
Saat matahari pagi sudah menyapa sebagian dunia, Thea membuka tirai jendela kamarnya, membiarkan cahaya matahari masuk ke dalam kamar.
Thea menghirup udara segar di pagi hari ini dengan senyuman, melihat kesekeliling yang sudah ada banyak orang sibuk dengan urusan masing-masing.
Thea pun berjalan lagi ke tempat tidur. Galang, suaminya itu masih tertidur lelap setelah selesai salat subuh.
"Alhamdulillah, panasnya udah turun," gumamnya kemudian seraya membereskan handuk kompresannya.
"Thea." Galang yang mulai terusik memanggil dengan suara pelan.
"Iya, kenapa?" tanya Thea. Ia melihat Galang sudah membuka kedua matanya, masih tampak pucat setelah demam yang menyerangnya semalaman.
"Maaf, kayanya hari ini gue gak bisa pergi ke toko, badan gue masih lemes banget," ucap Galang.
"Oh, kamu gak usah mikirin toko, yang penting kamu sehat dulu. Gak papa, biar nanti aku yang ke sana buat ngecek. Oh ya, lebih baik kamu sarapan dulu. Aku udah bikinin bubur buat kamu."
Galang pun mencoba bangun dari tidurnya dibantu oleh Thea.
Thea juga langsung mengambilkan satu buah meja mini yang diatasnya tersimpan satu mangkok bubur dan satu gelas air putih.
"Tapi gue belom mandi, masa iya langsung makan," ucap Galang.
Thea tersenyum manis seraya menyimpan meja mini itu di hadapan Galang.
"Tadi subuh kan udah, lagipula. Apa kamu mau makan kalo gak aku suruh sekarang?"
"Oh, kalo gitu, sekalian aja."
"Sekalian? Maksud kamu?" Thea mengernyitkan kening saat mendengar perkataan Galang.
"Suapin." Galang memasang wajah memelas.
Sedangkan Thea malah sedikit merengut kesal di hadapannya.
"Kamu kan punya tangan, makan sendiri aja kenapa sih?" ucap Thea yang masih berdiri di samping Galang duduk.
"Tangan gue sakit tau, masa iya gue makan pake tangan kiri? Lo mau bikin gue jadi kaya jin?"
"Ck, dasar manusia! Selalu aja minta lebih," gerutu Thea. . Namun, ia malah duduk ditempat tidur dan mengambil mangkok berisikan bubur itu.
Galang tersenyum lebar dan membuka mulutnya menerima satu suapan dari Thea. Sedangkan Thea sendiri pun tak berani menatap mata Galang saat menyuapinya, karena ia sendiri heran mengapa ia malah menuruti permintaan Galang yang pastinya hanya 'modus' belaka ini.
"Eumh, The. Besok lusa, gue mau pergi ke Bandung sama Nayla. Boleh gak?"
TUKKK!
Terdengar suara sendok yang cukup nyaring saat Thea menghentikan gerak sendoknya di mangkok. Thea terdiam beberapa saat dan masih tak melihat Galang.
"Mau ngapain?" tanyanya kemudian.
"Itu, gue mau nganter dia doang kok. Abis itu gue pulang lagi abis nganterin Nayla,"
"Oh, kenapa kamu nanya aku dulu? Biasanya juga enggak kan," ucap Thea datar seraya menyendokkan satu sendok bubur yang sangat besar dan di sodorkannya langsung ke arah mulut Galang.
"Itu karena, mulai saat ini gue bakal selalu jujur sama apa yang gue lakuin di luar sana. Supaya lo gak salah faham lagi,"
"Sejak kapan kamu peduli aku salah paham atau enggak?"
"Trus, dijinin apa enggak?" tanya Galang balik.
"Kalo aku gak ngasih ijin?"
"Gue gak akan pergi,"
Thea tersenyum tipis, jawaban Galang ini nyatanya membuat ia merasa lega. "Kalo gitu, aku ijinin kamu pergi," ucapnya kemudian.
"Hahh? Emang lo gak bakal salah paham gitu?"
"Aku percaya, karena itu adalah kamu," jawab Thea.
Ia tetap tak berani menatap mata Galang saat bicara, dan sekarang ia malah merapihkan mangkok dan gelas yang kini sudah kosong tak berisi.
Dan setelah itu, ia melangkah meninggalkan Galang dengan senyuman dibaliknya.
***
Thea kini berjalan lagi menuju kamar, hari ini ia ada kuliah dan ia harus segera bersiap. Dan saat ia melewati kamar Bi Esti, ia lihat wanita paruh baya itu sedang melipat baju. Tanpa terasa langkah malah belok kedepan pintu kamar Bi Esti.
