
saat ini Andra berada di dalam ruang kerja papahnya, pria baya itu meminta sang anak untuk menemuinya di ruang kerja usai makan siang tadi. Andra yang tak curiga apapun langsung mengiyakan permintaan papahnya.
ceklekkkk....
Andra melihat papah nya sudah duduk di atas kursi kerjanya saat dia masuk kedalam ruangan itu, dia melangkah menuju kursi yang ada di depan meja kerja papahnya.
kini posisi mereka saling berhadapan hanya terhalang oleh sebuah meja kerja saja. mata pria baya itu terus menatap wajah anaknya dengan kedua tangan yang bertumpu di atas meja.
perasaan duda tampan itu menjadi sedikit ketar-ketir saat mendapat tatapan seperti itu dari papahnya, Karena tak biasanya papah meminta menemuinya di ruang kerja jika tak ada masalah di perusahaan, sedangkan perusaan saat ini kondisinya aman terkendali tak ada masalah apapun. dia jadi berfikir apakah dia sudah melakukan kesalahan?.
" ada apa papah panggil aku kesini? apa aku sudah melakukan sesuatu yang salah untuk perusahaan?." ucapnya karena sudah tak sabar dengan apa yang akan papahnya katakan.
papah mendengus ke arah Andra." oh...sepertinya kamu sudah tidak sabar, tapi papah harap kamu akan menjawab pertanyaan papah dengan jujur." kata papah sedikit menyindir membuat Andra menautkan kedua alisnya hingga hampir menyatu.
" gimana aku mau jawab kalo papah dari tadi cuma bertele-tele seperti ini?" jawab Andra seraya mencebik kearah papahnya.
pria baya itu menyeringai melihat itu." well...sekarang jawab pertanyaan papah dengan jujur." pria itu menjeda ucapannya sebentar untuk mengambil nafas sejenak." ada hubungan apa kamu dengan clarissa anak bungsunya Rizal?." tanya pria baya dengan mata menyelidik membuat Andra kaget saat mendengarnya, namun dengan segera dia bisa mengendalikan dirinya lagi sebelum papahnya benar-benar mencurigai nya.
" kenapa papah menanyakan hal itu? memangnya aku kenapa sama clarissa?." tanya Andra balik.
papah terkekeh kecil karena anaknya sedang mencoba berkilah, papah adalah orang pandai membaca raut wajah seseorang Karena dulu sangat di perlukan dalam dunia bisnisnya untuk mengenali mana Lawan dan mana kawan untuk perusahaannya. dia bisa membaca raut wajah anaknya dengan jelas bahwa anaknya mencoba menyembunyik sesuatu darinya dan tak biasanya anaknya menjawab pertanyaan dari nya dengan pertanyaan lagi.
__ADS_1
". jawab saja pertanyaan papah, apa perkiraan papah benar? kamu ada something dengan cla----.
Andra langsung menggeleng cepat memotong ucapan papahnya." enggak pah, Andra gak ada hubungan apa-apa sama clarissa. lagian atas dasar apa papah menuduh aku kaya gitu." papah diam sejenak mencerna perkataan papahnya, dia terlihat menganggukkan kepalanya, ada benar juga apa yang di katakan anaknya. namun entah kenapa jawaban Andra tak membuat hatinya lega.
" jika kalian tidak ada hubungan apapun, apa mungkin kamu yang memiliki rasa dengannya?." selidik pria baya itu lagi.
Andra terlihat menghela nafasnya kasar." benar pah... Taka ada hubungan apapun Andra dengan clarissa selain Hanya sebatas rekan bisnis saja tak lebih dari itu, terlepas dari itu apa yang Andra lakukan pada clarissa murni atas dasar rasa kemanusiaan saja." jawabnya lagi setenang mungkin agar papah yakin.dan tak mencurigainya lagi. dia menjadi sedikit was-was dengan papahnya, papahnya ini seperti seorang detektif hati saja bisa tahu apa yang menjadi masalah hatinya akhir-akhir ini.
papah bisa melihat ada gurat keraguan di mata anaknya saat menjawabnya, dia tahu anaknya sedang berusaha menutupi sesuatu darinya, namun dia percaya dengan Andra yang tak akan pernah berbuat sesuatu yang akan membuat orang tuanya kecewa terlebih itu pada istrinya, mamah dari Andra.
