Jodoh Yang Tidak Diinginkan

Jodoh Yang Tidak Diinginkan
JYTD 22


__ADS_3

Setelah mendapat kabar bahawa Galang berada dalam masalah dan ia ditahan di kantor polisi. Pak Yahya dan Bi Esti langsung menyusul ke tempat di mana Galang ditahan.


Yang paling merasakan kesedihan ialah Bi Esti, ia sama sekali tak mengira bahwa Galang akan terkena masalah sampai separah ini, apalagi sampai harus masuk penjara. Ia tak percaya, bahwa Galang melakukan percobaan pembunuhan kepada orang lain. Galang yang ia kenal tak seperti itu, ia adalah anak yang baik dan memiliki nilai keagamaan yang tertanam dalam dirinya.


Saat duduk di sebuah ruangan tempat mengunjungi tahanan, ia tak bisa duduk diam. Perasaan cemas terus menggelayuti hatinya. Sedangkan Pak Yahya juga tengah mengurus segala sesuatu demi bisa mengeluarkan Galang dari tempat ini.


"Asalamualaikum."


Terdengar suara seseorang yang mengucap salam dengan pelan hingga membuat Bi Esti menoleh.


"Wa'alaikum salam, Aden?" ucapnya dengan cepat seraya beranjak dari duduknya saat melihat kedatangan Galang.


Ia langsung menghampiri sebelum Galang sampai di tempatnya, air matanya pecah tak terbendung lagi melihat keadaan Galang di hadapannya.


"Astagfirullahal adzim, Aden kenapa bisa seperti ini? Apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Bi Esti kemudian bertubi-tubi setelah ia berada di hadapan Galang.


Wajah pemuda itu terlihat sangat pucat, ditambah lagi luka lebam yang menempel semakin menambah kecemasan hatinya.


"Bibi, aku baik-baik aja," jawab Galang singkat dengan suara pelan dan tersenyum manis pada Bi Esti.


"Aden belum jawab pertanyaan Bibi, kenapa Aden bisa sampai di sini? Apa benar Aden melakukan hal itu?" tanya Bi Esti lagi.


"Apa Bibi percaya sama aku?"


"Bibi percaya, Aden tak mungkin melakukannya. Aden adalah orang yang baik."


Galang tersenyum manis.


Bi Esti semakin menangis kala ia melihat ketenangan yang ditunjukan Galang saat ini. Kenapa ia malah terlihat begitu tenang? Padahal saat ini ia sedang terkena masalah.


Ia pun menarik tubuh ringkih itu ke dalam pelukannya, ia tak tau apa yang ada dipikiran Galang, tapi ia tahu, Galang pasti membutuhkan seseorang untuk memberinya sedikit ruang untuk bernapas dari masalahnya ini.


"Makasih, Bi. Karena Bibi udah percaya sama aku. Ini udah lebih dari cukup untuk membuatku bisa bertahan di tempat ini," ucap Galang.


"Tidak, Aden akan keluar dari sini secepatnya. Aden tak bersalah, Tuan pasti bisa membebaskan Aden dari sini," ucap Bi Esti seraya melepaskan pelukanya dan melihat wajah sendu Galang meskipun ia tersenyum padanya.


Mereka berdua pun berjalan menuju kursi yang sudah disediakan di sana. Bi Esti begitu heran saat melihat raut wajah Galang yang sedari tadi tak henti-hentinya tersenyum manis meskipun tipis.


"Lalu bagaimana, di mana Non Thea sekarang? Dia tak pulang ke rumah, atau bahkan menghubungi Bibi. Apa Non Thea sudah baik-baik saja? Apa Non Thea sudah datang ke sini?" tanya Bi Esti lagi setelah mereka berdua duduk.


Galang terdiam didepannya.


Tatapannya terlihat kosong saat ia menanyakan tentang Thea.


