Jodoh Yang Tidak Diinginkan

Jodoh Yang Tidak Diinginkan
JYTD ~06


__ADS_3

"The ...!" teriak Galang dari dalam kamar mandi.


"Ngh, apa?"


"Ambilin gue anduk dong, gue lupa bawa nih!" teriak Galang lagi.


"Hahhh?" Thea kaget, ia lupa kalau sekarang ia sudah menjadi seorang istri. Bagaimana bisa ia memikirkan laki laki lain?


Ia pun mengambilkan sebuah handuk dan berjalan menuju kamar mandi.


"Nih," ucap Thea kemudian seraya mengetuk pintu.


Galangpun sedikit membuka pintu kamar mandi dan mengulurkan tangannya untuk mengambil handuk itu.


"Thank's."


"Hhhh, lain kali bawa anduk sendiri. Jangan kebiasaan," ucap Thea sedikit menggerutu.


Galang membuka pintu kamar mandinya setelah ia mengeringkan tubuh dengan handuk yang di berikan Thea.


Thea yang masih berdiri di depan pintu kamar mandi tersentak kaget saat melihat Galang hanya mengenakan handuk saja di setengah bagian tubuhnya.


Napas Thea tiba-tiba tak beraturan, karena ia sangat tak terbiasa melihat hal ini di depan matanya langsung.


"AAAA! Kenapa kamu gak pake baju?" tanya Thea berteriak dan menutupi matanya dengan telapak tangan.


"Hahh? gue kan abis mandi. Ya jelaslah gue belom pake baju, gimana si."


Thea sedikit merenggangkan satu jarinya untuk melihat Galang, mencoba membiasakan diri dengan hal ini.


Ia pun menarik napas menurunkan tangannya namun hanya sampai hidung saja, ia lihat Galang kini tengah menatapnya dengan wajah ketus.


"Ngapa lo? Hhhh, dasar cewe aneh," gerutu Galang seraya melangkah menuju lemari pakaian.


Thea menghela napas, entah kenapa setiap kali ia bicara dengan pemuda ini darahnya seolah merangsak naik ke atas kepala semua.


"Ada juga kamu yang aneh, kamu itu ...."


"Apa? Sekali lagi lo ngomong, gue bakal buka-bukaan di depan lo sekarang," ucap Galang yang memotong perkataan Thea dan menghadap ke arah istrinya dengan tatapan mengancam.


"Hahhh?" Thea melongo, menangkap arti aneh di perkataan Galang barusan.


Galang tersenyum lebar.


"Kenapa? Lo ko jadi bengong gitu si? Lo pasti lagi terpesona kan sama keseksian tubuh gue? Lo mau liat keseluruhan tubuh gue, hmhh? Gak bakal dosa kok liat kepolosan gue," ucap Galang lagi dan kini ia mendekati Thea dengan memasang wajah menggoda.


Thea jadi salah tingkah sendiri dan menutupi dadanya dengan kedua tangan.


"K- kamu mau ngapain?" ucap Thea terbata-bata dan tanpa menatap wajah Galang yang menurutnya sangat mengerikan itu.


"Gue mau ...." Galang semakin mendekatkan tubuhnya ke arah Thea dan menatapnya semakin dalam hingga membuat Thea tak berani menatap ke arahnya.


"Gue mau ganti baju, pergi sonoh lo keluar!" ucap Galang kemudian datar ditabah ekspresi datar juga.


Setelah bicara begitu ia pun berbalik arah lagi ke lemari pakaian dan mengambil setelah baju.


Thea merengut.


Bagaimana bisa orang itu bersikap begini? Tadi dia terlihat begitu dingin, sebentar dia jadi genit sesudah itu dia bersikap datar, orang ini seperti memiliki kepribadian yang sulit untuk di tebak.


Ia pun keluar dari dalam kamar.


***


"Non, sudah. Biar bibi saja yang kerjakan, lebih baik non tunggu saja di ruang makan sama den Galang. Nanti bibi yang siapkan makan siangnya ya," ucap Bi Esti.


Thea yang tadi keluar dari kamar Galang kini tengah berada di dapur bersama Bi Esti untuk menyiapkan makan siang.


"Ga apa apa, Bi. Lagian aku bingung harus ngapain di rumah ini. Mending aku bantuin bibi aja. Di dalem sama Galang malah bikin aku darah tinggi," ucap Thea.


Sesekali ia melihat ke arah Bi Esti yang tengah memasak opor ayam yang sudah hampir siap. Sesudah itu ia kembali mengelap piring yang akan digunakan mereka untuk makan.


