Jodoh Setelah Perpisahan

Jodoh Setelah Perpisahan
bab.27.Orng ke tiga


__ADS_3

Sepulang nonton mereka memutuskan untuk makan.mereka memilih makan bakso di pinggir jalan.ini memang keinginan Ayana.


Saat mereka sedang asik menyantap bakso yang mereka pesan, ada sebuah mobil yang melintas di jalan tersebut lalu berhenti di depan mereka.


Mereka masih asik memakan baksonya saat seseorang turun dari mobil tersebut lalu menghampiri mereka.


"Halo Ayana," sapa orang tersebut pada Ayana.


Ayana pun mendongakkan wajahnya sedangkan Arfan menoleh ke arah sumber suara.lalu Arfan pun ganti menoleh pada Ayana yang ada di depannya.


"Jadi Dia Ay orangnya yang buat kamu nolak aku," ucap orang tersebut santai namun penuh penekanan.


"Siapa Ayy?" tanya Arfan.


"Kenalin.Riko," ucap cowok tersebut mengulurkan tangannya memperkenalkan diri.


Arfan pun menyambut uluran tangan cowok tersebut dan memperkenalkan dirinya.


"Maksudnya apa ya tadi bilang kalau Ayana nolak kamu?" tanya Arfan penasaran.


"Oh jadi kamu nggak bilang Ay?" tanya cowok tersebut.


"Sorry ya sebelumnya, please jangan panggil Ay Ay terus karena cuma saya yang boleh manggil kaya gitu.itu adalah panggilan kesayanganku," ucap Arfan menjelaskan.


"Cihh ," umpat cowok tersebut kesal dengan ucapan Arfan.


Ayana tidak menanggapi omongan orang di depannya ini karena dia memang belum menceritakan tentang masalah ini pada Arfan.


"Kalau kamu mau tau apa hubunganku sama Ayana, sebaiknya kamu tanyakan sendiri padanya," tunjuk lelaki yang bernama Riko itu pada Ayana.


Lalu pandangan Arfan beralih dari Riko ke arah Ayana.pandangan yang mengartikan sebuah pertanyaan ada apa sebenarnya,


Ayana hanya diam saja , membuat Arfan semakin bertambah penasaran.


"Apa perlu aku yang menjelaskannya Ay?" tanya Riko.


"Nggak perlu, sebaiknya kamu pergi aja riko.kamu udah mengganggu banget tau nggak.jangan bikin aku makin elfeel sama kamu," ucap Ayana.


"Ok Ay, aku akan pergi tapi ingat ya aku belum nyerah Ay.kalau cuma bersaing dengan cowok macam dia aku pasti menang Ay.liat aja nanti," ucap Riko dengan nada mengancam.


Rasanya Arfan ingin sekali menjitak kepala si Riko itu karena dia selalu memanggil Ayana dengan sebutan Ay.dia sangat kesal dengan itu karena itu adalah panggilan kesayangan dia.


setelah Riko pergi meninggalkan tempat itu, kini pandangan Arfan menuntut penjelasan dari Ayana.


"Ay sayang ada apa sebenarnya?" tanya Arfan lembut.


"Aku akan jelasin semuanya tapi janji ya jangan marah," ucap Ayana memohon.


.


"Baiklah ... aku nggak akan marah," ucap Arfan.


Ayana pun mulai menceritakan yang terjadi antara dirinya dan Riko.


"Sebenarnya Riko itu pernah nembak aku.tepatnya sehari setelah kamu nembak aku yang tidak romantis itu," ucap Ayana.


"Terus ... ?" tanya Arfan tidak sabar.


"Ya nggak ada terusnya, aku bilang sama dia aku nggak bisa Nerima dia karena aku suka sama orang lain," ucap Ayana.


"Mungkin dia nggak bisa terima kenyataan," ucap Ayana cuek.


"Perasaan kamu gimana Ay ?" tanya Arfan khawatir.dia takut Ayana akan berpaling darinya mengingat mereka masih baru dalam menjalani hubungan ini.


"Kenapa kamu masih menanyakannya, bukankah aku sudah memilih kamu.apakah kamu meragukan perasaanku," tanya Ayana.


"Bukan begitu Ay , aku hanya takut.takut kehilanganmu," ucap Arfan dengan wajah sendu.


