Jodoh Yang Tidak Diinginkan

Jodoh Yang Tidak Diinginkan
JYTD 14


__ADS_3

"Asalamualaikum, Bibi!" ucap Galang setelah mereka berdua sampai di rumah.


Pukul setengah sembilan malam ia baru pulang, setelah satu hari kemarin ia tertahan di rumah sakit. Bi Esti pasti sudah mengkhawatirkannya saat ini. Ia dan Thea pun masuk ke dalam, dan mereka lihat Bi Esti tengah berlari kecil ke arah mereka dengan senyuman lebar.


"Bibi," ucap Galang seraya menyalami tangan Bi Esti.


"Aden, ya ampun. Jadi benar apa yang dikatakan Tuan? Bibi dengar, Aden masuk rumah sakit karena terserempet mobil? Apa aden sudah baik-baik saja?" tanya Bi Esti dengan cepat membrondong Galang dengan pertanyaan.


Galang dan Thea tersenyum, karena meskipun Bi Esti sekarang masih menangis namun mereka lihat raut wajah kebahagiaan yang dipancarkan Bi Esti setelah melihat Galang.


"Tuh kan, udah aku duga pasti papah cerita sama Bibi, ck!" gerutu Galang pada dirinya sendiri.


"Kalau den Galang sudah bertemu Tuan tadi siang, kenapa Aden tak langsung pulang?" tanya Bi Esti lagi.


"Hehe. Maaf bi, tadi siang ada urusan yang harus aku selesain, jadi aku gak pulang. Maaf ya, kayanya lagi lagi aku udah bikin Bibi nangis." ucap Galang.


"Tak apa, asal Aden pulang ke rumah pun Bibi sudah bersyukur. Tapi lain kali, Aden harus kabari Bibi, Bibi benar-benar khawatir."


"Siap Bibi ku cantik," ucap Galang bersemangat.


"Ya sudah, kalau begitu Bibi akan buatkan teh hangat untuk Aden dan Non Thea."


"Eh, gak usah, Bi. Aku mau langsung ke kamar aja. Badan aku udah pegel-pegel, pengen tidur," ucap Galang cepat sebelum Bi Esti melangkahkan kakinya kedapur.


Bi Esti hanya tersenyum dan mengangguk pelan mengiyakan. Setelah Bi Esti pergi kekamarnya lagi, Galang dan Theapun kini melangkah menuju kamar mereka.


Tapi sebelum mereka benar-benar sampai kamar, sekali lagi Galang berdiri dihadapan Thea dengan cengiran lebar.


***


Pukul sembilan malam setelah Thea dan Galang pulang ke rumah. Thea kini sedang duduk di atas karpet dan berusaha fokus menggambar desain aksesoris nya diselembar kertas yang berada diatas meja.


Berusaha?


Yah, dia masih berusaha fokus, karena apa? Karena ucapan Galang saat mereka hendak masuk kamar, sungguh membuatnya terganggu.


Sekali lagi ia melihat ke arah Galang yang berada di hadapanya, pemuda itu masih membantunya membuat aksesoris meskipun sangat lambat karena tangannya terluka.


Ia heran, mengapa Galang tak pergi tidur duluan saja jika tengah sakit seperti itu.


Kenapa Galang malah membantunya?


Thea berdeham, mencoba mengusik keheningan di antara mereka berdua.


"Berhenti maksain diri, tidur aja kalau badan kamu masih sakit," ucap Thea datar dan tak menatap mata Galang.


"Aihhh, diam diam ada yang peduli sama gue."


Thea menghela napas sejenak dan meletakan pekerjaannya di atas meja. Karena lagi-lagi Galang bicara seolah merayunya.


"Tidur, sebelum aku berubah pikiran dan nyuruh kamu tidur di luar," ucapnya lagi dengan nada lebih serius.


"Hmhh, iya deh iya. Gue tidur," ucap Galang bernada malas dan meletakan pekerjaannya di meja. Ia pun menggeliat untuk sedikit merenggangkan otot ototnya yang pegal.


Sedang Thea pun kembali melanjutkan pekerjaanya dengan tanpa berkata lagi.


