
suasana lobby kantor seketika menjadi riuh saat tiba-tiba kedatangan sebuah mobil ambulans di depan gedung perusahaan Aditama corp.
dua orang perawat terlihat keluar dari dalam ambulans dengan mendorong sebuah brangkar.
Andra yang melihat itu seketika menghembuskan nafas lega dan segera menaikan mamahnya ke atas brankar dengan di bantu oleh perawat tersebut.
kini wanita baya yang sudah berada di atas brankar itu masih saja meringis kesakitan di bagian pa n tat nya karena mencium lantai marmer yang mengkilap di gedung perkantoran anaknya tersebut.
nyonya besar Aditama itu terus saja mengeluarkan sumpah serapan dan mengutuk wanita yang sudah berani menabraknya itu, bahkan Andra yang sudah sedikit pusing dengan ocehan mamahnya hanya bisa membiarkan saja tanpa menimpalinya.
dia sendiri juga bingung harus menimpali apa ocehan mamahnya itu, lelaki itu terus berfikir siapa orang yang berani melakukan ini kepada mamahnya? kalau pun karyawannya sendiri tidaklah akan mungkin berani bersikap tidak sopan seperti itu terhadap mamahnya mengingat mereka sudah tau dengan sikap dan sifat ibu dari bosnya yang sangat mengerikan jika ada yang berani mengusiknya sedikit saja.
" sudah mah...jangan marah-marah terus, nanti tenggorokan mamah bisa sakit kalau kebanyakan marah-marah. biar nanti ini jadi urusan Andra, Reno juga sudah Andra suruh cari pelakunya." ucap Andra menenangkan mamahnya karena merasa tidak enak sendiri dengan perawat yang saat ini mendampinginya di dalam mobil ambulans.
"pokoknya kamu harus dapetin pelakunya secepatnya dan kalau sudah dapat langsung kabari mamah jangan diem-diem aja, mamah pengen unyek-unyek tuh orang, bisa-bisanya dia langsung kabur setelah bikin mamah kaya gini." ucapnya dengan menggebu meskipun terus meringis kesakitan.
Andra yang mendengar itu hanya mengangguk saja, dia sudah lelah menyuruh mamahnya untuk tidak emosi terus-menerus, dia hanya khawatir jika nanti bukan tulang mamahnya saja yang akan sakit tapi darah tinggi mamahnya juga bisa naik lagi.
sementara suster yang mendampinginya hanya mengulum senyum melihat pemandangan di depannya, perdebatan anak dan ibu itu menurutnya sangatlah lucu.
sehebat-hebatnya seorang anak di luar sana akan selalu tunduk di hadapan ibunya sendiri.
lucu banget sih mukanya, aduh gemesin banget, jadi pengen bawa pulang nih orang, batin suster itu saat melihat wajah memelas Andra yang seperti minta di kasihani.
tak berselang lama ambulans tiba di depan rumah sakit swasta yang tak jauh dari kantornya, seorang security menyambutnya dan membantu membukakan pintu ambulans.
mamah langsung di turunkan dari dalam ambulans dan dorong menuju ruang penanganan untuk orang-orang yang segera membutuhkan penanganan cepat.
semetara Andra di minta untuk mengurus administrasinya lebih dulu untuk melanjutkan tindakan berikutnya.
sebelum itu Andra menghubungi Reno untuk menghandle semua urusan kantor hari ini dan memintanya untuk mengecek cctv yang ada ada di lobby kantor karena dia sangat yakin kejadian itu pasti terekam oleh cctv lobby kantornya.
__ADS_1
Andra juga tak lupa untuk menghubungi papahnya tentang kejadian yang menimpa mamahnya. papah yang sedang ada di rumah langsung kaget mendengar berita dari anaknya itu, sebab tadi pagi saat istrinya meminta ijin darinya masih sehat-sehat saja tapi kenapa baru beberapa jam istrinya sudah masuk rumah sakit ? tapi sepertinya Andra tidak mengatakan secara detail kenapa mamahnya bisa masuk rumah sakit. Andra hanya mengatakan bahwa mamahnya saat ini tengah di periksa oleh dokter.
usai menelpon papahnya, Andra langsung menuju bagian administrasi, disana Andra mengisi semua data-data mamahnya yang di perlukan.
para suster yang berada disana terus mencuri pandang ke arah Andra saat pria itu tengah serius ketika ditanyai oleh bagian administrasi, bahkan tak segan ada juga yang memotret Andra dengan nekatnya karena jarang-jarang bisa melihat makhluk tampan seperti Andra nyangkut di rumah sakit seperti ini.
gila.... ganteng banget....
he'em... bener banget, ya Allah jadi ngiri sama mba Siska deh....
iya beruntung banget mba Siska, bisa nanya-nanya tuh cowok....
udah sold out belum yah orang kaya gitu, kalo belum aku mau lah daftar jadi pacarnya....
eleh...ngimpi tengah hari bolong....
para suster yang berada disana terus saja menggunjingkan Andra yang saat ini masih duduk anteng di depan bagian administrasi, tanpa sadar kalau ternyata atasan dari mereka sudah berada di belakang yang sedang menggelengkan kepalanya melihat sikap dari para susternya.
