
Thea masih betah berlama-lama duduk di samping tempat tidur suaminya. Wajah Galang saat terlelap seolah mengajaknya berselancar di kepingan masa lalu mereka yang rumit. Namun, sampai detik ini Thea selalu bersyukur karena Allah telah mempertemukannya dengan Galang. Pemuda petakilan yang selalu membuat tensi darahnya naik dan berakibat sakit kepala.
Andai saja cara mengungkap kata itu sama mudah. Thea pasti bisa dengan lancar mengutarakan bagaimana rasa bahagianya sekarang. Tapi, ternyata tidak semudah itu. Kata yang tersusun rapi dari setiap celah hati yang dikumpulkannya bertebaran di mana-mana. Hingga Thea tidak tahu cara mengumpulkan setiap kata itu kembali.
Hanya gerak tubuh yang mampu mewakilkan segalanya. Tangan Thea terlalu berat melepas pegangan mereka, sebab rasa hangat yang dialirkan Galang terlampau menjadi candu untuknya.
"Hai ...." Thea menarik dua sudut bibirnya naik. Galang perlahan membuka mata dan membalas genggaman tangan mereka. Sudah dua jam penuh pria itu terlelap, meredakan nyeri yang dihasilkan oleh ulahnya sendiri. Jarum infus kembali melekat di tangannya setelah dokter memarahi sikap Galang yang semaunya sendiri.
"Apa sejak tadi kau di sini? Ke mana yang lainnya?" tanya Galang bersuara serak khas bangun tidur. Dia melempar pandangan ke sekeliling, yang tertangkap hanyalah sepi. Kecuali dia dan Thea dalam sana.
"Udah pulang. Tapi Ibu sama Mama ada di luar, kok. Kamu tidurnya nyenyak banget, mereka takut ganggu."
Galang mengangguk kecil. Paham sebagian maksud perkataan Thea. "Apa mereka tidak bertengkar?"
"Seperti yang kamu harapkan. Usaha kamu selama ini udah membuahkan hasil, Lang. Dan seharusnya kita bisa menuai lebih banyak kebahagiaan dari cerita kita selama ini."
Thea tersenyum. Tak satu detik pun pandangannya beralih ke tempat lain. Untuk pertama kali, dia merasa telah dirugikan oleh waktu yang bersikap egois menelan setiap kebersamaannya dengan Galang.
Galang terkekeh pelan. "Sejak kapan kamu jadi serakah, huh?"
"Sejak ... sekarang," jawab Thea sekenanya.
"Dasar manusia. Maunya minta lebih."
"Biarin," kata Thea cepat. "Aku malah mau minta lebih banyak ke kamu."
Galang mengernyit. "Minta apa lagi? Bukan yang aneh-aneh, kan? Ahhh ... apa sebaiknya aku terus-terusan sakit supaya aku yang mendapat perhatian lebih?" keluh Galang dengan senyuman tipis meledek.
"Galang, ih! Ngomongnya gitu, si? Ini nggak aneh lagi tau. Aku janji," ujar Thea.
"Iya. Kamu minta apa?"
"Kenapa gaya bicara kamu terus-terusan formal gitu, sih? Berasa ngomong sama Pangeran akutuh, Lang. Rasanya agak ... sshh." Thea mengusap tengkuknya pelan. Bingung sendiri harus berkata apa. "Agak aneh gitu."
Kernyitan di dahi Galang bertahan cukup lama. Thea tahu, seharusnya dia cukup senang atas perubahan besar Galang. Memperlakukannya sangat baik dan tidak pernah berteriak keras lagi. Tapi, entah kenapa perubahannya menjadi sedikit asing di terima. Tak jarang, Thea malah merindukan ocehan-ocehan absurd lelaki itu padanya.
"Aish. Jadi, siapa yang aneh di sini? Bukannya itu aku, ya?" Thea membatin.
"Terus?" tanya Galang.