"Ya udah, gue tidur duluan ya." ucap Galang lagi seraya beranjak dari duduknya.


"Hmhh." Thea berusaha tak peduli, tapi ia heran juga kenapa Galang malah bersikap seperti tak akan ada apa apa diantara mereka.


Saat Galang melangkahkan kakinya menuju tempat tidur, Thea sedikit menaikan kelopak matanya demi melihat suaminya itu.


"Syukurlah, kayanya dia mulai lupa." gumam Thea pelan.


Thea pun kembali melanjutkan pekerjaanya karena melihat Galang sudah menarik selimut ditempat tidur.


Namun tak berapa lama kemudian, Thea mendengar ponselnya berbunyi disebelahnya. Sebuah pangggilan masuk, tapi ia tak mengenal nomor itu. Itu pantas saja, karena Galang sudah menghapus semua nomor di ponselnya.


"Asalamualaikum, ini dengan siapa?" tanya Thea.


"Wa'alaikum salam, apa ini dengan Nona Thea?"


Terdengar sangat tak asing ditelinga Thea kala ia mendengar suara yang bicara ditelpon itu.


Galang!


Mata Thea terbelalak karena mulai emosi, namun ia masih berusaha untuk menahannya.


"Ck, kamu ngapain sih nelpon aku? Kamu kan tinggal bilang aja langsung, kenapa harus nelpon." tanya Thea bernada ketus seraya melihat tajam kearah Galang yang masih tampak berbaring di tempat tidur.


"Yah, itu dia masalahnya gue juga gak ngerti. Ayo kita telponan sampe pagi. Orang yang pacaran kan biasanya gini."


"Apa?"


Thea naik darah, karena didengarnya sekarang orang itu bahkan tertawa meledek di atas tempat tidur. Iapun cepat-cepat menutup panggilan dan beranjak dari duduknya dengan cepat.


"Dasar kurang kerjaan!" ucap Thea seraya membuka selimut yang menutupi Galang.


Lagi lagi ia lihat Galang tertawa meledek, hingga ia mengambil ponsel yang di pegang oleh Galang dengan cepat.


"Eh. Eh, eh, jangan dibanting! Itu hp punya Bibi,"


ucap Galang yang menahan gerak tangan Thea.


Thea melihat sejenak kearah ponsel, ternyata benar ini ponsel milik Bi Esti. Ia pun berdecak dan meletakan ponsel itu diatas meja.


"Pergi tidur di luar sanah!" ucap Thea kemudian agak membentak.


"Ish, galaknya istriku." ucap Galang, ia malah tersenyum meledek kali ini karena melihat kemarahan Thea.


"Pergi gak! Atau aku paksa kamu keluar," ucap Thea lagi seraya menarik bantal yang digunakannya untuk mengancam.


"Ihh, gue kagak mau! Pokonya malem ini dan seterusnya, gue menolak keras tidur di lantai apalagi di luar! Titik!" ucap Galang tak ingin kalah.


BUKKK


BUKKK


BUKKK


Tanpa basa-basi lagi Thea langsung menimpuk Galang dengan bantal yang dipegangnya karena sudah teramat kesal.


"Pergi! Pergi!" bentaknya lagi.


Namun Galang malah semakin tertawa dan mengindari serangannya dengan berlari lari kecil mengitari kamar mereka.


"Gak mau, gak mau, wleee ...," ucap Galang bernada meledek lagi.


Thea semakin naik darah dan lebih gencar lagi mengejar Galang untuk mengusirnya dari kamar.


Berkali kali Galang terkena timpukan bantal Thea, tapi ia malah tertawa seolah menikmati kemarahan Thea padanya.


Semakin gencar Thea memukulinya, semakin cepat ia berlari. Hingga Thea melemparkan bantalnya dengan keras karena ia sudah merasa kelelahan sendiri.


BUKKK!


BRUKK!


Galang sampai jatuh tersungkur kelantai karena tertimpa bantal.


"Ssh, sakit," ringis Galang yang masih tergeletak dilantai dan memegangi kepalanya.


Theapun tersenyum puas melihat Galang sepertinya sudah menyerah. "Syukurin! Siapa suruh kamu bikin aku kesel! Udah sanah pergi!" ucap Thea kemudian.


