Jodoh Yang Tidak Diinginkan

Jodoh Yang Tidak Diinginkan
(JYTD) ~01


__ADS_3

"kyyaaaa! Siapa kamu?! Kenapa kamu telanjang di rumah saya?!" teriak seorang wanita dengan sangat keras ke arah pemuda seraya melemparkan seluruh benda yang di dekatnya.


Bug!


Pemuda bernama Galang Harun spontan berdiri dan menghalangi wajahnya dari hantaman benda yang di lemparkan wanita itu.


"Tante, berhenti! Saya bukan orang jahat!" teriak Galang.


Ia berlari memutari area kamar yang cukup kecil itu demi menghindari lemparan yang di arahkan padanya.


Ia juga kaget bukan main, karena kini ia bisa dengan jelas melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa saat ini ia hanya mengenakan celana jeansnya saja.


Ia pun mengambil satu persatu baju dan jaket yang berserakan di lantai sambil menghindari lemparan-lemparan itu.


Sedang disisi lain, ia juga lihat gadis blonde yang bernama Arasella Theana Poland di atas karpet tipis mulai memasang wajah sendu sambil memegangi seluruh tubuhnya. Tubuhnya masih berbalut pakaian, tapi ia tak kalah kaget dengan kedua orang yang bertengkar di depan.


"Kamu? Kenapa kamu masih ada di sini?" tanya Thea lirih di balik tangisnya yang mulai pecah.


Sedang ibu paruh baya yang bernama Lestat itu pun tiada hentinya melempari Galang dengan sekuat tenaga.


"Kamu apakan anak saya?! Kalian berdua berbuat apa semalam? Jawab!" tanya Bu Lestat dengan sangat keras seraya melemparkan sebuah vas bunga ke arah Galang.


Ia terlihat menangis.


Dan itu membuat Galang jadi serba salah, karena ia sendiri pun tak ingat semalam itu ia sudah berbuat apa.


"The, gue gak ngapa ngapain lo. Please, dia nyokap lo, 'kan? Tolong bilang ke nyokap lo kalo kita gak ngapa ngapain," ucap Galang.


Thea malah terus menangis.


"Bohong! Kalian berdua pasti sudah berbuat zinah semalam! Kalau tidak, kenapa kamu tidak pakai pakaian?! Kamu telah menodai kesucian anak saya! Dasar brengsek!" ucap Bu Lestat lagi seraya mendorong tubuh Galang di balik isakan tangisnya.


"Tante, aku gak nyentuh Thea! Sumpah! Aku gak ngapa-ngapain dia, ini cuma salah paham." Galang berusaha keras untuk menjelaskan apa yang terjadi.


Namun bukannya merespon perkataannya wanita itu malah menatap tajam ke arah Thea yang masih terdiam di tempatnya, hingga tak berapa lama ia menghampiri Thea dengan cepat dan memaki-maki anak gadis itu.


"Apa yang kamu lakukan sekarang?! Kamu benar-benar sudah mengecewakan ibu!" ucap Bu Lestat seraya memukuli Thea dengan kedua tangannya.


Thea masih terus menangis sambil menundukan kepalanya dan melindungi wajah dari incaran telapak tangan sang ibu.


"Ibu, maafin aku. Aku juga gak tau kenapa dia ada di dalam rumah ini," ucap Thea kemudian.


"Sekarang kamu berani bohong sama ibu? Keterlaluan! Thea, apa sih yang ada di pikiran kamu? Pekerjaan ibu memanglah pembantu! Tapi ibu gak mau kamu jadi kaya ibu! Ibu memang sering memintamu bekerja dan berhenti sekolah, tapi bukan hal ini juga yang ibu mau!" teriak Bu Lestat lagi seraya terus memukuli Thea tanpa henti.


Menampar, menjambak dan mendorong tubuh Thea ia lakukan dengan keras untuk meluapkan seluruh kekesalanya.


Ia yang masih berdiri itu pun tak kuasa menahan tangisnya saat Thea memeluk kedua kakinya dan bertekuk lutut di hadapanya dengan tangisan yang sama.


