Jodoh Yang Tidak Diinginkan

Jodoh Yang Tidak Diinginkan
JYTD 18


__ADS_3

Satu hari lagi sebelum mereka berangkat ke villa. Pagi-pagi sekali Thea terbangun, ia benar-benar bosan dengan keadaan seperti ini. Tak melakukan apa-apa dan hanya diam di kamar itu seperti bukan dirinya. Selama ia sakit, semua pekerjaanya diambil alih oleh Galang. Bahkan sepertinya Galang tidak akan mengijinkannya turun dari tempat tidur seharian karena saking perhatiannya.


Pukul setengah empat pagi ia sudah turun dari kamar, hari ini rencananya ia akan membantu pekerjaan Bi Esti sampai pagi dan setelah itu ia akan pergi kekampus. Tugas-tugasnya sudah bertumpuk-tumpuk hingga ia sendiri bingung harus menyelesaikan yang mana dulu, tokonya pun belum ia kontrol.


Ia pun berjalan menuju dapur, tak ada siapa-siapa.


Sepertinya Bi Esti tengah melakukan pekerjaan lain. Ia lihat masih ada tumpukan piring yang belum dicuci dan ia berinisiatif akan mencucinya sekarang juga.


Saat Thea mencuci piring, pikirannya jauh melayang ke masa lalu. Saat ia bersama Ayah dan Ibu, dulu ia begitu bahagia, memiliki keluarga lengkap dengan sosok seorang Ayah yang begitu sabar dan sosok seorang Ibu yang selalu menjaga.


Masa kecilnya begitu indah, hingga banyak bayangan yang melintasi pikirannya saat ini.


PRANKK!


Tanpa sengaja ia menjatuhkan sebuah piring hingga hancur berantakan diatas lantai.


Suaranya terdengar sangat nyaring karena rumah dan sekelilingnya masih sepi.


"Astagfirullahal adzim." Thea kaget bukan main.


"Ada apa ini?" tanya seseorang dari belakang Thea.


Thea yang ingin mengambil pecahan piring itupun terhenti, karena melihat Ibu Rini yang sedang berdiri di belakangnya dengan tatapan datar.


"M-maaf, Ma. Aku gak sengaja," jawab Thea pelan karena takut Bu Rini akan marah.


"Dasar tak berguna, kau sama saja dengan anak itu. Rapikan kembali, jangan sampai ada yang tersisa. Jika sampai ada yang menginjaknya apalagi mengenai kaki saya. Saya akan langsung mengusir kamu dari rumah ini," ucap Bu Rini bernada datar seraya meletakan gelas yang selesai ia gunakan untuk minum tadi.


"I-iya, aku mengerti," jawab Thea seraya menunduk tak berani menatap mata Bu Rini.


Dan setelah Bu Rini pergi meninggalkannya, Ia pun langsung berjongkok untuk membersihkan pecahan itu.


Matanya mulai berkaca-kaca, karena ia merasa sangat ceroboh. Bagaimana bisa ia memecahkan piring seperti ini? Yang pada ujungnya ia terlihat buruk di depan mertuanya.


Tapi ucapan Bu Rini tadi masih terdengar pelan, tak seperti jika sedang memarahi Galang.


"Jangan, biar gue aja," ucap seseorang yang datang dan menahan gerak tangannya yang akan meraih pecahan beling.


"Enggak, Lang. Aku bisa sendiri, ini biar aku aja yang beresin," ucapnya kemudian seraya menghalangi tangan Galang.


"The, udah biar gue aja. Lo mendingan ke kamar lagi, istirahat. Tar azan subuh gue bangunin lagi."


"Galang! Udah aku bilang biar aku aja! Kenapa sih kamu selalu aja ngelarang apapun yang mau aku lakuin!" bentak Thea dengan sangat keras dan menyingkirkan tangan Galang.


Napasnya tersengal karena emosi, ia menatap tajam ke arah Galang dengan penuh amarah. Benci, kenapa pemuda itu terus saja ingin membantunya.


Tapi bukannya marah, Galang malah tersenyum. "Kalo lo udah sehat, lo boleh lakuin apa yang lo mau," ucap Galang pelan seraya mengusap pelan air mata Thea yang mulai mengalir dipipinya.


Thea terdiam.


Melihat bagaimana Galang memperlakukannya begitu manis seperti ini. Sedangkan Galang pun sekarang sudah dengan cepat membersihkan lantai sebersih mungkin dan tak menyisakan noda atau apapun.


"Ayo, kita ke dalem lagi," ucap Galang pelan seraya membantu Thea untuk berdiri dan mengantarnya lagi masuk ke dalam kamar.


