Jodoh Yang Tidak Diinginkan

Jodoh Yang Tidak Diinginkan
JYTD 30


__ADS_3

Setelah keluar dari rumah sakit. Galang dan Thea masih ikut bersama Pak Yahya dan Bu Rini. Untung saja tak terjadi satu hal buruk setelah insiden tadi, sehingga Galang tak perlu dirawat di rumah sakit.


Namun, Thea melihat Galang semakin melamun di sebelahnya. Ia seolah memikirkan sesuatu yang cukup mengganggu sampai tak mengindahkan keberadaannya sejak tadi.


"Kata dokter, kamu harus banyak istirahat, Lang," kata Bu Rini yang berada di jok depan. "Thea, mama titip Galang, ya. Pastikan ia istirahat cukup. Kalau ada apa-apa jangan sungkan kabari mama."


Thea sejenak menengok ke arah suaminya, Galang masih diam dan hanya menatap ke arah luar kaca mobil. "Iya, Ma."


"Kenapa kau tidak mengajakku ke rumahmu?"


Uhukkk!


Thea mendadak tersedak mendengar pertanyaan Galang. Lelaki itu terusik sedikit dan memeluk jaketnya, ia menatap ke arah Bu Rini.


"Seriusan?" tanya Thea.


"Ibu pasti marah kalau aku pulang dalam keadaan sakit. Sekarang, aku cuma butuh tumpangan untuk tidur semalam," kata Galang lagi.


"Ka-kamu mau ke rumah mama? Sungguh?!" tanya Bu Rini tak percaya.


"Kalau kau tidak keberatan."


"Alhamdulillah. Tentu saja tidak, Nak. Justru mama seneng kamu mau ke rumah."


Bu Rini begitu antusias walau ekspresi Galang sangat datar padanya. Senyum yang tak kalah mengembang pun di tunjukkan Thea dan Pak Yahya. Mereka tak menyangka Galang bersedia datang ke rumah lamanya tanpa diminta.


***


Galang dan Thea mulai turun dari mobil setelah perjalanan jauh mereka. Saat pertama kali menginjakkan kaki di tanah, Thea melempar pandangan ke berbagai penjuru.


Rumah yang dulu ia tinggali ini tak banyak berubah. Bahkan mungkin tak ada yang berubah. Kecuali dinding bercat putih yang masih tampak baru.


Thea membantu menuntun Galang menuju pintu utama, lelaki itu tak menunjukkan reaksi berlebih. Pak Yahya tak ikut pulang bersama karena ia mendadak ada urusan pekerjaan.


"Selamat datang kembali di rumah, Nak. Mama akan tunjukkan kamar yang dulu pernah kamu tempati bersama Thea. Ayo ...," ajak Bu Rini.


Mereka pun masuk rumah. Dari kejauhan, tampak lelaki paruh baya yang datang menghampiri dengan berlari kecil. Dengan sedikit kernyitan di kening, Thea masih bisa mengenali lelaki itu walau warna rambutnya sebagian berubah putih.


"Alhamdulillah. Den Galang dan Non Thea akhirnya pulang juga, perasaan saya, sudah lama sekali tidak ketemu," kata lelaki tersebut seraya tersenyum lebar kepada mereka.


Ia adalah Mang Saswi, sopir yang sejak dulu bekerja untuk Pak Yahya dan Bu Rini. Seseorang yang selalu ada bersama Bu Dewi jika Galang merayakan acara kecil-kecilan di rumah setelah kelulusan setiap tahunnya.


Galang mengernyit. "Siapa dia?"


"Dia Mang Saswi, Lang. Sopir keluarga kita dari dulu. Kamu pasti belum mengingatnya," jawab Bu Rini. "Mang, apa kamar mereka sudah dibereskan sama Bi Susi?"


"Sudah, Nyonya."


"Bagus. Sekarang, saya minta tolong kamu pergi ke tempat suami saya. Nanti saya sms alamatnya." Perintah dari Bu Rini langsung dilaksanakan oleh Mang Saswi.


Mereka bertiga pun berjalan menuju lantai dua rumah. Saat menapakkan kaki, Galang mendadak mendapatkan siluet dari ingatan masa lalu. Ketika ia berada di tempat ini.


