Jodoh Yang Tidak Diinginkan

Jodoh Yang Tidak Diinginkan
JYTD ~05


__ADS_3

Hari hari pernikahan pun semakin dekat, Thea yang kini sudah terdaftar di salah satu Universitas pun mulai juga bekerja sampingan di caffe berkat Wingky.


Yah, semenjak kelulusannya, perlakuan Wingky yang teramat baik padanya, membuat Thea semakin di landa kegelisahan. Bagaimana tidak, ia mencintai pemuda itu dari sejak dua tahun lalu. Namun takdir telah menjodohkannya dengan lelaki yang sama sekali tak ia cintai.


Calon suaminya, Galang.


Ia memang mengenal pemuda itu, sangat mengesalkan dan sangat urakan baginya. Tapi sudah lama sekali ia tak bertemu dengan Galang, ia sangat jauh dan seolah tak peduli sama sekali.


Tak ada yang ia beritau tentang hari penting pernikahannya, termasuk juga Ayda dan Pangeran.


Apalagi, pernikahan itu pun hanya di adakan dengan cara tertutup dan akan di hadiri oleh keluarga terdekat.


Hal yang sudah menjadi kesepakatan juga, karena Pak Yahya tak ingin ada banyak orang yang tahu. Apalagi jika sampai semua orang tahu kalau anak penggacara dan orang terpandang itu menikah dengan anak seorang wanita yang bekerja di sebagai buruh cuci.


Namun meskipun begitu tetap saja ia tak bisa menolak, karena keadaan yang sangat memaksa untuknya menikah muda seperti ini.


***


Pagi telah menyapa kembali, burung-burung berkicau menambah suasana pagi yang sejuk dan segar semakin menenangkan.


Thea yang masih tertidur berselimutkan hangat perlahan membuka matanya, suara ayam yang berkokok disamping kamarnya mengusik ketenangan Thea.


"Emh." Thea menarik kedua tanganya keatas, berkedip-kedip beberapa saat untuk membiasakan matanya dari rasa kantuk yang masih saja menempel. Sampai kesadaranya mulai normal dan melihat sekeliling kamar.


Pukul setengah lima pagi, itulah yang ia lihat setelah menengok ke arah jam dindingnya.


Thea terdiam beberapa saat, ia baru ingat kalau hari ini adalah hari pernikahannya dengan Galang.


Napasnya terasa sesak, entah kenapa ia masih tetap saja keberatan dengan hal ini.


Ia mencintai Wingky, sangat.


Tapi kenapa ia harus menikah dengan Galang?


Lagi-lagi pertanyaan itu muncul dalam benaknya. Ia sama sekali tak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika Wingky sampai tahu kabar pernikahannya hari ini.


KLEK


Terdengar suara pintu dibuka oleh seseorang hingga membuat Thea menoleh.


Ternyata ibunya.


"Thea, kau sudah bangun. Ayo sekarang kamu mandi, kita harus segera bersiap," ucap Bu Lestat.


Thea memasang wajah murung. Melihat ibunya kini berjalan ke arahnya dengan senyuman manis.


"Bu, aku merasa belum siap menikah sekarang," ucap Thea pelan.


"Hei, sekarang ataupun nanti. Kamu pasti akan menikah juga, kan? Yang ibu tau, ibu hanya ingin yang terbaik buat kamu," ucap Bu Lestat yang kini duduk di sebelah Thea.


"Tapi, Bu. Aku gak cinta sama dia. Gimana ibu bisa yakin kalo ini yang terbaik? Ini pernikahan. Aku pengen pernikahanku jadi yang pertama dan terakhir. Dan sekarang, aku malah mau menikah sama seseorang yang sama sekali gak aku cinta," ucap Thea bertubi-tubi.


"Cinta? Bulshit, itu hanya ada di cerita dongeng. Setelah kamu menikah, dengan siapapun itu dan secinta apapun kamu. Itu akan hilang karena yang kita butuhkan bukan itu, tapi uang. Ibu sudah mempersiapkan semuanya, dan ibu tak ingin ada bantahan atau protes lagi. Cepatlah mandi dan ganti pakaianmu," ucap Bu Lestat, iapun berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah lemari pakaian. Setelah itu iapun mengambil sebuah pakaian kebaya berwarna putih dan di letakannya di atas kasur di samping Thea.