"Dia baik-baik aja. Bibi jangan terlalu khawatir, mungkin saat ini dia sedang berada di rumah Aida."


Bi Esti sedikit mengernyitkan keningnya saat mendengar perkataan Galang. Entah kenapa, sepertinya ada yang Galang tutupi darinya saat ini. Apalagi ini juga terdengar aneh, saat ia mendepat kabar ini bukan dari Thea, melainkan dari orang lain. Padahal Thea lah orang yang seharusnya memberitahu kabar ini lebih dulu.


Sesaat kemudian terdengar suara ringisan Galang di depan. Alangkah kagetnya Bi Esti ketika ia lihat darah mengalir dari hidung pemuda itu.


"Astagfirullah, Aden!" Tanpa terasa langkah cepat menghampiri sesosok tubuh yang lemah itu. Ia mengambil sapu tangan, lalu memberikannya pada Galang. Namun, sesuatu terjadi di luar kendali.


Air mata Bi Esti pecah, menyadari Galang tak lagi bisa merespon setiap gerakan dan suara di sekitarnya.


***


Sementara itu di tempat lain, Thea, Aida dan Pangeran sudah kembali ke villa untuk mengemasi barang mereka. Rencananya mereka akan pulang kembali setelah acara refreshing mereka gagal total akibat kejadian yang diluar dugaan semalam.


Wingky pun masih berada di rumah sakit, dan mereka akan menjemputnya ke sana sekaligus mengantarkannya pulang.


Di kamar, Thea dan Aida sibuk mengemasi barang, meskipun yang paling sibuk adalah Aida. Karena barang bawaannya yang paling banyak. Sejak semalam, tak henti-hentinya ia mengoceh menggerutu membicarakan kejadian semalam. Bahkan sampai saat ini ia masih terdengar mengoceh pada Thea.


Sedangkan Thea yang masih dalam kebimbangannya pun tak banyak berkata sejak semalam. Ia hanya menjawab iya dan tidak. Berkata seperlunya dan banyak diam.


Pikirannya terus melayang ke tempat Galang. Ia benci pemuda itu, tapi juga tak bisa menghilangkan bayangannya dari dalam pikiran. Sedang apa dia sekarang? Bagaimana keadaanya? Apakah ia baik-baik saja? Pertanyaan-pertanyaan itu terus bermunculan dalam benaknya.


Sekali lagi Thea memegangi dadanya.


Agak perih.


Seperti ada sesuatu yang mengganjal dalam hatinya.


"Aida, aku udah selesai dengan barang-barangku. Aku akan menunggumu dibawah ya," ucap Thea pelan pada Aida yang masih membereskan barang bawaannya.


"Iya, sebentar lagi aku siap ko. Kamu duluan aja," ucap Aida.


Thea hanya tersenyum tipis dan sesudah itu ia langsung membawa tasnya keluar kamar.


Ia pun berjalan menuruni anak tangga dan menuju ruang tamu. Ternyata Pangeran juga sudah berada di sana setelah ia mengemasi barangnya juga.


Thea duduk di sofa bersebrangan dengan Pangeran. Ia diam tak berkata, bahkan Pangeran pun terlihat diam dan seperti tengah memikirkan sesuatu.


Dalam beberapa saat, mereka berdua larut dalam keheningan.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Pangeran tiba-tiba.


"Eumh itu ... iya."


"Bohong."


Thea mengernyitkan keningnya sebentar, Pangeran saat ini terlihat sangat datar. Meskipun pada dasarnya ia memang selalu berekspresi datar. Dan lagi, untuk apa ia menanyai kabarnya jika ia sudah tau jawabanya.


"Apa kau akan pergi lagi ke rumah sakit?" tanya Pangeran lagi.


Thea hanya menganggukan kepalanya pelan.


"Apa kau akan mengunjungi suamimu?"


Thea diam tak memberi jawaban.


Lagi-lagi mereka berdua terdiam.


