
Rahman—satpam SMA Pelita Merdeka, tengah berkeliling di koridor sekolah untuk memastikan tidak ada siswa maupun siswi yang masih di luar kelas.
Koridor nampak sepi, sepertinya sudah aman. Siswa-siswi sudah berada di kelas masing-masing. Pria 39 tahun itu hendak kembali ke gerbang. Namun, ia melihat Rafin—guru matematika baru kelas XI IPS 3 tak berhenti menggaruk tangannya beserta wajahnya yang terlihat memerah.
"Pak Rafin? Apa Anda baik-baik saja?" tanya Pak Rahman ramah.
"Saya tidak apa-apa, kembalilah bekerja!" Rafin mengatakan itu seraya tak berhenti menggaruk. Pria itu berlalu begitu saja meninggalkan Pak Rahman yang menatapnya penuh tanda tanya.
Sementara, Anila memasuki kelasnya dengan penuh gembira. Belum ada guru yang masuk ke sana. Syukurlah, berarti ia tidak perlu mendapat hukuman terlebih dahulu.
"Eh, woi!" Angga duduk begitu di kursi sebelah Anila. Laudya tidak ada di sana, sepertinya tidak akan masuk sekolah, mengingat gadis itu adalah murid yang rajin dan tidak sekalipun terlambat sekolah.
"Perasaan lo duluan, kok telat?" tanya Angga yang membiarkan tangannya menyilang di atas meja.
Gadis itu lantas menjawab, "Ayah gue ketemu sama teman kuliahnya tadi, jadi ngobrol bentar. Eh, sebenarnya lama sih. Terus tiba-tiba tadi mobilnya mogok. Untung gak terlalu jauh, jadi akhirnya gue lari dari sana ke sekolah."
"Lo kena hukuman apa?"
"Nyapu halaman belakang." Anila berucap datar. Mengingat hal yang membuatnya tak habis pikir. Apalagi ada hal memalukan ketika daun-daun yang sudah ia kumpulkan kembali beterbangan. Hanya harus memasukkan daun tersebut ke dalam tong sampah mengapa ia tidak tahu?
Angga mengangkat telunjuknya seraya berkata dengan keras, "Haa, gue tahu."
"Lo pasti celingak-celinguk doang pas di sana?" Angga mengeluarkan sedikit tawa, dan kembali melanjutkan kalimatnya, "Gue tahu lo anjir. Lo 'kan di rumah cuma dapat enaknya doang. Ngenes banget sih lo, di rumah diperlakuin kayak putri, di sekolah malah nyapu, hffttt ...."
"Biadab nii anak. Kok gue bisa temenan sama orang kayak gini? Sumpah, gue pengen tendang ke Samudra Hindia." Anila membatin. Angga menjentikkan jarinya di hadapan wajah Anila, seketika gadis itu kembali tersadar.
__ADS_1
...***...
Grauk Grauk ....
Rafin tengah tersiksa, tangan beserta wajahnya mengapa sangat gatal dibarengi sakit pula. Bahkan sekarang gatal itu mulai merambat ke seluruh tubuhnya.
"Ada apa dengan tanganku?" Rafin histeris ketika melihat tangannya begitu merah, terdapat pula bintik-bintik di sana.
"Apa aku kena santet?" duganya. Rafin tidak pernah mengalami hal ini sebelumnya. Mendengar berita dari televisi bahwa ada yang menceritakan bahwa santet itu begitu menyakitkan bagi tubuh. Apa inikah? Bahkan ia tidak tahu jika berita itu benar atau sekedar omong kosong.
Rafin beranjak mengambil sebuah buku paket dari lemari perpustakaan, untuk mengipasi kulitnya yang mulai terasa panas. Perpustakaan adalah tempat favorit Rafin di SMA Pelita Merdeka. Tempat itu begitu sepi, membuat ketenangan untuknya. Sementara, di ruang guru pasti akan sangat berisik ketika para Bu Guru sudah mulai berkumpul dan bergosip.
Rafin sudah tidak tahan, tubuhnya merasa kepanasan akibat bintik-bintik itu. Padahal AC di sana sudah ia nyalakan pada paling dingin. Kipas dari buku paket pun tidak manjur sama sekali.
"Siapa yang berani menyantetku? Aku tidak akan mengampuninya.
...***...
Anila hanya menggaruk tekuk yang tidak gatal, padahal memang ia sudah bertobat, tapi sang ayah yang malah membuatnya kembali pada jajan sesat secara tidak sengaja. Sepertinya jin bolos Anila masih merindukan gadis itu, dan mengirim perantaran lewat Ardi.
"Sebagai hukuman dari Ibu, taruh buku-buku ini ke perpustakaan," sambung Bu Warni menyodorkan tumpukan buku paket fisika di atas meja guru.
"Baik, Pak Wawan hari ini sedang ada urusan. Pelajaran kedua kosong. Harap kalian jangan ribut."
"Iya, Bu!" Para murid menjawab serempak. Wajah mereka datar bagai tak peduli sama sekali. Namun ....
__ADS_1
"Anila jangan lupa buku ini, ya?"
"Yeee ... akhirnya jamkos." Para murid bersorak gembira setelah kepergian Bu Warni.
Berbeda dengan Anila. Gadis itu harus menaruh buku paket ke perpustakaan lebih dahulu. Waktu jamkosnya terbuang beberapa menit karena itu.
"Huhh ...." Anila mendesahkan nafasnya pelan. Buku yang ia bawa begitu berat karena terbilang ada puluhan, serta sangat tebal. Lalu, tidak ada yang membantunya sama sekali.
"Permisi!" Anila membuka pintu perpustakaan. Mengelilingi sebentar sebelum akhirnya menemukan di mana buku fisika harus diletakkan. Ia sekarang bisa kembali ke kelas.
"Akhh ...." Anila berteriak, terkejut ketika melihat seorang pria bertelanjang dada duduk di sebuah kursi tak jauh dari Anila berada.
Pria itu terlonjak, lantas kembali memakai bajunya. Bukan apa-apa, hanya saja ia begitu kepanasan karena santet yang ia kira.
Anila lebih terkejut ketika melihat siapa pria yang sebenarnya berada di perpustakaan itu. Rafin, pria itu Rafin. Entah sedang apa ia di sana dengan bertelanjang dada.
"Maaf, Pak. Saya hanya mengembalikan buku paket. Permisi!" Gadis itu hendak pergi dari ruangan tersebut. Rafin yang bertelanjang dada, mengapa ia yang malu? Ia tidak ingin melihatnya lagi, sungguh.
"Tunggu!" Mampus! Sekarang apa? Pikiran Anila merambat ke mana-mana. Gadis itu ragu untuk membalikkan badannya.
Namun, akhirnya ia berbalik juga, tidak ingin melihat hal barusan. Gadis itu memejamkan mata, "Kenapa, Pak?"
"Apa kau tau obat untuk santet?"
...***...
__ADS_1
Pasti menunggu kelanjutan kisah ini bukan? Umm ... yakin sih. Biar gak bosen nunggu, mending baca dulu karya teman aku nih, dijamin seru bingit. Gak mau berhenti baca