"Aku mau Galangku balik lagi. Galang yang cerewet, yang cempreng, yang ngeselin, yang pastinya bikin telingaku sakit setiap hari. Aku tahu ini kedengeran aneh, tapi ... aku sendiri gak tahu kenapa, aku kangen kamu yang dulu."
Galang menghela napas sejenak. Dia pun berusaha bangkit dan duduk, tubuhnya mulai membaik setelah cukup beristirahat tadi. "Tadinya aku pikir, kau suka lelaki lembut."
"Aku suka. Tapi lembut jelas bukan kamu."
Galang mengulurkan satu tangannya pada Thea hingga lamunan wanita itu sedikit buyar.
"Itu apa?" tanya Thea.
"Tangan, Thea. Masa kaki."
Thea tertawa hambar. "Ish. Aku tau itu tangan! Maksudnya itu buat apa?"
"Aku kabulkan permintaan kamu. Tapi dengan dua syarat," kata Galang.
"Syarat?"
"Ya. Tapi tetep gak ada ada lo gue di antara kita. Karena kamu adalah orang paling paling paling paliiiinng spesial. Dan mulai sekarang, panggil aku Mas Ganteng."
Tawa Thea kembali terbit, Galang lagi-lagi menggodanya begini. "Ihh, Mas Ganteng?"
"Kenapa? Tidak mau? Ya, sudah ...."
"Eh, iya iya iya. Galang eh ... emhh Mas GANTENG! Deal." Thea buru-buru meraih telapak tangan Galang cepat. Sebutan agak aneh sebenarnya. Tapi, bukankah itu termasuk keharuaan juga baginya? Dia memang harus menghormati Galang sebagai suami. Termasuk panggilan yang akan disematkan padanya.
"Nah, gitu, dong. Kan enak dengernya. Kamu itu emang seharusnya bersyukur punya suami sebaik dan seganteng ini. Limited edition, dijamin gak bakal nemu lagi di luar sana," ucap Galang penuh kepuasan.
"Dih. Itu pedenya nggak ketinggian? Jatoh nanti nangis kayak anak kecil guling-gulingan di tanah."
Mereka berdua tertawa. Sampai ada seseorang yang membuka pintu, Galang kembali memasang wajah datar melihat rivalnya masuk dengan santai.
"Udah bangun? Gue kira lo bakal tidur kayak putri salju," ucap Yasa.
"Sembarangan aja lo kalo ngomong. Lagian lo tuh ngapain si nongol-nongol mulu di depan gue? Bosen gue ketemu jin mulu tiap hari."
Tangan Yasa spontan memukul pundak Galang. Dia memasang wajah ketusnya walau Galang meringis. "Heh, ni makhluk astral nggak ada terima kasihnya banget! Kalau gak ada gue, lo bisa apa? Seharusnya lo sujud sungkem sama gue yang udah berjasa buat kalian berdua."
Galang membuang napas kasar. Mulutnya menganga sejenak kemudian tertawa terbahak-bahak. "Sujud sungkem? Emangnya lo abah gue pake sujud sungkem segala!"
"Ish. Udah deh. Harus berapa kali sih aku ngingetin kalian supaya gak berantem mulu kalo ketemu?" Thea menyela percakapan mereka yang pasti berujung pertengkaran. "Kamu emangnya udah selesai, Yas?"
"Udah. Mereka juga udah balik, kok," jawab Yasa.
"Apanya yang selesai? Emang siapa yang dateng?" tanya Galang penasaran.
"Polisi, Lang ... ehhhmm, Mas. Mereka tadi dateng ke sini karena minta keterangan lebih lanjut soal masalah kemarin. Dan kabar terbaru hari ini, mereka bilang ... Wingky meninggal di dalam sel tahanan setelah diintrogasi."
Mata Galang sontak membulat besar. "Innalillahi. Meninggal? Kenapa?"
"Katanya dia mengalami kegagalan fungsi jantung. Aku juga gak tau pastinya, tapi sekarang jenzahnya lagi ada di rumah sakit lain," jelas Thea.
