JADI GURU DEMI CALON ISTRI

JADI GURU DEMI CALON ISTRI
24. Pasar Malam


__ADS_3

Kalian menemukan plot hole di cerita ini? Aku ngerasa banyak banget. Cerita ini akan lebih baik setelah revisi, ya. Nikmati dahulu ceritanya. Aku akan berikan yang terbaik untuk kalian 😉


...***...


"Thanks." Anila melepas helm dan mengembalikannya pada Angga, sang pemilik.


"Yoi," timpal Angga seraya menerima helm itu.


"Gue balik. Besok jangan lupa bawa masakan Mama lo juga." Anila mengacungkan ibu jari serta bibirnya tersenyum. Angga pun ikut tersenyum, pemuda itu menurunkan kaca helm membuat matanya tertutup. Angga melambaikan tangan pada Anila sebelum akhirnya melajukan motor dan pergi dari pekarangan rumah sahabatnya.


Sementara, Ardi memperhatikan mereka dari balik jendela. Ia teringat akan kata-kata Rafin di telpon.


"Jauhkan mereka dengan baik, maka kau akan mendapat hak atas perusahaan itu."


Ardi membutuhkan uang untuk membuat keluarga kecilnya hidup dengan baik. Membuat perjodohan antara putrinya dan Rafin bukan masalah besar baginya. Rafin memiliki segalanya, Ardi percaya bahwa Anila tak akan kekurangan segalanya. Juga, bisa membantu Almira ....


"Putri ayah sudah pulang," sambut Ardi dengan membuka pintu utama. Anila hendak membuka pintu, tetapi sudah mendapatkan Ardi di sana.


"Ayah sudah pulang?" Anila meraih tangan Ardi dan mencium punggung tangan pria itu.


"Iya, Nak. Ayah pulang lebih awal."


"Berarti Mama juga udah pulang dong?" tanya Anila berbinar. Gadis itu memasuki rumah dengan menyebut sang mama.

__ADS_1


Ardi menghampiri putrinya itu, "Mama kamu belum datang, Nak. Seperti biasa akan malam." Pria itu menjelaskan yang sebenarnya, membuat Anila kecewa.


Namun, tiba-tiba Ardi mendekat dan memeluk gadis itu dengan sayang dan hidupnya mulai memerah, seperti hendak menangis. "Apa kamu hanya mengingat Mama? Padahal Ayah ada di sini." Ardi mengusap ujung matanya yang sudah nampak berair.


Anila bingung dengan tingkah Ardi, tidak biasanya pria itu begitu, "Ayah kenapa?" Gadis itu melepaskan pelukan Ardi.


"Memangnya Ayah kenapa?" Ardi balik bertanya. dengan mengeluarkan ekspresi seolah ia baik-baik saja dan tidak sehabis mengeluarkan air mata. Sebenarnya apa yang terjadi dengannya?


"Emm ... karena Ayah ada di rumah dan Mama pulang malam. Bagiamana jika kita pergi ke pasar malam?" tutur Ardi seketika mata Anila langsung berbinar.


"Benarkah? Sekarang?" Ardi mengangguk.


"Oke, Ayah. Anila mau mandi dulu." Tanpa basa-basi lagi, Anila segera menuju kamarnya dengan berlari. Gadis itu kelewat senang, Jarang sekali ia pergi ke pasar malam ataupun tempat ramai yang menyenangkan baginya. Ia berharap bisa berkunjung pada tempat-tempat seperti itu bersama orang tuanya. Bukan salah satu mereka.


...***...


Sosok anak kecil Anila sepertinya muncul kala melihat pedagang harumanis atau yang biasa disebut rambut nenek nangkring tak jauh dari tempatnya berada. Gadis itu menarik lengan sang ayah agar menuruti keinginannya.


"Yah, Anil mau itu. Ayok ke sana." Ardi yang tidak ingin mengecewakan, akhirnya mengiyakan. Anila bersorak gembira dan segera membawa Ardi pada pedagang itu.


"Bang, dua, ya?" tutur Anila ketika sudah di hadapan pedagang itu dengan mengangkat dua jarinya. Pedagang itu membalas dengan menautkan ujung telunjuk dan ibu jari, tiga jari lainnya dibiarkan berdiri.


"Jangan banyak-banyak, Sayang. Gak bakal habis." Ardi mengusap pucuk kepala Anila.

__ADS_1


Gadis itu menjawab, "Buat Anil satu, buat Ayah satu."


"Ayah gak perlu. Kalau pengen nanti colek punya kamu."


"Makanya itu, Anil gak mau nanti Ayah minta punya aku." Anila menjawab dengan polosnya. Ardi menggelengkan kepala, tak habis pikir dengan putrinya yang begitu jujur.


"Ya ampun, Anil. Ayah minta pasti cuma secomot. Kalau dibelikan satu juga gak bakal habis."


Kepala Anila mendongkak menatap sang ayah yang lebih tinggi darinya. Kemudian gadis itu menimpali, "Yaudah dua-duanya buat Anil."


Mata Ardi melotot, "Gak boleh, nanti sakit gigi."


"Ish, yaudah Anil bawa buat Mama."


"Mama udah mulai tua. Nanti manisnya mama bertambah." Anila memanyunkan bibirnya, biasa-biasanya Ardi menggombal pada Almira padahal wanita itu sedang tidak ada.


Perdebatan pasangan anak dan ayah itu masih berlanjut, dengan saling melontarkan kata-kata. Tidak ada yang mau mengalah, padahal hanya harumanis. Bahkan si penjual pun menatap bingung mereka berdua, dia menggaruk tekuknya yang tidak gatal. Ia terus memperhatikan perdebatan itu, sementara harumanis sudah ia buatkan satu untuk mereka.


"Eh, apakah itu kau? Tidak menyangka bisa bertemu di sini. Kenapa ada di gerai ini? Di sana ada jajanan yang lebih mewah."


"Ahh ... jika kamu tidak memilki uang lebih, aku bisa mentraktirmu di sana."


...***...

__ADS_1


Tim angst ngacung! Saya, Saya, Saya. Karya yang aku bawakan ini sangat rekomendasi banget buat dibaca, apalagi tim angst. Eits ... walaupun terdapat bawang, tetapi setelah itu ada manisnya loh.



__ADS_2