
...#Bocil menyingkir#...
^^^***^^^
Kebenaran yang ia lihat di pemakaman sangat membuatnya bahagia. Untuk merayakannya, Rafin pergi ke sebuah klub malam. Pria itu telah menghabiskan tiga botol minuman. Ia tak berhenti tertawa ataupun tersenyum.
"Bagaimana jika Anila tahu kalau sahabatnya adalah cucu orang kaya yang sudah tiada?" Rafin meracau dengan tangan memegang botol minuman. Kemudian meneguknya langsung dari sana.
Rafin tertawa ketika kembali memikirkannya. "Dia berpura-pura menjadi orang miskin."
"Pasti Anila akan marah padanya."
"Dan juga Agata, jika Anila mengetahui mereka keluarga, gadis itu akan lebih membencinya." Rafin tak berhenti berbicara, ia terlihat seperti orang gila karena terus saja tertawa ketika selesai berbicara.
"Agata ... telah menyiksa Anila."
Tentang waktu itu, bodoh sekali ia tidak mengetahui akal busuk dari Agata. Wanita itu hampir membunuh gadis yang ia cinta. Rafin memukul kepalanya dengan tangan seraya mengeluarkan air mata.
"Kau bodoh sekali marah beberapa hari pada gadis itu."
__ADS_1
Rafin sama sekali tidak tahu akan kejadian malam itu, dimana Agata yang menyiksa gadis kesayangannya di toilet wanita. Namun, Rafin sedikit mengapresiasi ketika Agata memfitnah Angga yang membawa Anila pergi dari caffe, padahal pemuda itu adalah saudaranya.
"Kau butuh rekan minum, Tuan?" Seorang wanita dengan pakaian mini nan ketat menghampiri Rafin. Duduk di pangkuannya tanpa dipersilahkan.
Wanita itu tersenyum ketika Rafin mendongkak dan menatapnya. "Aku akan menemanimu jika mau," godanya. Ia mengangkat tangan, menyentuh dada bidang Rafin yang terbalut kemeja putih dengan usapan lembut.
Naluri laki-lakinya keluar, pria itu dengan cepat memegang erat lengan sang wanita yang masih duduk di pangkuannya. "Apa kau Anila?" tanyanya yang membuat wanita itu berubah menatap kecewa.
"Aku bukan. Tapi aku bisa lebih baik daripada nama perempuan yang kau sebutkan." Wanita itu beralih mengalungkan kedua lengannya pada leher Rafin, dan menggigit bibir bawah berusaha menggoda.
"Aku hanya menginginkan dia. Kau bukan gadisku, pergi!" Tanpa diduga Rafin melepaskan tangan itu dari lehernya, membanting wanita itu ke lantai dengan kerasnya, sehingga tersungkur dan mengaduh sakit.
Orang-orang yang asik dengan aktivitasnya kini teralihkan pada keributan itu. Mereka memandang wanita itu malang, padahal sangat disayangkan karena menurut mereka dia cantik nan seksi, terutama bagi laki-laki.
"Hei! Jangan hanya menonton, bantu aku!" pekiknya hingga membuat para laki-laki bergerak membantunya.
"Hei! Kita belum selesai main!" teriak salah seorang wanita yang duduk di sofa. Pandangan laki-laki yang tengah memapah wanita terjauh itu teralih ke belakang.
"Kita akan lanjut lagi, Sayang," timpalnya dengan mengecup jarak jauh pada wanita itu.
__ADS_1
Ia mendapat wanita yang lebih seksi dan montok, tidak mungkin menyiakannya. Mustahil bagi wanita malam jika tidak pernah mencobanya bersama laki-laki. Namun, selagi pria bisa mencoba dan mendapat kesempatan mengapa tidak. Walau mungkin harus mengantri karena banyak laki-laki pula yang tengah membantu wanita itu sekarang. Mereka semua pasti berpikiran hal sama, menginginkan wanita itu memuaskannya.
Sampai tiba di sebuah pintu, wanita itu mengisyaratkan para lelaki untuk berhenti. Sang wanita berbalik ke arah para pria itu. Mereka memandangnya dengan senyum penuh arti. Masih wanita itu perhatikan, tidak ada satu orang pun yang beranjak.
"Aku libur, mintalah pada mereka." Ia berucap seakan mengetahui isi pikiran para lelaki itu. Pandangan mereka teralihkan pada suatu yang ditunjuk oleh wanita di hadapannya.
Ada tiga orang wanita yang mereka lihat, tak satupun dari mereka yang tengah menganggur. Bahkan, bercinta di sofa?
"Mereka asik dengan pria lain. Sedangkan kau ada di sini. Bukankah seharusnya tidak ada hari libur?" ujar salah seorang pria. Wanita di hadapannya terkekeh.
"Kalian sanggup berapa bayar aku?" Wanita itu tersenyum smirk.
Seorang pria kembali menjawab dengan yakin. "Berapapun yang mau mau!"
Wanita itu mengangkat tangan, menunjuk para pria di hadapannya seraya bergumam yang dapat dibaca tengah berhitung.
"Ada enam orang. Tak ingin kalian menunggu terlalu lama, aku bisa langsung tiga."
...***...
__ADS_1
Ada cerita seru nih aku bawakan, rugi deh kalo gak baca. Abis baca bab ini langsung cuss kuy. Tinggalin jejak juga buat authornya jagan lupa.