
Thea terbangun lebih awal pagi ini, jarum pendek jam di dinding masih menuju pukul 04:30, Azan Subuh telah berkumandang sekitar lima menit lalu.
"Galang?" Thea bergumam. Lelaki itu tampak masih lelap tidur di sofa tanpa terusik alarm yang terus menggema di gawainya.
Thea berjalan mendekat, ditatapnya dalam-dalam wajah yang dulu ceria dan sering membuat tensi darahnya naik itu. Tak banyak yang berubah dalam bentuk fisik sebenarnya. Kecuali ....
"Hmh. Apa ketampananku begitu memikat? Sampai kau tak berkedip saat memandangku," kata Galang mendadak ketika jemari Thea menyentuh hidungnya.
"Siapa maksudmu? Jangan geer, deh!" Thea salah tingkah. Diambilnya sebuah bantal yang langsung ia lempar ke wajah Galang dengan kesal.
Lelaki itu sedikit menguap, menggeliat kecil seolah tak peduli kemarahan Thea padanya.
"Ck! Gara-gara kau aku jadi kesiangan salat Subuh."
Thea mematung. Sekarang lelaki itu malah mengumpat tak jelas seraya berjalan ke arah kamar mandi. "Aish! Kenapa sikap dia jadi makin ngeselin, sih? Seenggaknya dia tanya kabar aku, gitu!"
Thea beranjak dari lantai. Ia jadi ikut menggerutu hebat karena merasa diabaikan. Padahal, ingin sekali rasanya Thea mendapat perhatian Galang setelah enam tahun mereka tak bertemu. Namun, tampaknya Galang masih ingin balas dendam padanya.
Usai mandi dan berganti pakaian. Thea mengikuti langkah Galang ke lantai bawah untuk salat berjamaah. Entah kenapa ia begitu bahagia. Sebab sudah lama sekali mereka tak melakukan hal itu.
Galang masih tetap sama. Tak pernah meninggalkan salat lima waktunya setiap hari.
***
Thea melempar pandangan ke sekeliling. Ia yang duduk di sebuah kursi pun sedikit takjub dengan pemandangan di depan matanya.
Rumah ini sangat rapi dan bersih. Memang tak terlalu mewah, tapi ini lebih dari sekedar besar baginya. Thea yang sekarang menjadi bos pusat pengrajin aksesoris pun tak punya rumah sebesar ini. Bahkan rumah baru yang ada di kota Makasar pun baru lunas dua tahun lalu.
"Makanlah ...."
Thea masih terdiam saat semangkuk bubur teronggok di atas mejanya.
"Enggak mau bubur. Aku bukan bayi!" Thea mendorong kembali mangkuknya ke hadapan Galang. Ia lebih memilih menarik sepiring nasi goreng yang akan menjadi santapan pagi lelaki itu.
"Ini tidak cocok untuk orang sakit," kata Galang. Menarik kembali makanannya dari Thea. Namun tampaknya wanita itu tetap kukuh ingin nasi goreng.
"Aku enggak pernah suka bubur, tau."
"Ck."
Thea tersenyum penuh kemenangan melihat lelaki itu akhirnya pasrah dengan semangkuk bubur buatannya sendiri.
"Oh, ya. Kalau boleh tau. Ini rumah siapa? Terus, apa kamu masih sama Bi Esti?" tanya Thea. Ia cukup penasaran dengan kehidupan Galang selama enam tahun terakhir. Melihat perubahan besar Galang, pasti telah terjadi sesuatu padanya.
"Itu bukan urusanmu."
"Galang. Aku cuma tanya. Lagipula, harusnya itu jadi urusanku juga, kan. Mengingat status kita masih jadi suami istri," kata Thea penuh penekanan.
Lelaki itu tampak santai melahap sarapan miliknya. Membuat Thea tak bisa menebak apa isi pikiran Galang.
"Sepertinya, ada beberapa hal yang membuatmu salah mengartikan tentang diriku," ujar Galang.
Thea mengernyit. "Apa?"
"Pertama, namaku bukan Galang. Kemarin, aku tidak protes kalian memanggilku dengan nama itu karena aku ingin tahu apa sebabnya. Laki-laki bernama Pangeran itu menyebutku begitu saat kami bertemu. Padahal aku tak tahu siapa dia. Tapi sekarang, apa perlu kita kenalan, agar kau tahu siapa nama pemilik rumah ini, Nona?"
"Jangan bercanda. Itu gak lucu. Nama kamu itu Galang, apa lagi kalau bukan--"
"Kedua. Aku tidak suka bicara saat makan."
"Galang!"
