JADI GURU DEMI CALON ISTRI

JADI GURU DEMI CALON ISTRI
10. Kembali


__ADS_3

Motor gede Angga terparkir di parkiran sekolah. Tak jauh dari tempatnya berada, ia menemukan Anila yang tengah berjalan seorang diri. Segera pemuda itu menghampirinya dengan berlari kecil.


"Woi!" Angga sampai di belakang Anila langsung memegang kunciran ekor kuda gadis itu.


"Udah sembuh lo?" tanya Angga yang sekarang berjalan di samping Anila.


Gadis yang ia ajak bicara hanya diam saja seraya meraba-raba kuncirnya. Takut jika Angga merusaknya.


"Dih, sok cool," cibirnya yang belum mendapat jawaban dari Anila.


Gadis itu melirik pemuda yang berjalan di sampingnya, lantas menjawab, "Bukannya Angga marah sama Anil? Idih banget tiba-tiba nanyain kabar."


"Masa?"


"Kalau gue marah, mungkin semalam gak mungkin tuh nolongin Lo yang sekarat," lanjut Angga mengingat-ingat.


"Oh, ya. Lo bareng sama sahabat baru? Di mana dia?" Mendengar pertanyaan Angga, Anila menghentikan langkah dengan kaki dihentakan.


"Tuh, masih bahas itu. Gue mana ada punya sahabat baru."

__ADS_1


"Yang kemaren anterin Lo siapa kalau bukan sahabat baru?" sahut Angga memojokan Anila. Gadis itu nampak berpikir, siapa?


"Maksudnya Pak Rafin kah?" batin Anila dengan kening berkerut.


"Heh, malah bengong." Angga mengagetkan gadis itu, membuatnya lamunannya buyar begitu saja.


"Gue gak punya sahabat baru. Tadi yang anterin Ayah," jawab Anila jujur.


Angga manggut-manggut ber-oh ria. "Saat itu gue mau jemput lo, tapi pas baru nyampe halaman lo udah masuk mobil. Gue kira punya sahabat baru. Tapi yaudah kalo bapak lo," jelas Angga tanpa dibuat-buat. Anila tidak mengatakan bahwa ia dulu berangkat sekolah bersama ayahnya. Gadis itu hanya bilang yang tadi mengantarnya adalah sang ayah, bukan saat itu tetapi, Angga sudah berpikir begitu yasudah. Anila juga tidak mungkin menceritakannya.


"Tapi kalo gue punya sahabat baru emang kenapa?" tanya Anila mampu membuat Angga terdiam. Ia juga berpikir mengapa seperti ketakutan?


"Tadi gue disuruh gak usah sekolah. Tapi di rumah gak ada orang. Bisa-bisa gue mati karena penyakit gabut. Akhirnya sekolah, terus Ayah bilang yang nganterin." Entah bagaimana menggambarkan bahagia Anila saat sang ayah ingin mengantarnya ke sekolah. Dia begitu sibuk, akhirnya ada pula ketika mereka memperhatikan Anila.


Angga menganggukkan kepala. "Nil," panggilnya.


"Apa?"


"Bolos yuk," ajak Angga membuat mata Anila melotot.

__ADS_1


"Gue belum makan. Jam pelajaran pertama aja."


"Bukannya dulu lo bilang pernah dimarahin orang tua pas bolos?" Angga teringat akan kata-katanya waktu itu. Orang tuanya kompak menelpon Angga dan marah seolah peduli padanya. Bahkan sampai pergi ke rumah Angga untuk menasehatinya. Angga tahu itu hanya alibi mereka ingin mendapat harta peninggalan sang kakek yang jatuh sepenuhnya pada Angga.


Lagipula mereka telah memiliki keluarga sendiri. Tidak pernah peduli padanya, atau setidaknya salah satu dari mereka membawa Angga untuk tinggal bersama. Namun, kedua orang tuanya selalu beralasan, takut jika pasangan mereka akan berlaku kasar pada Putranya.


"Sekali-kali. Pala lo juga pasti masih sakit, kalau disuruh mikir bisa meledak tuh." Anila mulai berpikir, yang diucapkan Angga memang benar. Wanita yang semalam membenturkan kepala Anila begitu keras, serasa mau pecah.


"Oke," jawab Anila kemudian yang membuat Angga tersenyum senang. Mereka akhirnya memutuskan ke kantin.


Tak henti-hentinya canda tawa mereka lontarkan di sepanjang jalan ke kantin. Seorang pria memperhatikan mereka, memandang kedua remaja itu dengan iri. Baginya mereka nampak serasi, sangat. Sementara dirinya apa?


"Apa dia orang yang kau cintai? Sehingga rela pergi tanpa pamit dari undangan Papa ku semalam?" gumam Rafin yang berdiri memperhatikan kedua remaja itu. Mata sembabnya tertutup oleh riasan yang dibuat Bi Ami—asisten rumah tangannya.


...***...


Rekomendasi yang aku bawakan kemaren-kemaren pasti seru. Tak kalah yang akan aku bawakan kali ini. Hayuk-hayuk, masukin rak bersanding dengan punyaku.


__ADS_1


__ADS_2