"The, kepala gue beneran sakit." ucap Galang pelan seraya terus memegangi kepalanya.


"Aku gak percaya, itu pasti cuma akal akalan kamu aja kan? Supaya kamu gak tidur diluar."

__ADS_1


Thea masih berdiri di samping Galang beberapa saat sebelum melihat keganjilan dari tubuh pemuda ringkih itu.


"Lang? Udah cepet pergi sanah." Ia mengusir lagi pemuda itu.


Galang tak menjawab, ia diam tak bergerak.


"Lang?" ucapnya lagi seraya mendekati tubuh ringkih itu.


Wajah Galang tak terlihat karena tertutupi kedua lengan yang memegangi kepalanya. Ia benar-benar tak bergerak hingga membuat Thea mulai penasaran.


"Lang?"


Thea kini mulai berjongkok untuk menggerakan tubuh ringkih itu. Dan saat ia menyingkirkan tangan Galang dari kepalanya, Thea baru bisa melihat keseluruhan wajah pemuda itu.


Mata Thea terbulat sempurna, wajah Galang terlihat semakin pucat saja sekarang.


"Lang, kamu beneran sakit?" tanya Thea yang mulai panik.


"Dasar bodoh, apa gue harus mati dulu baru lo percaya."


Terdengar begitu samar saat Galang menjawab pertanyaan nya, sepertinya Galang tak sedang bergurau lagi.


Iapun langsung meraih satu tangan Galang dan memapahnya menuju tempat tidur.


Setelah Galang berbaring lagi di kasur, Theapun menyelimuti tubuh itu dengan selimut tebal.


Karena setelah ia memeriksa kening Galang, suhunya agak panas terasa di telapak tangannya.


"Kamu tunggu dulu sebentar ya, aku mau ngambil obat sama minum dulu di bawah," ucap Thea.


Galang tak menjawab dan hanya mengangguk pelan untuk mengiyakan perkataan Thea.


Setelah Thea berlari keluar kamar.


Galang berusaha duduk dari tidurnya dan mengeluarkan beberapa obat-obatan dari dalam laci di sebelah tempat tidur.


Ia meminum tiga butir obat itu dengan tanpa minum air sebelum Thea datang kembali dan membawakannya air.


KLEKKK!


Galang agak terperanjat saat mendengar ada seseorang yang membuka pintu kamar. Ia lihat, Thea kini berlari kecil ke arahnya dengan membawa segelas air dan obat di atas nampan.


"Nih, aku udah bawain obat sama air. Ayo diminum sekarang," ucap Thea kemudian.


Galang menlongo menatapi Thea tanpa berkedip.


Beberapa saat kemudian ia melihat ke arah jam dinding.


"1 menit 40 detik!" ucap Galang.


"Hahh?"


"Aishh, kekuatan cinta emang begitu kuat. Padahal dari sini kedapur jauh loh, lari lo cepet juga yah buat gue," ucap Galang lagi dengan tersenyum manis.


Ia lihat, nafas Thea agak terengah engah di hadapannya. Namun tetap saja wanita itu memasang raut wajah kesal sekarang setelah ia bicara begitu.


"Ck! Udah jangan banyak komen! Ayo diminum,"


Galang masih tersenyum saat mengambil air minum itu dan segera meneguknya hingga habis.


"Kenapa cuma minum? Obatnya?" tanya Thea.


Galang meletakan kembali gelas kosong itu ditangan Thea, ia menggelengkan kepalanya pelan sesudah itu berbaring lagi di tempat tidur.


"Gue gak mau, gue udah minum obat dari dokter tadi." ucap Galang.


Thea pun hanya bisa merengut dan merapikan kembali gelas dan obatnya di atas meja.


Setelah itu, ia juga memetakan posisinya di sebelah Galang, menyusun dua bantal guling di tengah-tengah mereka sebagai pembatas.


Kedua mata mereka berdua masih terbuka, seolah larut dalam pikiran masing-masing, mereka terdiam dan berada dalam hening.


"Buat apa?"


"Karena aku udah ngelupain kalau kamu abis kecelakaan."


Galang tersenyum tipis dan menoleh ke arah Thea yang berada disebelahnya.