"Ssst."
Thea berhenti dari aksinya menginterogasi Galang. Ia kesal, padahal tingkat penasarannya sudah berada di level tertinggi tentang lelaki itu.
"Bagaimana bisa ia menyebut namanya bukan Galang?" Thea membatin seraya terus menyantap makanannya.
"Assalamu'alaikum!"
"Waalaikum salam." Thea menoleh ke belakang saat ia mendengar sebuah suara menyambangi indera pendengarannya. Ia begitu hafal suara itu. Suara yang amat persis seperti ibu kandungnya, Lestat.
"Bi Esti ...."
Thea terpaku beberapa saat, termasuk wanita paruh baya yang berada tak jauh dari tempatnya berada. Tak salah lagi, itu adalah Bi Esti. Hanya penampilannya saja yang berbeda. Jika dulu pakaian Bi Esti selalu sederhana, sekarang tampak lebih tertutup dengan gamis yang melekat di tubuhnya.
"Bibi?"
"Juno ... dia--"
"Dia tamu tak diundang. Kenapa ibu datang ke sini? Bukannya aku sudah bilang akan pulang nanti siang."
Thea semakin tak mengerti, kenapa Bi Esti memanggil nama Galang menjadi Juno. Atau bahkan kini lelaki itu mungkin sudah meresmikan status mereka. Sebutan ibu yang diharapkan Galang tempo dulu, telah menjadi kenyataan.
"Ibu hanya khawatir," kata Bu Dewi. "Sejak kapan wanita ini ada di sini, Nak? Kenapa kamu tidak jujur tentang keberadaannya?"
__ADS_1
"Aku bisa menjelaskan itu, Bu."
"Tidak. Bukankah sudah ibu katakan, ibu tidak suka kalau kamu bertemu dengan wanita ini--"
Perkataan itu membuat air mata Thea mendadak merangsek keluar. Ia sadar betul kesalahannya dulu pada Galang, mereka berdua membencinya. Itu sudah pasti.
"Aku minta maaf, Bi. Aku sadar kalau perbuatanku dulu salah." Thea mencoba meraih tangan Bu Dewi. Namun, tak berhasil karena wanita itu sedikit menghindar.
"Maaf? Setelah apa yang kau lakukan pada anakku?"
"Bu ... please. Jangan marah." Galang mencoba menenangkan ibunya. Ia tak tega dan serba salah, melihat dua orang wanita menangis di hadapannya.
"Bagaimana bisa ibu tidak marah?! Wanita ini adalah salah satu penyebab penderitaanmu! Ke mana ia saat kamu sakit dan terpuruk?" Bu Dewi terisak.
Thea kemudian meraih kaki wanita itu untuk dipeluknya. Ia sungguh tak peduli lagi harga diri. Jika memang harus bertekuk lutut sampai besok, ia akan lakukan. Asal mereka berdua memaafkannya.
"Bibi. Aku mohon, aku menyadari kebodohan yang kubuat dulu. Aku salah. Dan kesalahan itu begitu besar, bahkan setiap malam aku terus dihantui mimpi buruk karena kesalahanku sendiri ... hiks." Thea memeluk erat kaki Bu Dewi. Wanita itu terdiam. "Selama ini, aku mencari kalian berdua dalam pelarianku sendiri. Aku benar-benar terpaksa melakukan itu, karena Wingky terus mengancam akan membunuh Galang. Aku sungguh gak bermaksud meninggalkan Galang dalam keadaannya dulu. Aku mohon ... maafin aku, Bi. Aku udah gak punya siapa-siapa lagi kecuali kalian di dunia ini."
Bu Dewi yang sejak tadi menahan amarah pun mulai luluh perlahan. Melihat tatapan anaknya pada Thea. Ia tahu Galang masih begitu mencintai wanita yang bertekuk lutut di kedua kakinya ini. Setelah semua usahanya menjauhkan Galang dari orang-orang yang membuat buah hatinya menderita. Semua terasa sedikit sia-sia. Sebab ia tak bisa juga menyalahkan takdir yang mempertemukan Galang dan Thea kembali.
"Berdirilah, Nak." Bu Dewi meraih tubuh Thea di bawahnya. Terdapat kesedihan mendalam dari sorot mata Thea di balik isak tangis.
"Maafin aku ... maaf." Thea kehabisan kata lagi. Ia merasa, semua kalimat yang akan terlontar dari mulutnya terkunci menyaksikan kedua orang di hadapannya terdiam.