Bi Esti tersenyum.


"Loh, memangnya kenapa? Setau bibi, Den Galang tidak pernah seperti itu," tanya Bi Esti.


Thea pun mengelap piring terakhir dan ia menghampiri Bi Esti dengan memasang wajah sedikit kesal.


"Kata siapa? dia selalu aja bikin aku kesel. Di sekolah dia juga ngeselin, bicaranya sembarangan, gak pernah mau minta maaf kalo buat salah, ngeledek orang terus, ngeselin banget kan, Bi?" ucap Thea agak menggerutu pada Bi Esti.


Lagi-lagi Bi Esti tersenyum.


"Itu karena Non Thea belum mengenal Den Galang, nanti kalau Non Thea sudah tinggal lama di sini, Non Thea pasti bisa melihat Den Galang yang sebenarnya," ucap Bi Esti.


"Hmhh?" Baiklah, kata 'tinggal lama disini' yang diucapkan Bi Esti terdengar cukup aneh di telinganya.


Sebab ia sendiri ragu apa ia bisa tinggal lama dengan seseorang yang tak pernah ia cintai itu.


Thea pun melihat lihat kesekeliling, rumah ini sangatlah besar dan mewah, tapi kenapa seperti ada yang mengganjal dalam hatinya sejak tadi.


"Bi," ucap Thea.


"Iya, apa Non Thea butuh sesuatu?" tanya Bi Esti.


"Ngh, itu ... dari tadi aku gak liat siapa-siapa lagi di rumah ini selain bibi sama Galang, kalau boleh aku tanya apa Galang gak punya kakak? Atau adik gitu," tanya Thea.


"Tidak, Den Galang adalah anak satu-satunya dari tuan dan nyonya,"


Thea mengernyitkan kening saat melihat ekspresi wajah Bi Esti kala ia menjawab pertanyaan. Wajah Bi Esti terlihat menjadi agak murung saat mengatakannya.


"Oh, trus ibunya Galang ada dimana? Aku pikir tadi waktu di masjid bibi itu ibunya, sebab yang aku liat cuma bibi."


"Ngapain lo nanya-nanya ibu gue? Kepo," ucap Galang tiba-tiba yang baru datang menghampiri mereka.


Ia langsung membuka pintu kulkas dan mengambil air putih di dalamnya dan sesudah itu menghampiri Thea dan Bi Esti.


"Ish, aku kan cuma nanya. Suka-suka aku lah, lagian aku juga nanya Bi Esti bukan kamu," ucap Thea bernada ketus.


Tapi Galang malah terkekeh kecil di depannya.


"Trus kalo lo udah tau nyokap gue lo mau ngapain? Gue jamin, lo gak bakal tahan tinggal disini lama-lama kalo udah ketemu sama nyokap gue."


"Heh, ada ataupun gak ada ibu kamu, aku juga gak pengen tinggal disini lama-lama. Apalagi kalu harus ketemu kamu setiap hari, ih." Thea ketus.

__ADS_1


"Oh, lo mau pergi dari sini? Pergi aja lo sonoh, pergi jauh-jauh biar hidup gue tenang!" ucap Galang tak ingin kalah.


Thea mendengkus kesal.


Ia tak berkata apa apa namun kini ia menatap tajam ke arah Galang.


"Ngapa lo liatin gue kaya gitu? Kalo lo gak mau pergi, mendingan lo bawain ni piring, makanan, minum ke meja makan, cepet. Gue udah laper," ucap Galang lagi seraya menunjuk-nunjuk ke arah benda yang ia sebutkan tadi.


BUKKK!


Thea tiba-tiba saja menendang tulang kaki Galang hingga membuat Galang meringis kesakitan memegangi kakinya.


"Adededehhh, kebiasaan lo ya nendang-nendang gue mulu! Sakit tau," gerutunya kemudian.


"Hoh, lebih sakit mana sama hati aku? Sukurin!" ucap Thea ketus seraya mengambil tumpukan piring di depannya dan berlalu begitu saja meninggalkan Galang.


Bi Esti malah terkekeh kecil menertawai tingkah mereka berdua. Sedangkan Galang kini tengah menggerutu sambil menyusul Thea ke ruang makan.


***


Setelah selesai makan Thea kembali merapikan piring-piring yang sudah digunakan ke dapur.


Sedangkan Galang kini malah sibuk dengan ponselnya sendiri setelah ia makan. Lagi-lagi Thea merengut, mungkin itulah kebiasaan anak orang kaya. Tak pernah mempedulikan hal lain.