Degup jantung Galang seolah tak berdetak normal. Sungguh aneh saat dia merasa miris dengan kehidupan seorang Wingky Manassero. Seorang lelaki yang dulunya baik, ketua OSIS semasa SMA dan memiliki nama besar. Tapi dengan pencapaian yang dimilikinya, dia malah berakhir mengenaskan.
Terbesit rasa iba untuk lelaki itu di hati Galang. Karena bagaimana pun, Wingky tetaplah manusia yang masih bisa menggunakan kesempatan kedua dalam hidupnya. Atau jangan-jangan dia bunuh diri dengan racun itu? Mengingat efek yang ditimbulkan sama persis seperti racun yang akan diberikan padanya malam kemarin.
"Udah, deh. Jangan masang tampang sedih gitu. Seharusnya kalian berdua seneng, 'kan. Udah gak ada lagi orang yang bakal ngeganggu kehidupan kalian kedepannya. Kasus ini otomatis selesai karena kematiannya," kata Yasa yang membuyarkan lamunan Galang dan Thea.
Suasana mendadak hening. Sebab di antara Galang dan Thea masih cukup punya hati nurani untuk menertawai penderitaan orang lain.
"Gue bakal balik ke Makassar ntar sore," kata Yasa lagi.
Galang mencari posisi nyaman di tempatnya. Akan tetapi, ekspresi wajah Yasa membuatnya tak bisa nyaman.
"Gitu amat mukanya. Jadi gak tega mau ngebully lo," ujar Galang. Dia paham yang dirasakan Yasa. Lelaki itu telah berkorban banyak, dan yang paling besar. Adalah melepas cintanya terhadap Thea.
Sungguh sangat normal jika Galang merasa jika Yasa akan menjadi ancaman baginya. Tapi, Galang yakin Yasa tidaklah sama seperti Wingky. Yang memiliki obsesi berkedok cinta.
"Sebelom balik. Lo mau gak gue kenalin sama cewek?" tanya Galang lagi.
"Berhenti julid sama Yasa deh, Mas." Thea sedikit mencubit lengan Galang.
"Siapa yang julid? Beneran, The. Aku mau ngenalin dia sama temen cewek cantik, baik. Hemh. Pokonya cocoklah kalau jodoh sama lo, Jin," ujar Galang lagi. Yasa berdecih mengejek, guarauan semacam itu sangat tidak cocok untuk situasi semenyedihkan sekarang bagi Yasa.
__ADS_1
"Hahhh. Asem ngomong sama lo. Gak guna! Tawaran lo gak mutu buat hati gue. Gue mau pergi nyari anginlah di luar."
"Yakin gak mau?! Cantik tau! Dia ada di sini, gue kenalin kalau lo mau!" teriak Galang saat Yasa mulai melangkah keluar ruangannya.
"Males!"
"Oh ... jadi kamu punya temen cewek? Cantik pake banget kayaknya, ya. Sampe-sampe semanget gitu ngucapinnya," kata Thea sinis. Dia menaikkan lengan bajunya sampai sikut. Seolah bersiap menerkam mangsa.
Galang malah bergidik ngilu. "Aku kan cuma mau ngenalin dia ke Yasa. Biar mereka deket."
"Oh, ya? Yasa apa kamu?"
"Damai!"
Sesampainya di luar. Yasa menutup pintu. Sudah cukup. Dia tidak bisa bertahan lebih lama lagi menghadapi keadaan yang dilihatnya selama berbulan-bulan. Keromantisan Galang dan Thea nyatanya seperti tombak yang di lempar tepat mengenai dadanya.
Yasa memejamkan mata. Sesak dadanya saat dia harus meninggalkan semua kenangan selama 6 tahun bersama Thea. Walau perih, dia harus menghargai kebahagiaan Thea bukanlah berasal dari dirinya.
Brak!
Saat berjalan, tak sengaja Yasa menabrak seseorang. Dia tak fokus. Banyak berkas-berkas berserakan di lantai akibat ulahnya. Yasa masih berdiri sesaat melihat seorang wanita di hadapannya berjongkok demi mengumpulkan kembali lembaran kertas di lantai.