"Apa lo mau denger satu cerita? Ini kisah nyata," ucap Galang dengan suara pelan.


Thea pun akhirnya menoleh juga, hingga mereka berdua saling menatap satu sama lain.


"Kamu mau curhat?"


"Eumh ... Mungkin."


Thea tersenyum tipis dan membenarkan posisi tidurnya.


"Baiklah, lumayan buat dongeng sebelum tidur." ucap Thea kemudian.


"Ada seorang anak laki-laki, usianya 7tahun dan dia adalah anak yang sangat tampan, pinter dan alim."


Thea terkekeh kecil,


"Kenapa lo ketawa?" tanya Galang.


"Hahh? Enggak, udah lanjutin aja." jawab Thea.


"Ini kisah nyata, jadi apa yang gue omongin itu fakta. Lo malah ketawa. Gue mulai lagi ya,"


Galang membenarkan posisi tidurnya dan menghela nafas sejenak untuk memulai lagi ceritanya.


"Tapi, sebelum itu. Dia gak pernah tau siapa dirinya," sambung Galang.


"Maksud kamu?" Thea terus menatapi Galang disebelahnya.


"Dia hilang ingatan," jawab Galang.


Thea diam dan ia terus memperhatikan Galang yang mulai serius.


"Ingatan dan kehidupannya dimulai, saat dia membuka kedua matanya. Saat pertama kali ia lihat sekeliling, dia sadar itu bukan sebuah kamar biasa. Tapi sebuah ruangan khusus untuk orang sakit. Dengan kata lain, dia ada dirumah sakit,"


Thea masih diam mendengarkan.


"Saat dia bangun, orang yang pertama kali dia lihat adalah seorang lelaki. Tinggi, kurus dan punya kumis tipis. Berhari-hari anak itu ada dirumah sakit setelah ia sadar dari komanya, dan pengacara itu juga selalu datang setiap hari, ngasih perhatian, beliin mainan. Dan ngebuat anak itu ngerasa bahagia sampe bisa ngelupain rasa sakitnya. Hingga anak itu berfikir, kalau polisi itu adalah ayahnya."


"Lalu?"


"Sampe dua hari kemudian, si lelaki ngebawa anak itu kesebuah ruangan dirumah sakit. Tempatnya agak gelap, karena cuma ada satu jendela yang dibuka. Ada banyak alat-alat medis didalemnya dan itu dipakai untuk membantu hidup seseorang yang lagi tidur dikasur di ruangan itu. Anak itu nanya sama si lelaki, 'pah, itu siapa? Kenapa dia tidur disana?"


"Lalu, apa jawaban lelaki itu?" tanya Thea yang mulai masuk kedalam cerita.


"Pertama, lelaki itu jongkok lalu menghadap ke si anak yang lagi duduk dikursi roda. Matanya mengisyaratkan kesedihan sambil ngusap kepala si anak. Sampe akhirnya dia bilang, dia adalah ayah kandungmu."


_________________________


Galang menatap datar seseorang yang tengah terbaring lemah dihadapannya.


"Benarkah? Jadi papah bukan ayah kandungku?" tanya Galang kemudian.


Seseorang yang ia sebut sebagai papah dan memiliki nama yahya adijaya itupun menggelengkan kepalanya pelan.


"Galang, apa itu kamu nak?"


Galang dan pak Yahya menoleh bersamaan saat mereka mendengar suara samar seorang laki-laki paruh baya yang tengah terbaring lemah itu.


"Puguh, lihatlah. Ini anakmu, dia sudah sadar dari komanya. Dan sekarang dia ada dihadapanmu. Bangunlah, bukannya kau bilang ingin bertemu dengannya?" ucap Pak Yahya pada laki-laki itu.

__ADS_1


Laki-laki itupun perlahan membuka kedua matanya dan menoleh perlahan ke arah Galang.


Selang oksigen menghalangi senyum manisnya saat ia melihat Galang, tangan lemahnya ia angkat demi meraih pipi seorang anak yang sudah ia tunggu kedatangan nya.


Galang terdiam mendapat sentuhan hangat dari orang yang baru ia lihat ini.