"Heh, ada telpon ni buat lo," ucap Galang tiba-tiba disamping Thea saat istrinya tengah mencuci piring.


"Apa sih? Jangan ganggu aku, manamungkin ada yang nelpon ke hp kamu buat nanyain aku," ucap Thea yang tak menoleh sama sekali dan meneruskan pekerjaannya.


"Ya adalah, nih. Si Kodok nelpon elo! Katanya penting," ucap Galang lagi.


Thea pun menghentikan pekerjaan dan mengelap kering kedua tangannya.


"Heh, berenti manggil kodok! Nama dia itu Pangeran! Mau kaki kamu aku tendang lagi, hhhh?" ucap Thea bernada marah.


Tapi Galang malah menunjukan ekspresi tak acuh. Dan Thea pun langsung mengambil ponsel milik Galang karena cukup penasaran juga hal apa yang membuat Pangeran menelpon Galang dan mencarinya.


Benar juga, bagaimana Pangeran bisa tau kalau ia sedang bersama Galang?


[ Datanglah ke caffe sekarang juga, Wingky sangat membutuhkan mu. Kalau tidak, sebentar lagi dia pasti mati bunuh diri ]


Itulah kata yang Thea dengar saat ia menjawab telpon dari Pangeran. Mata Thea mulai berkaca-kaca karena cukup tersentak dengan kabar yang ia dengar ini, ia diam tak berkata apa-apa lagi setelah Pangeran menutup panggilannya.


"Kenapa lo?" tanya Galang heran saat melihat Thea mulai menangis setelah ia menerima telpon.


Thea tak menjawab pertanyaan Galang dan malah langsung berlari meninggalkan Galang dengan cepat. Thea berlari keluar rumah tanpa memikirkan apapun lagi, karena ia sangat takut kalau Wingky akan berbuat nekat.


Jika hal itu sampai terjadi, mungkin saja ia takan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri.


Ia terus berlari, karena rumah Galang cukup jauh dari jalan besar tempat lalu-lalang angkutan umum.


Sampai tak berapa lama ia mendengar suara klakson terus berbunyi di belakangnya.


Iapun menoleh dan ternyata itu adalah suara dari motor yang di kendarai oleh Galang.


"Naek, biar gue anter," ucap Galang yang tak turun dari motornya.


"Tapi."


"Udah, daripada lari. Jalanan masih jauh," ucap Galang lagi.


Thea pun sampai di depan caffe, ia turun dari motor Galang dengan tanpa berkata apapun lagi.


Dan di depan pintu caffe ia melihat Pangeran sedang berdiri di sana.


"Ran, Wingky di mana? Dia baik-baik aja kan?" tanya Thea dengan cepat.


"Lihatlah sendiri di dalam kalau kau ingin tau keadaanya," ucap Pangeran bernada datar.


Thea yang mendengar perkataan Pangeran langsung membuka pintu dan masuk ke dalam caffe.


Sedangkan Galang yang baru datang juga kini melihat Pangeran yang masih berdiri di depan pintu membiarkan Thea masuk ke dalam sendirian.


Thea masuk kedalam dengan cepat.


Tempat ini, terlihat sangat berantakan, kursi kursi sudah terguling tak beraturan dan banyak sekali pecahan gelas yang berserakan di atas lantai.


Ia pun perlahan melangkahkan kakinya melewati setiap cela yang bisa ia lewati. Setiap apa yang ia lihat, kini semakin menyayat hatinya.


Sampai pada akhirnya, matanya tertuju pada sesosok tubuh manusia yang tengah duduk di kursi dan meletakan separuh tubuhnya di atas meja sebagai alas.


Beberapa botol minuman beralkohol terlihat berjejer di sebelahnya dan itu semua sudah kosong tak berisi.


Thea semakin mendekat.


Air matanya jatuh tak tertahankan lagi kala ia melihat lebih dekat pemuda ini di hadapanya.


"Ky?" ucap Thea sangat pelan dan masih berdiri di hadapan Wingky.


Wingky tak merespon.


Thea duduk di kursi tepat di hadapan Wingky, menatap wajah kusut pemuda itu dengan linangan air mata yang tiada bisa ia tahan.


Pemuda yang sangat ia cintai ini, ia pasti sudah menyakitinya begitu dalam.


"Ky, maafin aku. Ini salah aku, kenapa aku gak jujur dari awal sama kamu, salah aku. Harusnya aku gak lakuin ini sama kamu," ucap Thea lirih.