"Sorry. Gak sengaja," ujar Yasa dengan nada malas. Begitu pun gerak tangannya yang lambat membantu mengambil kertas terakhir.
"Gak papa. Lain kali hati-hati, jangan melamun kalau jalan," ujar seorang wanita berambut hitam pekat dan berpipi chubby itu.
Yasa bisa melihat lensa bulat hitam di balik kacamata yang dikenakan oleh dokter wanita itu begitu indah. Bulu mata lentiknya saat berkedip seolah menghetikan waktu.
"Permisi, Mas."
Dokter cantik itu berlalu melewati Yasa begitu saja. Semerbak parfum yang dikenakan olehnya masih melekat walau jarak telah memisahkan mereka. Yasa baru menyadari bahwa ada sebuah benda yang tertinggal di lantai. Dia yakin ini pasti milik sang dokter cantik.
"Nayla Agnesia Karamelia. Nama yang bagus," pujinya seraya menggenggam erat sebuah kartu nama dalam dompet di tangannya. Dia tersenyum, tidak ada niat mengejar arah dokter itu. Percuma, toh dia sudah tahu nama dan nomor teleponnya.
Sekarang, dia hanya tinggal menunggu waktu agar bisa melupakan Thea. Setidaknya, dia bisa tenang karena tidak akan ada lagi yang mengancam kehidupan wanita itu setelah dia berhasil menyingkirkan Wingky dengan racunnya sendiri.
***
Beberapa bulan berikutnya.
Kata orang, kita akan merasa waktu berputar begitu cepat saat kenyamanan berada di puncak teratas dalam melewati hari-hari. Seolah melaju di sepanjang jalan tol dengan tak ada hambatan sedikit pun.
Begitu pun kehidupan Galang dan Thea. Pahit manisnya hidup mereka telah lewati. Perpisahan, tangis dan penantian sekarang berbuah sangat manis dan menyenangkan.
Galang merasa memiliki keluarga paling sempurna di dunia. Tiga orang wanita tangguh beserta dua ayah yang menjadi panutannya. Semenjak kasus itu selesai, Galang memutuskan kembali membawa Thea pulang ke rumah pribadi mereka.
Sesekali mereka menginap di rumah Bu Rini dan Bu Dewi secara bergantian. Supaya tak ada yang merasa tersisihkan. Galang juga tidak terlalu banyak menuntut atas haknya kepada Bu Rini, dia sadar. Kemampuannya belum terlalu mumpuni mengelola perusahaan. Namun, Galang juga tentunya belajar lebih giat untuk itu.
Sekarang saja, Galang harus ekstra menjaga Thea karena kehamilan istrinya sudah menginjak 9 bulan di samping pekerjaan yang menyita banyak waktu dan pikiran.
"Mas, lihat. Menurut kamu bagusan yang mana? Warna merah apa biru?" tanya Thea ketika memilih pakaian bayi.
Sebenarnya, semua perlengkapan bayi telah sempurna di kamar mereka, seperti tempat tidur bayi, ayunan, pakaian, lemari, dan lain sebagainya. Tapi, entah kenapa Thea selalu saja tergiur untuk belanja lebih. Apalagi untuk urusan pakaian bayi.
Dengan berbagai macam model yang unik dan cantik. Thea memilihkan banyak baju warna pink, begitu pun perlengkapan lain yang ada di rumah. Semuanya pink, hello kitty.
"Merah bagus," jawab Galang sekenanya.
"Kalau kamu suka warna biru, kenapa harus tanya, The!"
"Hehehe. Kan cuma butuh pendapat."
Galang mencebik, dia kesal. Sudah dua jam mereka berkeliling mall dan memasuki setiap toko baju. Tapi, semua pakaian di sini malah membuat kepalanya pening dan mau muntah. Dia pusing sendiri jika Thea bertanya soal pilihan warna dan model.