"Maaf atas semua kebodohanku dulu, Lang. Atau kalau kamu belum puas, kamu bisa melampiaskannya sekarang. Aku akan terima hukuman itu asal kamu mau mafin aku," kata Thea. Ia meraih telapak tangan Galang dan menempatkan itu tepat di pipinya. Ia pasrah jika memang harus mendapat hukuman seberat apapun. Sebab, ia telah meninggalkan suaminya di saat paling rapuh.
Thea menunggu beberapa saat sebelum akhirnya telapak tangan itu balik meraih tengkuknya dan menarik tubuh ke dalam pelukan hangat. Yah ... kehangatan yang telah lama hilang. Kini ia rasakan kembali betapa nyamannya berada dalam pelukan Galang.
"Jangan banyak bicara lagi, bodoh. Bagaimana aku bisa marah kalau kau begini, hmh?"
Thea mengeratkan pelukannya. Isak tangis itu berganti kebahagiaan penuh. Sekarang ia dapat jawaban walau lelaki itu tak berkata nantinya.
Bu Dewi hanya bisa menyaksikan dengan haru pemandangan itu. Dua insan yang telah terpisah selama bertahun-tahun lamanya. Kini bertemu kembali dan tampak siap menempuh hidup baru. Walau kepahitan itu mungkin saja datang kembali, tapi Bu Dewi tak bisa menampik kalau kebahagiaan terbesar pada diri Galang adalah bersama Thea.
***
Thea duduk tepat di samping Bu Dewi saat wanita paruh baya itu menceritakan secara detail perjalanan hidupnya dengan Galang setelah angkat kaki dari rumah Pak Yahya.
Sebuah keputusan mendadak terpaksa diambil Bu Dewi saat Galang mendapat perlakuan tak pantas oleh ibu kandungnya sendiri. Yaitu mengambil Galang kembali sebagai anak dan membawanya pergi.
"Sejak kepergian kami dari rumah itu. Galang masih berusaha mencari kamu. Ia sama sekali tak percaya kalau kamu meninggalkannya hanya karena pria lain. Ia begitu percaya kalau itu hanyalah siasat licik seseorang untuk memisahkan kalian berdua," terang Bu Dewi pada Thea yang terus mendengarkan.
"Tapi, di sisi lain ibu menyadari kalau Galang telah mencapai batas kemampuannya sebagai manusia biasa. Setelah pertengkarannya dengan wanita itu, Galang lebih banyak melamun. Ia sangat menderita, dan ibu merasa bagai orang bodoh yang tak tahu harus bagaimana." Bu Dewi sesekali menyeka air matanya saat mengingat kejadian itu dalam pikiran.
"Saat Galang masuk rumah sakit dan kondisinya dinyatakan semakin memburuk. Ibu mengambil keputusan itu ...."
"Ketika Galang sudah terbangun setelah operasi. Ia sama sekali tak mengingat ibu atau siapapun lagi," kata Bu Dewi. "Atas dasar itu. Ibu memilih menggunakan keadaan Galang untuk menghapus semua memori tentang masalalunya. Karena ibu berpikir ingatan itu hanya akan mengembalikan lukanya lagi."
______________________________________
Enam tahun lalu.
"Juno ... ada apa? Kenapa kamu melamun di sini, Nak?" tanya Bu Dewi saat melihat Galang termenung di kursi depan rumah baru mereka.
Pemuda itu menoleh atas nama yang pernah tersemat padanya. Juno Aswanda, itu adalah sebuah nama pemberian almarhum suaminya untuk anak lelaki mereka dulu.
Setelah ingatan Galang terhapus. Bu Dewi berpikir kalau ini adalah kesempatan bagus untuk mengawali hidup baru. Namun, tampaknya tak sepenuhnya berjalan lancar. Sebab ia lihat Galang masih saja melamun setiap hari.
"Ibu, apa ada yang belum kau ceritakan padaku? Entah kenapa, aku merasa ada sesuatu yang hilang. Dan itu sangat berarti, tapi aku tidak tahu apa itu."
Bu Dewi hanya terdiam. Mendengar hal tersebut dari mulut Galang. Ia bingung harus berkata apa.
"Setiap hari. Bayangan seorang wanita cantik dengan senyum indah terus hadir dalam mimpiku. Tapi, senyum itu malah membuat hatiku sakit. Dan bodohnya, dalam mimpi itu aku malah terus mengejarnya. Aku merasa perasaan ini tidak lengkap tanpanya. Apa ibu tahu siapa dia? Atau, apa dulu aku punya kekasih? Katakan, Bu. Karena perasaan ini sangat menyiksa," kata Galang lagi seraya sedikit meremas dada.