"Apa kau tau siapa yang lebih dulu harus kau temui? Galang atau wingky?" tanya Pangeran.


"Aku rasa, aku akan ketempat Wingky dulu. Itu sudah pasti," jawab Thea kemudian.


"Kau salah."


Thea lagi-lagi mengernyitkan keningnya, melihat raut wajah Pangeran yang bahkan tak menatapnya samasekali saat bicara. Tapi ia seolah ingin mengajak bicara hal yang tak ingin ia dengar.


"Lalu, apa maksud kamu aku harus ke tempat Galang lebih dulu? Buat apa? Buat apa aku menemui orang itu? Bahkan aku gak berniat menemuinya lagi setelah ini," ucap Thea bernada marah.


"Apa benar begitu? Kenapa? Bukankah kau adalah istrinya, kenapa kau malah mendahulukan laki-laki lain ketimbang suamimu?"


"Ran! Sebenernya apa sih maksud kamu bicara kaya gini? Apa yang pengen kamu tunjukin? Semuanya udah jelas, kan? Galang udah berkhianat dan melukai Wingky. Itu udah ngasih aku alasan kenapa aku gak mau ketemu dia lagi."


Tapi Pangeran terlihat tenang-tenang saja dengan kemarahannya itu.


"Dan apa kau percaya Galang melakukan hal itu?"


"Apa?" Thea sedikit kaget saat mendengar pertanyaan Pangeran barusan.


"Apa, kau percaya kalau Galang berselingkuh dan melukai Wingky?" ucap Pangeran lagi mengulangi pertanyaannya.


"Apa maksud kamu?"

__ADS_1


"Sebagai pasangan, kalian pasti sudah tau kebiasaan masing-masing. Kau pasti sudah lebih mengetahui sifat Galang dari siapa pun meskipun kalian baru mengenal beberapa bulan."


"Apa sekarang kamu ngebela Galang? Kenapa? Wingky, sahabat kamu dilukain sama dia, kenapa kamu malah membela orang lain?" tanya Thea balik.


"Dan sebagai seorang sahabat, kau tau bahwa aku tak suka memihak. Aku akan bersikap netral pada siapapun. Aku tak akan membela Wingky ataupun Galang. Tapi yang harus kau tau, keadaan ini akan sangat merugikan seseorang yang tidak bersalah."


"Maksud kamu? Siapa yang dirugikan? Kenapa kamu selalu berbelit-belit, bilang aja apa yang pengen kamu ucapin sekarang!" ucap Thea semakin tak mengerti ke mana arah pembicaraan mereka.


Pangeran terdiam.


Ia seolah ingin mengatakan sesuatu hal yang sangat sulit untuk ia ucapkan.


"Pisau itu. Aku mengenalinya, benda itu milik Wingky. Aku sering melihatnya akhir-akhir ini."


Mata Thea agak terbuka lebar saat mendengarnya, pernyataan ini. Apa yang sebenarnya dimaksudkan Pangeran?


"Jadi maksud kamu, pisau itu milik Wingky dan dia ngelukain dirinya sendiri? Itu gak mungkin, siapa tau aja Galang juga punya pisau seperti itu. Pisau jenis itu tak hanya ada satu," ucap Thea menepiskan perkataan Pangeran.


"Itu terserah padamu, aku hanya mengatakan yang kutahu. Dan kau tau, hanya dengan sebuah pisau, itu akan menentukan masa depan seseorang yang kini sedang berada di penjara. Dan itu adalah suamimu."


Thea mulai terdiam.


"The, Ran. Ayo, aku udah selesai," ucap Aida yang tiba-tiba datang menyela pembicaraan mereka.


Thea dan Pangeran pun mulai beranjak dari duduknya.


Dengan perasaan yang mulai goyah, ia kini malah memikirkan ulang kata-kata yang diucapkan Pangeran tadi. Apakah benar begitu? Apa Wingky benar melakukan itu?