"baiklah....papah harap ucapan kamu itu sesuai dengan isi hati kamu, sebab jika tidak..."papah menggelengkan kepalanya pelan." kamu pasti sudah tau apa yang bakalan terjadi nantinya jika apa yang papah takut benar. kamu paham kan maksud perkataan papah...? jalan kamu sudah pasti akan sangat sulit kedepannya, jika kamu terus memupuk perasaan itu di dalam sini" papah menunjuk kearah dada sendiri.
"sebelum terlambat papah harap kamu sudah memikirkan nya. kamu sudah dewasa, bahkan kamu juga sudah pernah menikah meskipun harus gagal, tapi papah percaya sama kamu. kamu tau apa yang terbaik untuk kamu dan keluarga kamu." lanjutnya lagi.
selepas kepergian papahnya, Andra Langsung mendesah lirih, dia menyandarkan tubuhnya di dikursi yang sedang ia duduk, dengan mendongakkan pandangannya menatap langit-langit ruangan itu yang bernuansa putih.
" maafkan aku pah, aku sendiri belum yakin dengan perasaan aku sendiri, tapi sungguh hatiku ikut menangis saat melihat dia seperti itu." gumamnya lirih seraya memejamkan matanya sesaat, benar-benar hanya sebentar saja.
tak lama kemudian duda tampan itu bangkit dari sana dan keluar dari ruangan itu. langkah kakinya ingin membawanya menuju kamar. kepalanya sedikit berdenyut setelah meresapi semua perkataan papahnya.
saat ingin menaiki tangga, mamah malah memanggilnya dengan suara yang sedikit tinggi dari arah dapur. mau tak mau pria itu pun berbelok menghampiri mamahnya lebih dulu." ada apa mah?" tanya Andra langsung kepada mamahnya saat dia sudah berada di depan mamah.
__ADS_1
dia menggeser kursi dekat dengan mamahnya berdiri dan duduk di kursi itu. mamah pun Ikut duduk di kursi yang ada di sebelah kursinya.
" kenapa papah manggil kamu ke ruang kerjanya? ada masalah serius?." tanya wanita baya itu kepada anaknya.
Andra diam setelah mendengar ucapan dari sang mamah menahan kepalanya yang semakin berdenyut namun tak lama kemudian dia menggeleng.
" gak ada apa-apa mah, semuanya aman kok. yasudah Andra mau istirahat dulu ya...." mamah menatap wajah putranya yang saat ini terlihat sangat lelah, tidak biasa dia melihat wajah anaknya seperti ini.
" loh kamu kenapa? kamu gak mau nyobain dulu kue mamah? biasanya kamu selalu nungguin mamah kalau lagi bikin kue?." mamah bertanya kembali kepada Andra.
Andra tersenyum ke arah mamahnya, dia juga tak tau rasanya hari tubuhnya benar-benar merasa lelah, padahal seharian ini dia tidak melakukan apapun selain mengunjungi clarissa dirumah sakit.
" nanti yah mah, Andra pengen tidur sebentar. kepala Andra sedikit pusing. mungkin jika di bawa tidur sebentar bakalan sembuh." terangnya kepada wanita yang sudah melahirkannya.
mendengar itu mamah menjadi sedikit panik." kamu sakit, sayang? mau mamah panggilkan dokter?." Andra menggeleng cepat. ini lah yang di takuti Andra jika mamahnya tahu tentang masalahnya, apa-apa selalu panikan. hal sepele pun di anggap serius oleh mamahnya jika sudah menyangkut yang namanya keluarga.
"Andra cuma pusing sedikit mah, gak usah panik gitu. mungkin karena kemarin-kemarin Andra terlalu memforsir pekerjaan makanya sekarang agak gak enak nih badan." mamah Hanya diam mendengarkan penjelasan anaknya namun setelah itu mamah langsung mencebik.
" pasti ini gara-gara papah kamu ngasih kerjaan banyak banget kan? emang tuh papah kamu dari dulu selalu saja begitu, kerja... kerja... terus yang di pikirkan, bukannya waktu libur buat istirahat malah bawa kerjaan pulang kerumah." dengus mamah menyalahkan suami yang tidak tahu apa-apa membuat pria baya yang sedang berada di dalam kamarnya tiba-tiba saja telinganya berdenging.
" kenapa nih telinga? tau-tau kaya ada bunyi nging Ngin gitu di dalamnya." ujar papah seraya menggosok telinga.
__ADS_1
sedangkan dibawah sana mamah terus saja mengomel. niat hati ingin beristirahat Andra malah harus mendengar ceramah mamah yang membuat kepalanya semakin berdenyut. namun jika tidak di dengarkan malah akan semakin membuat mamahnya menjadi.