"Itu hanya bunga tidur. Ia tak nyata, Juno. Terimalah keadaanmu sekarang, masih ada ibu yang menyayangimu. Saat ini, kamu bisa mendapatkan semua yang kamu harapkan. Pergi kuliah, bekerja atau apapun yang ingin kau lakukan. Ibu akan terus ada buat kamu, Sayang."
Bu Dewi mengusap rambut Galang. Senyum tipis puda itu menguar sesaat dengan anggukan pelan. Terdapat gurat kekecewaan di sana. Namun, ia yakin Galang mampu melewati semuanya tanpa takut orang-orang licik mengusik hidupnya lagi.
________________________________
Satu tahun kemudian, Bu Dewi menikah lagi dengan seorang mualaf yang berasal dari Prancis. Oleh karena itu, ia memutuskan ikut bersama suaminya dan memboyong Galang ke sana setelah mengganti semua identitas Galang.
Bu Dewi tak lagi berniat mempertemukan Galang dengan Bu Rini. Sebab wanita itu sendiri yang menginginkannya.
Akan tetapi, entah bagaimana asalnya. Ia menemukan Galang yang telah mengingat Thea. Itu terbukti sejak ia menemukan selembar foto pernikahan Galang dan Thea dalam dompet.
Bu Dewi merasa. Jika benar usahanya gagal mengenai Thea, sebab cinta di hati Galang sulit terhapus walau waktu dan jarak memisahkan mereka.
"Maaf karena ibu telah egois terhadap kamu. Itu semua karena ibu terlalu menyayangi Galang dan tidak ingin ia terluka lagi. 12 tahun bukan waktu yang sebentar. Dan selama itu ia menderita di rumah ibu kandungnya sendiri."
"Ibu jangan minta maaf. Aku mengerti kenapa ibu melakukan itu, dan aku juga udah bertekad kalau mulai detik ini. Aku gak akan ninggalin Galang lagi dalam keadaan apapun. A-aku cinta sama Galang," kata Thea seraya meraih tangan Bu Dewi agar bisa sedikit menenangkannya.
"Benarkah itu?"
Sebuah suara mendadak datang dari arah belakang mereka. Ternyata itu Galang. Ia berdiri di belakang sofa yang diduduki Thea dan Bu Dewi dengan kernyitan di kening.
__ADS_1
Tubuh Bu Dewi menegang. Ia takut kalau Galang mendengar semua pembicaraannya dengan Thea barusan. Karena sampai detik ini, ia belum bicara jujur tentang masalalaunya. Apalagi kalau sampai Galang tahu kalau ia sengaja menahan ingatan Galang. Anaknya itu pasti akan marah besar.
"Juno? Sejak kapan kamu ada di situ?" tanya Bu Dewi.
"Katakan sekali lagi. Kalau kau mencintaiku," kata Galang yang malah menatap tajam ke arah Thea, wanita itu tampak gugup.
Sedangkan Bu Dewi lega. Tampaknya Galang tak sepenuhnya mendengar pembicaraan mereka.
"Emh ...."
"Ayo. Bukankah katamu kita suami istri? Jadi, tidak mungkin kalau di antara kita tidak ada cinta."
Bibir Thea mengerucut. "Ih! Maksa banget sih! Kalau kamu udah denger kenapa harus diulang? Emangnya aku video, ada siaran ulangnya!"
Thea sedikit membentak. Sungguh, dia malu mengakuinya. Sebab sejak dulu mereka menikah. Baru kali ini ia mengungkapkan perasaannya dengan lantang.
Lelaki itu tersenyum miring seraya memakai sebuah jaket kulit. "Hhh. Tampaknya hubungan kita dulu memang tak terlalu baik. Karena telingaku langsung sakit mendengar itu."
"Iya. Hubungan kita emang gak pernah baik-baik aja. Itu karena kamu ngeselin. Enggak dulu, enggak sekarang. Kamu masih tetep ngeselin," celetuk Thea.
Bu Dewi hanya menggeleng pelan menyaksikan pertengkaran mereka. Padahal baru satu hari bertemu. "Kau mau ke mana?"
"Aku mau ke restoran, Bu. Hari ini, aku akan meresmikan menu baru di sana." Galang mencium punggung tangan Bu Dewi.
Wanita itu mengangguk paham. Ia tahu Galang sedikit sibuk dengan restoran Prancis yang dikelolanya. Karena sejak ikut bersamanya, Galang memang selalu mengikutinya memasak di dapur. Semua menu makanan dicoba, termasuk menu dari negara asal ayah angkatnya. Dengan skill itu, ia juga pernah kerja di salah satu restoran Prancis selama beberapa tahun.