Tidak.


Wingky tak mungkin melakukannya, ia tau Wingky. Wingky adalah orang baik yang ia kenal. Ia tak mungkin memfitnah orang lain dengan keji seperti ini.


Sekali lagi Thea menepiskan pikirannya sendiri tentang Wingky.


***


Thea berjalan menyusuri setiap lorong rumah sakit menuju ruangan Wingky.


Sejak ia dan Pangeran bicara di villa tadi, pikirannya semakin kacau, walau bagaimanapun apa yang diucapkan pangeran ada benarnya.


Galang adalah suaminya, dia kini berada dikantor polisi sendirian dan tanpa ditemani siapapun. Nasibnya berada diujung tanduk, dan ia di sini malah mengunjungi laki-laki lain.


Meskipun Wingky adalah korban, apa ia harus ada di sini? Atau ia harus ketempat Galang? Lagi-lagi pertanyaan bermunculan tanpa henti memenuhi setiap rongga di kepalanya.


Tapi, jika mengingat apa yang dikatakan Nayla semalam, hatinya terasa sangat sakit.


Sangat sakit.


Yah, ini sangat menyakitkan bagaimana Galang sudah begitu tega tidur bersama wanita lain selain dirinya.


Ia terus berjalan, dan ruangan Wingky pun sudah berada di depan mata.


Ia sudah berdiri di depan pintu, tapi kenapa hatinya malah semakin ragu. Pangeran dan Aida tak berada bersamanya.


Aida, sahabatnya itu terus saja berusaha mendekatkan ia dan Wingky. Dan sekarang, mereka berdua menunggu dimobil dan menyuruhnya sendiri menyusul Wingky.


Beberapa bulan lalu, ia masih merasa bahagia saat ia bersama dengan pemuda ini. Dan sampai sekarang pun ia masih merasa bahagia, hanya perasaan bahagia itu kini sudah berubah.


Ia kini bahagia berada bersama Wingky karena dia adalah sahabatnya. Tak lebih.


Ia tak mengharapkan apapun lagi. Karena ia sudah matang mencintai suaminya. Ia mencintai Galang.


Thea mengeratkan tangannya didada, ini semakin sakit saat terlintas dipikiranya bahwa ia mencintai Galang.


Ia masih berdiri di depan pintu yang sedikit terbuka, mencoba menguatkan kembali keputusan nya ini.


Tiba-tiba terdengar suara Wingky bicara saat ia hendak membuka pintu. Thea berhenti, ia mengernyit. Padahal Aida dan Pangeran berada di parkiran, lalu siapa yang berada di dalam?


"Kenapa? Harusnya pertanyaan itu buat kamu, Ky! Kenapa kamu ngelakuin ini? Ini gak seperti rencana awal kita. Bukan ini rencananya."


Thea mematung di tempatnya.


Ia sangat mengenali suara kedua yang menjawab pertanyaan Wingky ini.


Nayla.


Iya, ia yakin gadis itu yang kini berada di dalam. Tapi sedang apa dia di sini? Bukankah dia sudah kembali pulang malam itu juga.


"Aku hanya melakukan apa yang kuinginkan, kalau kau merasa keberatan, harusnya kau memikirkan ulang sebelum kita bekerjasama. Aku, akan melakukan apapun agar Thea berpisah dengan sitengil itu."


"Iya tapi gak perlu sampai memasukan Galang ke penjara! Ini udah keterlaluan! Perjanjian kita adalah hanya untuk memisahkan mereka berdua! Bukan menghancurkan Galang seperti ini!"


TEG!


Thea kaget bukan main karena mendengar perkataan mereka barusan. Air matanya jatuh mengalir begitu saja.


Nayla terdengar sangat marah, tapi ia baru menyadari bahwa apa yang terjadi semalam ternyata adalah fitnah belaka. Mereka memfitnah Galang. Nayla berkata bohong dan parahnya, Wingky yang sudah sangat ia percayai selama ini ikut berada dibalik semua ini.