Thea mematung menatapi kebaya yang ada di sampingnya ini. Ah, ternyata ini benar benar akan terjadi. Pernikahan yang tak pernah ia inginkan.


Pernikahan adalah sesuatu yang sangat sakral bagi umat manusia. Dimana, pernikahan adalah sebuah ikatan janji antara dua insan untuk hidup bersama sampai akhir khayat. Meski memang pada zaman sekarang, banyak juga yang orang yang memadu kasih tanpa ikatan pernikahan.


Ia merasa ia adalah anak yang patuh, gadis yang baik dan manusia yang berguna, tapi kenapa hidupnya jadi begini?


***


Di rumah Galang.


Ia juga sudah bersiap dengan pakaiannya, setelan jas berwarna putih dengan alas kaki dengan warna senada pun semakin menambah kesempurnaan penampilannya.


Rambutnya yang biasa acak kini disisir rapih ke belakang. Hari ini, matahari terasa bersinar sangat cerah. Padahal hari hari sebelumnya hujan selalu turun membasahi daerah tempat tinggalnya.


Matahari itu terasa sangat hangat, begitupun semua hal yang ada di sekitarnya.


Pada hari ini, ia sudah berjanji akan menjadi seseorang yang tidak banyak protes dan penurut.


Hanya untuk hari ini?


Galang tersenyum sendiri, karena selama ini sangat jarang sekali ia menuruti perintah siapapun.


Dan sekalinya ia menurut, adalah saat ia menikah. Ini sangat di luar dugaan.


Galang menatap cermin di mana ia melihat pantulan dirinya sendiri di sana.


Ia tahu, hidup cenderung tak bisa ditebak. Tapi seumur hidup ia tak pernah menyangka akan mengalami yang namanya 'di jodohkan' atau lebih tepatnya ... nikah paksa.


"Aden, boleh bibi masuk?" tanya Bi Esti dari luar sembari mengetuk pintu kamarnya.


"Masuk, Bi," jawab Galang singkat.


Bi Esti pun masuk ke dalam, wanita paruh baya itu juga terlihat sudah rapih dengan pakaiannya.


"Wah, aden terlihat sangat tampan hari ini," ucap Bi Esti dengan senyuman manisnya.


Galang tersenyum tipis.


Namun sesudah itu senyumannya menghilang saat ia mulai melangkahkan kaki dan duduk di atas tempat tidur.


"Bi, apa mama akan datang pagi ini?" tanya Galang kemudian.

__ADS_1


Bi Esti pun duduk di atas karpet di samping tempat tidur Galang seraya tersenyum lagi.


"Nyonya pasti datang, beliau kan sudah tau kalau aden akan menikah hari ini. Jadi, aden jangan risau lagi," ucap Bi Esti pelan.


"Aku tau, bibi cuma bilang apa yang pengen aku denger, karena aku tau itu adalah hal yang gak mungkin. Ini adalah hari pernikahan ku, Bi. Tapi gak ada satu orang tuaku yang bisa datang di hari penting ini."


"Aden, jangan bicara seperti itu. Bukanya tuan akan menyaksikan pernikahan aden? Dan bibi juga akan menemani aden disana," jawab Bi Esti


Galang tersenyum tipis.


"Bibi tau kalau papah cuma papah tiri aku, nama belakang keluarga yang kusandang juga bukan dari nama Yahya Adijaya, tapi Puguh Pratama Harun. Ayahku udah meninggal, itu yang aku tau," ucap Galang pelan dan tanpa menatap ke arah Bi Esti.


Senyuman Bi Esti pun menipis setelah mendengar perkataan Galang barusan.


"Kenapa hidup aku kaya gini si, Bi? Ayah meninggal bahkan saat aku belum sempat mengenalnya lebih jauh, dan mama juga gak pernah mau mengakuiku sebagai anaknya. Selama ini, aku selalu mengeluh sama papah, aku marah-marah, banyak menuntut dan aku gak pernah peduli sama perhatian papah ke aku. Tapi, nyatanya papah tiri akulah yang sangat mengerti aku, Bi. Papah emang tegas dan sangat galak, tapi itu lebih baik daripada aku didiamkan seperti mama mendiamiku selama bertahun-tahun. Pernikahanku sekarang, aku tau ini sangat mengecewakannya, Bi. Tapi papah bersedia menjadi saksi di pernikahanku. Papah adalah orang terhebat yang aku punya dan bibi adalah sebuah keberuntungan yang paling berarti buat aku," ucap Galang.