Entah sejak kapan Galang suka memasak. Tapi, memang tampaknya ia mahir di bidang itu.
"Ikut!" Thea mendadak buka suara.
"Tidak--"
"Pokoknya aku mau ikut! Sebentar, aku ganti baju dulu." Tanpa peesetujuan Galang. Thea lekas berlari kecil menuju lantai dua.
"Bu! Apa ia selalu berbuat seenaknya begitu?!"
Galang menghempas kasar tubuh di sofa. Sedangkan Bu Dewi hanya tertawa kecil menyaksikan kekesalan anaknya.
***
Thea berpegang erat pada sabuk pengaman yang melingkar di tubuhnya. Ia sedikit gugup, sudah lima menit lamanya semenjak ia dan Galang masuk dalam mobil dan mulai melaju di jalanan Ibukota Jakarta ini. Namun, tak ada sepatah kata pun terlontar dari bibir mereka berdua.
Sungguh, sangat menyebalkan jika Thea harus mengakui kalau ia merasa kehilangan sosok Galang dulu yang selalu petakilan dan bicara ceplas-ceplos.
"Bodoh. Kenapa aku malah mikir gitu, sih?" Thea membatin seraya menepuk keningnya sendiri. Seharusnya ia senang, sebab lelaki itu tidak akan mengusik ketenangannya lagi.
"Kenapa? Apa ada yang mengganggumu?" tanya Galang.
"Ah ... eumh. Enggak ada," jawab Thea. Ia jadi bingung sendiri ingin berkata apa. "Masih jauh, ya?"
"Lumayan. Kenapa? Kalau kau mau pulang, aku bisa menurunkanmu di sini."
Jawaban Galang membuat mata Thea mendelik tajam. "Pengen banget aku pulang kayaknya. Kenapa? Takut kalau di sana kamu enggak bisa ngegenitin cewek karena ada aku?"
Thea melipat kedua lengan di dada, ia kesal. Pertanyaan Galang seolah begitu risih ia buntuti sampai di restoran. Lelaki itu tersenyum miring.
"Ya ... benar. Aku takut kau cemburu. Sebab pegawaiku kebanyakan wanita cantik. Dan kebanyakan dari mereka belum menikah."
"Apa?" Thea mengernyit.
"Dan mereka tahunya kalau aku adalah lelaki single yang belum menikah."
"Galang! Jadi, selama ini kamu ngaku belom punya istri?! Kenapa? Bukannya katanya kamu udah inget aku?" tanya Thea bertubi-tubi. Ia mendadak jengkel dengan pernyataan tersebut. Segala pemikiran buruk menyelinap masuk dalam kepalanya. Jangan-jangan, lelaki itu sudah punya pacar? Atau, menikah lagi?
Thea menggigit bibir bawah dan menyisakan perih di sana. Ia khawatir pemikiran itu akan jadi kenyataan.
"Aku tidak pernah mengakui itu. Tapi mereka sendiri yang menganggapku begitu. Lagipula, walau aku mengingat wajahmu, tapi aku belum sepenuhnya mengingat bagaimana hubungan kita."
Thea terpaku membalas tatapan sesaat Galang padanya.
"Saat pertama melihatmu. Kupikir kau adalah wanita kejam yang tega meninggalkanku dalam keadaan buta. Karena pada dasarnya, orang buta bisa mengetahui situasi dengan meraba sendiri."
"Galang ... aku gak bermaksud begitu ...."
"Tapi, aku bersyukur kita masih bisa bertemu. Setidaknya, aku bisa membuktikan kalau kau nyata. Dan perasaanku juga nyata padamu."
Galang menghentikan mobilnya, membiarkan pandangannya tertuju pada pemilik mata indah kecokelatan yang lama sekali telah menelusup paksa di setiap ingatannya.
Thea bergenyit. Air matanya mendadak luruh tanpa diundang. "Makasih."
"Buat apa?"
"Karena udah bertahan sampai sejauh ini. Aku bersyukur kau masih hidup ...."
Thea tidak dapat lagi memungkiri perasaannya. Berulang kali ia memaki lelaki itu, tapi memang nyatanya kebahagiaan yang nyata ia rasa lebih besar. Tubuhnya menghangat ketika Galang memeluknya lagi. Dan Thea tak cukup mampu menolak kehangatan suaminya saat ini.
__ADS_1
"Jangan pernah melakukan kebodohan itu lagi. Berjanjilah jangan pernah meninggalkanku ...."
Thea mengangguk cepat mendengar bisikan Galang di samping telinganya. "Iya ... aku janji."