" eh.... prof--- hehehe." ucap mereka yang kemudian tersenyum kikuk kearahnya.
pria baya yang dipanggil sebagai profesor itu pun langsung menjengitkan sebelah alisnya ke arah mereka semua.
" sudah...? kalau sudah puas lebih baik kembali ke bagian kalian masing-masing sebelum saya mengambil tindakan yang lebih tegas kepada kalian" ucapnya lagi lebih tegas membuat para suster itu merinding seketika dan langsung mengambil jurus langkah seribu sebelum ucapan profesor itu menjadi kenyataan.
melihat para suster itu sudah berlari tanpa pamit kepadanya lebih dulu membuat pria Baya itu menghembuskan nafas kasar.
dokter yang sudah bergelar profesor itu menoleh sebentar kearah Andra sebelum melanjutkan tujuannya.
" heh....memang ganteng, pantes para suster pada gunjingin dia." profesor itu menggeleng lagi saat mengingat tingkah para susternya saat memandangi Andra yang membuat mereka lupa dengan jam kerja.
Andra sudah menyelesaikan semua dokumen yang diperlukan, dia kemudian kembali ke depan ruangan dimana mamahnya sedang di tangani.
__ADS_1
tak lama dokter pun keluar dari dalam ruangan, Andra yang Melih itu segera menghampirinya.
" bagaimana dok? apa mamah saya baik-baik saja?" dokter menghembuskan nafas kasar sebelum menjawabnya.
" sepertinya nyonya Aditama perlu di rawat, kami harus melakukan beberapa pemeriksaan lagi, karena ada pergeseran di tulang ekornya, apa jatuh cukup kencang?" tanya dokter yang membuat pria itu hanya menggeleng saja.
Andra sendiri tidak tau dengan kejadiannya. dia hanya di hubungi dari resepsionis tentang kondisi mamahnya yang sudah duduk di lantai dengan keadaan kondisi yang sudah kesakitan.
" saya tidak pastinya dok. kalau itu memang di perlukan, lakukan saja yang terbaik untuk mamah saya supaya beliau tidak merasa kesakitan lagi." dokter itu terlihat mengangguk saja
setelah berbincang sedih dengan sang dokter, Andra kembali duduk di kursi yang ada di sana, dia dengan setia menunggu tindakan selanjutnya untuk sang mamah hingga tak sadar papah sudah ada di depannya saat ini.
" bagaimana keadaan mamah kamu? " tanya papah langsung karena khawatir dengan kondisi istrinya saat ini.
Andra menoleh kearah papahnya yang saat ini terlihat cemas." mamah masih di tangis dokter pah, papah duduk dulu kita tunggu mamah disini." ucap Andra dan papah pun langsung menurut.
" kenapa mamah mu bisa masuk rumah sakit ndra? padahal pas pamit sama papah dia baik-baik saja loh...?" tanya papah lagi yang membuat nadra langsung menghempaskan nafasnya kasar.
" mamah jatuh pah..." papah tersentak kaget dengan ucapan dari anaknya.
dia jadi semakin khawatir dengan kondisi sang istri mengingat istrinya memiliki riwayat darah tinggi, pria baya itu takut terjadi apa-apa dengan wanita kesayangan itu.
" ma--maksud kamu jatuh kenapa ndra...?" tanya papah lagi karena belum mengerti yang dimaksud anaknya itu.
dia tidak ingin menebak apa yang sebenarnya terjadi, dia ingin Andra menjelaskannya secara detail.
Andra pun menjelaskan semuanya kepada papahnya apa yang dia ketahui tentang kejadian itu.
pria baya itu terlihat menghembuskan nafasnya berat karena tidak menyangka dengan kejadian singkat yang sudah menimpa istrinya itu, baru tadi pagi dia pergi pamit untuk mengunjungi anaknya di kantor, namun saat ini malah istrinya harus terbaring menjadi salah satu pasien di rumah sakit yang ada di dekat kantor anaknya.
apalagi kelihatannya sang istri membutuhkan perawatan yang cukup serius mengingat yang cedera adalah tulang ekornya.
__ADS_1