Setelah mereka berdua sampai di dalam kamar, Galang membenarkan posisi bantal untuk Thea dan setelah itu menyelimuti lagi istrinya itu dengan selimut hangat.


"Maaf," ucap Thea sangat pelan ketika Galang masih duduk di sampingnya dan membenarkan selimut yang ia pakai.


"Buat apa?"


"Maaf karena aku selalu ngerepotin kamu, aku selalu aja nyusahin kamu setiap waktu. Maafin aku, Lang."


"Gue sama sekali gak ngerasa direpotin ko. Justru, yang harusnya minta maaf itu gue."


"Minta maaf karena apa?" tanya Thea di dengan sedikit mengernyitkan kening. Karena heran mengapa ekspresi Galang sejak tadi terlihat begitu murung meskipun ia tersenyum.


"Maaf karena mama udah bicara kasar sama lo tadi, gara-gara gue, lo selalu kena marah. Apa lebih baik, kita pindah aja dari sini."


"Jangan!" ucap Thea cepat. "Jangan, kita gak perlu pindah. Aku gak papa ko," tambahnya lagi.


Galang diam.


Dan Thea pun mengerti, setelah apa yang ia dengar tempo hari. Ia masih dengan tekadnya yang sama. Yaitu akan terus menemani Galang untuk mendapatkan pengakuan dari Bu Rini sampai akhir. Meskipun Galang tak pernah tau niatnya ini. Tapi ia akan tetap melakukannya.


"Kenapa kamu gak bilang aja yang sebenernya?" ucap Thea lagi.


"Yang mana?"


"Kalau kamu juga lagi sedih, aku tau kamu bahkan lebih sedih dari aku."


Galang terkekeh kecil. "So tau, darimana lo tau gue lagi sedih?"


"Aku tau, karena itu adalah kamu."


Galang terdiam lagi.


"Kehilangan ayah dan ibu, adalah hal yang paling menyakitkan dan pastinya akan ngebuat aku ngerasain kesedihan dalam waktu yang cukup lama. Tapi kamu, kamu pasti ngerasain kesedihan itu dengan tanpa tau kapan itu akan berakhir," ucap Thea.

__ADS_1


Ia memang akan merasakan kesedihan yang mendalam atas kepergian ibunya sekarang, tapi itu perlahan pasti akan berkurang seiring dengan berjalannya waktu.


Tapi Galang.


Kesedihannya akan terus mengikutinya sampai kapanpun, karena meskipun ia memiliki orang tua, tapi ia dianggap asing oleh orang tuanya sendiri. Pak Yahya memang begitu baik, tapi itu sangat berbanding terbalik dengan apa yang di lakukan Bu Rini.


Memang tak mudah menjadi seorang anak adopsi, apalagi selama ini Galang juga sudah kehilangan ayah kandungnya sejak kecil, dan sampai saat ini pun mungkin juga Galang tak pernah bertemu dengan ibu kandungnya.


Itu pasti sangat menyakitkan, karena ia tak pernah mengenal atau bahkan merasakan kehangatan keluarga utuh.


"Gue beneran gak ngerti maksud lo, The."


"Kamu gak perlu ngerti, yang jelas. Mulai saat ini, kita akan selalu berbagi kesenangan dan kesedihan, dalam keadaan apapun. Kamu jangan menangis sendiri, katakan saja padaku jika kamu emang lagi sedih. Aku ada, aku ada di dekatmu," ucap Thea lagi.


Galang hanya tersenyum tipis.


******


Keesokan harinya.


Galang dan Thea sudah terbangun pagi-pagi sekali seperti biasanya, melakukan rutinitas mereka seperti biasanya juga. Apalagi, hari ini mereka akan berangkat ke villa bersama Aida dan yang lainnya.


Sebenarnya, Galang agak malas pergi ke villa itu, karena satu alasan yang sudah pasti.


Tapi karena ia ingin melihat Thea bahagia, akhirnya ia mengiyakan apapun yang terbaik untuknya.


***


"The, apa kamu udah siap?" tanya Aida yang sudah datang ke rumah untuk menjemput mereka.


Thea tersenyum tipis dan mengangguk pelan, tapi ia belum melihat Galang keluar rumah padahal semua barang bawaan mereka sudah dimasukkan ke dalam bagasi.


"Ck, ini Galang ke mana sih? Udah siang tau, tar kalo makin siang kan panas di jalan," gerutu Aida yang sudah tak sabar ingin berangkat.