"Hemh. Udah cukup deh kayaknya." Thea memberikan segunduk pakaian bayi pada Galang. Lelaki itu spontan menerima agar tak terjatuh ke lantai. "Cari makan, yuk. Laper, Mas."
Thea pun meraih pakaian terakhir yang ditanyakannya barusan. Dahi Galang mengernyit. "Katanya tadi suka warna biru. Kenapa ngambil warna pink?"
"Berubah pikiran." Thea menggandeng lengan Galang. Begitu erat pegangannya seolah mereka sedang melakukan kencan pertama. Galang juga tak banyak protes tentang sifat Thea yang berubah manja semasa kehamilannya. Dia sudah cukup terbiasa dengan permintaan Thea yang kadang aneh.
"Mas ...."
"Apalagi? Masih ada yang kurang? Belajaan udah seabreg gini. Gimana aku mau bawa?" tanya Galang saat Thea semakin bergelayut manja di bahunya. Gerak-gerik serta cengiran licik Thea begitu menyeramkan sekarang. Dia khawatir wanita itu akan meminta hal aneh lagi.
Belanjaan yang mereka bayar di kasir sudah hampir 10 paper bag. Bukan masalah uang, tapi belanja sungguh bukan hobi Galang. Dia heran sendiri, kenapa para wanita selalu antusias saat belanja? Apa betis mereka tidak jadi bengkak karena terlalu banyak berjalan? Apa mata mereka tidak pegal karena melihat ini dan itu?
"Abis makan, kita ke rumah Ibu, ya. Katanya buah pepaya di belakang rumahnya udah mateng."
Galang menelan saliva mendengar perkataan itu. Firasat buruk baginya. "Aku gak denger."
"Aku mau makan itu. Tau gak sih, selama hamil aku susah buang air besar? Ini sakit banget tau. Kata orang, pepaya bisa memperlancar pencernaan."
"Iya. Tapi kenapa harus di rumah Ibu? Kamu gak nyadar kita lagi di mana? Beli aja di sini."
"Iihhh. Beda buahnya. Metik langsung dari pohon lebih sehat, Mas."
"Terus?"
Thea menyeringai seolah mendapat celah. "Kamu yang metikin, ya."
Innalillahi. Galang terpenganga, rahangnya serasa mengendor ke bawah mendengar permintaan Thea. Secara tidak langsung, Thea memintanya manjat pohon pepaya, gitu?!
Galang mengusap wajah, selagi menunggu antrian. Dia berjongkok di hadapan Thea dan menggunakan kedua lutut sebagai penopang tubuh. Mata Thea menyapu sekeliling, dia malu. Beberapa orang di dekat mereka memperhatikan tingkah Galang yang di luar kewajaran.
"Kamu mau ngapain, sih? Berdiri, Mas. Malu tau diliatin orang," cegah Thea saat Galang berhasil mendaratkan telapak tangan di perut besarnya.
Usapan lembut di perut Thea, membuat si kecil di dalamnya bergerak gelisah seolah merasakan sentuhan sang ayah. Galang tersenyum, dia menyadari itu. Dan dia sungguh senang dan menjadi calon ayah yang paling beruntung karena bisa meraba jelas pergerakan tubuh mungil anaknya di perut Thea.
"Jagoan, Papi. Kamu pasti bisa denger 'kan di dalem?" tanya Galang pada calon buah hatinya seraya mengelus perut Thea. "Nanti kalau kamu lahir. Papi mohon banget, kamu jangan niru Mami kamu, ya. Udah cukup Mami kamu yang bikin papi pusing. Kamu jangan. Kamu 'kan jagoan."
Thea tertawa sumbang. "Dih. Jagoan? Kata siapa? Baby-ku itu pasti cantik kaya maminya."
Galang mendongak. Dia menyunggingkan senyum miring atas keyakinan Thea. Yang sejujurnya, mereka berdua sendiri belum tahu jenis kelamin calon buah hati mereka ini. Karena Galang ingin mendapat kejutan. Maka dari itu, dia melarang Thea bertanya lebih jauh saat USG.