"Akhirnya Ayah bisa melihat kamu lagi, Nak."


Galang memegang tangan besar itu dipipinya, terasa dingin menusuk telapak tangan. Tapi malah terasa hangat didalam hatinya.


"Ayah ...."


"Iya nak, aku ini adalah Ayah kandungmu. Kau adalah anakku. Galang Harun, itu adalah nama yang kuberikan saat kau masih bayi."


Terdengar begitu pelan.


Galang terdiam, sedang Pak Yahya terlihat mengalihkan pandanganya ke arah lain. Mencoba menahan segala perasaanya dengan pemandangan yang ia lihat.


"Kenapa Ayah ada disini? Apa ayah sakit? Cepatlah sembuh, supaya Ayah bisa menemaniku bermain seperti Papah." ucap Galang dengan polosnya.


Puguh tersenyum manis, namun terlihat setitik air matanya terjatuh saat ia mendengar perkataan Galang.


"Kamu suka bermain sama Papah?" tanya Pak Puguh.


Galang mengangguk pelan seraya tersenyum lebar.


"Iya, Papah sangat baik dan memebelikanku banyak mainan. Aku suka main sama Papah, pasti akan lebih menyenangkan jika Ayah ikut bermain bersama kita."


"Kalau Papah baik terhadap kamu, maka kamu juga harus bersikap baik, maafkan Ayah karena Ayah mungkin takan bisa menemanimu bermain."


"Kenapa? Apa Ayah tak suka bermain denganku? Aku janji gak akan nakal ko, karena aku takut. Jika aku nakal, Papah akan memasukan ku kepenjara."


Pak Yahya dan Pak Puguh terkekeh kecil mendengar perkataan polos Galang.


"Kenapa begitu?" tanya Pak Puguh.


"Bukankah itu tugas seorang pengacara? Aku gak mau jadi anak nakal apalagi jahat,"


Pak puguh tersenyum manis.


"Ayah, kalau Ayah adalah Ayah kandungku. Berarti aku juga punya ibu kandung kan? Apa bisa aku bertemu dengannya? Selama ada disini, kulihat anak-anak lain sangat bahagia bersama ibunya. Aku iri, dan aku bosan berada disini. Jika Ayah sudah sembuh, apa Ayah akan membawaku pulang dan bertemu ibuku? Aku pasti akan jadi anak yang paling bahagia diseluruh dunia. Karena aku punya Ayah sebaik kalian dan ibu yang sudah melahirkanku." ucap Galang lagi dengan panjang lebar.


Pak Puguh terlihat menitikan air matanya lagi dan Pak Yahya pun terlihat sama.


Sekali lagi tangan lemah Pak Puguh terangkat untuk meraih atas rambut Galang.


"Apa kamu mau berjanji satu hal pada Ayah?"


"Apa? Apa setelah aku berjanji, aku akan bertemu ibuku?" tanya Galang.


Pak Puguh tersenyum tipis dan mengangguk pelan. Galangpun juga tersenyum manis padanya.


"Berjanjilah pada Ayah, kamu akan menjadi anak yang shaleh. Turuti semua perkataan Papah mu, karena Ayah percaya kalau Papah mu akan bisa mendidik kamu dengan baik. Ingatlah, jangan tidur terlalu malam, jangan makan makanan isntan setiap saat, hindarilah alkohol dan rokok karena itu akan membuatmu sakit, jaga pandanganmu dari wanita, jika kamu tertarik dengan wanita, pilihlah wanita yang salihah, bagus agamanya dan bisa menutup aurat dengan baik."


Galang tersenyum.


"Ayah, Ayah itu lucu. Bukanya tadi ayah bilang hanya satu? Kenapa sekarang begitu panjang, aku bahkan tak ingat setiap kata-kata Ayah tadi." ucapnya kemudian.


"Tak apa, nanti jika kamu sudah besar. Kamu akan ingat kata-kata Ayah ini. Apa kamu mau berjanji?"


"Baiklah, aku janji. Janji akan nurutin perkataan ayah," jawab Galang cepat dan dengan senyuman manis.


"Anak ayah memang pintar dan baik, Ayah sayang anak Ayah," ucap Pak Puguh seraya mengusap pelan atas rambut Galang.