Thea, lagi-lagi mengeratkan tangannya di dada.


Ini sangat menyakitkan, Karena ia sudah tak mempercayai Galang. Ia sudah berkata kasar padanya dan tak membentak nya semalam. Padahal Galang tak bersalah.


"Kenapa kau terlihat menyesal sekarang? Bukankah ini yang kamu mau? 'Bagaimanapun caranya, hancurkan saja hubungan mereka'. Kamu tak mungkin lupa dengan perkataan mu sendiri kan, Sayang."


"Aku benar-benar menyesal sudah mengenalmu,"


Thea menggeserkan tubuhnya merapat kedinding, ia mendengar Nayla begitu marah dan terdengar juga sebuah tamparan di dalam.


Thea menahan tangisnya saat Nayla lewat dengan tanpa menyadari keberadaanya.


Ia menatapi gadis itu dibelakang, ternyata ucapannya semalam hanyalah karangan. Itu berarti Galang tak pernah mengkhianatinya.


Dan sekarang, ia benar-benar harus bicara dengan Wingky.


Klek!


Pintu ia buka dan ia berjalan cepat menuju seorang pemuda yang kini menatapi kedatangannya dengan senyuman manis.


Plak!


Sebuah tamparan keras ia hantamkan pada Wingky dengan tiba-tiba dan dengan tangisan yang masih mengalir dipipinya.


Wingky terdiam.


"Kamu jahat, Ky! Tega ya, aku gak nyangka kamu bakal setega ini sama Galang!" bentaknya kemudian dengan keras.


Ia lihat Wingky masih memegangi pipinya, ia masih terlihat heran dengan kemarahannya ini.


"The, kamu ini bicara apa si? Aku gak ngerti," ucap Wingky seraya hendak memegang tangan Thea. Namun, langsung ditepiskan.


"Aku udah tau semuanya! Aku udah tau, kamu sama Nayla ngerencanain ini semua buat misahin aku sama Galang! Iya kan?"


Wingky langsung terdiam seribu bahasa.


"Kamu tega Ky! Padahal selama ini aku udah percaya sama kamu, aku mengenalmu sebagai laki-laki yang baik. Tapi apa? Ternyata kebaikanmu itu semua busuk! Kamu fitnah Galang! Kamu masukin dia kepenjara! Ngebuat aku gak percaya lagi sama suami aku sendiri! Dan itu semua rencana kalian berdua!" ucapnya kemudian bertubi-tubi memarahi Wingky.

__ADS_1


Perasaanya membludak seketika. Entah kenapa ia jadi begitu membenci pemuda ini sekarang.


"Dan kamu percaya itu semua? Hhhh, itu membuktikan bahwa kau belum sepenuhnya menganggap ia sebagai suamimu, Thea."


"Apa?" Thea makin tak mengerti, kenapa Wingky malah tersenyum saat ini. Padahal ia sudah jelas melakukan hal diluar batas.


Dan kata-katanya itu? Apa maksudnya?


"Kamu masih belum sepenuhnya mencintai si tengil itu. Karena perasaan mu masih ada untukku. Sadarlah Thea, hanya aku yang bisa membahagiakanmu. Hanya aku, tak ada orang lain dan tak boleh ada orang lain lagi selain aku."


Thea semakin kaget, perkataan Wingky barusan sungguh sangat menyentaknya.


Dengan kata lain, Wingky takan membiarkan siapapun berada disampingnya.


"Gila, kamu udah gila, Ky! Aku nyesel udah dateng ke sini buat kamu. Aku akan ke tempat Galang, dan aku takan pernah menemuimu lagi! Persahabatan kita putus! Aku tak pernah punya sahabat keji seperti kamu!" bentak Thea kemudian seraya mendorong tubuh Wingky dan setelah itu ia berbalik arah meninggalkan ruangan itu dengan cepat.