"Asalamualaikum, Bi. Apa aku boleh masuk?" ucap Thea memberi salam dan sedikit mengetuk pintu.
"Wa'alaikum salam, Non Thea. Silahkan masuk," jawab Bi Esti.
Thea pun tersenyum dan melangkah ke dalam kamar.
"Silahkan duduk di sini, maaf di sini tak ada kursi," ucap Bi Esti mempersilahkan Thea duduk di tempat tidurnya.
Thea hanya diam dan menuruti, ia masih terus melihat ke arah Bi Esti yang masih melipat pakaiannya. Setiap kali ia berada di dekat Bi Esti, ia merasakan kenyamanan. Nyaman seperti ia sedang bersama ibunya di rumah.
"Non Thea butuh sesuatu?" tanya Bi Esti.
Thea menggelengkan kepalanya pelan.
"Lalu, apa ada yang bisa Bibi bantu?" tanya Bi Esti lagi.
Thea terdiam sejenak memikirkan hal apa yang menariknya ke sini. Ia masih melihat ke arah Bi Esti dari atas sampai bawah. Dan pada akhirnya ia menyadari apa yang membawanya ke sini, yaitu apa yang tengah dilipat Bi Esti sekarang, sebuah jilbab.
"Eumh ... Bi, apa aku boleh tanya sesuatu?" tanya Thea kemudian.
"Non mau tanya apa?"
"Eumh ... Itu, aku mau tanya. Apa berjilbab itu rasanya nyaman?" tanya Thea pelan dan agak ragu saat menanyakannya.
"Kenapa Non Thea tiba-tiba menanyakan hal itu? Apa Non Thea mau memakai jilbab?" tanya Bi Esti balik dengan senyuman manis diwajahnya.
Thea menunduk. Meremas tangannya sendiri karena ia sungguh ragu . Namun, ada rasa penasaran juga dalam hatinya. Bimbang, entah kenapa ia malah merasa begitu setelah mendengar cerita Galang tadi malam.
"Eumh ...."
"Cobalah, baru Non Thea akan bisa merasakan bagaimana rasanya memakai jilbab." Bi Esti menyodorkan satu jilbab berwarna merah muda kehadapan Thea.
Thea masih menatapi jilbab itu beberapa saat, mencoba menanyakan lagi pada dirinya sendiri apa benar ia akan memakai hijab seperti wanita muslimah.
"Baik," ucap Thea singkat seraya mengambil jilbab itu dari tangan Bi Esti.
Ia pun melebarkan jilbab itu dan perlahan memakaikan kain itu diatas kepalanya. Menutupi seluruh rambut hingga kebagian dada. Bi Esti tampak tersenyum dan membantunya memakai jilbab, sebab ia agak kesulitan memakainya tanpa cermin.
Bi Esti tersenyum manis saat jilbab itu sudah terpasang dan menutupi setengah dari tubuh Thea.
"Non Thea sangat cantik," ucap Bi Esti seraya membenarkan lagi jilbab yang dipakai Thea.
Thea tersenyum dan masih menunduk, ini memang bukan kali pertama ia memakai hijab. Tapi memang sudah cukup lama, terakhir kali ia memakai hijab adalah saat ia mengikuti pesantren kilat waktu sekolah dasar. Selebihnya, ia sangat jarang atau bahkan tak pernah lagi memakai hijab. Karena ia selalu merasa kegerahan jika memakai hijab terlalu lama.
"Bagaimana?" tanya Bi Esti setelah cukup lama.
"Apa aku pantas memakainya?"
"Bukannya Bibi sudah mengatakan pendapat Bibi barusan, Non Thea sangat cantik memakai jilbab seperti ini."
"Beneran?"
Saat mereka tengah bicara berdua itu tiba-tiba saja ada yang datang dan dengan cepatnya menghampiri mereka.
"Thea?"
Thea menoleh karena mendengar ada seseorang yang menyebutkan namanya. Wajahnya tiba-tiba memerah karena ia gugup setengah mati saat melihat orang yang didekatnya ini memberikan senyuman lebar.
"Ke-kenapa kamu bisa ada di sini?" tanyanya kemudian.
Galang terus tersenyum sambil mengikuti ke mana wajah Thea disembunyikan dari pandanganya.
"Ini beneran elo? Gue kirain ada tamu spesial Bibi. Tapi, ko gue ngerasa ada yang beda dari lo. Emh ... apa, ya?"
Thea semakin menunduk, ia jadi salah tingkah sendiri saat kepergok seperti ini. Sedang Bi Esti pun tampak hanya tersenyum dan membiarkan Galang terus melanjutkan celotehannya.