Satu langkah.


Dua langkah.


***


"Lo abis minum bensin, ya? Minyak jelantah? Atau autan?"


"Hah?"


BUK!


Tiba-tiba saja seorang wanita menendang tulang kakinya hingga pemuda itu meringis kesakitan.


"Nah, ini nih baru elo! Buset dah, sakit!"


"Kamu tuh emang gak pernah peka sama perhatian orang yah! Malah ngira aku mabok. Aku kan cuma nanya, emang salah?" Wanita itu marah lagi.


"Ya abisnya lo bikin gue merinding tau gak! Pake senyum-senyum kaya gitu, ih."


"Ooooo, jadi kamu mau aku yang asli? Hmhh?"


***


Di langkah ke tiga, Galang berhenti. Ia berpegang erat pada pembatas anak tangga. Sebab setiap kali ingatan itu datang, ia pasti tak bisa mengontrol tubuh.


"Kamu gak apa-apa? Masih kuat jalan?" tanya Thea khawatir. Wajah suaminya semakin pucat saja di sampingnya.


Galang mengangguk. "Cuma sedikit pusing. Aku mau cepat sampai dan tidur."


Mereka pun menunjukkan kamar yang pernah ditempati, ternyata kamar itu juga tak banyak berubah. Barang-barang dan perabotan tak berpindah tempat. Masih sama seperti dulu.


Galang duduk di tepian kasur dan melihat sebuah figura yang menunjukkan foto dirinya sewaktu kecil sampai mengenakan seragam sekolah SMA, ada juga foto ukuran besar tertempel di dinding, saat ia bersama Thea memakai baju pengantin.


"Kalian istirahat yang tenang. Mama tinggal dulu, ya."


Thea mengangguk, Bu Rini meninggalkan mereka berdua dalam kamar. Sesudah itu, Thea berjalan menuju lemari besar tak jauh dari tempatnya berada. Ia sedikit terkejut, semua baju mereka masih ada dan tampak utuh dan wangi.


"Ternyata papa sama mama gak membuang barang-barang kita." Thea bergumam dalam hati. Ditutupnya kembali pintu lemari itu dan berjalan ke arah Galang dengan membawa handuk.


"Kenapa kamu belom tidur? Katanya tadi pusing, pengen cepet tidur."


Thea melihat Galang masih membuka mata walau sudah berbaring di kasurnya.


"Kamu mau ke mana?" tanya Galang balik.


"Aku gerah, mau mandi. Kenapa?"


"Ck! Ya, sudah. Terserah kamu."


Thea mengernyit, lelaki itu malah membelakanginya dan tampak kesal. "Lah ... dia marah? Emangnya aku salah apa?"


Galang berdecih saat Thea tak menggubrisnya dan melanjutkan langkah ke kamar mandi.


"Dasar wanita kurang peka." Galang mencoba menutup mata, menghirup aroma bunga rose dari selimut yang ia pakai sehingga membuatnya sedikit nyaman.


Sampai detik ini, ia belum berkata jujur kepada Bu Dewi kalau akan menginap di rumah ini. Ia hanya mengatakan akan pergi jalan-jalan bersama Thea untuk beberapa hari. Untung saja Bu Dewi percaya dan menganggap itu adalah honeymoon kedua bagi mereka.


***


"Enak ya kamu, tidur sambil meluk-meluk aku. Dasar otak mesum!" ucap seorang wanita sedikit berteriak seraya melempar bantal guling kearah Galang.


"Emh?"

__ADS_1


Galang agak heran dengan perkataan wanita itu barusan, ia yang masih setengah sadar itu berkali-kali mencoba memgusap kedua mata dengan tangan untuk menyadarkan dirinya sendiri.


Dan setelah kesadarannya cukup ia baru menyadari kalau Thealah yang membuatnya jatuh terguling ke lantai, karena ia lihat kini Thea sedang menatapnya kesal.


"Wah! Ternyata elo yang bikin gue jatoh?! Eh, siapa juga yang meluk-meluk elo? Ih gak sudi gue. Gangguin tidur gue aja lo," ucap Galang agak kesal seraya beranjak dari lantai dan hendak tidur lagi di atas kasur.


BHUAK!


