
"Rekan, di sini!" Ketika Ardi tengah melihat sekeliling di mana Rajen dan Rafin berada. Suara seorang pria yang ia kenal terdengar di telinganya.
Ardi mengerutkan kening pada pria yang baru saja memanggilnya, pria itu nampak mengayunkan tangan sebagai tanda menyuruh Ardi menghampirinya.
Ketika Ardi, Almira beserta Anila menghampirinya, pria itu tiba-tiba tertawa. "Kau di sini?" Nicolas namanya, ia adalah mantan Bos Ardi di Mall dulu tempatnya bekerja. Ardi ditetapkan sebagai satpam saat itu sebelum ayah dari Anila itu ditempatkan Rafin pada salah satu perusahaannya yang jarang Rafin temui.
Rafin memiliki satu perusahaan yang berhasil ia bangun. Namun, karena sang ayah yang sudah tua meminta Rafin mengelola perusahaan milik Rajen. Maven group, perusahaan itu hampir bangkrut karena tidak dikelola dengan baik, pula karyawan yang ketahuan korupsi.
Jika bukan karena masukan dana dari keluarga Agata, perusahaan itu sudah terbengkalai. Rajen tidak ingin hidup miskin, jika ia menikahkan sang putra dengan Agata, meminta dana tanpa mengembalikan tentu bukanlah hal yang sulit ia lakukan. Rajen tahu sifat dan sikap dari keluarga Oliver—ayah Agata, mereka tidak mungkin tidak ada maunya jika sudah bersikap baik.
Memberi masukan dana dengan cuma-cuma? Itu tidak mungkin, Oliver akan meminta omset dari hasil penjualan skincare dari perusahaan Maven Group.
"Hebat sekali sudah pindah dari toko aku sekarang bisa datang kemari," ejek Nicolas. Ardi mengepalkan tangan, memang sebelum ia pindah Ardi tidak bisa datang kemari?
Jika mereka hanya berdua, Ardi tanpa tunggu lama pasti akan memukulnya dan menyeretnya ke rel kereta. Namun sayang, itu hanya khayalan Ardi.
__ADS_1
Sebelum itu mereka adalah teman sekolah. Ardi lebih pintar dari Nico, membuat Ibu NIco selalu membandingkan ia dengan Ardi. Setelah lulus siapa yang menang? Nico. Ardi menjadi karyawannya tanpa terduga, membuat Nico bisa puas membalas dendam. Di toko itu bukan Ardi saja yang sebagai satpam. Namun, mengapa ia tidak dibiarkan pulang larut malam dan berangkat harus pagi-pagi. Sementara satpam lain bisa bekerja sesuai sif.
Dengan Ardi pergi pagi dan pulang malam bukan berarti ia mendapat gaji lebih besar dari satpam ataupun pekerja lain. Nico adil tetapi, tidak menetapkan keadilan.
"Oh, itu putrimu yang ingin kau nikahkan dengan Rafin Mavendra?" Nico tertawa. "Kasian sekali masih remaja sudah mau dinikahkan demi uang." Pria itu tertawa sinis. Ardi sudah tidak kuasa menahan amarahnya lagi. Ia sudah melayangkan pukulan pada Nico jika tidak ada yang memanggilnya.
"Apa kau akan membiarkan kami menunggu lebih lama lagi!?" Itu suara Rafin. Pandangan Ardi tertuju pada meja tak jauh dari tempatnya berada. Ia merasa tidak enak, Rafin memandangnya dengan marah sedangkan Rajen tidak peduli sama sekali. Hanya melihatnya tanpa ekspresi.
Sedangkan Anila tidak berani sekadar menatap ke sana. Gadis itu hanya menunduk seraya memilin ujung dress-nya. Apalagi ketika mengetahui ketika wanita yang menyakitinya dulu berada di sana juga.
Almira menenangkan putrinya itu dengan merangkul pundaknya. Mereka saling menatap, Almira tidak berbicara tetapi, Anila dapat memahami kata-kata yang tersirat dari tatapannya. "Jangan khawatir, Nak. Mama ada di samping mu." Anila tersenyum.
"Maafkan aku Pak Rajen." Kepala Ardi menunduk dengan tangan kanan di perut.
"Panggil aku Tuan."
__ADS_1
"Ba-baik, Tuan."
"Apa alasan mu mengundang kami?"
"Saya hanya ingin meminta maaf atas perlakuan Anila waktu itu," tuturnya tulis. Ardi melirik Anila dengan mata sedikit melotot dan mulut mengucapkan sesuatu tetapi, tak terdengar.
Anila gugup, ia tak lupa ucapan sang ayah ketika di rumah yang memintanya untuk minta maaf pada Rajen dan Rafin. Apa menurutnya itu tidak terbalik? Wanita yang bersama kedua pria itu menyakiti Anila. Mengapa Anila yang justru harus meminta maaf?
"Sa—" Anila hendak meminta maaf, namun tangan Rajen mengangkat seraya berucap, "Cukup!" Anila heran, begitupun dengan Ardi dan Almira.
"Aku tidak butuh maaf mu. Aku memaklumi, kau masih remaja dan mempunyai banyak kebutuhan. Berapa yang kau minta?" Rajen terlihat mengeluarkan sebuah cek. Tanpa terlihat siapapun, Agata tersenyum smirk.
"Tulis berapa pun yang kau mau. Kau tidak perlu berpura-pura mencintai Rafin. Dia akan aku nikahkan dengan Agata, dan kau bisa bersama kekasih mu itu."
...***...
__ADS_1
Penasaran sama chapter selanjutnya? Mampir dulu yuk di karya temen aku, biar gak kesel nunggu up.