"Mau taruhan? Anakku pasti jagoan. Kalau kamu kalah, 3 bulan setelah dia lahir. Kita harus bikin projek baru supaya dia gak kesepian," kata Galang.
Mata Thea membelalak lebar. "3 bulan?!"
"Penakut."
Thea berdecih, Galang terus meledeknya dengan keyakinan itu. Dan jelas saja dia tidak mau kalah. Dia yakin bayinya perempuan! Apalagi Ibu Dewi dan Bu Rini mendukungnya selama ini.
"Oke! Aku nggak takut."
__ADS_1
Galang tersenyum puas. Sekali lagi dia mengajak bicara calon bayinya dengan penuh semangat dan doa. "Kamu dengar itu, Jagoan? Mami kamu setuju, jadi pas kamu lahir nanti. Kamu bakalan punya ade. Seneng, gak? Kalau kamu seneng, makanya cepet keluar, ya. Papi nggak sabar pengen meluk kamu, Sayang. Semoga kamu lahir dengan selamat dan sehat, ya."
Galang mendaratkan beberapa ciuman kecil di perut Thea, tak luput telapak tangan besarnya mengusap lembut dan bertahan cukup lama di sana, merasakan pergerakan bayinya begitu aktif.
"Mas, udah. Aku maluuu ...."
Kedua kaki Galang telah mengambil alihkinerja lututnya. Dia sedikit kesemutan, tapi tak seberapa jika dibandingkan dengan kebahagiaannya saat ini. Usai pembayaran di kasir selesai, mereka berjalan keluar mall.
"Ahhhh. Mas."
"Ada apa? Perutmu baik-baik saja?" tanya Galang.
Thea di sebelahnya mendadak berhenti. Padahal mereka masih di ambang pintu keluar mall. Istrinya meringis, satu tangannya menahan perut bagian bawah seolah mencegah sesuatu yang mendesak dari sana.
"Sakit banget! Tolong, aku nggak kuat, Mas."
Galang panik. Tubuh Thea merosot dan bersimpuh di lantai. Galang spontan melempar barang belanjaan mereka tak peduli apapun lagi kecuali istrinya.
"Pak! Cepet bawa mobil ke depan pintu keluar. Istri saya mau melahirkan!" Galang memasukkan gawai ke dalam saku setelah menghubungi sopirnya. Satu detik kemudian, dengan sigap dia membopong tubuh Thea keluar mall dengan cepat.
***
Galang tidak berhenti meremas jemari Thea, menguatkan wanita itu agar lebih tenang menghadapi situasi ini. Thea sudah ditangani dokter, jarum infus telah melekat di tangan istrinya. Sekarang, wanita itu sedang diperiksa lebih lanjut mengenai kondisi bayi dan ibunya.
Wajah Thea sudah pucat. Keringat sudah membajiri tubuhnya karena menahan sakit. Pertama kali Galang melihat itu. Dia jadi tidak tega, hatinya terlalu kelu melihat wanita tercintanya kesakitan.
"Kita harus mengambil tindakan operasi, Pak."
Dokter wanita itu berkata. Dia beerusaha bersikap tenang, tapi Galang dan Thea malah sebaliknya. "Op-operasi? Kenapa, Dok? Bulan kemarin kata dokter saya bisa melahirkan normal." Thea kaget.
"Iya, Bu. Tapi, ada beberapa hal yang jadi pertimbangan saat ini." Dokter Sunny memperlihatkan sebuah monitor kepada mereka berdua. "Sederhananya saya jelaskan. Posisi kepala bayi Ibu ini ada di sebelah kanan. Yang seharusnya untuk melahirkan normal, itu posisinya berada di bawah. Hal semacam ini sungguh tidak memungkinkan bisa melahirkan normal, Bu."
"Astagfirullah. Tapi, apa keduanya dalam keadaan sehat, Dok?" tanya Galang. Jantungnya seolah berdegup dua kali lebih cepat, penjelasan dokter tersebut jelas cukup menyentak hatinya.