"Eh, jangan dibuka! Lo cantik banget pake jilbab kaya gini, gue suka." Tiba-tiba saja Galang menghentikan gerak tangan Thea yang hendak melepaskan jilbabnya.
DEG!
Jantung Thea berdebar begitu cepat saat Galang mengatakan bahwa ia menyukainya berjilbab. Hingga ia jadi semakin salah tingkah di hadapan Galang, padahal sebelumnya ia yang selalu menguasai keadaan. Tapi sekarang, ia malah terjebak keadaan.
Ingin rasanya ia menendang tulang kaki si tengil itu sekarang juga, tapi ia tak bisa melakukannya karena ada Bi Esti.
"Bi, maaf. Ini aku kembaliin, aku mau siap-siap pergi kuliah dulu." Thea dengan cepat melepaskan jilbab yang ia pakai dan memberikannya lagi pada Bi Esti. Setelah itu la langsung meninggalkan kamar Bi Esti untuk menghindari kegugupannya pada Galang.
Setelah sampai kamar, Thea juga langsung mengambil tasnya yang sudah ia siapkan. Menghela napas panjang untuk meredakan degup jantungnya yang masih terasa agak cepat.
"The." Terdengar suara Galang memanggil namanya lagi.
Thea berusaha mengalihkan pandanganya lagi ke arah lain dan tak menggubris keberadaan Galang yang terus membuntutinya.
"Lo mau pergi kuliah?" tanya Galang.
"Iya lah, kamu pikir mau ke mana?" jawabnya agak ketus.
Tapi Galang malah melebarkan senyumannya dan menahan langkah kaki Thea.
"Apa lagi?" tanyanya lagi karena melihat Galang berdiri dihadapannya.
"Kita berangkat bareng, yu. Tunggu bentar, gue ambil tas ama jaket dulu," ucap Galang. Ia pun langsung berlari cepat mengambil tas dan jaketnya.
Thea mengernyitkan kening, kenapa orang itu begitu gigih terus mendekatinya seperti ini. Apa benar Galang akan memastikan perasaan padanya?
"Ayo," ucap Galang seraya langsung menarik tangan Thea tanpa Thea bisa menolaknya.
__ADS_1
***
"Kamu ngapain sih ngikutin aku terus? Risih tau gak," ucap Thea sedikit menggerutu. Namun, masih belum melihat ke arah Galang.
"Kenapa? Gue cuma mau nganterin istri gue kuliah, emang salah?" tanya Galang balik.
"Jelas salah lah, tujuan kita beda. Kalo kamu ikut bis ini, berarti kamu akan memutar arah lagi. Ngeluarin uang lagi, ini pemborosan namanya," ucap Thea lagi.
Galang terkekeh kecil. "Iya iya, ibu mentri keuangan! Salah mulu gue," ucapnya kemudian.
Thea tak berkata apa-apa lagi, menatapi keramaian kendaraan yang berlalu lalang dijalanan. Hingga tak berapa lama ia sedikit menguap karena rasa kantuk yang mulai menjalar dikedua matanya.
"Lo ngantuk?" tanya Galang.
"Enggak," jawab Thea singkat.
Grep!
Dengan tiba-tiba, Galang menarik kepala Thea dan menyandarkan kepala itu di pundaknya.
"Sini, tidur di pundak gue," ucap Galang kemudian.
Thea terperanjat dan menegakkan lagi kepalanya, menatap Galang dengan kesal karena sudah berani bersikap semaunya sendiri.
"Apaan si, udah aku bilang aku gak ngantuk! Jangan rese deh, ini tuh ditempat umum, bukan waktunya buat nyari kesempatan dalam kesempitan. Malu tau," ucap Thea sedikit marah.
"Malu kenapa, si? Lagian, mana ada orang yang ngelarang istri tidur dipundak suaminya? Kalo pun ada, gue bakal sambit tuh orang! Sini," ucap Galang lagi seraya menarik lagi kepala Thea kepundaknya.
Thea tersenyum tipis, Ia tak protes, menolak atau marah-marah. Ia malah menuruti permintaan Galang tidur di pundaknya. Merasakan kehangatan dalam hatinya saat bersama Galang seperti ini.
Thea memegangi dadanya sendiri dengan tangan, lagi-lagi jantungnya berdegup cepat.
"Hari ini, lo bakal kerja di caffe gak?" tanya Galang.
"Udah aku bilang, kan, hari ini aku mau pergi ke toko. Aku mau liat stock barang, siapa tau ada yang udah habis," jawab Thea.
"Lo mau nemenin gue jaga toko?"
"Ck! Bukannya kamu lagi sakit."
"Sakit juga gak bakal kerasa, soalnya gue udah punya suster pribadi yang siap ngejaga gue 24jam, iya nggak?"
