Jodoh Yang Tidak Diinginkan

Jodoh Yang Tidak Diinginkan
(JYTD)~03


__ADS_3

"Pah, laper!" rutuknya kemudian seraya meletakan dagu di atas meja. Satu tangan kanannya memegangi perut karena ia sudah lapar bukan main.


"Jaga kelakuanmu, jangan seperti anak kecil. Tunggulah sebentar lagi, mereka pasti akan datang," ucap Pak Yahya.


Galang merengut dan membenarkan lagi posisi duduknya. "Sampe kapan? Adeh, lagian emang gak bisa besok lagi gitu? Gara-gara papah aku jadi batal kencan, nih," gerutu Galang lagi.


Pak Yahya sedikit membelalakkan kedua mata saat mendengar perkataan Galang barusan.


"Jangan bercanda kamu, apa kamu akan berbuat ulah lagi setelah apa yang kamu lakukan pada gadis itu tempo hari?" ucap Pak Yahya kemudian bernada sinis.


Galang berdecak malas, lagi-lagi ayahnya berkata begitu. Satu hal yang selalu membuatnya mati kata dan tak bisa membantah lagi.


Sesekali Galang melihat jam di tangan kirinya, ini sudah menunjukan pukul setengah lima sore. Tapi orang yang mereka tunggu tetap tak datang juga, padahal ia sudah berada di sana lebih dari setengah jam lamanya.


Duduknya semakin tak nyaman, sebab gara-gara menunggu, perutnya makin keroncongan.


Yah, mau bagaimana lagi, ia belum sempat makan saat di rumah tadi dan sampai saat ini ayahnya juga belum memesan makanan apapun karena menunggu 'mereka' yang ingin datang.


Tak lama setelahnya, ada juga yang menghampiri mereka berdua dari arah belakang Galang.


"Hallo, selamat sore calon besan," ucapnya kemudian dengan suara mendayu-dayu. Juga senyuman semringah terpancar dari raut wajah seorang wanita.


Galang dan Pak Yahya pun menoleh bersamaan dan melihat siapa yang menghampiri mereka. Pak Yahya malah langsung berdiri dari duduk dan menjabat tangan kanan yang di ulurkan wanita itu pada mereka, ekspresinya datar-datar saja.


Sedangkan ekspresi Galang malah semakin malas. Yah, harusnya sudah bisa ia duga sebelumnya bahwa ia akan di pertemukan lagi dengan jodoh yang tak diinginkannya ini.


Iapun mengangkat tangannya, malas. Menyalami tangan Bu Lestat. Arah pandanganya pun ia alihkan, namun alih-alih ia bisa mengalihkan pandanganya ia malah terpaku menatapi wajah cantik seorang gadis di belakang Bu Lestat.


Thea.


Gadis itu tampak sangat berbeda dari biasanya, pakaiannya yang anggun, rambutnya yang lurus pirang sebahu di biarkan tergerai begitu saja dan riasan makeup yang tak terlalu mencolok. Semakin membuat gadis itu tampak natural.


Galang menelan saliva sendiri.


Tak bisa ia pungkiri kalau Thea memang sangat cantik dan ia juga cukup normal untuk mengagumi kecantikan gadis itu sore ini.


Ia masih menatapi wajah Thea beberapa saat tanpa berkedip sedikit pun dan mengikuti kemana arah Thea berjalan ke hadapanya.


Hingga lamunanya buyar saat Thea menyunggingkan senyuman sinis padanya.


Galang berubah ekspresi dan Thea kini duduk di depannya dengan masih tampak membuang muka.


"Saya mohon maaf ya, Besan. Di luar hujan lebat dan susah sekali mendapatkan taxi. Apa kalian sudah menunggu lama?" tanya Bu Lestat masih dengan senyumnya yang lebar.


"Jamuran!" jawab Galang ketus.


Thea tiba-tiba melotot dan menatap tajam ke arah Galang, ingin rasanya ia menjahit mulut si tengil ini saat ini juga.


Sedangkan Pak Yahya hanya berdeham memberi kode lagar anaknya tak berbuat hal yang memalukan.


"Tak apa Nyonya, saya mengerti. Silahkan kalian pesan makanan apapun yang kalian inginkan, kita akan makan dulu sebelum membahas tentang kedua anak kita, Nyonya," ucap Pak Yahya kemudian.


Thea hanya tersenyum manis membalas perkataan pak Yahya dan setelah itu mereka berempat membuka sebuah buku menu yang tersedia di depan.


"Ya ampun!" Thea syok. Spontan menjatuhkan kembali buku menu itu ke atas meja.


"Ada apa?" tanya Pak Yahya heran.