Thea terus berlari menjauhi tempat ini, perasaanya sudah pasti. Dan ia akan menemui Galang.


Ia akan menemui suaminya.


Sampai saat ia hampir keluar dari area rumah sakit tiba-tiba ada yang menarik tangannya dibelakang.


"Lepasin!" bentaknya dengan sangat keras seraya melepaskan pegangan tangannya.


Wingky, pemuda itu mengejarnya sampai ke sini.


"Mau apa lagi kamu? Apa belum cukup kamu nyakitin aku sama Galang?" tanyanya lagi dengan nada marah.


"Belum, ini belum cukup. Sampai kau benar-benar berpisah dengannya."


"Aku, sudah tak peduli lagi dengan apapun selain kamu. Dan kau tau, The? Aku bahkan sudah membayar setiap napi yang ada di sana jika mereka melihat kedatangan sitengil itu, mereka akan melakukan apa yang kusuruh."


"Apa maksud kamu?" Thea mulai mendapat firasat buruk.


Wingky bahkan tak berhenti tersenyum padanya saat berkata, ia yakin ini adalah sebuah ancaman. Tapi ancaman apa itu? Apa yang diperintahkan Wingky pada para napi di sana? Thea membatin.


Sampai beberapa saat kemudian, ada sebuah ambulans berhenti tepat di sampingnya saat ia dan Wingky bicara.


Thea dan Wingky masih berada di sana saat orang-orang dari dalam ambulance itu keluar dengan mendorong sebuah ambulance stretcher dari dalamnya.


Mata Thea terbulat sempurna saat pertama kali ia lihat yang keluar dari mobil itu adalah Bi Esti. Ia terlihat panik dan ada juga tiga orang polisi bersamanya. Yang salah satunya adalah Pak Yahya.


Mata Thea terus tertuju kepada seseorang yang terbaring di atas ambulance stretcher itu. Sampai pada akhirnya ia baru menyadari bahwa itu adalah suaminya.


"Galang," ucapnya sangat pelan. Namun, ia belum menghampiri mereka yang semakin menjauh membawa tubuh Galang masuk ke dalam.


"Galang!" teriaknya kemudian seraya berlari cepat dan menghentikan ambulance stretcher itu.


Ini benar Galang, ini benar suaminya.


Wajahnya terlihat sangat pucat dengan banyak luka memar, ini bahkan lebih parah, padahal Wingky hanya memukulnya satu kali.


Apa yang terjadi? Kenapa luka memarnya bisa separah ini?


"Lang? Galang?" ucapnya seraya menggerakan tubuh Galang. Namun, pemuda itu tak bergerak sedikit pun dan masih menutup matanya.


"Bi, kenapa Galang bisa kaya gini? Apa yang terjadi sama dia, Bi?" tanyanya lagi pada Bi Esti yang terlihat menangis terisak di sebelahnya.


"Bibi juga tidak tau, Non. Den Galang tiba-tiba pingsan saat Bibi mengunjunginya tadi," jawab Bi Esti.


Thea semakin menangis.


"Maaf, Mbak. Kita harus segera membawanya agar bisa mendapat pertolongan," ucap seorang suster yang berada didekat Thea.


Thea menegakkan kembali tubuhnya saat kedua suster itu membawa Galang masuk ke dalam ruang UGD dengan cepat.


Dadanya terasa sakit, ini bahkan lebih sakit saat ia merasakan jantungnya tak berdetak dengan normal.


Cobaan apa ini?


Ini begitu bertubi-tubi setelah ia kehilangan ibunya.


Dan sesaat kemudian Bi Esti memeluknya begitu erat saat ia masih menangis.


"Sabar, Non, ini adalah ujian. Bibi yakin ini semua pasti akan segera berakhir," ucap Bi Esti lirih seraya mengusap pundak Thea.