Air mata Bi Esti mengalir begitu saja.


Sedangkan Galang sedikit melamun karena ucapannya sendiri, ia tak tahu lagi harus berkata atau mengungkapkan perasaanya pada siapa lagi.


Kesedihan yang begitu mendalam ia rasakan hari ini dan ia tak pernah tau apa yang akan terjadi kedepan dalam kehidupannya.


Hingga beberapa saat kemudian ia tersadar dari lamunan sendiri dan melihat ke arah Bi Esti.


"Bibi kenapa nangis? Hhhh, kayanya aku udah bicara kebanyakan ya, Bi. Aku gak papa, ko. Tadi aku cuma lagi lebay aja makanya aku ngomongnya ngelantur." ucap Galang diiringi senyuman yang ia paksakan.


Dan ia lihat Bi Esti pun mulai menghapus air matanya dengan tangan. Ia masih diam karena terus menghapus air matanya yang terus mengalir.


"Bibi kenapa si selalu duduk di bawah? Gak nyaman tau, bibi tuh harusnya duduk disini, di sebelah aku." ucap Galang lagi seraya membawa tubuh Bi Esti duduk di sampingnya


"Den, ini tidak baik. Bibi yang tidak nyaman kalau begini," ucap Bi Esti tampak ragu.


"Gak papa lagi, Bi. Bibi itu udah aku anggap ibu aku sendiri, jadi gak seharusnya bibi selalu duduk di bawah. Emh, kayanya ini udah siang. Papah pasti udah nunggu di bawah, ayo." ucap Galang setelah ia melihat jam di tangannya.


Bi Esti hanya mengangguk pelan dan sesudah itu mereka berdua pun turun ke lantai bawah untuk menghampiri pak Yahya yang sudah menunggu sejak tadi.


***


Di tempat lain, Thea dan ibunya kini sudah sampai di sebuah masjid yang sudah ditentukan untuk menjadi tempat pernikahannya.


Iapun turun dari mobil yang di tumpanginya dan melihat sekeliling.


Tampak sepi.


Thea menghela nafas panjang.


Pernikahan yang dulu ia impikan sangat ramai orang dan bahagia, kini berbanding terbalik dengan apa yang ia lihat ini.


Pamannya pasti sudah ada di dalam, karena perjalanan tadi cukup ramai dan macet ia jadi terlambat datang.


Thea menoleh dan hanya tersenyum tipis seraya mengikuti langkah kaki ibunya ke depan untuk memasuki area masjid.


GREPP!


Tiba-tiba saja ia merasakan ada yang menarik tangannya dari belakang hingga ia pun spontan menoleh.


Namun saat ia melihat wajah siapa yang memegang tangannya ini, matanya langsung terbulat sempurna, jantungnya berdegup sangat cepat dan wajahnya menjadi pucat seketika.


"Ky, k-ko kamu bisa ada disini?" tanya Thea sangat terbata, bahkan kini ia hanya bisa menunduk dan tak berani menatap wajah Wingky.


"Gak penting kamu tau alasanku The. Tapi, kenapa kamu ada disini? Dan pakaian ini? Apa kamu akan menghadiri pernikahan seseorang?" tanya Wingky dengan tanpa melepaskan pegangan tangannya pada Thea.


"I-itu, itu ... iya," jawab Thea singkat, ia menggigit pelan bibir bawahnya karena bingung harus menjawab apa.


"Oh, siapa? Temen kamu? Ko kamu gak ngasih tau aku sih? Kalo gitu kan kita bisa pergi bareng. Siapa tau aja, suatu saat nanti kita bisa nyusul," ucap Wingky dengan tersenyum manis.


"Hah? M-maksud kamu?" Mata Thea membulat. Mendengar pernyataan yang menurutnya terasa aneh.


"Tapi, kamu cantik banget hari ini The. Cantik, lebih cantik. Aku suka," ucap Wingky lagi.


Thea tak berkata apa-apa dan masih menunduk.


Ini benar-benar sangat jahat, tapi ia bingung harus berkata apa. Semua kata-katanya terkunci karena saking takutnya ia jika Wingky sampai mengetahui semuanya.