Tiba-tiba saja Thea melemparkan lagi sebuah bantal kearahnya dengan kesal.


"Jangan coba-coba, ya! Tidur di bawah sanah! Aku gak mau tidur bareng kamu! Otak mesum!" ucap Thea kemudian.


"Lah? Kenapa mesti gue yang tidur di bawah? Inikan kasur gue? Ya jelas elo lah yang tidur di bawah! Awas, gue mau tidur!" ucap Galang tak ingin kalah. Langsung merebahkan tubuhnya lagi dengan tanpa mempedulikan celotehan Thea yang tiada henti.


BHUAK!


Lagi-lagi Thea menggulingkan tubuh ringkih itu hingga terjatuh ke lantai untuk yang kedua kalinya.


"Adededeh, eh buset ni cewe kejem amat si! Sakit tau! Lo maen guling gulingin badan gue. Emang gue kambing guling, hahh!"


"Kamu yang harus tidur di bawah, titik!" ucap Thea sedikit berteriak.


"Ogah, gue gak mau!" ucap Galang tak ingin kalah seraya beranjak lagi ke atas kasur.


Namun, sepertinya Thea benar-benar tak ingin membiarkannya begitu saja hingga terjadi keributan kecil untuk mempertahankan posisi masing-masing.


"Pergi!"


"Ogah!"


"Ikhhh!"


Saling dorong pun terjadi, dan pertengkaran sengit itu pun terhenti karena salah satu dari mereka tak bisa menyeimbangkan diri.


Thea yang spontan, tak sengaja menarik tubuh Galang sampai menubruk tubuhnya sendiri.


Satu ciuman mendarat, tepat di bibir Thea.


***


Galang terperanjat. Ia membuka mata dengan napas terengah-engah. Usai menyadarkan diri dari mimpi, ia mengusap wajah. Bahkan, efek mimpi itu sampai setelah terbangun. Jantungnya berdegup cepat seolah ada aliran aneh yang berselancar dalam hatinya.


"Apa-apaan itu? Apa Thea selalu sekejam itu padaku?"


Galang membolak-balik posisi di kasur. Tapi, mimpinya datang lagi dan lagi. Pada akhirnya, ia benar-benar tak bisa tidur dengan nyenyak akibat mimpi itu.


"Kamu kenapa?"


"Hah! Astagfirullah, bikin kaget." Galang kaget, Thea mendadak ada di dekat kasurnya dengan rambut basah yang masih berantakan. Apalagi ditambah ingatan mimpinya tentang wanita itu! Membayangkan tulang keringnya ditendang berkali-kali, membuat Galang bergidik sendiri.


"Kamu kenapa sih? Mimpi buruk?" tanya Thea lagi.


"Iya. Gara-gara kamu. Lebih baik kau keluar sana, aku mau tidur lagi," usir Galang pada Thea yang baru saja ingin naik ke atas kasur.


"Ish! Ya udah, aku pergi!"


"Ya, sudah sana!"


"Ya, udah. Aku mau ganti baju dulu!"


Thea mendengkus kesal. "Ya, udah. Aku gak bakal balik lagi! Bye!"


Galang membalikkan tubuh, ditariknya tangan Thea sampai wanita itu jatuh ke atas tubuhnya.


"Jangan."


Bibir Thea mengerucut. "Katanya tadi nyuruh aku pergi."


"Percaya saja," kata Galang. "Kalau kamu pergi, kamu pasti lupa waktu dan melupakanku. Kamu kan begitu, mudah sekali move on dari orang lain. Kamu harus tanggung jawab karena membuatku sakit begini."


Galang mengeratkan pelukan pada Thea seolah tak ingin melepasnya pergi begitu saja. Kalau saja ada yang bisa mengartikan lagi setiap kalimatnya, sebenarnya Galang ingin berkata. "Jangan pergi, gue butuh lo di sini!"


Hanya saja, Galang terlalu gengsi mengatakan itu.


***


Malam harinya usai salat Isya di rumah. Bu Rini bersemangat menyajikan hasil masakannya di meja makan. Menunggu satu orang lelaki yang akan jadi juri untuk menilai keberhasilan dari cita rasa buatannya.


Ada sup ayam, pepes ikan, capcai dan beberapa makanan lain, tak lupa buah-buahan segar sebagai pendamping.