Wingky yang berada dalam pengaruh minuman itupun mulai terusik. Hingga membuat Thea sedikit tersenyum saat melihatnya.


"Thea, apa ini kamu, Sayang?"


Terdengar suara Wingky yang mulai tersadar dari tidurnya, atau lebih tepatnya dari pengaruh minuman itu.


Thea tak menjawab dan ia lihat Wingky kini tengah berusaha duduk tegap dan menatapnya walau masih terhuyung-huyung.


"Thea, kamu datang. Apa kamu sudah membatalkan pernikahanmu buatku?" tanya Wingky lagi dengan sedikit senyuman di wajah kusut nya.


"Ky ...."


"Tolong jangan katakan kalau kamu datang hanya untuk mematahkan hatiku The. Aku gak bisa hidup tanpa kamu, tolong .... tolong batalkan pernikahan kamu, aku gak rela kamu menikah dengan si tengil itu! Kenapa? Kenapa kamu harus menikah dengan si tengil itu? Kenapa? Lama kutunggu kamu nerima cintaku, tapi dengan mudahnya, dia merebut kebahagiaanku saat kamu bilang kau juga cinta padaku. Kenapa, The?" ucap Wingky.


Thea semakin menangis, apa sebegitu dalamnya cinta Wingky terhadap dirinya?


Kenapa hal ini sangat menyakitkan? Yang pada kenyataanya dia juga sangat menderita melihatnya begini.

__ADS_1


"Ky, kita pulang aja, yah. Kamu tunggu disini. Aku akan nyusul Pangeran dulu di luar," ucap Thea seraya beranjak dari duduknya karena tak tega melihat keadaan Wingky.


Tapi Wingky malah memegang satu tangannya saat ia hendak melangkah.


"Jangan pergi lagi, atau aku akan bunuh diri di hadapan kamu sekarang," ucap Wingky kemudian.


Thea menoleh kebelakang.


Dan matanya terbelalak seketika karena melihat Wingky kini sedang merogoh saku bajunya dan mengeluarkan sebuah pisau kecil di dalamnya.


***


Di luar, Galang juga masih berada disana.


Entah kenapa ia merasa harus berada disana, padahal seharusnya ini bukan menjadi masalahnya.


Meskipun kini Thea adalah istri sahnya, tapi ia sangat tahu kalau gadis itu tak mencintainya sama sekali dan ia juga tahu kalau Thea hanya mencintai Wingky.


"Jadi, kalian berdua sudah menikah?" tanya Pangeran bernada datar.


"Hmhh," jawab Galang singkat.


"Apa kau tahu Thea dan Wingky saling mencintai?"


"Hmhh."


"Lalu kenapa kau menikahinya? Apa kau tahu, perbuatanmu ini sudah menyakiti sahabatku." ucap Pangeran lagi dengan masih tampak datar, meskipun pada dasarnya dia memang selalu seperti itu.


"Trus, kalo gue nyakitin sahabat lo, lo pengen bales dendam sama gue? Lo pengen mukulin gue?" tanya Galang bernada malas.


Pangeran tersenyum tipis.


"Itu adalah hal terbodoh, tak ada masalah yang akan selesai jika manusia terus berpikiran tentang balas dendam," jawabnya kemudian.


Galang diam.


Masalah yang ia hadapi memanglah cukup rumit, pernikahan ia dan Theapun jelas sangat di paksakan. Hanya karena kesalahpahaman malam itu, kini sudah menjadi luka yang menyebar kemana-mana.


***


Di dalam Thea sedang berusaha menahan Wingky agar tak berbuat nekat. Ia benar benar tak habis pikir Wingky akan melakukan hal ini di depannya langsung.


"Aku mencintai kamu The, aku sangat mencintai mu. Aku tak ingin melihatmu menikah dengan orang lain! Hanya denganku, hanya denganku kau akan menikah. Tapi kalau sudah seperti ini, sepertinya akulah yang akan mati," ucap Wingky.


"Enggak, tolong jangan lakuin ini. Aku juga cinta sama kamu dan aku gak mau kamu kenapa-napa, tolong, dengerin aku. Kalau kamu emang cinta sama aku, kamu gak boleh ngelakuin hal bodoh ini," ucap Thea seraya masih berusaha merebut pisau keci itu dari tangan Wingky.