"Ibu, ini semua gak bener. Tolong ibu percaya sama aku, aku gak mungkin ngelakuin hal itu," jelas Thea seraya memeluk erat kaki ibunya.


Namun Bu Lestat malah menyingkirkan tangannya dan melangkah menuju pemuda ringkih yang masih berada di dalam rumah.


PLAK!


Sebuah tamparan keras menghantam pipi Galang dengan tanpa Galang mencegahnya sedikit pun.


"Kamu harus bertanggung jawab! Nikahi anak saya," ujar Lestat bernada pelan namun terdengar cukup menyentak kedua anak muda di dekatnya ini.


TEG!


Mata Galang dan Thea terbulat sempurna bersamaan saat mendengar perkataan Bu Lestat barusan.


"Apa?" Mereka bersamaan tak percaya.


Napas Thea semakin tak karuan, tangisnya semakin menjadi kala ia mendengar perkataan ibunya, itu bahkan lebih buruk dari apa yang ia kira.


Beasiswa yang selama ini ia pertahankan dan perjuangkan akan hilang dalam sekejap, apalagi kelulusannya sudah tinggal selangkah lagi.


Ini buruk, apalagi kalau ia sampai benar-benar menikah dengan seseorang yang tak pernah ia cintai. Ia memang mengenal Galang tapi itu pun hanya sebatas teman, tak lebih. Terlebih ia juga cukup tahu sifat pemuda urakan yang ada di kontrakan kecilnya ini.


Thea pun buru-buru meraih kaki ibunya lagi dan menangis sejadi-jadinya, ia takut. Ia benar benar takut hal itu terjadi padanya.


"Ibu, tolong. Percaya sama aku, jangan nikahin aku sama dia aku gak mau. Aku bisa jelasin semuanya sama Ibu kenapa dia bisa ada di sini," ucap Thea kemudian seraya mengeratkan peganganya pada kaki ibunya.


"Maaf Tante, aku gak akan ngelakuin hal itu. Karena aku juga ngerasa gak bersalah sama sekali," ucap Galang menambahkan dengan nada tegas, ia pun mengenakan kembali satu per satu pakaiannya hendak pergi meninggalkan tempat yang membuat paginya menjadi kacau balau ini. Dan berusaha tak mempedulikan kedua orang yang tengah menangis.


GREP!


Saat hendak melangkah pergi, tiba-tiba saja Bu Lestat memegang tangan Galang dengan sangat erat.


"Mau kemana kamu? Pulang? Ayo, saya akan ikut! Saya akan meminta pertangggung jawaban kedua orang tuamu atas apa yang kamu lakukan pada anak saya," ucap Bu Lestat dengan tatapan serius.


Galang dan Thea semakin tersentak.


Apalagi saat Lestat mulai menarik tangan Galang dengan paksa menuju pintu rumahnya.


"Ibu! Ibu aku mohon jangan, jangan, Bu. Jangan! Ini gak seperti apa yang Ibu lihat, tolong, Ibu harus percaya sama aku," ucap Thea seraya terus memegangi kaki ibunya erat-erat hingga ia terseok di lantai.


Namun sepertinya Lestat tak ingin mendengarkan penjelasan apa pun lagi, hingga ia kini berhasil membawa Galang keluar dari rumahnya dan benar-benar berniat mendatangi rumah Galang.

__ADS_1


Sedangkan Galang tak patah pendirian, ia merasa tak melakukan apapun pada Thea yang mengharuskannya bertanggung jawab atas gadis itu.


Hingga ia melepaskan pegangan Bu Lestat padanya dan langsung berlari menjauhi mereka, secepat kilat dan menuju luar pagar rumah kecil itu.


Namun apa yang ia lihat di depannya sangat menyentak dan cukup untuk menahan langkah kakinya.


"Papah?" ucapnya heran.


Matanya terbelalak lebar saat melihat sesosok laki-laki paruh baya di hadapanya dengan tatapan tajam.


Ia kaget bukan main, bagaimana bisa ayahnya berada disini? Sedangkan ia sendiri tak memberitahu siapa pun keberadaanya semalaman.