Thea sendiri masih menangis, merasakan sentuhan tangan Bi Esti yang begitu lembut berusaha menenangkan kemelut di hatinya.


Akan tetapi, disela-sela isakan tangis itu, ia melihat Wingky malah semakin melebarkan senyumannya. Terlihat begitu jelas kepuasan dari matanya.


Dan begitu jelas sekarang, bahwa ia begitu membenci pemuda ini.


"Ayo kita masuk ke dalam, Non. Den Galang pasti sangat membutuhkan Non Thea saat ini," ucap Bi Esti lagi seraya melepaskan pelukanya.


Thea mengangguk pelan dan menghapus air matanya. "Iya, Bi. Bibi pergilah duluan, aku akan menyusul. Aku mau mengambil tasku dulu di mobil Aida," ucap Thea.


Bi Esti pun terlihat menghapus air matanya. Yang ia tau air mata itu pasti akan terus mengalir. "Baiklah, Bibi tunggu di dalam ya."


Thea mengangguk pelan, setelah itu Bi Esti pun pergi meninggalkannya masuk ke dalam.


Sekali lagi ia melihat ke arah Wingky yang masih berdiri tegap di hadapanya. Ia terlihat biasa-biasa saja saat melihat keadaan ini. Bahkan senyuman manisnya itu tak berkurang sedikit pun. Sebuah senyuman yang dulu sangat ia sukai, tapi sekarang sangat ia benci.


"Itulah akibatnya jika dia berani beurusan denganku."


"Cukup, Ky. Apa yang kamu lakuin sama Galang? Apa yang kamu minta sama mereka? Akhiri semua ini," ucap Thea.


"Tidak. Aku tidak akan behenti. Aku tahu si tengil itu sangat lemah, dia bahkan tak bisa beladiri apalagi berkelahi. Sedangkan aku sudah menyuruh setiap napi di sana untuk memukulinya setiap hari. Ini sangat menyenangkan, melihat dia menderita. Orang yang sudah berani merebut kamu dariku. Aku akan menyingkirkan siapa pun sampai kamu kembali padaku, Thea."


Mata Thea terbulat sempurna, perasaanya memuncak, emosi dan tangis bercampur jadi satu. Ucapan Wingky memanglah pelan dan bahkan sangat datar. Tapi makna dibaliknya sungguh membuat ia tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada Galang jika ia berada di sel penjara lebih lama lagi.


Ia pun mengangkat telapak tangannya hendak menampar wajah Wingky sekali lagi. Tapi kali ini tangannya langsung tertahan seketika karena Wingky menahan gerak tangannya.


"Ceraikan dia dan akan kucabut tuntutan itu. Dia akan kembali hidup dengan normal. Jika kamu menuruti apa yang kuminta, aku akan segera membebaskan penderitaannya. Tapi, jika kau menolak. Aku akan menyuruh setiap napi di sana agar menyiksanya lebih dari pada ini sampai dia mati," ancam Wingky bernada datar seraya melepaskan pegangan tangan pada Thea.


"Pergilah, temani dia saat ini dan kembalilah padaku jika kau sudah mengambil keputusan. Aku akan menunggumu, Thea."


Thea mengalihkan pandanganya ke arah lain.


Dan Wingky pun pergi meninggalkannya dengan senyuman yang masih menempel.


Setelah kepergian Wingky.


Ia menangis lagi, lagi dan lagi.


Untuk kesekian kalinya ia menjadi lemah. Lemah dalam menghadapi masalah yang kian menumpuk mendatangi kehidupannya.


Ibunya meninggal.


Galang masuk penjara Karena fitnah.


Dan yang paling menyakitkan nya adalah, Wingky.


Orang yang selama ini ia sangka baik, ternyata bisa melakukan hal ini padanya.


Sejauh apalagi Wingky akan melakukan niatnya? Apa yang harus ia lakukan?

__ADS_1


Thea kini menangis tanpa suara.


__ADS_2