Pangeran sudah menunggu di mobil, sedangkan Wingky juga sudah berangkat dari rumahnya sendiri. Karena ia mengatakan akan menjemput seseorang terlebih dahulu.


Tapi tak lama kemudian, akhirnya yang mereka tunggu datang juga. Galang terlihat berlari kecil ke arah mereka dengan membawa sebuah termos kecil di tangannya.


"Ck, abis ngapain aja sih? Lama banget," tanya Aida sedikit marah.


"Nih, gue abis ngambil persediaan aer panas buat di jalan," jawab Galang.


"Oh, ya udah ayo berangkat. Jadi kesiangan kan kita, ini semua gara-gara kamu."


"Emh, perasaan gue mulu yang disalahin," gerutu Galang seraya membuka pintu mobil dan membiarkan Thea masuk lebih dulu.


***


"Katanya dia ingin mengajak seseorang lagi, sekarang dia sedang menjemputnya dan dia akan langsung berangkat dari sana," jawab Pangeran yang kini sedang menyetir.


"Cewe?" tanya Galang lagi.


"Ih, kepo! Apa urusannya sama kamu cewe apa cowo?" ucap Aida ketus.


"Ada lah, sukur-sukur cewe, jadi dia gak terus-terusan deketin Thea mulu," jawab Galang tak ingin kalah.


Thea sedikit menyikut Galang dan melihatnya dengan tatapan marah.


"Ck, kau terus saja berpikiran buruk padanya. Apa kau percaya kalau Wingky benar akan merusak hubungan kalian? Jika dia ingin melakukannya, dia pasti sudah melakukanya sejak dulu," ucap Pangeran.


Aida malah terkekeh kecil didepan.


"Iya Ran, kayanya dia takut. Karena pada kenyataanya cinta Wingky buat Thea itu lebih besar dari cintanya. Hhhh! Jadi, dia khawatir kalau Thea akan kembali lagi sama Wingky," celetuk Aida.


Thea menoleh.


Ia yang sedari tadi diam pun kini melihat ke arah Galang yang terus berdebat dengan Aida.


Ia tahu, cinta Wingky memang lebih besar.


Dan apakah yang dikatakan Aida tadi benar? Apa Galang begitu ketakutan kalau ia akan kembali pada Wingky.


Tapi kalau memang seperti itu, kenapa Galang malah mengijinkannya pergi ke villa, padahal ia tau kalau itu adalah villa milik Wingky. Mereka pun akan berada dalam satu rumah dalam 2 hari kedepan.


Apa Galang tak akan merasa cemburu? Thea terus bertanya-tanya pada dirinya sendiri sambil terus menatapi Galang.


***


Waktu terus berlalu, perjalanan yang cukup jauh itupun kini terbayarkan dengan sampainya mereka semua di tempat tujuan.


Sebuah rumah, begitu besar dengan dikelilingi pepohonan dan banyak sekali bunga. Tampak asri dan menebarkan udara sejuk.


Mereka pun turun dari mobil, Aida bahkan sudah sangat heboh setelah keluar. Ia tak perduli dengan barang bawaanya karena ada Pangeran yang sudah mengurusinya.


Galang menggelengkan kepalanya, ia merasa aneh. Karena Pangeran terlihat seperti supir bukannya seorang kekasih.


"Dasar cinta," gumamnya kemudian pada diri sendiri.

__ADS_1


"Ayo The, kita masuk. Wingky pasti udah nungguin di dalem," ucap Aida seraya mengaitkan lengannya di lengan Thea.


"Eh, jalannya jangan cepet-cepet. Tar dia kecapean," ucap Galang menyerobot.


"IYA BAWEL! IKH!" Aida menandaskan perkataanya.


Thea tersenyum manis, karena melihat raut wajah Galang yang merengut disebelahnya. Tapi Ia pun langsung mengikuti langkah kaki Aida yang mengajaknya masuk ke dalam.


Aida pun memencet tombol bel rumah ini.


Hingga beberapa saat kemudian ada juga yang membukakan pintu untuk mereka.


"Pasti teman-temannya Den Wingky, ya?" tanya seseorang pada mereka.


"Iya, Mang. Wingky-nya ada?" tanya Pangeran balik.


"Ada, silahkan masuk." Laki-laki paruh baya itupun mengajak mereka semua masuk ke dalam.


Saat Galang melangkah masuk, ia sudah makin merengut. Apalagi melihat Wingky yang kini sudah menunggu mereka diruang tamu.


"Lama sekali," ucap Wingky seraya berdiri menyambut kedatangan mereka.


