
Sampai tengah malam Ayana masih menunggui Arfan yang masih belum tersadar. Sedangkan Melina menemani Irfan suaminya beristirahat di kamar yang lain.
Ayana tertidur di kursi di samping tempat tidur Arfan. Perlahan Arfan membuka matanya, dia melihat ke arah samping ternyata Ayana tertidur sambil menggenggam tangannya. Dia pun mengusap kepala Ayana dengan tangan satunya yang tidak di genggam oleh Ayana.
Merasa ada yang mengusik tidurnya, Ayana mulai membuka mata dia mengerjap-ngerjapkan matanya karena melihat Arfan sudah sadar. Dia tersenyum bahagia lalu mendekati wajah Arfan.
" Kamu udah sadar sayang, syukurlah. Aku bahagia banget." ucap Ayana.
Arfan tersenyum lalu mengusap wajah Ayana.
" Kenapa kamu nggak pulang ?" tanya Arfan.
Ayana menggeleng, "Aku mau nemenin kamu di sini." ucapnya sambil memegang tangan Arfan yang berada di pipinya.
" Makasih ya Ay." ucapnya.
Ayana pun tersenyum lalu mengangguk.
" Sini Ay." ucap Arfan sambil menepuk ruang kosong di sampingnya yang mengartikan bahwa ia menyuruhnya untuk berbaring disitu.
Ayana pun naik ke atas tempat tidur lalu membaringkan tubuhnya di samping Arfan.
" Apa yang sebenarnya terjadi Fan?" tanya Ayana.
" Entahlah....aku juga nggak tau Ay. Aku merasa nggak punya musuh. Tiba-tiba aja terjadi kaya gitu dan aku juga nggak tau itu siapa." Ucap Arfan.
Ayana memeluk tubuh Arfan dengan erat seolah tak ingin Arfan meninggalkannya sedetik pun.Arfan pun mengecup pucuk kepala Ayana.
Mereka pun terlelap kembali tapi dengan perasaan yang bahagia dan lega.
pagi sudah menjelang. Cahaya matahari sudah menembus kamar yang ditempati Arfan.
Ayana perlahan membuka matanya dia melihat ke arah samping ternyata Arfan sudah terbangun.
" Sayang, kenapa nggak bangunin aku." Ucap Ayana.
" Aku nggak tega Ay. Kamu kayanya capek banget." Ucap Arfan.
Ayana beranjak bangun dari tempat tidurnya.dia lalu melangkah ke arah kamar mandi.
"Aku mau cuci muka dulu ya," ucapnya pada Arfan yang dijawab dengan anggukan.
Saat Ayana sedang di kamar mandi Melina masuk ke kamar Arfan dia belum tau kalau Arfan sudah sadar karena Ayana belum sempat memberitahunya.
" Kamu sudah sadar Fan," ucap melina.arfan pun tersenyum.
"Di mana Ayana?" tanyanya lagi.
" Lagi di kamar mandi kak,o iya kak Irfan gimana kak?" tanya Arfan.
" Mas Irfan baik-baik aja. Dia hanya butuh istirahat untuk pemulihan." Jawab Melina.
" Maafin aku ya kak udah nyusahin." ucapnya sedih.
" Sssstt ... Kamu jangan ngomong gitu Fan, Kakak baik-baik aja. dan sudah seharusnya juga kakak bantu kamu, kamu kan adiknya." Ucap Melina sambil tersenyum dan mengusap pundak Arfan.
" Davin mana kak?" tanyanya kemudian.
" Dia masih tidur ," jawab Melina.
" Kasian Davin ya kak harus ikut nginep di rumah sakit." ucap Arfan sedih.
" Udaaah kamu nggak banyak pikiran, yang penting kamu sehat dulu. Davin anak yang kuat kok, Dia juga nggak rewel." ucap Melina sambil tersenyum.
Ceklek.
Pintu kamar mandi terbuka dan munculah Ayana yang baru selesai membersihkan diri.
" Pagi kak, maaf aku belum sempet ngasih tau kakak kalau Arfan udah sadar," ucapnya merasa tak enak.
__ADS_1
" Nggak apa-apa Ay," jawab Melina sambil tersenyum.
" Kamu kalau mau pulang nggak apa-apa Ay, nanti Arfan biar kakak yang jaga." ucapnya.
" Nanti aja kak kalau udah ketemu dokter. Pengen tau kondisi Arfan dulu," jawabnya.
" Baiklah kalau begitu, Kamu cari makan dulu gih Ay. Nanti gantian sama kakak." ucap Melina.
" Iya kak, kalau kakak mau sekalian aku beliin aja gimana?" tawar Ayana.
" Boleh deh kalau nggak ngerepotin mah," jawab Melina.
" Nggak kok kak.biar sekalian aja," jawab Ayana.
" Jadi kakak mau di beliin apa?" tanya Ayana lagi.
" Apa aja lah Ay yang ada," jawabnya Melina.
" Ya udah aku pergi dulu ya kak," pamit Ayana lalu di angguki oleh Melina. Dia mengambil tas selempang nya yang ia letakkan di meja dekat ranjang. lalu ia pun keluar menuju kantin rumah sakit.
" Kak aku nggak apa-apa kok sendiri, kakak liat Davin aja takutnya udah bangun." Ucap Arfan.
" Nggak apa-apa, Davin sama ayahnya.kakak tungguin Ayana dulu aja. Biar kamu ada temennya." Ucap Melina sambil tersenyum.
" Makasih ya kak," ucap Arfan lalu di angguki oleh Melina sambil tersenyum.
" Kamu gimana rasanya Fan? apanya yang kerasa sakit?" tanya Melina kemudian.
" Nggak sih kak, aku cuma masih ngerasa lemes aja badannya." jawab Arfan.