"Galang, sini, Nak! Kita makan bersama," panggil Bu Rini ketika melihat Galang datang.


Lelaki itu duduk di kursi dengan wajah kusut. Bagaimana tidak, istirahat yang seharusnya tenang jadi terganggu karena kilas balik ingatan tentang Thea merajalela ke mana-mana. Ternyata begitu banyak yang terjadi di antara mereka, tapi nyatanya hanya sedikit mimpi indah yang datang menyambangi.


"Ada apa? Kau tidak suka makanannya?" tanya Bu Rini saat ia lihat Galang hanya menatap piring kosongnya.


"Bukan. Aku cuma sedang teringat sesuatu," jawab Galang.


"Jangan berpikir terlalu berat. Sekarang, kamu makan dulu. Papa katanya mau pulang larut, jadi tidak bisa ikut makan malam."


Galang hanya mengangguk. Tapi kemudian ia mendadak kaget saat ada seseorang yang duduk di sebelahnya. Itu Thea. Wanita itu baru datang usai mencuci tangan.


"Kenapa lagi?" tanya Thea heran.


"Tidak. Aku cuma tidak suka kau duduk di sebelahku."


Mata Thea mendelik tajam. "Kenapa gitu?"


Galang jadi salah tingkah. Sungguh, tak mungkin ia lupa setiap mimpi itu. Thea begitu kejam dengan terus mendendang tulang kakinya setiap waktu. Tapi, ia juga tak mungkin jujur kalau sudah mengingat sebagian dari masa lalu mereka. Karena ia pikir, masih terlalu dini untuknya memastikan sesuatu.


"Tidak jadi. Terserah kau mau duduk di mana."


Thea merengut. Ia merasa aneh sekali dengan sikap Galang. Selalu berubah-ubah dan tak jelas.


"Bagaimana? Enak?" tanya Bu Rini.


"Ya ... ini enak."


"Syukurlah. Tadinya mama pikir kamu tidak akan menyukainya."


Galang tak berkata. Namun, suapan yang masuk ke mulutnya membuat Bu Rini tak memerlukan jawaban lagi. Ia senang.


"Ada sesuatu yang ingin kutanyakan. Tapi--" Galang menghentikan kata, ia ragu.


"Tentang apa? Tanyakan saja, Lang."

__ADS_1


"Itu ... apa ini--" Galang sedikit mengaduk makanannya dengan sendok. Sebenarnya, ia ingin bertanya satu hal penting yang ingin ia korek dari rumah ini. Namun, itu semua buyar saat ia rasa perutnya seolah melilit dan tenggorokannya terasa panas.


"Itu bawang putih. Kenapa? Bumbunya kurang halus, ya?" tanya Bu Rini ketika melihat potongan kecil bawang putih di piring anaknya. Padahal baru satu suapan masuk ke dalam mulut Galang, tapi ia malah berhenti.


"Bukan itu. Tapi--"


Suara kursi berderit, Galang meninggalkan mereka dengan cepat ke arah dapur.


"Loh, kamu mau ke mana? Galang!" Bu Rini heran. Ia pun melihat ke arah Thea yang sudah menyusul. "Ada apa? Apa Galang tak menyukai makanan ini?" gumamnya dalam hati.


Di kamar mandi, Galang memuntahkan semua makanan yang tadi tertelan. Keringat dingin mulai mengucur dari pelipisnya, belum lagi, ruam kemerahan di beberapa bagian titik tubuhnya mulai terasa panas dan gatal.


"Kamu gak apa-apa? Ini diminum dulu, biar enakan."


Galang mengelap mulutnya dengan tisu usai membasuhnya. Ia menerima segelas air yang disodorkan Thea dan meneguknya hingga habis, baru bisa sedikit lega.


"Kenapa lama sekali? Apa kau menunggu sampai aku mati dulu, baru diberi air minum?"


Gerakan Thea yang mengusap punggung Galang terhenti. Padahal bisa saja Galang langsung mengucapkan terima kasih. Dari pada marah-marah tidak jelas. "Ish. Lagian, mana ada sih orang mati dikasih minum! Mau ngucap makasih tinggal bilang aja. Jangan sambil ngehina dong!"