"Biasalah, jalanan macet. Apalagi, aku juga membawa orang sakit. Sejak tadi, Galang terus memarahiku jika aku menambah kecepatan," ucap Pangeran.


Wingky sedikit tersenyum.


Galang mengalihkan pandanganya ke arah lain dan bersikap cuek. Bahkan sekarang mereka masih berdiri dan masih dengan ucapan basa-basi.


"Oh ya, kamu ke sini sama siapa? Katanya kamu bareng sama seseorang?" tanya Aida.


"Aku bersama teman, dan kalian pasti sudah mengenalnya," jawab Wingky.


"Temen? Siapa?"


Dan beberapa saat kemudian, berdirilah seorang wanita berambut hitam panjang dari sofa yang berada di hadapan mereka. Karena terhalangi oleh tubuh Wingky mereka pikir tak ada yang duduk di sofa itu.


Wingky pun sedikit menggeserkan posisinya.


Galang Thea Aida Pangeran pun menoleh bersamaan.


Dan terlihatlah kini seseorang yang sangat mereka kenal.


Mata Galang dan Thea membulat tak percaya, apalagi Galang yang begitu mengenal senyuman manis wanita itu. Senyuman yang seperti MEDUSA itu pun terlihat lagi setelah sekian lama ia tak melihatnya sejak terakhir kali.


"Hai, lama yah kita gak ketemu," ucap Nayla sangat manis kepada mereka yang datang.


Thea menoleh ke arah Galang.


Kedatangan Nayla ini, sejak kapan Wingky mengenalnya? Dan Galang? Kenapa dia begitu fokus menatap Nayla? Ia bahkan tak berkedip sedikitpun menatapi gadis itu.


Apa itu artinya, perasaan Galang masih ada yang tersisa untuk Nayla?


Dan kenapa sekarang ia jadi begitu khawatir dengan keadaan ini?


Akhirnya ...


Ketakutan itu datang lagi menghampiri perasaan Thea.


"Nayla? Jadi? Sejak kapan kalian saling kenal?" sambar Aida yang langsung mengajaknya bicara setelah Wingky mempersilahkan mereka duduk. Barang bawaan merekapun sudah dibawa ke dalam kamar masing-masing oleh pembantu di villa ini.


"Udah lama, tapi emang baru-baru ini aku bisa ketemu sama dia dan kalian semua bersamaan kaya gini. Kudengar, Thea sedang sakit. Makanya aku mau menerima undangan Wingky, karena Thea adalah istri dari sahabatku, Galang," ucap Nayla.


Thea terdiam, Galang juga ikut terdiam. Sekarang entah apa yang ada di pikiran mereka berdua. Yang pasti pertemuan ini sangatlah tak membuatnya nyaman.


"Hahh? Galang sahabat kamu? Ko aku gak tau sih?" tanya Aida lagi.


Nayla tersenyum. Ia pun melihat ke arah Galang yang kini tak menatapnya sama sekali.


"Iya, dia adalah teman terdekatku. Aku sudah mengenalnya selama hampir empat taun. Dan sekarang, aku bahagia bisa bertemu dengannya lagi. Apalagi bisa bertemu dengan kalian, kuharap. Kehadiranku tidak mengganggu," ucap Nayla seraya terus menatapi Galang.


"Ya jelas enggak dong, kita malah seneng. Jadi kita makin banyak temen, iya kan?" tanya Aida pada yang lain.


Tak ada yang menjawab.


Thea dan Galang masih dalam kediaman mereka masing-masing.


Wingky tersenyum.


"Ky, apa boleh aku ke kamar duluan? Aku lelah," ucap Thea mengalihkan pembicaraan mereka.


"Oh, boleh. Bi Irah akan nunjukin kamar kamu," jawab Wingky.


Thea mengangguk pelan seraya beranjak dari duduknya, Galang juga ikut berdiri dan membantunya kekamar yang sudah disediakan.


"Hhhh, makin lama, mereka berdua kaya amplop sama perangko," ucap Aida setelah Galang dan Thea pergi.


"Ai, wajar saja. Mereka, kan, suami istri, kalau kamu ingin seperti mereka, menikahlah denganku," celetuk Pangeran.

__ADS_1


"Ish, harus apa ngomong gitu di depan Nayla sama Wingky? Malu tau," ucap Aida dengan sedikit mencubit lengan Pangeran. Wajahnya langsung memerah seketika karena tersipu malu.


Pangeran dan Wingky terkekeh kecil, sedangkan Nayla masih menatapi kepergian Galang dan Thea yang masuk ke dalam kamar.


__ADS_2