Ayana meraih tangan Arfan yang ada di atas meja lalu ia menggenggamnya.

__ADS_1


"Percaya sama aku ya," pinta Ayana.


Arfan tersenyum lalu menggenggam dengan tangan satu lagi.


"Makasih ya Ay," ucap Arfan terharu.


"Oh iya Ay, kamu malu nggak kalau jalan sama aku yang nggak punya kendaraan mewah seperti Riko itu, aku hanya pakai motor itu pun dari minjem punya kakak," tanyanya.


"Ya ampun Fan udah deh nggak usah bahas si Riko lagi," jawab Ayana meyakinkan.


Arfan pun tersenyum dia merasa sangat bersyukur Ayana bisa menerima dirinya apa adanya.tapi tak bisa di pungkiri, dalam hati dia berfikir apakah dia harus menerima tawaran dari orang tuanya.


"Ay ... sebenarnya aku pengen cerita sama kamu," ucap Arfan sambil memandang wajah Ayana.


Gadis itu memandang ke arah Arfan. "Ada apa?" tanyanya.


"Sebenarnya orang tua aku nawarin aku buat beli kendaraan ,tapi aku bingung mending mobil atau motor ya Ay ?" tanya Arfan meminta pendapat.


"Terserah kamu aja Fan, aku bebas kok.mau kita kaya gini aja juga it's ok," ucap Ayana memberikan pendapat.


"Makin bingung dong aku Ay," ucap Arfan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Udah lahh nggak usah di pikirin.nyantai aja lahh.ya udah yuk kita pulang dah malem takut kena tegur," ucap Ayana.


Akhirnya mereka pun pulang menuju kost an. Arfan mengantarkan Ayana terlebih dahulu sebelum dia kembali ke kost an nya.


"Aku pulang dulu ya Ay, mimpiin aku ya," ucapnya sambil menggenggam tangan Ayana.


Ayana tersenyum sambil menggoyang-goyangkan tangan Arfan.


"Kamu hati-hati ya," ucapnya.


Arfan menyalakan motornya lalu melambaikan tangannya kemudian melaju menuju kost an nya. Ayana pun membalas lambaian tangan Arfan lalu masuk ke kamar kost nya.


Pagi hari seperti biasa Arfan bersiap-siap pergi ke kampus.saat dia keluar dari kmarnya dia bertemu dengan sahabatnya Rendi.


"Berangkat yuk," Ajak Arfan.


"Ini motor kakak ipar gue.kemaren pinjem buat malam mingguan,"jawabnya sambil tertawa.


"Nggak modal lu," ejek. Rendi.


"Bodo amat," balas Arfan cuek.


Saat mereka akan menaiki motor Arfan bertanya lagi, "Bro menurut Lo kalau gue punya uang gue mending punya motor atau mobil ya," tanyanya pada Rendi.


"Emm gimana ya ... kalo motor itu lebih romantis kalau sama cewek tapi kalau mobil bisa muat banyak otomatis gue bisa nebeng dong," ucapnya sambil tertawa.


"Ah Lo modus doang," ucapnya sambil mencebik.


"Harus dong, harus bisa memanfaatkan segala sesuatu.lqgian Lo jadi orang kan harus bermanfaat untuk orang lain," ucapnya lagi makin ngelantur.


"Ah rese lu, ya udah yuk cabut ," ajak Arfan.


.mereka pun berangkat bersama dengan menaiki motor milik kakak ipar Arfan.


Sepanjang perjalanan Arfan terus berfikir apa yang harus dia pilih.


Dia memutuskan akan minta pendapat kakak iparnya aja.


sesampainya di kampus perkuliahan berjalan seperti biasa.tapi kali ini ada yang berbeda.saat Arfan memasuki kelas dia mendapat tatapan tajam dari riko.tatapan yang menyimpan dendam.


Arfan yang menyadari itu hanya cuek aja.dia tidak akan gentar menghadapi Riko si pengacau itu.


Waktu pun berlalu.perkuliahan pun telah usai.


semua mahasiswa sudah keluar satu persatu.Ayana menghampiri bangku Arfan. "Mau langsung pulang atau kemana dulu kalian?" tanyanya.


"Mau langsung pulang aja aku," ucap Arfan.

__ADS_1


"Gue mau ke perpustakaan dulu nih, Lo duluan aja gih," ucap Rendi.