Ah, manamungkin ia lupa? Ayahnya adalah seorang dengan sifat keras dan protektif. Ia pasti mencari sejak semalam hingga bisa menemukannya dengan cepat sepagi ini.


Galang terpaku dengan kedatangan ayahnya itu.


Sedang Bu Lestat dan Thea juga berlari keluar pagar dan menemukan Galang beserta ayahnya di dekat rumah mereka.


"Jangan kabur kamu! Kamu harus tanggung jawab pada anak saya! Berani-beraninya kamu meniduri anak saya! Dasar brengsek!" teriak Bu Lestat dengan keras seraya memukuli Galang lagi menggunakan sapu ijuk yang di bawanya.


Thea masih menangis di belakang ibunya, berusaha menahan.


"Tante, udah aku bilang. Aku gak ngapa-ngapain Thea! Tante udah salah paham!" ucap Galang membela dirinya sendiri.


"Apa maksud anda tadi?" tanya laki-laki yang berdiri tegap kemudian pada wanita paruh baya itu.


"Dia! Orang ini sudah meniduri anak saya semalam, dasar anak berandalan!" jawab Lestat, cacian dan pukulan yang tiada henti pada Galang.


"Apa?" Pak Yahya--ayah Galang membelalakkan kedua mata menatap tajam.


Galang pun menoleh ke arah ayahnya, gawat! Sepertinya sang ayah percaya dengan apa yang di katakan wanita ini. Itu bisa dilihat dari sorot mata tajam memerah penuh amarah itu.


***


Setelah keadaan mulai agak dingin. Galang, Thea dan kedua orang tua itupun kini duduk di dalam rumah Thea dengan hanya beralaskan tikar saja.


Bu Lestat sudah mulai tenang, meskipun matanya tetap saja berair akibat kesedihan yang mendalam.


Thea pun masih menangis dan hanya menunduk di sebelah ibunya dengan perasaan takut mulai menjalar di seluruh bagian urat syraf di kepalanya.


Sedangkan Galang, ia tampak cuek dan tak peduli pada keadaan di sekitar.


Dan pak Yahya, masih mencoba untuk menahan emosi pada anak semata wayangnya itu.


Awal mula pembicaraan mereka mulai dengan mendengarkan penjelasan dari Galang dan Thea, dari awal sampai pada akhirnya Galang berakhir di rumah ini semalaman.


Mendapati anaknya tidur dengan pemuda yang tak berpakaian di dalam rumah dan hanya berdua itu membuatnya tak bisa berpikir positif lagi. Apalagi tetangga juga sudah banyak yang melihat dan jadi saksi kericuhan mereka pagi ini.


"Pokonya saya mau, anak ini harus menikahi anak saya. Dia harus bertanggung jawab," ucap Lestat pada Pak Yahya dan Galang, suaranya terdengar sudah pelan namun tak mengurangi kekesalanya pada masalah ini.


"Pah! Aku gak mau, aku itu gak ngapa-ngapain dia. Buat apa aku harus tanggung jawab?" ucap Galang sedikit ketus dan menatap kesal pada Thea.


Sebab semalam ia hanya membantu seseorang yang tengah dalam masalah dan tak sengaja ia berlari sampai masuk di rumah ini. Hingga penyakitnya sendiri kambuh dan ... argh! Kenapa semuanya jadi sulit terjelaskan? Ia sungguh lupa apa yang terjadi selanjutnya.


"Diam kamu!" bentak pak Yahya pada Galang dengan tatapan tajamnya.


Galang lantas terdiam seribu bahasa, sedang Thea terlihat terus menangis sejak tadi dan tak menatap kemana-mana lagi selain ke bawah.


"Dia tetap harus menikahi putri saya! Siapa yang akan menanggung malu kalau sudah begini? Atau kalau tidak, saya akan berteriak sekarang juga ke seluruh kampung supaya semua orang tau kebiadapan anak seorang pengacara ternama di hadapan saya ini," ucap Lestat penuh ancaman.