Thea tersenyum tipis. "Gombal," ucapnya kemudian.
"Tidurlah, lo pasti ngantuk karena udah jagain gue semalem. Tar gue bangunin kalo udah sampe," ucap Galang seraya membenarkan posisi kepala Thea dipundaknya agar lebih nyaman.
Thea terdiam, memejamkan kedua matanya dan berusaha untuk terlelap. . Namun, sejak tadi, nyatanya jantungnya tak berhenti berdebar begitu cepat. Apalagi sekarang Galang juga memegangi satu tangannya dengan sangat erat.
***
Siang harinya, Thea yang selesai dengan urusan kuliahnya sudah lebih dulu datang ke toko, hari ini ia sudah meminta ijin pada Wingky untuk tak bekerja dicaffe sehari.
Dan hari ini juga, ia sudah ditemani Aida bersamanya.
Galang juga akan datang lima belas menit lagi, sebab masih ada yang harus ia kerjakan dikampusnya.
"The, gimana sekarang hubungan kamu sama Galang? Aku denger, kemarin dia keluar kamar hotel sama cewe, apa itu bener?" tanya Aida yang kini sedang memilih aksesoris.
"Eumh, itu. Masalah itu udah aku lupain, dan mulai sekarang aku udah putuskan buat percaya sama dia, Ai," jawab Thea.
"Percaya? Buat apa, The? Galang tuh ternyata play boy, dia gak seperti yang aku bayangin pas waktu SMA. Dulu emang aku suka sama dia, tapi setelah aku denger kabar itu. Aku jadi ilfeel, padahal kan dia udah nikah, tapi masih tetep aja jalan sama cewe lain, masuk kamar hotel lagi! Ih," ucap Aida panjang lebar.
"Ck, itu kan menurut kamu, Ai. Aku percaya ko, Galang gak ngelakuin apa-apa di dalem sana." Thea yang semenjak tadi mencatat sisebuah bukupun terhenti karena mendengar perkataan Aida padanya.
"Tapi tetep aja aku gak suka, sekarang aku lebih setuju kamu sama Wingky dari pada sama Galang," ucap Aida.
Dan saat mereka berdua bicara, ada seseorang yang membuka pintu hingga membuat mereka berdua menoleh.
Thea langsung terdiam seribu bahasa saat melihat siapa yang datang, sedangkan Aida juga tampak heran karena ia begitu mengenali siapa orang yang datang itu.
"Nayla?"
Aida pun terlihat senang saat melihat ada tiga orang wanita dibelakang Nayla memasuki toko. Hingga ia langsung mempromosikan seluruh barang ditoko ini pada ketiga teman Nayla. Sedangkan Nayla sendiri kini berjalan ke arah Thea yang tak melihat kearahnya sejak tadi.
"Apa bisa aku memesan liontin di sini? Aku bawa foto, aku ingin kamu memasangkannya di liontin itu." tanya Nayla pada Thea seraya menunjuk ke arah sebuah kalung bertahtakan liontin berbentuk hati di belakang Thea.
"Bisa," jawab Thea bernada datar.
Nayla tersenyum seraya merogoh ke dalam tasnya mengambil sebuah foto, dan diletakannya foto itu kehadapan Thea dengan masih tersenyum.
Thea makin terdiam seribu bahasa, apalagi saat ia melihat foto yang diberikan Nayla padanya.
Foto Nayla dan Galang, itulah yang harus ia pasang di dalam liontin. Apa maksudnya ini? Kenapa kak Nayla memesan ini padanya?
Perih, itulah yang ia rasakan sekarang dalam hatinya.
Ia pun mengambil foto itu dan menatapnya beberapa saat, senyuman manis mereka yang ada di dalam foto semakin menambah keperihan dihatinya saat ini.
Thea mengeratkan peganganya pada sebuah pulpen yang ia pegang.
'Kekasih' mereka berdua kekasih? Apa benar?
"Apa kamu sadar dengan ucapan itu?" tanya Thea balik seraya melihat tatapan sinis Nayla padanya.
"Oh iya, aku sadar. Dan harusnya kamu juga sadar diri."
"Maksud kamu?"
"Siapa kamu dan apa posisi kamu hati Galang?"
"Posisi? Apa pantas kamu bertanya hal itu pada seseorang yang sudah jelas menjadi istri sah Galang? Lebih baik kamu pergi kalau cuma untuk bicara hal yang gak penting."
Thea mulai terpancing emosi, karena lagi-lagi Nayla bersikap begini. Apalagi sekarang, sudah sangat jelas kedatangannya hanya untuk memanas-manasinya saja.
