya, tapi kalau gue bicaranya sama lo pasti gak keberatan."
"Ya, tapi tidak tahu dengan orang lain." Agata malas menghadapi gadis itu. Gadis manja, tidak sopan, centil menurutnya, namun ia harus berpura-pura membantunya.
"Gue gak tau kenapa lo mau bantu gue. Padahal biasanya musuhan," tutur Niora heran. Agata menolehkan kepalanya ke samping yang gadis itupun juga melihat ke arahnya.
"Gue gak bantu lo gratis."
Niora bereaksi biasa saja, ia berpikir bahwa yang dimaksud Agata adalah uang. Gadis itu tidak masalah akan hal itu.
"Lo itu manusia aneh, tahu Angga itu sodara lo, malah mau lebih dari itu."
"Jadi karena itu? Menarik."
...***...
"Eh, hai," sapa Niora pada Anila yang berjalan berlawanan arah dengannya.
Anila terlihat mengelilingi sekitar, tidak ada siswa maupun siswi lain di dekat sana. Gadis itu menunjuk dirinya sendiri dengan bibir bergerak mengatakan, 'Gue?' Namun tak terdengar.
"Iya, kita kemarin bertemu di pasar malam. Ingin sekali aku mengobrol denganmu saat itu. Kita juga teman sekelas bukan?" jelasnya sedikit kecewa.
__ADS_1
"I-ya, kau anak baru di kelas XI IPS 3."
"Baguslah jika kau tahu. Ayok kita berteman?"
...***...
Kring ....
Bel istirahat berbunyi, para siswa-siswi berdiri dari tempat duduknya setelah membereskan peralatan alat tulis dan saling berbondong segera ke kantin.
Niora memilki bangku baru, bukan lagi sebangku dengan Angga, ia ditempatkan paling belakang..Niora melihat Angga berdiri, gadis itu berpikir pasti akan mengajak Anila pergi ke kantin bersama. Tak ingin hal itu terjadi, ia juga berdiri. Menghampiri Anila sedikit berlari.
"Anila! Ayok ke kantin bersama!" pekiknya yang membuat kaget Anila, begitupun dengan Angga. Sementara Niora tersenyum smirk sangat tipis tanpa terlihat siapapun. Gadis itu berhasil mendahului Angga.
"Ayok pergi." Angga menarik lengan Anila hingga gadis itu berdiri. Angga tidak tahu mengapa Niora bisa mengajak Anila, apakah mereka sudah saling mengenal? Angga tahu sifat Niora, ia tidak akan membiarkan gadis itu dekat dengan Anila.
"Bukankah aku yang mengajaknya duluan?" z
Angga hendak membawa Anila, tetapi Niora berbicara membuat langkahnya terhenti.
Pemuda itu berbalik badan menatap Niora, "Oh, ya. Tapi dia sudah mau pergi denganku."
Niora menghentakkan kaki untuk meluapkan kekesalannya. "Lo gak bisa bersikap sama Adik lo ini kah sekali-sekali?"
"Gue ... gak punya adek!" tekan Angga. Pemuda itu menuntun Anila agar ikut dengannya, padahal wajahnya tengah nampak kebingungan. Angga membawa Anila ke kantin tanpa mempedulikan Niora yang bertambah kesal.
...***...
__ADS_1
Mampir di karya teman aku juga yuk, sembari nunggu ini up bab terbaru. Jangan lupa masukin perpus, yaw.