Galang menoleh ke arah ayahnya yang masih bertahan dengan kebisuan.


Bukan permintaan tanggungjawab yang ia khawatirkan saat ini, melainkan ancaman wanita itu pada ayahnya.


Dan ia mulai bisa membaca keputusan apa yang akan di ambil ayahnya itu.


Thea semakin menundukan kepala, kedua tangan mengepal dan saling meremas. Ia takut, takut dengan satu kata yang akan keluar dari bibir pria paruh baya yang ada di samping si tengil itu. Karena, satu kata itu akan mengubah seluruh hidupnya dan seluruh perjuangan selama ini.


"Kenapa anda malah diam? Kalau begitu, saya akan berteriak sekarang juga!" ancam Lestat beranjak dari duduknya cepat.


"Ibu, tolong jangan!" Thea yang lagi-lagi menahan langkah kaki sang ibu dengan pegangan erat di kedua kakinya.


"Tunggu," ucap pak Yahya.


Semua orang pun menoleh ke arahnya dan Bu Lestat juga berhenti melangkah.


Dalam beberapa menit, Pak Yahya masih terdiam dan tak melihat ke arah siapapun.


Hingga akhirnya, kata itupun keluar dari bibir laki-laki bertubuh tinggi dan berkumis tipis itu, singkat.


"Beri saya waktu memikirkan masalah ini, Nyonya," ucap Pak Yahya bernada datar.


"Baik! Tapi saya mau mereka tetap menikah. Atau kalau tidak, saya akan membawa kasus ini kejalur hukum. Karena dia berani memasuki rumah orang tanpa izin!"


Mata Galang dan Thea terbulat sempurna bersamaan ketika mendengar perkataan kedua orang tua mereka barusan.


Mereka berdua tampak tak terima dengan keputusan yang dianggap terlalu terburu-buru itu.


Galangpun beranjak dari duduk dengan kesal dan menatap tajam ke arah ayahnya.

__ADS_1


"Aku gak mau! Dan aku gak akan pernah nurutin apa pun kata Papah!" ucap Galang sedikit berteriak seraya melangkahkan kakinya meninggalkan mereka semua, namun sebelum itu ia melihat ke arah Thea sekali lagi.


Ingin sekali ia mengumpat keras pada seseorang.


"Sialan. Gara-gara si Kodok buduk gue jadi kaya gini! Awas aja lo kalo ketemu."


****


Sesampainya di rumah Galang ditarik paksa oleh ayahnya cukup keras.


Setelah beberapa waktu lalu sang ayah menahan seluruh emosinya, kali ini ia akan melupakan sejenak semua pekerjaan dan pangkatnya di luar sana untuk memberi pelajaran pada anaknya.


"Duduk di sana!" ucap Pak Yahya, tegas setelah ia dan Galang sampai di dalam rumah.


"Enggak," ucap Galang bernada datar, mengalihkan pandanganya ke arah lain.


Ia sungguh malas, karena satu tempat yang diperintakan sang ayah padanya itu bukanlah sofa ataupun tempat duduk lainnya.


Melainkan sebuah karpet kecil yang selalu ia duduki sejak kecil jika ia sedang terkena hukuman dari ayahnya. Jika waktu kecil ia hanya diminta duduk saja selama satu jam lamanya sebagai hukuman. Namun sekarang?


"Duduk!" Sekali lagi Pak Yahya menarik tangan Galang dan langsung mendudukannya di atas karpet itu, masih tampak emosi.


Galang pasrah.


Karena meski ia lari kemanapun, ayahnya pasti akan tetap menemukannya dan ia tetap akan mendapat hukuman bahkan akan lebih berat jika ia kabur.


Setelah ia bertekuk lutut di atas karpet, ia menundukan kepalanya ke bawah.


"Ulurkan tangan kamu!" ucap Pak Yahya lagi dengan agak keras.


Galang diam, perlahan ia mengulurkan kedua tangannya kedepan.


PLAK!


Satu sabetan sebuah kayu tipis dan panjang itu dihantamkan pak Yahya pada Galang sangat keras. Hingga terdengar sedikit ringisan tipis keluar dari mulut Galang.