"Apa karena kamu adalah istri sah Galang, lalu kamu merasa punya hak atas hati dia? Dia emang suami kamu, tapi hatinya tetap buat aku. Dia cuma cinta sama aku dan dia akan selalu cinta sama aku. Yang harusnya pergi, adalah kamu!" ucap Nayla menandaskan perkataanya pada Thea.
TEG!
Thea langsung mematung.
Kata-katanya terkunci saat mendengar perkataan Nayla. Ia memang istri sahnya Galang. Tapi kata-kata Nayla juga ada benarnya. Sampai saat ini, Galang bahkan belum bisa memastikan perasaanya meskipun mendekatinya berkali-kali. Dengan kata lain, memang benar bahwa tak menutup kemungkinan Galang akan kembali bersama Nayla.
"Sudah kubilang sejak awal, kan? Jangan berani kamu menyukai Galang. Tapi sepertinya, kamu sudah mulai menyukainya. Dan sudah jelas aku tak akan membiarkan hal itu lebih jauh lagi."
Thea masih terdiam. Ia hanya bisa mendengarkan kata-kata Nayla yang terdengar begitu menyakitkan baginya.
"Besok lusa Galang akan mengantarku ke Bandung, setelah dia pulang dari sana, aku akan pastikan kamu akan meminta cerai padanya. Atau aku akan membuat Galang terus menjauh darimu," ucap Nayla pelan . Namun, bernada sinis.
Thea benar-benar mati kata. Luapan emosinya yang kemarin kini kalah dengan kenyataan bahwa Galang mungkin benar akan memilih Nayla dibanding dirinya.
"Nay! Ayo kita pindah ketoko lain, kupikir kamu akan membawaku ke tempat berkelas," ucap salah satu teman Nayla.
"Iya, lihatlah. Semua barang di sini tak ada yang berkelas, bahkan terkesan sangat murahan! Bukannya paman kamu punya toko aksesoris? Kita pergi ke tokomu aja yu," sambung temannya yang lain.
"Iya baiklah, tunggu sebentar." Nayla mengiyakan perkataan teman-temannya.
Dan dengan tatapan penuh kepuasan serta senyuman yang kian melebar, sekali lagi ia menatap Thea yang terlihat murung dihadapannya.
"Apa kamu udah ngerti maksudku? Pergilah! Pergi sejauh mungkin dari kehidupan Galang dan aku," ucap Nayla. Namun, sebelum ia melangkah mengikuti ketiga teman-temannya untuk kedua kalinya ia berbalik arah melihat Thea.
"Aku tunggu liontin itu sebelum aku berangkat ke Bandung, buatlah sebagus mungkin dan aku akan membayarmu tiga kali lipat," ucap Nayla. Sesudah itu ia benar-benar melangkah meninggalkan toko.
Thea hanya bisa terdiam, ia tak peduli dengan apa yang dikatakan teman-teman Nayla yang sudah sangat jelas menghina tokonya. Karena memang ia sangat menyadari apa yang dikatakan mereka juga tak salah.
Thea menatapi selembar foto yang berada di tangannya saat ini.
Mereka berdua.
Dan statusnya sekarang.
Ternyata memang ialah yang sudah menjadi orang ketiga dari hubungan mereka.
Apa yang harus ia lakukan?
Sedangkan pada kenyataanya ia mulai menyadari, bahwa ia ... mulai menyukai Galang.
Ia menyukai suaminya.
Aida yang merasakan keganjilan dengan raut wajah Thea pun buru-buru menghampiri. Perkataan teman-teman kak Nayla pasti sudah menyinggung hati sahabatnya ini.
"Pasti kata-kata mereka tadi udah bikin kamu sakit hati, kamu sabar yah, jangan dengerin apa kata mereka," ucap Aida seraya mengusap pelan pundak Thea.
Thea tak menjawab perkataan Aida, sungguh. Sebenarnya ia sama sekali tak peduli dengan perkataan mereka. Yang ia pedulikan adalah bagaimana hubungan antara ia dan Galang kedepannya. Bagaimana caranya agar ia bisa mempertahankan rumah tangganya dengan Galang. Dan bagaimana ia bisa menyelesaikan masalah ini.
Di sampingnya Aida terus berusaha menghibur kesedihanya, tapi ia tak bisa berkata apa-apa lagi. Karena pikirannya sudah jauh melayang, perih yang semakin menjadi saat ia terus memegangi foto ditangannya.
Matanya mulai berkaca-kaca, menatap kosong sebuah gambar.
Ia samasekali tak mengira bahwa akan selemah ini ketika ia mendengar perkataan Nayla mengenai hubungannya dengan Galang.
"Asalamualaikum."