Galang tak menggubris. "Ahh ... mual sekali." Ia mengeluh samar, melihat Thea ada di belakangnya. Ia memilih menundukkan kepala di atas pundak wanita itu untuk sejenak menekan rasa mualnya. "Usap punggungku lagi, The."


"Ck. Iya." Thea menurut saja dan mulai mengusap punggung suaminya.


Galang tersenyum tanpa Thea ketahui. Entah kenapa ia merasa puas sekali membuat wanita ini kesal. Sebab, rasanya pasti dulu sewaktu ingatannya belum hilang. Thealah orang yang selalu berkuasa. Tapi sekarang, ia akan membalikkan keadaan itu.


"Udah mendingan? Kita ke dokter, ya. Badan kamu pasti merah-merah sekarang," ajak Thea.


Galang menggeleng pelan. "Tidak mau."


"Ada apa? Kamu sakit lagi, hmh? Astagfirullah, ini wajah kamu sampai merah-merah begini. Bilang sama mama ... kenapa?" tanya Bu Rini panik setelah sampai di kamar mandi.


"Galang alergi sama bawang putih, Ma."


"Apa? Jadi, kamu begini karena makan masakan mama?" Bu Rini kaget. "Mama panggil dokter ke sini, ya. Kamu tunggu sebentar," kata Bu Rini menyela perkataan mereka. Ia jadi merasa bersalah lagi pada Galang karena tak mengetahui hal se-fatal ini. Padahal, ia ingin sekali membuat Galang percaya kalau ia bisa menjadi ibu yang baik.


Sesaat kemudian, Bu Rini kembali melihat wajah anaknya.


"Maaf. Mama selalu saja menimbulkan masalah buat kamu, Lang. Kamu berhak marah sekarang. Tapi, mama janji akan lebih--"


"Tak apa. Aku akan baik-baik saja ...."


Galang memberi seulas senyum tipis melihat wanita paruh baya itu kembali membalas senyum lega padanya. Ia rasa, walau ingatannya belum kembali sepenuhnya. Tapi tetap rasa sayang itu tak hilang untuk wanita itu.


Walau Galang bersikeras ingin menolak. Ia malah merasa seolah-olah menyakiti diri sendiri. Dan pada akhirnya, melukai banyak orang. Ia tidak mau itu terjadi.


Galang masih tersenyum saat tubuhnya menghangat lagi oleh usapan lembut Bu Rini di bahunya. Seakan dunianya berubah jadi padang rumput dan dihujani daun maple dari atas langit. Indah sekali.


Ia tak peduli ketika rasa sakit mulai menenggelamkannya dalam kegelapan. Karena ia telah cukup mendapat kekuatan untuk menahan itu. Selagi ia lihat semua orang tersenyum. Itu lebih baik baginya.


***


Thea merebahkan diri di tempat tidur dan menarik selimut tebal menutupi tubuhnya dan Galang. Ia lihat, suaminya telah tertidur lelap setelah dokter datang dan memberikan obat bagi alergi yang dialaminya.


Ruam kemerahan tampak timbul di beberapa bagian titik kulit. Tampak sekali Galang benar-benar tidak merespon baik zat yang terkandung dalam bawang putih. Sampai reaksi itu bisa menjadi racun bagi tubuhnya.


Thea sebenarnya tak pernah menyangka akan kembali ke kehidupan lama ini. Kamar yang sama, tempat yang sama, dan suami yang dulu selalu menjadi pesaingnya saat tidur. Dulu ia sering pesimis hal ini akan kembali nyata, karena jarak pembatas antara mereka terlampau jauh seolah tak bisa terjangkau.


Tapi sekarang mereka berkumpul kembali walau dengan keadaan yang berbeda. Thea berharap, semua masalah yang mereka hadapi akan selesai dengan cepat.


Ddrt.


Thea menoleh. Suara getar gawainya di atas meja di samping tempat tidur. Ia mengernyit, ternyata orang yang menghubungi adalah salah satu temannya yang ada di Makasar --Yasa Pradipta.


"Assalamu'alaikum, kenapa, Sa?"


"Waalaikumsalam. Lo ke mana aja sih, The? Sekarang tuh toko lagi butuh elo tau nggak!"


