JADI GURU DEMI CALON ISTRI

JADI GURU DEMI CALON ISTRI
11. Ragu


__ADS_3

Sesuai apa yang Angga katakan, ia beserta Anila kembali meninggalkan pelajaran, dan pergi ke kantin untuk sarapan. Anila tidak lapar, sebab sebelum berangkat sekolah Almira memasak untuknya. Sedangkan Angga tidak, pemuda itu tinggal sendiri, tidak ada yang peduli padanya walau sekedar memberi makan.


Pemuda itu lebih sering pergi ke ruang makan. Itupun hanya saat sore hari atau malam. Untuk sarapan mana sempat, tidak mungkin ia harus belajar memasak.


"Gak makan berapa tahun, Angga?" celetuk Anila kala melihat sang sahabat makan begitu lahap. Memasukan makanan ke mulut tak henti-hentinya, membuat pipi pemuda itu menggembul.


"Gue lapar." Angga hanya mendongkak melihat Anila, setelah itu kembali melanjutkan makanannya.


"Lo gak makan?" tanya Angga ketika menjeda makannya.


"Gue udah sarapan. Kata Mama sebelum berangkat sekolah mening makan di rumah."


"Enak banget, ya? ada yang masakin?" Pandangan Angga berubah sendu.


"Emang lo nggak?" Angga tidak pernah menceritakan tentang keluarganya. Anila tidak tahu tentang orang tua pemuda itu telah berpisah. Yang Anila tahu tentang kebenaran keluarga Angga hanyalah kakek sang sahabat telah meninggal. Hanya itu, Angga begitu menutup rapat tentang kedua orang tuanya. Pada siapapun, bahkan sahabatnya sendiri.


Tentang nama Ela yang Anila tahu itu panggilan dari Mama Angga. Ketika menjawab panggilan dari ponsel Angga, gadis itu mendengar suara seorang wanita yang nampak tersulit emosi. "Ela, kamu bolos lagi? Lihat saja jika sudah sampai di rumah—" Begitu hingga Anila mematikan telpon sepihak. Ia takut suara itu, berpikir itu adalah Mama dari Angga.


Anila bertanya tentang nama Ela. Angga hanya menjawab asal, sang mama ingin mendapat anak perempuan tetapi, yang berojol malah Angga anak laki-laki sehingga menyebutnya begitu.

__ADS_1


Nyatanya itu hanyalah bibi Angga. Wanita yang merawat Angga ketika ditinggal orang tua dan sang kakek. Wanita itu mengganggap Angga seperti anaknya sendiri. Sang bibi tidak mempunyai seorang anak. Pernah suatu hari mengandung tetapi, keguguran. Anak perempuan yang diberi nama 'Ela'.


Tak ingin melihat wanita yang menyayanginya bersedih, Angga bilang ia adalah putranya. Anggaplah ia seperti 'Ela' adik perempuannya. Siapa sangka itu malah membuat torehan luka sang bibi. Ia akan teringat pada putrinya yang meninggal kala memanggil nama 'Ela'. Sang bibi tidak menyebut Ela pada Angga. Namun, malah Anila yang melanjutkannya.


Sekarang sang bibi telah pergi ke luar negeri bersama suaminya. Bi Mina ingin mengajak Angga. Namun, siala sangka suaminya tidak menginginkan hal tersebut.


"Dia masih memiliki orang tua. Kalaupun kita mengajaknya apa yang kita dapat. Paman Liam hanyalah kakak dari Mama. Aku tidak mungkin mendapat warisan darinya. Biarkan dia di sini. Mungkin orang tuanya akan peduli." Itulah yang dikatakan suami dari Bi Mina, Willi.


Sejak saat itu Angga menyimpulkan bahwa orang yang selalu bersamanya hanyalah butuh hartanya, bukan sungguh-sungguh menyayanginya. Namun, lihatlah bagaimana ia dipertemukan dengan gadis polos yang selalu Angga bawa sesat.


"Ternyata kehidupan lo lebih menyedihkan dari gue." Melihat Angga yang tidak menjawab, Anila akhirnya menyimpulkan. Angga hanya menatap gadis di depannya itu yang tertawa mengejeknya.


Angga tidak memasukan ke hati. Anila tidak tahu apa sebenarnya. "Iya, lo yang paling bahagia."


***


Rafin terlalu kecewa pada Anila. Ia memilih untuk pergi ke kantor daripada di sekolah jika hanya melihat kedekatan Anila dan Angga.


Tok tok

__ADS_1


Terdengar pintu ruangan Rafin diketuk. "Masuk." Setelah mengucapkan itu, terlihat Ayah Anila memasuki ruangannya.


"Tumben kau kemari. Apa ada masalah?"


"Tidak! Ta-tapi karyawan ku bilang. Ka-kau mengambil uang hasil perusahan bukan ini," jawab pria itu hati-hati.


"Itu perusahan ku, apa uang perusahaan di sana aku tidak berhak?" Ucapan Rafin mampu membuat Ayah dari Anila terdiam. Yang diucapkan Rafin memang benar. Namun, perusahaan yang ia kelola bukankah sudah Rafin berikan padanya?


"Lagipula Putri mu itu sepertinya tidak menghargai ku. Kemarin malam Papa ku mengundangnya ke acara makan. Namun, ia pergi bersama kekasihnya meninggalkan kami tanpa pamit."


"Aku seperti ragu ingin menjadi menantu mu."


...***...


Tak bosan-bosannya aku membawakan karya-karya yang menurutku seru dan rekomend banget buat dibaca.


Baca judulnya aja menarik banget, langsung baca blurd, lanjut bab satu, eh keterusan.


__ADS_1


__ADS_2