JADI GURU DEMI CALON ISTRI

JADI GURU DEMI CALON ISTRI
06. Marah?


__ADS_3

Rafin memarkirkan mobilnya di parkiran SMA Pelita Merdeka—sekolah Anila. Pria itu melihat Anila yang tengah berjalan sendirian di koridor sekolah dengan menggendong ransel di punggungnya.


Gadis itu berhenti tak jauh dari parkiran seraya celingak-celinguk seperti tengah mencari seseorang. Hingga datang Angga berjalan melewatinya. Anila menghentikan pemuda itu. Hal tersebut membuat Rafin marah. Baginya mereka terlalu dekat, menurutnya tidak ada persahabatan antara perempuan dan laki-laki. Di antara satu dari mereka pasti memiliki rasa.


Sementara Anila kini tengah heran melihat Angga yang selama sekolah terlihat cuek padanya. Ia ingin menanyakan hal tersebut pada sahabatnya.


"Ela, lo kenapa? Gue ada salah?" tanyanya dengan mata memelas memandang pemuda itu. Tangannya mencekal pergelangan Angga agar pemuda itu tidak pergi.


"Gue mau balik." Angga melepaskan tangan Anila. Pemuda itu hendak pergi tetapi, lagi-lagi Anila berhasil mencekalnya.


"Lo lupain gue? Gue gak ada teman pulang. Tega lo tinggalin gue, Ela?"


Angga tersenyum sinis, "Lo bukannya ada teman baru? Pake mobil lagi. Kenapa gak bareng dia aja." Setelah mengatakan itu, Angga pergi begitu saja dari hadapan Anila.


Anila menggaruk tekuk lehernya yang tidak gatal. Teman baru? Mobil? Siapa? Anila tidak merasa memiliki teman baru. Angga adalah satu-satunya sahabat Anila. Apakah dia salah lihat? Sekarang Angga sudah pergi, lalu Anila pulang dengan siapa? Angkutan umum? Gadis itu tidak terbiasa pergi sendiri.


Sementara, Angga melajukan motornya dari halaman sekolah begitu saja. Meninggalkan sang sahabat yang terbiasa menumpang padanya. Angga kecewa, dan Anila yang mengecewakannya.


Pagi tadi, ketika motor gede Angga sudah hampir sampai di halaman rumah Anila untuk menjemputnya. Aktivitas setiap pagi sebelum berangkat sekolah.

__ADS_1


Saat hampir tiba di halaman rumah Anila. Ia melihat sahabatnya sudah masuk ke dalam mobil yang tidak mungkin diantar orang tuanya. Wajah Angga memerah menahan amarah. Rumah Anila dan Angga terbilang cukup jauh jaraknya tetapi, pemuda itu tidak pernah tidak meninggalkan Anila. Mengapa Anila yang malah meninggalkannya?


Angga melajukan motornya menuju sekolah dengan jalanan memutar. Memakan waktu cukup lama sehingga membuatnya terlambat tiba di sekolah. Kepala sekolah menghukumnya habis-habisan. Namun, ia membiarkan Angga mengikuti pelajaran. Ngenesnya tiba di kelas, Angga kembali dihukum oleh Bu Nanda.


Entah berapa lama ia akan marah pada Anila. Gadis itu telah mengecewakannya, berpikir mempunyai sahabat baru selain dirinya.


...***...


Rafin yang melihat Anila sendiri lantas menghampirinya. Dia bersedekap di hadapan Anila yang nampak tengah bersedih dan kebingungan. Rafin mengejeknya, "Ditinggalin, ya?"


Fokus Anila teralihkan pada pria itu. Di saat seperti ini, mengapa ia harus bertemu dengan guru baru itu?


"Emang berani?" Lagi-lagi Rafin mengejek. ia tahu dari ayah Anila bahwa putrinya tidak bisa pergi sendirian. Almira terlalu memanjakannya dan khawatir terlalu berlebihan pada gadis itu. Sehingga, membuat Anila belum bisa mandiri. Ketika mereka bekerja, Anila tak sekali pun keluar rumah karena memang takut.


Anila berhenti, dan berbalik menatap Rafin yang tengah tersenyum smirk mengejeknya serta satu alis ia naikan.


"Aku tidak ada jadwal mengajar, juga tidak sibuk. Biar aku antar kau pulang." Anila nampak berpikir. Ia takut jika naik angkutan umum. Namun juga pria itu belum dikenalnya. Ia tidak mungkin mengiyakannya secara langsung. Sungguh, gadis itu masih memiliki rasa malu.


Rafin berjalan ke arahnya, membatasi jaraknya, takut seseorang melihat mereka dan berpikir tidak-tidak. Seorang guru dan murid dekat?

__ADS_1


Rafin terkekeh, "Aku tidak akan membunuhmu." Pria itu berjalan ke mobil yang tak jauh dari tempat berdirinya, dan membuka pintu pengemudi.


"Naiklah jika ingin ku antar," kata Rafin sebelum akhirnya naik ke dalam mobil dan menutup pintu.


Tak ada pilihan lain. Anila segera berlari dan membuka pintu mobil samping pengemudi. Gadis itu tidak ingin ditinggalkan lagi, daripada harus menaiki angkutan umum ia lebih baik imut guru baru itu, yang memang sang ayah mengenalnya sebagai rekan kerja, dan calon menantu ...?


Mobil Rafin keluar dari halaman sekolah. Ia melajukan mobil membelah jalanan yang cukup padat. Sepanjang perjalanan tak ada dari mereka yang membuka suara, di dalam mobil hanya kebisuan yang tercipta.


Sampai di gerbang rumah Anila. Gadis itu melepaskan seatbelt dan mengucapkan terima kasih.


Rafin mengepalkan tangan dengan kaki tak bisa diam. "Tunggu!" cegah pria itu akhirnya ketika Anila bersiap untuk turun. Hingga gadis itu kembali duduk menatap Rafin dengan alis berkerut.


Rafin masih terdiam, bagiamana ia mengatakannya? Anila berbicara, "Apa ada sesuatu? kalau tidak aku pergi." Rafin tak menjawab, Anila menghela nafas panjang heran terhadap pria itu. Akhirnya Anila memutuskan turun dari mobil tetapi, Rafin kembali bersuara.


"Malam ini Papa ingin bertemu denganmu."


...(⁠◕⁠દ⁠◕⁠)...


Hai, gimana-gimana penasaran bagiamana selanjutnya? Harus dong. Nah, sebelum nunggu aku up bab selanjutnya, mampir dulu yuk ke cerita temen aku yang gak kalah seru

__ADS_1



__ADS_2