Thea sedikit menjauhkan gawainya dari telinga, lelaki itu berbicara cukup keras.


"Kenapa emang? Serius amat kayaknya."


"Toko lo dibobol maling, The! Yakin, lo harus balik secepetnya ke sini. Gue mah gak mau tanggung jawab ya sama urusan duit sama lo. Lo lebih tau!"


"Hah!"


Thea terperanjat dan langsung duduk, namun ia buru-buru menahan suaranya karena takut mengganggu istirahat Galang. Ia kaget bukan main mendengar kabar itu. Padahal di sana, ada dua orang pegawai toko yang seharusnya ada.


"Seriusan? Gimana bisa kemalingan sih?" tanya Thea sedikit berbisik.


"Seratus rius! Udah makanya lo buruan balik ke Makassar. Lagi ngapain si lo lama-lama di Jakarta?"


"A-aku lagi--"


"Thea sedang bulan madu. Jadi jangan ganggu kami berdua."


"Hah? Bulan madu? Ini siapa? Woi jawab, dong ^#*@/@/×€#*#£÷%@/#€."


Thea syok. Galang tiba-tiba mengambil alih gawainya dan berbicara seenaknya saja. Terdengar Yasa marah tak jelas di panggilan yang masih terhubung. Namun, Galang bergegas memutuskannya, ia membuang gawai itu ke samping.


"Kenapa kamu matiin teleponnya, sih? Dan kenapa kamu bicara seenaknya kaya gitu sama Yasa?" tanya Thea bernada marah. Padahal ia belum memutuskan apapun mengenai tokonya dengan Yasa.


"Oh, jadi namanya Yasa. Namanya jelek, pasti tidak jauh beda sama orangnya."


"Galang!" Thea kesal, ia melipat lengan di dada. Melihat laki-laki itu hanya manggut-manggut mengejek. "Dasar makhluk astral. Udah amnesia, tapi kata-katanya masih asal jeplak aja. Bawaan dari lahir mah emang susah diilangin." Thea membatin.


Galang sendiri terdiam sesaat. Ia yang terusik karena suara berisik Thea mendadak hilang rasa kantuknya karena wanita itu berbicara dengan laki-laki. Hatinya perih, apa ia cemburu? Sepertinya ia pernah merasakan ini. Tapi, ia yakin bukan Yasa orang yang merusak rumah tangga mereka.


"Tidur lagi. Jangan terus mengganggu istirahatku. Karena suaramu, telingaku sakit."


"Tidurlah, aku tidak ingin kau sakit karena memikirkan masalahmu." Seharusnya itu yang keluar dari mulut Galang. Tapi lagi-lagi lidahnya keseleo hingga berkata lain.


Galang menarik kembali tubuh Thea untuk berada di sampingnya lagi. Dan Thea menurut saja. Setidaknya, berada di pelukan Galang membuatnya sedikit lebih tenang. Seperti saat mereka masih bersama dulu. Lelaki ini selalu memberikan kenyamanan di setiap waktu.


"Aku berusaha keras membangun toko itu dari nol. Sampai akhirnya aku berhasil dan punya harapan baru. Jadi, aku gak bisa ngebiarin gitu aja masalah ini, Lang. Aku harus kembali ke Makasar secepetnya," lirih Thea.


"Kau mau meninggalkanku lagi?"


"Enggak."


"Kalau begitu tidurlah untuk malam ini. Karena sekarang kau masih bersamaku. Jangan pikirkan yang lain."


"Dasar. Sejak kapan kamu berubah jadi egois?"


Galang hanya tersenyum tipis. Mempererat pelukan mereka berdua agar tak pernah lagi mereka rasa bagaimana kehilangan untuk kedua kalinya. Ia tahu Thea sedang di hadapkan dengan masalah. Namun, ia tidak akan membiarkan wanita itu menghadapi masalahnya sendiri lagi.

__ADS_1


Dari sejak ia melihat Thea pertama kali. Saat itu juga ia sudah bertekad akan melindungi wanita itu apapun yang terjadi. Perpisahan mereka dulu, pastilah karena kegagalannya sebagai pelindung bagi Thea. Dan ia tidak ingin hal itu terjadi lagi.


__ADS_2