"Kondisi bayinya sehat. Di sini, beratnya juga sudah cukup, 3,3 kilo gram. Ibunya juga tekanan darahnya normal. Saya harap, ibu jangan tegang, ya. Supaya proses operasinya bisa berjalan lancar dan cepat."
Mereka berdua menerima arahan dengan baik. Hanya doa dan usaha yang bisa mereka lakukan agar Thea bisa melahirkan dengan selamat. Jika memang operasi adalah jalan yang harus ditempuh, Thea yakin dia bisa melakukannya.
***
"Mas Galang ... kamu ikut ke dalem, 'kan? Temenin aku di sana. Aku takut kalau gak ada kamu." Thea menggenggam erat telapak tangan Galang.
Tinggal sebentar lagi proses operasi dimulai setelah dia diminta berpuasa beberapa jam sebelumnya. Orang tua mereka pun telah datang dan setia menemani. Membawa perlengkapan bayi dan doa terbaik tentunya. Maklum saja, ini adalah anak pertama sekaligus cucu pertama. Mereka telah antusias sejak dikabari perihal keadaan Thea.
"Tentu. Kamu jangan takut, aku temenin kamu di dalem, The. Kita semua ada di sini buat kamu."
Galang tersenyum. Dikecupnya pelipis Thea untuk meyakinkan wanita itu. Bahwa dia begitu bersyukur telah diberikan istri yang kuat dan hebat sepertinya.
"Iya, Nak. Jangan khawatir. Doa kami menyertai kalian, semoga kalian berdua dalam keadaan sehat, ya."
Usapan lembut dirasakan Thea di rambutnya oleh Bu Rini, tanpa terkecuali Bu Dewi yang juga memberikan doanya. Sampai beberapa orang masuk ruangan. Tibalah saatnya untuk Thea melakukan operasinya.
"Sudah siap? Usahakan tetap tenang ya, Bu."
Thea mengangguk pelan. Walau di hati kecilnya tetap saja tercetak rasa takut dan gelisah. Tapi semuanya tak terlalu terasa karena dukungan dari keluarganya, terlebih dari Galang.
Mereka semua mengantar Thea menuju ruang operasi. Bu Rini dan Bu Dewi sabar menanti saat pintu ruangan ditutup dan menyisakan keheningan di ruang tunggu. Para suami mereka belum datang, Pak Yahya sedang ada urusan di luar kota. Begitu pun suami Bu Dewi yang masih berada di Semarang.
Beberapa waktu kemudian. Pintu ruangan dibuka, para ibu yang berada di sana sontak berdiri dengan wajah pucat. Harap-harap cemas kepada perawat yang keluar masuk entah sedang apa dari sana. Sampai ada tanda kemunculan Galang di ambang pintu. Mereka melangkah cepat menghampiri gerak Galang yang dirasa lambat.
"A-ada apa? Operasinya berjalan lancar, 'kan?" tanya Bu Rini penasaran. Dia khawatir saat melihat raut wajah Galang begitu murung di depannya. Begitu pun mulutnya yang tertutup rapat seolah tak ada gairah samasekali.
Galang hanya mengangguk pelan.
"Lalu di mana Thea? Dan anaknya? Mereka berdua sehat, 'kan?" tanya Bu Dewi.
Mereka berdua gemas sendiri melihat kebisuan Galang. Pria itu hanya menenggelamkan wajah di balik telapak tangannya seolah menahan sesuatu. Kedua matanya memerah seperti telah menangis di dalam sana.
Jika saja diperbolehkan. Mereka ingin sekali merangsek masuk ke dalam sana. Tapi tampaknya para dokter di sana belum sepenuhnya selesai.
"Lang. Bilang sama mama. Apa yang terjadi? Kenapa kamu diam? Menantu sama cucu mama baik-baik aja, 'kan?"
"Ini buruk banget, Ma. Aku gak bisa jujur ke kalian karena aku khawatir Mama sama Ibu syok denger kabar ini," ucap Galang begitu pelan kepada dua ibunya.