Terdengar ucapan salam dari seseorang yang baru datang membuka pintu toko. Hingga membuat Thea dan Aida menoleh bersamaan.
Ternyata itu adalah Galang dengan membawa satu kantong keresek besar. Entah apa isinya, yang jelas Galang terlihat tersenyum manis saat menghampiri Thea.
"Selamat sore istrikuh! Gimana tokonya? Rame?" tanya Galang, ia melihat sekelilingnya. Tak ada siapa pun lagi kecuali Thea dan Aida yang berada di dalam.
Ia menghampiri Thea dan Aida, mereka tak menjawab salamnya dan terus berjalan menghampiri mereka berdua dengan senyuman.
"The, dijawab dong. Gimana tokonya? Rame apa enggak?" tanya Galang sekali lagi setelah ia sampai ke hadapan Thea.
Ia agak heran saat melihat raut wajah Thea yang tak menatap kedatangannya samasekali. Sedangkan Aida juga terlihat membuang muka darinya.
__ADS_1
"Ai, ini pada kenapa si? Kenapa muka kalian berdua kaya begitu liat gue dateng? Aneh amat," tanya Galang lagi, kini ia bertanya pada Aida karena pertanyaan nya pada Thea tak mendapat jawaban.
"Tanya aja sendiri sama toko ini ...!" jawab Aida ketus.
"Lah? Nanya toko?"
Galang sedikit kaget saat mendengar jawaban Aida.
"Huahahaha! Lo kata gue udah gak waras disuruh nanya ama tembok! Adehhhh, lo ama sikodok tuh emang pasangan serasi, sama-sama aneh tau gak! Gue disuruh nanya toko? Ck ck ck," ucap Galang bernada meledek kepada Aida yang terlihat semakin merengut di hadapannya.
Thea diam.
"Ck, bukan itu maksud aku! Tapi, aku tuh kesel sama kamu kenapa kamu pilihin toko sekecil ini buat Thea! Gara-gara toko ini Thea barusan dihina sama pelanggan. Hhhh! Coba aja, Thea nikah sama Wingky, dia pasti bisa beliin toko yang lebih mewah daripada ini," ucap Aida bernada ketus memarahi Galang.
Galang mengernyitkan kening.
"Ai, udah cukup. Jangan diterusin lagi," ucap Thea pelan. Ia berkata tanpa melihat siapapun disekelilingnya. Menggenggam erat selembar foto, karena perasaanya mulai memuncak. Benci dan takut itu sekarang menjadi dua hal yang mengganjal dihatinya.
"The, apa yang dibilang Aida tadi bener?" tanya Galang.
"Ya jelaslah!"
"Aida!" Thea sedikit berteriak pada Aida yang terus bicara.
Galang dan Aida tersentak, karena melihat kedua mata Thea yang mulai memerah dan seperti menahan tangis.
"Lang, maaf. Kayanya aku gak bisa nemenin kamu jaga toko hari ini. Aku masih ada urusan di luar, ayo Ai," ucap Thea sekaligus mengajak Aida pergi darisana.
Nada bicaranya yang begitu datar membuat Galang semakin ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Hingga saat Thea dan Aida mulai melangkah pergi meninggalkannya ia secepat mungkin berlari menyusul keluar.
Galang langsung saja menarik satu lengan Thea dan menghadapkan tubuh wanita itu kearahnya.
Ia menatap dengan penuh keingintahuan karena melihat raut wajah Thea yang kian sendu tak berani menatap matanya.
"Jujur sama gue, kenapa?" tanya Galang bernada serius dan masih memegang lengan Thea.
Untuk beberapa saat, Thea masih dengan kediamannya. Merasakan sentuhan tangan Galang yang langsung memberi efek pada hatinya.
"Ai, tolong tinggalin kita berdua. Aku mau bicara sama Galang," ucap Thea pelan.
"Tapi, The. "
"Sebentar aja."
Aida langsung terdiam, melihat sahabatnya itu begitu serius ingin bicara dengan Galang. Ia pun tanpa banyak kata lagi langsung meninggalkan mereka berdua untuk bicara.
Galang mengeratkan peganganya pada Thea, menatap wajah sendu istrinya itu dalam-dalam.
"Lo kenapa? Apa yang dibilang Aida tadi bener?" tanya Galang pelan.
Thea diam tak menjawab.
"Apa, lo kecewa punya toko kecil?"
Thea menggelengkan kepalanya pelan.
"Apa kata-kata mereka nyakitin elo?"
Thea menggelengkan kepalanya lagi.
Galang menghela napas dan meraih tangan Thea yang satunya lagi. Mencoba lebih mendalami apa yang membuat Thea menjadi diam padanya.
"Maaf."