"Apa lagi ulah kamu sekarang? Apa?!" bentak Pak Yahya kemudian.


Galang diam tak menjawab dan hanya bisa menahan sakit di kedua tangannya.


PLAK!


Sekali lagi sabetan itu mendarat di kedua lengan Galang cukup keras hingga langsung berbekas merah.


"Selama ini, Papah berusaha ngedidik kamu dengan baik! Berusaha memahami apa yang kamu mau dan berusaha bersabar dengan kelakuan kamu, apa harus dengan cara seperti ini kamu membalas semuanya?!" bentak Pak Yahya lagi sambil berkali-kali menyabetkan kayu tipis itu pada Galang.


Galang masih diam.


"Berani-beraninya kamu mencemarkan nama baik keluarga kita! Apa sekarang kamu sudah puas? Apa ini yang kamu mau?!" sambung Pak Yahya lagi.


Karena terlalu keras dan sering, kini kedua tangan Galang sudah penuh luka sabetan bahkan sampai memar.


Sedangkan Galang masih diam beberapa saat menunggu ayahnya selesai bicara dan meluapkan seluruh emosi padanya.


Ini sakit, tapi tak sebanding jika di bandingkan dengan apa yang ia rasakan di hatinya saat ini.


"Kamu sudah berani meniduri anak gadis di luar sana, lalu apa lagi yang akan kamu lakukan kedepannya? Apa yang kamu mau sebenarnya selama ini? Sampai kamu berani berbuat hal di luar batas?"


Galang masih belum melihat kedua mata ayahnya beberapa saat, namun ia tau ayahnya kini sudah lelah sendiri memukuli tangannya.


Ia berusaha tak peduli dengan apa yang di katakan oleh ayahnya itu. Namun luka ini, sudah menyadarkannya dengan satu hal.


"Apa Papah udah selesai? Kalau Papah udah selesai, aku bakal bicara apa yang aku mau ...," ucap Galang kemudian seraya menurunkan kedua tangannya, terasa kesemutan dan berbekas perih.


Pak Yahya mulai mengatur napas yang naik turun karena emosi, perlahan. Dan melihat ke arah anaknya yang masih terduduk di atas karpet.


"Aku, cuma pengen satu hal dalam hidupku, Pah. Satu hal, apa Papah bisa ngebuat Mama memanggil namaku?" ucap Galang bernada pelan dan datar tanpa melihat ayahnya sama sekali.


Pak Yahya tertegun. Ia mengeratkan pegangan tangannya pada kayu itu.


"Aku gak peduli, Papah akan menghukumku seberat apapun bahkan jika aku mati di tangan Papah aku bakal terima. Aku tahu, Papah melakukannya karena Papah peduli padaku," ucap Galang.


"Tapi aku, ga akan berhenti sama kelakuanku sekarang sampai Mama memperhatikanku walau hanya sekali. Sekali saja udah cukup kalo itu emang hal yang sangat berat ia lakukan padaku. Rasa sakit ini belum seberapa. Lakukan apapun yang Papah mau, tapi satu permintaan itu dan satu alasanku ini ga akan pernah berubah," ucap Galang pelan seraya beranjak dari karpetnya dan menatap ayahnya dengan tatapan datar.


Ia berlalu menuju kamar.


Pak Yahya menghempas tubuhnya di atas sofa. Memijat keningnya sejenak memikirkan perkataan Galang. Ia sungguh habis akal menghadapi kelakuan Galang 2 tahun terakhir.


Anak itu, padahal sifatnya tak begini sebelumnya. Ia adalah anak yang baik dan penurut, tapi sekarang ia jadi anak pembangkang dan bertingkah seenaknya sendiri.


10 tahun sudah Galang berada di rumah ini. Tapi Rini Setyowati-istrinya masih belum menerima kehadiran Galang apalagi menerimanya sebagai anak.


Apa yang harus ia lakukan? Sedangkan baik Rini maupun Galang tetap bagai air dan minyak jika bertemu.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2