
..."Mencintai itu bukan soal umur. Bahkan Nabi Muhammad yang sudah lanjut usia pun bisa mencintai Aisyah yang masih remaja"...
...***...
"Sial!" Anila mengumpat dengan melemparkan sebuah dress ke tempat tidur. Ia mengacak rambut prustasi. Terhitung sudah puluhan dress yang ia buang ke tempat tidur karena menurutnya terlalu alay, dan tidak cocok untuk ia pakai.
Gadis itu akan pergi menemui Ayah Rafin. Ia tidak berniat juga tak memiliki minat. Namun entah mengapa Ardi malah sewot agar gadis itu pergi. Akhir-akhir ini Ardi selalu galak padanya, apa karena sudah mengenal Rafin? Hanya berbicara di telepon saja membuat Anila takut.
"Sialan guru baru itu, kalo bukan dia nelpon Ayah, gue gak bakal mungkin pergi." Sedari tadi ia tidak berhenti menggerutu. Rafin yang tidak memiliki daya ketika Anila menolak mentah-mentah ajakannya. Sehingga cara yang ia gunakan adalah merayu sang ayah mertua agar Anila pergi menemui ayah Rafin, Rajen.
Sekarang Anila tersadar, mengapa ia harus susah-susah mencari dress? toh ia pergi bukan pada acara penting.
Gadis itu akhirnya mengambil asal dress yang tergeletak di tempat tidur. Lihatlah betapa berantakannya tempat itu. Siapa yang akan membereskannya? Anila? Gadis itu terlalu malas untuk melakukannya.
...***...
Rafin sudah berada di halaman rumah Anila untuk menjemputnya. Ia menyenderkan tubuh ke mobil sekedar menunggu gadisnya keluar. Ada sedikit perasaan takut ketika ia akan melihat Anila, apakah gadis itu akan marah padanya? karena telah menelpon Ardi hanya untuk memaksa Anila pergi dengannya.
Gadis yang ia tunggu akhirnya keluar gerbang. Mereka saling berhadapan, betapa terpukaunya ketika Rafin melihat Anila. Dress putih selutut serta pita dengan warna senada di kepala membuat gadis 16 tahun itu terlihat begitu cantik bagi Rafin. Memakai hal biasa saja membuat Anila seperti seorang putri kerajaan, lalu bagaimana ketika ia memakai gaun pernikahan?
Brak
Suara itu bagai menampar Rafin dari halunya. Anila masuk begitu saja ke dalam mobil, sedangkan sang pemilik masih berasa di luar. Pria itu sekarang menyimpulkan bahwa Anila memang tengah marah padanya.
...***...
__ADS_1
Tangan Rafin sedari tadi tidak berhenti diam. Ia gatal ingin mengandeng tangan gadis di depannya, ataupun sekedar merangkul bahunya. Namun, kedekatan mereka yang belum sepenuhnya terjalin membuat pria itu canggung.
Mereka berjalan berdampingan di sebuah caffe yang menjadi tempat bertemu dengan Rajen. Entah mengapa pria tua itu mengubah tempat temu menjadi di caffe yang awalnya di mension keluarga Mavendra.
"Itu Ayahku." Rafin mengarahkan pandangan pada seorang pria tua yang tengah duduk sendirian menyeruput secangkir kopi.
Anila pun melakukan hal sama, mengarah pandangannya pada pria tua itu. Lantas, ia mengangguk-anggukan kepala.
"Hallo, Paa ...." Rafin dan Anila menghampiri Rajen di sebuah meja.
Pandangan pria tua itu menilik Anila dari atas hingga bawah. Anila sadar diperhatikan, gadis itu sedikit canggung. Apakah ada salah dengan pakaiannya?
Pria yang melihatnya itu nampak hampir termakan usia tetapi, wajahnya begitu tampan baginya. Seperti duda pirang temen sekelas menyebutnya. Anila tidak bersama dengan selain Angga tetapi, hanya mendengar obrolan teman sekelasnya itu sering ia lakukan. Bahkan ingin bergabung dengan mereka, ia juga ingin mendapat teman perempuan.
"Gadis SMA?" tanya Rajen ketika putranya beserta Anila duduk di kursi. Anila melirik Rajen dan beralih saling tatap dengan Rafin.
Rajen menatap putranya dengan pandangan sulit diartikan. Gadis SMA? Putranya memilih pasangan gadis SMA? yang tentu usianya berjarak sangat jauh.
"Hallo, Om, Fin," sapa Agata menghampiri ketiga orang itu. Tanpa disuruh ia duduk begitu saja di kursi samping kursi Rafin. Kini, Rafin berada di tengah-tengah antara Anila dan Agata.
Agata tersenyum ke arah Rafin yang tengah melihatnya dengan tatapan bingung. "Oh, Om Rajen mengundangku kemari," jelasnya.
Mengundang? Rafin tak habis pikir pada Rajen. Rafin sudah bilang akan mengenalkan gadis yang akan ia nikahi. Namun, Rajen sepertinya masih ingin jika Agata yang menjadi pasangan Rafin.
Seorang pelayan datang ke meja mereka, membawakan pesanan Rajen.
__ADS_1
"Akhh ...." Anila reflek berdiri. Pelayan laki-laki itu tidak sengaja menumpahkan minuman pada dress putih Anila.
"Apa kau tidak punya mata!?" Emosi Rafin bergemuruh.
"Ma-maafkan saya Tuan. Saya sungguh tidak sengaja."
"Aku bisa saja melaporkan mu pada pemilik caffe ini. Bahwa kau tidak melakukan pekerjaan dengan benar." Anila melihat sekeliling, fokus pengunjung caffe mengarah pada mereka. Tak ingin ada keributan, Anila menghentikan Rafin.
"Tidak apa-apa, aku bisa membersihkannya." Anila pamit ke toilet. Dress putihnya ternodai dengan jus jeruk. Untungnya bukan minuman panas.
"Tolong jangan bilang ke atasan saya, Tuan. Kejadian tadi sungguh minta maaf itu kesalahan saya." Pelayan itu menundukkan kepala. Hingga Agata berdiri, menaruh tangannya di pundak Rafin untuk menenangkannya.
"Sudah, Fin. Dia tidak sengaja, gadis itu juga tidak masalah. Pelayan itu butuh pekerjaan, maafkanlah." Rafin menghela napas.
"Pergilah!" ucapnya kemudian. Pelayan itu pergi tak lupa mengucapkan terima kasih. Sementara, Agata tersenyum sinis melihat kepergian pelayan itu. Kejadian tadi adalah rencananya, ia menyogok pelayan pria itu untuk melakukan perintahnya.
...***...
Anila berjalan menuju toilet caffe, ia sedikit melipat dress-nya untuk menutupi noda jus itu. Gerakannya diperhatikan seorang pemuda tak jauh dari jaraknya.
"Bukankah itu Anila?"
...***...
Hallo-hallo. Aku up lagi nih, dan bawain rekomendasi juga. Jangan lupa mampir yaw. Sembari nunggu aku up bab selanjutnya. See you ....
__ADS_1