"Buat apa?" ucap Thea sangat pelan dan tanpa melihat ke arah Galang.
"Gue cuma bisa ngasih sedikit buat lo, tokonya emang kecil. Itupun gue nyewa bukan beli. Tapi, gue cuma mau berusaha tanggung jawab sama lo. Gue gak punya keahlian apa-apa, gue cuma punya sedikit modal. Dan, gue malah manfaatin keahlian lo buat usaha gue, maafin gue karena gak bisa ngusahain lo secara penuh," ucap Galang.
Thea diam, membiarkan tangan besar dan hangat itu menggenggam erat tangannya.
Galang yang baik, ia sudah menjual motornya demi membuka usaha ini. Dia menolak bantuan dari Ayahnya demi membulatkan tekad. Dia rela naik angkutan umum demi bisa menafkahinya. Dia juga rela mengorbankan waktu istirahatnya untuk menjaga toko seharian. Dan itu berlanjut sampai menemaninya membuat aksesoris hingga larut malam.
Ia dan Galang hanya memiliki sedikit waktu untuk beristirahat, apa yang mereka berdua lakukan selama ini. Selama mereka memulai usaha, tanpa disadari sudah memiliki rasa tanggung jawab satu sama lain.
Sekarang, apa dia akan menemukan lagi laki-laki sepertinya di luar sana? Apa ia bisa melepas Galang pada wanita lain? Pikiran Thea berkemelut sendiri.
"Apa, lo nyesel udah nikah sama gue?" tanya Galang lagi dengan suara pelan.
"Enggak."
Galang tersenyum manis, jawaban Thea memang singkat. Tapi itu sudah lebih dari cukup untuk membuatnya lega.
"Kalo gitu, apa lo mau nemenein gue jaga toko?" tanya Galang untuk yang kesekian kalinya.
Thea tak menjawab, . Namun, ia tersenyum manis meskipun tipis mengiyakan ajakan Galang padanya.
***
Galang menghela napas, setelah cukup lama ia berkutat di sebuah Universitas Jakarta, hingga akhirnya ia bisa menemukan keberadaan seorang gadis chubby yang sejak tadi dicarinya.
"Galang? Aku pikir tadi aku salah lihat, ternyata ini beneran kamu," ucap Nayla.
Galang tersenyum tipis. "Aku ingin bicara sama kamu," ucap Galang bernada datar.
"Oh, ya udah. Kita cari tempat buat sekalian cari minum."
"Jangan, Nay, di sini aja. Aku juga gak akan lama, ko." Galang menghentikan langkah kaki Nayla yang hendak mengajaknya pergi.
"Kenapa? Kamu datang ke sini mau nemenin aku ke Bandung, kan?"
"Aku datang bukan karena itu, tapi ada satu hal yang ingin aku sampein ke kamu."
Nayla mengernyitkan kening karena mulai menangkap gelagat aneh dari apa yang akan dikatakan Galang padanya.
"Apa itu?"
"Itu ... mungkin akan lebih baik, mulai saat ini kita harus jaga jarak."
"Kenapa? Apa Thea melarangmu menemuiku lagi? Apa dia membatasi waktu kamu buat aku?" tanya Nayla.
Galang terdiam sejenak, melihat Nayla yang mulai menatapnya serius.
"Enggak, tapi ini keputusanku sendiri. Aku ... memutuskan memulai dari awal hubunganku sama Thea," ucap Galang, meskipun ragu dan pasti akan menyakiti hati Nayla tapi ia harus tetap mengatakanya agar tak menyakiti Nayla lebih daripada ini.
"Hubungan? Hubungan apa? Bukannya sejak awal kamu bilang sama aku, kalo kamu nikah sama dia karena terpaksa, kan? Jadi hubungan apa yang kamu maksud itu?" tanya Nayla bertubi-tubi dan menatap Galang dengan mata yang mulai memerah karena emosi.
"Yang kamu bilang itu emang bener, tapi sekarang ... aku udah mutusin buat nyoba memahami Thea, maaf, Nay. Aku gak bisa lagi terus-terusan nemuin kamu, aku takut Thea salah paham dan nyakitin dia," jawab Galang pelan.
TEG!
Mata Nayla terbulat sempurna melihat sepasang mata sendu yang menatapinya dengan tanpa berkedip. Ini memang hanya sekedar ucapan, tapi terasa begitu menyakitkan saat Galang mengatakanya.
Air matanya menetes begitu saja, penolakan yang sering ia lakukan kini dilakukan Galang padanya. Padahal, kemarin-kemarin Galang terlihat baik-baik saja bersamanya. Terus menemaninya dan bersikap manis.