"Thea, kamu sedang apa? Ayo, jangan terlalu lama di luar nanti riasanmu bisa luntur," ucap Bu Lestat seraya menghampiri Thea yang masih berada di luar.


Wingky tersenyum dan langsung menyalami tangan Bu Lestat, karena ia sudah sering bertemu dengan ibu Thea ia sudah tak canggung lagi.


Thea diam.


"Wingky? Kebetulan kamu ada disini, jadi tante bisa sekalian memberitaumu tentang kabar baik hari ini," ucap Bu Lestat.


"Kabar baik? Maksud tante?"


"Pagi ini, Thea akan menikah. Apa kamu mau masuk ke dalam? Karena kamu adalah sahabat Thea, jadi tante pikir kamu pasti mau menjadi saksi atas pernikahannya ini."


Wingky tersentak kaget.


Dan Thea semakin menunduk, matanya mulai berkaca-kaca karena ini sangat menyakitkan baginya.


"Apa? Thea, menikah?" tanya Wingky tak percaya.


"Iya, sebentar lagi calon mempelai laki lakinya datang, jadi ayo kita masuk," ucap Bu Lestat lagi seraya menarik tangan Thea pelan.


Wingky langsung terdiam seribu bahasa.

__ADS_1


"Bu, ibu masuk aja duluan. Aku ingin bicara sama Wingky, sebentar. Nanti aku nyusul," ucap Thea.


"Hmhh, baiklah. Tapi jangan lama-lama ya," jawab Bu Lestat.


Thea hanya mengangguk pelan menjawab perkataan ibunya dan setelah Bu Lestat pergi ia kini menatap wajah sayu Wingky yang juga menatapnya tanpa berkedip.


"The, apa bener yang ibu kamu bilang?"


"Maaf ky, aku dijodohin sama ibu dan aku gak bisa nolak," ucap Thea.


Sungguh, ia sangat tak tega mengatakan hal ini pada Wingky. Namun ia juga tak bisa berbuat apa apa kecuali menerima takdirnya hari ini.


"The, ini gak bener. Aku cinta sama kamu, tapi kenapa saat aku ingin menyatakan semuanya, kamu malah mau nikah sama orang lain?" ucap Wingky bertubi-tubi seraya menggenggam erat tangan Thea.


"A-apa? Ka-kamu cinta sama aku?" Thea tercekat, ia rasa pendengarannya terganggu. Sebab tak percaya Wingky mengatakan itu.


"Iya, aku cinta sama kamu."


"Tapi kenapa kamu tidak bilang dari dulu, Ky? Sekarang semuanya terlambat, meski aku juga cinta sama kamu. Tapi aku udah mau nikah sama orang lain," ujar Thea, ia agak kecewa dan menyesal. Jika Wingky memiliki perasaan yang sama, kenpa pemuda itu tak pernah mengatakannya?


"Kalau gitu kita pergi dari sini,"


"Apa?" mata Thea agak terbuka saat mendengar perkataan Wingky barusan.


"Jangan nikah sama orang lain, kita pergi dari sini. Batalin pernikahan kamu. Aku beneran gak bisa liat kamu menikah sama orang lain, The."


Air mata Thea jatuh begitu saja, ia melihat raut wajah Wingky menunjukan bahwa ia sangat depresi dengan apa yang terjadi. Hingga membuat Wingky berkata begini padanya.


Dan saat mereka tengah bicara, sebuah mobil berwarna hitam berhenti tepat di samping mereka berdua.


Wingky dan Theapun menoleh bersamaan dan mereka lihat siapa orang yang keluar dari dalam mobil tersebut yang tak lain dan tak bukan adalah Galang dengan ayahnya.


Wingky dan Galang saling menatap satu sama lain dan Thea kini berada di tengah-tengah mereka berdua.


Sedangkan ibunya kini terdengar bahagia saat menyambut kedatangan calon pengantin laki-laki untuk anaknya itu.


Tatapan datar ditujukan Wingky pada Galang, karena ia tak pernah mengira sama sekali bahwa orang yang sangat ia benci ini adalah calon suami dari orang yang ia cintai.


"The, apa dia calon suami kamu?" tanya Wingky dengan masih menggenggam erat tangan Thea.


"Iya," jawab Thea singkat.


Galang diam dan mengalihkan pandanganya ke arah lain, ia tahu mereka berdua adalah sepasang sejoli yang saling mencintai, namun ia tak begitu peduli.