"Yakin Lo ... ?" tanya Arfan.


"Yakin lahh emang napa?" tanyanya.


"Kali aja Lo takut," ejek Arfan.


"Sontoloyo lu," umpat Rendi dengan logat jawanya.


"Eh kebetulan tuh si Lisa juga mau ke perpustakaan.temenin gih kali aja jodoh Rend," ucap Ayana sambil tersenyum.


Akhirnya Rendi pergi ke perpustakaan bersama Lisa sedangkan Arfan pulang bersama Arfan.


Sebelum pulang ke kostan nya Arfan terlebih dulu mengantarkan Ayana.


"Aku langsung pulang aja ya Ay,soalnya mau ke tempat kak Irfan," ucap Arfan.


"Ok hati-hati ya.jangan ngebut bawa motornya," nasehat Ayana.


"Siap tuan putri," ucap Arfan sambil mengangkat tangannya ke pelipis seperti orang memberi hormat.Arfan pun berlalu dari rumah kost an Ayana.


Sesampainya di kost an Arfan langsung beristirahat.dia memutuskan akan ke rumah kakaknya setelah asar.


Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore dan Arfan pun sudah menunaikan ibadah sholat asar nya.dia kini bergegas akan berangkat ke rumah kakaknya.


Saat dia keluar kamar dia berpapasan dengan Rendi yang baru pulang dari kampus.


"Lo baru pulang dari kampus atau kemana dulu nih? masa iya Lo baru pulang dari kampus.rajin amat lu," selidik Arfan.


"Lu mah suudzon aja orangnya.tapi emang iya sih gue tadi jalan dulu sama si Lisa," jawabnya sambil nyengir kuda.


"Nah kan tebakan gue nggak pernah salah lah.jadi pedekate nih ceritanya," tanya Arfan.


"Iya dong masa Lo aja yang punya pacar.gue kan juga mau," ucap Rendi sambil mencebik.


Arfan hanya tertawa menanggapi Omelan sahabat nya itu.


"ya udah deh gue cabut nih.sukses buat Lo semoga cepet jadian,"ucapnya sambil tertawa kemudian berlalu dari hadapan Rendi.


Tak butuh waktu lama untuk sampai di rumah kakaknya.kini ia sudah berada di depan rumah kakaknya.


"Assalamualaikum,"ucap Arfan.


"Waalaikumsalam," jawab Melina dan Irfan.


Arfan pun langsung masuk lalu mencium tangan kedua kakaknya.dia langsung duduk di samping kedua kakaknya.


"Kak Mel, menurut kakak sebagai cewek kakak lebih suka pakai motor atau mobil kalau lagi pacaran?" tanya Arfan.


Kedua kakaknya saling pandang lalu tersenyum.


"Jadi mau nih? apa yang membuatmu berubah pikiran?" tanya Melina.


"Bukan apa kak tapi siapa.ini semua gara-gara si Riko kampret.dia mau nikung kak udah gitu pake nyombongin kendaraan dia lagi.jadi aku kesel,menurut kakak aku mesti pilih apa?" tanya Arfan galau.


Melina tertawa mendengar cerita adik iparnya itu." Kalau menurut kakak mending kamu pilih yang mana yang lebih efisien bukan sekedar gaya-gayaan Fan,"ucap Melina.


"Mobil bagus Fan kalau hujan dan panas kita aman, tapi kalau macet nggak bisa apa-apa.Sedangkan motor bisa lebih cepet sampai dan bisa menerobos kemacetan tapi kelemahannya ya itu Fan panas hujan tak terselamatkan," ucap Melina panjang lebar.


Arfan tampak berfikir sesaat kemudian dia tersenyum.


"Kak gimana kalau motornya aku pakai aja.daripada beli lagi sayang uang.punya kakak ini juga nggak kepakai kan?" tanyanya antusias.


"Ya kakak sih terserah kamu aja Fan," jawabnya.


"Gimana mas?" tanya Melina pada suaminya yang ada di sampingnya.


"Aku setuju sama kamu sayang, ya udah pake aja Fan,nanti kakak kabarin ke ayah sama ibu"ucap kakaknya.

__ADS_1


Arfan tersenyum sumringah akhirnya dia memilih untuk memakai motor kakak iparnya.


dia pun pulang ke kost san nya lagi dengan membawa motor kakak iparnya.


__ADS_2