Ia masih menangis, apalagi sekarang ditambah kepanikannya saat ia lihat Wingky semakin menjadi. Pengaruh minuman telah membuat Wingky kehilangan akal sehatnya, apapun yang ia ucapkan tak membuat Wingky mengubah keinginannya untuk berbuat nekat.


"Kalau begitu, aku akan membunuhmu. Lalu sesudah itu aku akan mati bunuh diri."


"Apa?" Thea benar-benar tersentak kaget mendengar perkataan Wingky ini, kenapa Wingky malah bicara seperti itu?


Dan ia lihat, kini Wingky berdiri dari duduknya dengan sempoyongan. Wingky masih memegang pisaunya dengan erat dan tak bisa di rebut olehnya.


Senyuman pemuda itu kian melebar saat mendekati Thea dengan perlahan.


"Matilah bersamaku, dan kita akan bersama selamanya."


"Ky, sadarlah! Ini bukan kamu, tolong. Kita bisa bicarain ini baik-baik, ini bukan satu-satunya jalan yang harus kamu ambil, Please. Dengerin aku," ucap Thea.


Ia memundurkan langkah kebelakang, bukan karena ia takut mati, tapi karena ia terlalu sedih.


Cinta yang begitu dalam dengan luka yang sangat dalam ternyata bisa mengubah seseorang yang baik menjadi tak bisa berpikir dengan jernih.


"Maafin aku The, aku harus lakuin ini. Karena aku terlalu cinta sama kamu," ucap Wingky lagi seraya mengeratkan peganganya pada pisau kecil nya.


"Ky, tolong ... AAAAAA!"


Thea menghalangi wajahnya dengan kedua tangan karena ia lihat Wingky mulai mengayunkan pisau itu kearahnya dengan cepat.


BUK!


Sebuah hantaman cukup keras dilayangkan Pangeran pada Wingky tiba-tiba hingga membuat Wingky terjatuh dan langsung tak sadarkan diri seketika.


Sedangkan Galang kini menghampiri Thea yang tampak ketakutan dan masih menutupi wajahnya dengan tangan.


"The, lo gak pa-pa kan?" tanya Galang panik seraya memegang kedua pundak Thea.


Theapun menurunkan tangannya, napasnya masih naik turun, jantung berdebar sangat cepat dan kedua tangannya sedikit bergetar karena ia agak syok dengan hal yang akan di lakukan Wingky tadi.


Jika saja Pangeran tak datang tepat waktu, mungkin saja ia sudah terluka saat ini.


"Wingky," ucap Thea.


Ia tak mengindahkan Galang yang kini berada di hadapanya dan malah langsung berlari memburu tubuh Wingky yang tergeletak di lantai.


Galang terdiam.


"Ky? Bangun. Pangeran, kenapa kamu pukul dia sih?" ucap Thea panik dan berusaha membangunkan Wingky.


"Heh, dia tuh tadi pengen bunuh elo! Kalo Pangeran gak cepet, lo pasti udah mati! Lo sadar gak sih apa yang lo omongin barusan?" ucap Galang sedikit berteriak pada Thea.


"Iya tapi gak harus mukul dia sampe pingsan juga kan?" ucap Thea di balik isakan tangisnya yang mulai pecah lagi.


"Sudahlah dia hanya pingsan, bukan mati. Kau jangan terlalu khawatir. Aku akan membawanya pulang, tadinya kupikir kamu bisa bicara dengannya. Tapi ternyata itu malah membuatmu dalam keadaan bahaya," ucap Pangeran yang menengahi pertengkaran Galang dan Thea.


"Aku ikut sama kamu," ucap Thea pada Pangeran.


Pangeran hanya diam dan malah melihat ke arah Galang.


"Ya udah, gue bantu." ucap Galang bernada malas.


Ia dan Pangeran pun kini mulai mengangkat tubuh Wingky dan membawanya menuju mobil Pangeran yang terparkir di depan caffe.


Saat Pangeran sedang memapah Wingky. Sesekali ia melihat ke arah Galang di sebelahnya.


"Baru kali ini aku melihat seorang suami yang membantu kekasih istrinya, sepertinya kau sudah gila," ucap Pangeran kemudian.


Galang malah tersenyum geli.


"Dasar kodok buduk, berenti ngomong deh lo. Cuma bikin telinga gue perih tau gak." ucap Galang.


Setelah ia dan Pangeran memasukan Wingky ke dalam mobil Thea langsung menyusul masuk ke dalam juga. Hingga beberapa saat kemudian mobil itu pun pergi meninggalkan Galang sendirian di depan caffe.

__ADS_1


..


__ADS_2