" Oh gitu, mungkin karena kamu baru sadar ya , belum ada makanan yang masuk selain cairan infus." ucap Melina.
" Bisa jadi kak," jawab Arfan.
Ceklek
pintu terbuka, masuklah Ayana yang menenteng kresek makanan.tapi ternyata dia tidak sendiri. Di belakang Ayana ada Rendi yang ikut masuk ke dalam.
" Waalaikumsalam," jawab Melina dan Arfan.
Rendi lalu menyalami Melina.
" Gimana bro, betah amat Lo nginep di rumah sakit," ucap Rendi menggoda Arfan.
" Sialan Lo, siapa juga yang mau. Lo temen nggak ada akhlak," balasnya menanggapi candaan Rendi.
Dia hanya nyengir mendengar Omelan sahabatnya itu.
" Kak ini makanannya, adanya cuma bubur kak." ucap Ayana menghentikan perdebatan dua sahabat tersebut.
" Nggak apa-apa Ay, Fan kakak tinggal dulu nggak apa-apa kan?" tanya Melina.
" Tenang aja kak, ada saya yang akan menemaninya," Rendi yang menjawabnya.
Melina tersenyum lalu mengangguk.
" Ya udah kakak tinggal dulu ya, nanti kakak ke sini lagi," ucapnya.
" Ok kak," Rendi yang menjawabnya lagi.
Melina pun keluar dari kamar rawat Arfan.
" Ya udah cepet makan bro biar cepet pulang.seneng amat baringan di sini." Ucap Rendi menggoda Arfan.
" Mau gue suapin nggak nih?" tanyanya kemudian.
" Sialan Lo, ogah amat di suapin ama elo.gue kan punya ayang. emangnya elo jomblo," ucap Rendi kesal.Ayana hanya tersenyum melihat pertengkaran dua sahabat itu.
" Sebentar lagi gue juga nggak jomblo lagi." ucapnya menyombongkan.
__ADS_1
Ayana menyiapkan bubur yang sudah dibelinya.Dia hendak menyuapi Arfan.
" Sayang, kamu dulu aja yang makan.Kamu pasti lapar." Titahnya.
" Nggak apa-apa sayang, kamu kan udah dua hari nggak makan." ucapnya.
" Hadeuhh ... Jadi obat nyamuk nih," Celetuk Rendi.
" Sirik aja Lo." ucap Arfan sambil menatap tajam. Rendi hanya nyengir kuda melihat tatapan Arfan.
Ayana kemudian mulai menyuapi Arfan.
" Bro gimana kalau kita laporin aja kasus tabrak lari Lo ini." Ajak Rendi.
" Ya elah Lo gimana sih, mau ngelaporin gimana orang yang nabrak aja gue nggak tau." ucap Arfan.
Rendi garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal, " Iya juga ya," ucapnya.
" Ya udah lah, mudah-mudahan aja dia sadar . lagian gue juga nggak apa-apa ini," ucap Arfan.
" Nggak apa-apa pala Lo. Lo sampai kehabisan darah gitu Lo bilang nggak apa-apa." Ucap Rendi penuh emosi.
" Sebenernya aku setuju kalau kita laporin soalnya ini sudah termasuk kriminal, tapi Arfan bener juga kita tidak punya bukti untuk melaporkan pelakunya karena tidak ada satu pun saksi." Ucap Ayana panjang lebar.
Rendi manggut-manggut mendengar ucapan Ayana.
" Jadi sekarang gimana?" tanya Rendi.
" Ya mau gimana lagi, biarin aja dulu. Mudah-mudahan nanti kita dapat petunjuk". Ucap Ayana.
Ceklek
Terdengar suara pintu di buka. Ternyata Melina dan Irfan yang masuk.dia sambil menggendong si kecil Davin.
" Assalamualaikum," ucap mereka berdua.
" Waalaikumsalam," jawab mereka bertiga.
Irfan dan Melina pun menghampiri adiknya.
Si kecil Davin menggerak-gerakkan tangannya seperti berusaha meraih tangan Arfan.
" Halo ponakan om yang ganteng, kangen ya sama om," ucapnya pada Davin.
Melina lalu mendekatkan Davin pada Arfan, lalu Arfan pun menciumnya.Davin terlihat sangat senang.terbukti dia tertawa-tawa setelah Arfan menciumnya.
" Apa kakak udah bener-bener sehat?" tanya Arfan pada kakaknya.
" Kakak nggak apa-apa kok. Cuma butuh istirahat aja. Sekarang juga udah baik." Ucap Irfan.
" Kapan aku boleh pulang nih kak?" tanya Arfan lagi.
" Nanti kita tanya dokter dulu." Jawab Irfan.
Tidak berapa lama masuklah dokter beserta dua orang perawat untuk memeriksa kondisi Arfan.
" Permisi saya akan memeriksa pasien dulu." ucap dokter tersebut memberitahu.
Lalu mereka semua pun menjauh untuk memberi ruang kepada dokter untuk memeriksa keadaan Arfan.
" Gimana dok keadaan adik saya?" tanya Irfan.
Setelah selesai memeriksa keadaan Arfan, dokter pun menjelaskan bahwa keadaan Arfan sudah stabil semuanya baik dan dia sudah di perbolehkan pulang setelah menyelesaikan administrasi.
" Jangan lupa tiga hari lagi kontrol ya." ucap dokter tersebut memberitahu.
" Terima kasih dok." ucap Irfan.
Dokter tersebut tersenyum lalu mengangguk.kemudian dia permisi untuk melanjutkan tugasnya memeriksa pasien yang lain.
__ADS_1
Irfan pun segera mengurus untuk segala sesuatunya untuk kepulangan Arfan. Menjelang siang mereka pun bersiap untuk pulang.