"Kenapa? Bukannya kamu akan menceraikan dia secepatnya, Lang?" Nayla lebih dalam lagi menatap mata Galang dan memegang tangan pemuda itu.
"Kamu bilang, cuma aku satu-satunya perempuan dihati kamu, kan? Meskipun kamu udah menikah, kamu akan kembali sama aku. Sekarang, aku udah nerima cinta kamu. Lalu apa lagi yang akan kamu mulai dengan wanita itu? Buat apa kamu memahami wanita lain? Sedangkan aku udah lebih memahami kamu lebih dari siapapun," ucap Nayla lagi dengan panjang lebar.
Nayla terus menatap mata Galang dalam-dalam, mencoba untuk masuk ke hati Galang lebih dalam lagi. Namun, tatapan Galang padanya saat ini, malah berbanding terbalik dengan apa yang ingin ia lihat.
Tatapan pemuda itu terlihat biasa-biasa saja, meskipun tersirat sebuah penyesalan tapi ia menyadari satu hal dari tatapan Galang padanya, yaitu.
Tak ada lagi perasaan cinta untuknya dihati pemuda ringkih itu.
"Aku minta maaf, Nay, sebelum aku melangkah terlalu jauh. Aku gak mau ngasih harapan lebih," ucap Galang pelan.
Nayla mematung menatapi Galang dengan deraian air mata yang terus mengalir, ia menangis tanpa suara di hadapan pemuda yang baru beberapa hari menjadi kekasihnya ini.
"Selama ini, aku mengira kalau perasaanku terhadap kamu adalah cinta. Tapi ternyata, setelah aku bersama kamu seharian kemarin. Aku mulai sadar, kalau aku merasa nyaman karena kamu udah kuanggap kaya ade sendiri, bukan sebagai wanita biasa. Kamu baik, dan aku udah salah memahami perasaan itu. Aku minta maaf, karena pada akhirnya sekarang aku malah nyakitin kamu."
"Iya, kamu emang udah nyakitin aku, Lang! Kamu itu jahat tau nggak!" ucap Nayla sedikit berteriak.
Galang tak berkata, melihat tubuh gadis yang mulai bergetaran karena emosi padanya. Ia akan terima kemarahan Nayla padanya karena ia salah telah salah mengambil sikap selama ini.
"Kenapa jadi kaya gini, si? Kenapa sekarang aku gak bisa ngenalin kamu? Kenapa aku gak liat lagi cinta di mata kamu? Perasaan kamu itu adalah cinta, Lang! Bukan sebagai adik! Kamu pasti salah! Dan ini salah! Kamu pasti lagi bingung aja sekarang! Apa karena Thea? Iya? Apa karena prempuan itu udah mempengaruhi kamu?" ucap Nayla semakin keras dan dengan tangisan yang mulai pecah.
Ia tak pernah mengira Galang akan mengatakan hal ini padanya, Galang memang tak pernah mengiyakan saat mengatakan bahwa ia ingin menjadi kekasihnya.
Tapi dengan sikap Galang selama ini, ia jadi berpikir bahwa Galang juga menyukainya dan ia akan menceraikan istrinya secepat mungkin.
Galang terdiam beberapa saat.
Setelah apa yang ia lakukan tempo hari, membuntuti Thea seharian dan besoknya ia bersama Nayla seharian. Kini ia sudah mulai bisa memastikan perasaanya.
Dari kebersamaanya dengan Thea dan kebersamaanya dengan Nayla, ia mulai menyadari akan satu hal yang membuat perasaanya berbeda.
Yaitu ....
"Sekali lagi maafin aku, Nay. Tapi, harus aku akui kalau aku ... mulai mencintai Thea, aku mencintai istriku," ucap Galang kemudian dengan sangat pelan dan melepaskan pegangan Nayla padanya dan memberikan selembar foto kebersamaan mereka ke tangan Nayla lagi.
Nayla semakin menangis terisak.
Galang pun mulai melangkah mundur perlahan meninggalkan Nayla. Terdengar sangat jahat memang, tapi sungguh ia tak ingin menyakiti Nayla lebih daripada ini.
Nayla hanya bisa menatapi kepergian Galang dengan tangisan yang masih deras mengalir di pipinya.
Tapi beberapa saat kemudian, ia mencoba mengatur napas dan menghapus air matanya.
Ia menatapi selembar foto yang diberikan Galang padanya. Perasaanya memuncak, kebencian itu semakin menjadi.
Ia mengeratkan peganganya pada foto itu hingga kusut.
"Pergilah, kita akan lihat sampai kapan kamu bisa bertahan dengan orang asing itu. Galang ...," ucapnya kemudian seraya menatapi punggung pemuda ringkih yang semakin jauh meninggalkannya.
__ADS_1