"Galang, Thea ayo kita masuk ke dalam. Acaranya sudah akan dimulai," ucap Bu Lestat seraya melepaskan pegangan Wingky pada Thea dan menuntunnya masuk ke dalam.


Thea masih menangis meskipun tak terlalu terisak, namun perih di hatinya ini sungguh tak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata.


Ia lihat Wingky terdiam di tempatnya saat ia melangkah masuk ke dalam masjid, pemuda itu tak menangis namun matanya mengisyaratkan kesedihan begitu mendalam.


"Maafin aku, Ky," gumam Thea dalam hati, masih menatap ke arah Wingky sebelum ia benar-benar masuk ke dalam masjid.


***


Galang dan Thea kini sudah duduk berdampingan di dalam masjid, semua saksi wali dan seorang penghulu sudah ada di dalam dan siap menghantarkan mereka menuju janji suci.


Tahapan demi tahapan sudah dilalui, dan kedua mempelai itu hanya bisa mengikuti arahan. Sampai pada akhirnya, ijab qabul yang sangat sakral itupun datang juga.


Paman Thea yang bernama Wira itupun menjabat tangan Galang.


"Saya terima nikah dan kawinnya Arasella Theana Poland binti Agra Poland dengan mas kawin tersebut di bayar tunai," ucap Galang dengan lancar dan tanpa ada jeda sama sekali.


"Bagaimana para saksi, sah?" tanya Pak penghulu.


"Sah," jawab mereka yang menjadi saksi di dalam dengan cepat.


Setelah itu lantunan doa dipanjatkan untuk menyudahi ijab qabul ini. Senyuman pun kian terpancar dari raut wajah Bu Lestat, Bi Esti dan yang lainnya.


Sedangkan Thea kini melihat ke arah Galang di sampingnya, kini pemuda tengil yang ia benci itu sudah resmi menjadi suaminya. Ia mencium tangan Galang sebagai tanda bahwa ia sudah menerima menjadi seorang istri.


Galangpun terlihat tersenyum padanya, meskipun ia tak pernah tau isi hati pemuda itu. Namun yang jelas, saat ini pikiranya jauh melayang memikirkan seseorang yang berada di luar sana.


Setelah semua acara selesai, mereka semua melangkahkan kaki ke luar masjid dengan perasaan lega.


Kecuali yang dirasakan oleh kedua mempelai yang sedikit berbeda.


"Nah, Thea. Sekarang kalian berdua sudah resmi menjadi sepasang suami istri, jadi akan lebih baik jika kamu tinggal di rumah mengikuti suamimu." ucap Bu Lestat dengan senyuman lebar dan seolah memberi tanda kepada Pak Yahya.


"Bu, ibu ini bicara apa sih? Aku gak mau," ucap Thea.


"Bagaimana besan? Bukankah itu tanggung jawab anak anda? Saya sebenarnya tidak ingin memaksa, tapi keadaan memang sangat memaksa, itu saya serahkan semuanya kepada anda," ucap Bu Lestat yang tak mengindahkan perkataan Thea padanya.


Thea semakin merengut kesal. Sedangkan Galang tampak cuek-cuek saja. Dan Pak Yahya sedikit menghela napas karena ia sangat mengerti maksud dari perkataan besannya itu.


"Ya sudah, untuk sementara Thea boleh tinggal di rumah kami, sebelum saya mendapatkan rumah yang cocok untuk mereka berdua, bagaimana, Lang?" tanya Pak Yahya pada Galang sekaligus menjawab perkataan Bu Lestat.


"Terserah papah," jawab Galang singkat dan datar.


"Baiklah, ajak istrimu masuk ke dalam mobil. Kita akan pulang," ucap Pak Yahya kemudian.


"Mm," jawab Galang lebih singkat lagi dan bernada malas.


Meskipun berat, Thea harus mengikuti lagi perkataan ibunya karena kini statusnya sudah menjadi seorang istri.


Setelah berpamitan kepada ibunya, iapun mengikuti langkah kaki Galang masuk ke dalam mobil, sedangkan yang lainnya berada di mobil yang berbeda.

__ADS_1


Mulai hari ini kehidupan yang sesungguhnya akan terlihat. Kehidupan yang berbeda dari sebelumnya, tanggung jawab dan menyandang status yang berbeda.


__ADS_2