JADI GURU DEMI CALON ISTRI

JADI GURU DEMI CALON ISTRI
12. Salah Paham


__ADS_3

..."Salahkah jika seseorang melakukan hal apapun untuk mendapatkan seorang yang ia cintai? Mereka hanya ingin memiliki yang memang pantas membuat bahagia. Walau orang itu mungkin membuat-nya terluka."...


Seperti hari-hari biasa, Angga mengantarkan Anila ke rumah setelah pulang sekolah. Begitu Angga memberhentikan motornya, Anila turun dan melepas helm.


"Makasih, Angga," ucapnya dengan tersenyum.


"Lo baik-baik, ya?"


"Nil?" Angga memanggil Anila kala gadis itu sudah berbalik dan hendak masuk ke rumahnya.


"Kenapa?"


Angga menjawab tanpa ragu dari lubuk hatinya, "Gue gak terbiasa lo panggil Angga. Gue sahabat lo, gapapa panggil gue pake nama Ela."


Anila yang mendengarnya sedikit terkekeh dengan alis berkerut, "Apaan lo? Katanya gak suka gue panggil Ela."


"Halah serah lo, gue mau balik," pamitnya sebelum akhirnya Angga pergi meninggalkan Anila di depan gerbang rumahnya yang terbuka.


"Oke, Ela. Hati-hati."


...***...

__ADS_1


Anila memasuki rumah, di rumah tamu ia melihat kedua orang tuanya. "Kalian sudah pulang?" Tumben sekali tetapi, Anila berpikir mereka khawatir padanya. Mengingat tentang kepalanya yang sakit, membuat Ardi serta Almira mulai perhatian padanya, Anila cukup senang.


Anila tidak bercerita tentang kejadian kepalanya yang sakit itu ulah siapa dan terjadi sebab apa. Anila hanya bilang hanya sakit kepala biasa. Kedua orang tua Anila pun tidak mengenal Angga. Mereka tak pernah sekalipun bertemu.


Saat Angga mengantarnya ke rumah kala selesai dari acara Rafin. Pemuda itu telah pergi sebelum kedua orang tua Anila sampai rumah. Mereka hanya tau jika putrinya memiliki sahabat. Perempuan, dan yang mengantar jemput Anila adalah sahabat perempuan itu, mengingat Anila yang tidak mungkin pergi menggunakan kendaraan umum.


"Jadi dia adalah kekasih kamu?" tanya Ardi menyelidik.


Bukannya menjawab, Anila balik bertanya, "Haa? Apa maksud Ayah?" Alisnya hampir menyatu. Kekasih? Siapa?


"Rafin sudah bercerita semuanya pada Ayah. Kamu diundang oleh ayahnya, kan? Lalu mengapa kau pergi begitu saja dari sana. Bersama kekasihmu itu?"


"Tapi aku tidak—" Sebelum Anila menyelesaikan kalimatnya, Ardi menyela dengan tegas.


Deg


Anila tertegun, jadi itu memang benar. Mengapa sang ayah menjodohkannya tiba-tiba. Dengan orang yang tidak ia kenal dan juga usia yang berbeda jauh. Rafin lebih pantas disebut sebagai pamannya daripada calon suami. Umurnya bahkan tak jauh dengan sang mama.


"Malam ini kita menemui Rafin dan ayahnya. Kau harus minta maaf atas perlakuanmu itu." Ardi berlalu pergi sebelum Anila membuka mulut hendak menjawab.


Anila hanya memandang punggung sang ayah yang perlahan mulai menghilang ditelan jarak dengan kecewa. Setelah mengenal Rafin, Ardi selalu memperlakukannya tidak seperti putri kecilnya. Anila memang sudah remaja tetapi, ia rindu perlakuan Ardi yang menganggapnya seperti anak kecil.

__ADS_1


Anila menundukkan kepala, seperti biasa Almira hanya diam jika Ardi sudah bicara. Pria itu sudah pergi barulah menghampiri putrinya.


"Nak, turuti saja apa mau Ayahmu. Itu juga kesalahanmu," tutur Almira merangkul pundak Anila.


"Apa Mama akan percaya padaku jika menceritakan kejadian malam itu?"


...***...


Pukul 19.40 WIB. Ardi, Almira serta Anila pergi ke caffe yang dulu menjadi tempat temu Anila dan Rajen—Ayah Rafin.


Setelah Anila pulang dari acara pertemuan itu, apakah Rafin mengatakan yang tidak-tidak pada ayahnya? Anila takut, apalagi jika harus bertemu kembali dengan Rajen. Nampaknya pria tua itu tidak menyukainya.


"Ingat apa kata Ayah. Minta maaf jika bertemu dengan mereka." Sepanjang perjalanan dari rumah hingga tiba di caffe, Ardi tak henti-hentinya mengatakan hal itu. Anila hanya menghela nafas dan mengiyakan.


"Rekan kerja, di sini!"


...***...


Apa yang terjadi selanjutnya, ya?


Sambil menunggu kekepoan kalian terhadap chapter selanjutnya, mening baca dulu ke karya temen aku nih. Dijamin seru pake bingit

__ADS_1



__ADS_2