"Ma-maksudnya apa? Tolong jujur saja, Nak. Apa yang terjadi sebenarnya?" Detik waktu berlalu, dua ibunya menunggu jawaban dari Galang.
"Karena ... anakku lahir begitu tampan sama sepertiku!"
"A-apa?"
Belum sempat tercerna penuh ucapan itu, Galang sudah melonjak girang dan memeluk Bu Rini dan Bu dewi secara bergantian. Wajahnya yang tadi murung berganti binar secerah matahari. Tapi, kabar itu nyatanya justru membalikkan keadaan.
"Alhamdulillah. Akhirnya doaku terkabul ya, Allah. Aku punya jagoan yang bakal nemenin maen bola! Yuhuuuuu!"
Galang tidak berhenti mengucap syukur, berteriak puas akan anugerah terindah yang baru diterimanya. Sekarang, dia telah sah menjadi seorang ayah dari bayi laki-laki di dalam sana.
***
"Ibuuuu. Masa Mas Galang dari tadi ngeledek aku terus! Liat mukanya kayak gitu terus kalo nengok." Bibir Thea mengerucut. Dia kesal dengan tingkah Galang, suaminya itu seakan bahagia di atas kekalahannya dalam menebak.
Thea yang belum bisa berbuat apa-apa, hanya terbaring dan geram sendiri di tempat tidur. Sedangkan Galang di sebelahnya betah dengan anggota baru keluarga mereka. Tubuh tegapnya mengayun mengiringi irama gerakan pelan gendongannya pada si kecil.
Dia sangat puas. Wajah dan rambut bayinya begitu persis menyerupai dirinya tanpa terlewat sedikit pun. Cetakan yang sempurna dipadu dengan rambut tebalnya yang hitam.
Hanya saja. Galang sedikit kecewa tambah lucu sebenarnya. Karena dari atas sampai bawah, pakaian bayi mungilnya berwarna pink. Kain bedong, baju sampai ciputnya warna pink. Hingga sang jagoan itu tampak lucu dan cantik.
"Dih. Bohong, Bu. Dianya aja yang lagi sensi," ujar Galang seraya menatap buah hatinya kembali. "Liat. Mami kamu udah kalah, tapi gak mau ngaku. Mami kamu takut ditagih janjinya, tuh."
Galang berucap kepada jagoan kecilnya yang bahkan belum diberi nama. Jagoan miliknya cukup anteng dan sesekali menangis hanya saat tidurnya terganggu oleh suara para orang dewasa yang ribut.
"Aku nggak takut. Aku cuma kesel liat muka kamu. Ngeledeknya niat banget," ujar Thea. Dia tidak menyesal sebenarnya dianugerahi bayi laki-laki. Karena lelaki atau perempuan, mereka akan tetap menjadi anaknya.
"Oh, ya. Apa kalian sudah punya nama untuknya?" tanya Bu Rini kepada Galang sekaligus mwnghentikan pertengkaran mereka berdua.
"Udah, Ma."
"Benarkah? Apa nama belakangnya sama seperti almarhum ayahmu?"
Galang menangguk pelan. "Tentu saja. Kita sudah sepakat mengenai ini. Kalau bayinya laki-laki, nama belakangnya kuambil dari nama ayah. Kalau perempuan, mereka akan menggunakan nama belakang almarhum mertuaku," jawab Galang. Sekilas pandangannya bertemu mata Thea. Wanita itu tersenyum sarat akan bahagia.
"Iya. Bayi itu akan kami beri nama ... Jonatha Adnan Harun."
Galang melangkah pasti ke arah tempat tidur Thea. Perlahan tubuh mungil Jonatha berpindah tangan ke pangkuan ibunya. Pandangan Thea mengabur oleh jejak-jejak bulir air mata yang telah menumpuk. Tak mampu dia tahan lagi kebahagiaan itu lebih lama. Terhirup wewangian khas bayi melekat saat bibir Thea menyentuh kening putranya. Begitu pun dia yang juga menerima kecupan di pelipisnya oleh galang.
__ADS_1