Galang masih tersenyum.


Namun beberapa saat kemudian, tangan besar yang memegang kepalanya mulai menurun dengan perlahan beriringan dengan senyuman Ayah nya yang kian memudar, matanya pun perlahan tertutup dan tak lama kemudian...


Terdengar suara yang ditimbulkan sebuah alat medis begitu melengking menusuk ditelinga mereka yang mendengar.


"Pah? Ayah kenapa? Apa Ayah tidur lagi?" tanya Galang.


Pak Yahya diam tak menjawab dan langsung memeluk tubuh mungil dihadapannya.


"Apa Ayah akan bangun dan mengantarku menemui ibu?"


Pak Yahya tak menjawab dan semakin memeluknya begitu erat.


"Papah, aku lelah. Aku sangat lelah, kenapa disini semakin gelap dan pengap, tolong bawa aku pergi. Kepalaku semakin sakit Pah,"


Galang melihat lagi ke arah ayahnya, laki-laki yang baru ia temui itu sudah tak bergerak sedikitpun semenjak terakhir bicara padanya.


"Galang!" Pak Yahya sedikit berteriak karena kaget, saat merasakan tubuh mungil itu terkulai dipelukannya.


__________________________


"Semenjak saat itu, si anak ikut sama si lelaki yang udah dianggapnya sebagai Ayah." ucap Galang.


Thea yang sedari tadi mendengarkan cerita Galang pun tak terasa menitikan air matanya.


Galang tak mengatakan siapa anak itu diceritanya, namun ia tau pasti kalau itu cerita tentangnya.


"Lalu, apa anak itu bertemu dengan ibu kandungnya?" tanya Thea.


"Eumh ... Gue gak tau, yang gue tau dia sekarang bahagia punya dua orang tua utuh," jawab Galang.


"Apa dia gak berusaha nyari?"


Galang menggelengkan kepalanya pelan.


Hingga beberapa saat kemudian, Galang mengulurkan satu tangannya kehadapan Thea yang menatapnya sejak tadi.


"Apa ini?" tanya Thea heran.


Galang tersenyum manis.


.


"Kenalan, kita berdua gak pernah kenalan dengan baik-baik kan sebelumnya? Anggap aja, ini sebagai proses awal pendekatan kita." ucap Galang.


Thea terdiam sejenak menatapi tangan Galang yang masih berada dihadapannya.


"Kenalin, nama gue Galang Harun. Apa kita boleh kenalan? Siapa nama lo?" tanya Galang lagi.


Theapun akhirnya membalas tangan Galang dengan satu tangannya yang ia ulurkan. Senyuman mengembang diwajah Galang karena melihatnya juga tersenyum.


"Boleh, namaku adalah Arasella Theana Poland." jawab Thea.


GREPP!


Dengan cepat Galang menarik tangan Thea kearahnya, menyatukan kelima jari mereka dan menyimpan tangan Thea didadanya.


"Ini apa lagi?" tanya Thea bernada ketus seraya berusaha menarik tangannya dari Galang.


Galang malah tersenyum dan melihat ke arah Thea.


"Setelah cerita selesai, gue ngantuk. Pengen tidur, lo pernah bilang, saat lo pegang tangan gue, gue bisa tenang dan bisa tidur nyenyak. Sekarang, gue pengen tidur sambil megang tangan lo, supaya gue bisa tidur nyenyak."


"Ck! Jadi kenalan tadi cuma modus doang?" tanya Thea lagi.


"Bukan modus, tapi ini usaha ... sedikit, hehe." ucap Galang seraya mengeratkan peganganya pada Thea.


"oke, tapi cuma pegangan tangan aja yah, gak lebih." ucap Thea.


"Oke! Malam ini cuma pegangan tangan. Tapi besok-besok lebih dikit boleh kan?"


"Hah?"

__ADS_1


Thea terperanjat, ia berusaha bangun dari tidurnya dan menatap ke arah Galang. Menarik lagi tangannya dari tangan pemuda itu.


Namun begitu sulit meskipun saat ini, si tengil itu sudah memejamkan matanya dan tertidur.


__ADS_2