"Ti-tidak." Thea makin gugup. Ini gila! Mana ada harga semahal ini untuk seporsi kecil makanan?


Bahkan satu menu saja, ia bisa membeli beberapa kilo beras.


"Ngapa? Syok ye liat harganya. Udah, mumpung gratis! Kapan lagi lo makan beginian," celetuk Galang.


"Brengsek!" umpat Thea dalam hati.


Mereka pun memesan makanan dan makanan itupun sampai beberapa menit setelah mereka menunggu.


Sedangkan Galang pun menoleh juga ke arah Thea, hingga mereka berdua saling menatap satu sama lain.


Galang tersenyum meledek sambil menyantap makanannya lahap. Ekspresi gadis itu tampak lucu dengan sedikit kerutan di keningnya saat melihat makanannya sendiri.


Thea merengut, sekali lagi ia melihat sinis pemuda itu.


Tapi.


Ia lihat, dengan cengiran tengilnya, Galang terlihat menancapkan garpunya ke sepotong daging dan mengangkatnya dengan perlahan.


"Ngeselin," gerutu Thea dalam hati seraya terus melihat ke arah Galang.


Dan yang ia lihat selanjutnya.


Galang malah menarik lubang hidung ke atas dan membawa tusukan daging itu ke arah hidung dengan cengiran tengilnya yang semakin lebar.


Tensi darah Thea sontak naik drastis. Secara tidak langsung, si tengil itu menyuruhnya makan lewat lubang hidung?!


Ini benar-benar penghinaan tingkat dewa!


"Brengsek!"


BUK!


Dengan sekuat tenaga Thea menggerakan kaki kirinya di bawah meja untuk menendang tulang kering Galang.


Dan itu berhasil mengenai sasaran!


BRAKK!


Terlihat meja di tengah-tengah mereka tampak terangkat karena seseorang terperanjat kaget sambil memegangi kakinya.


Namun mata Thea tiba-tiba teralihkan saat melihat siapa orang yang terperanjat itu.


Wajahnya langsung memucat seketika hingga ia kini menunduk karena saking kagetnya.


Bukan si tengil? Melainkan Pak Yahya yang terlihat sedikit meringis kesakitan memegangi kakinya.


Gila!


Parah!


Bagaimana bisa tendangannya mengenai Pak Yahya? Rutuknya pada diri sendiri.


Bu Lestat celingukan karena heran dengan situasi ini.


Dan tiba-tiba.


"HUAHAHAHAHAHAHA!"


Galang tertawa terbahak-bahak sangat keras bahkan sampai membuat mereka berempat menjadi pusat perhatian seisi restaurant.


"I-i- itu ... Om, s- saya minta maaf. Tadi kaki saya digigit nyamuk, jadi saya refleks," ucap Thea sangat gugup bukan main.


Tapi lagi-lagi ia mati kata, ah! Manamungkin ada nyamuk di restaurant sebagus ini? Itu adalah alasan terbodoh yang ia lontarkan.


Wajahnya semakin ia sembunyikan ke bawah dan tak berani menatap siapapun.


"Pah, maklum ajalah. Dia itu emang kaya banteng! Sukanya nyeruduk orang!" celetuk Galang masih tertawa, bahkan kedua matanya berair akibat tertawa dan saking lucunya melihat ekspresi Thea saat ini.


"Galang, jaga sikapmu! Ini tempat umum," ucap Pak Yahya bernada berat dan sedikit menoleh ke arah Galang di sampingnya.


Sesekali ia mengusap kakinya yang masih terasa cenat-cenut akibat tendangan tadi.


Namun ia berusaha tak menunjukan reaksi apapun.

__ADS_1


Galang mulai mengatur napas untuk berhenti tertawa, ia yang sudah selesai makan pun mengambil selembar tissue yang di gunakan untuk mengelap bibirnya.


"Pah, aku mau ke toilet dulu, ya. Tiba-tiba perutku mules gara-gara ketawa," ucap Galang seraya beranjak dari duduknya.


"Jangan lama-lama, sebab kita harus bicara." jawab Pak Yahya.


"Siap komandan!" ucap Galang lengkap cengiran tengilnya melihat ke arah Thea. Dan setelah itu iapun meninggalkan mereka bertiga yang masih sibuk dengan makanan nya.


"Umh, Bu. Aku juga izin ke toilet dulu ya, sebentar aja. Boleh kan?" tanya Thea pada ibunya.


Ia pun meletakan garpunya karena lelah sendiri. Yang pada akhirnya ia tak bisa menyicipi sedikit pun daging seharga beberapa kilo beras itu.


"Baiklah, ibu tunggu secepatnya, ya."


Thea hanya mengangguk pelan seraya beranjak dari duduknya dan menyusul Galang di depan.


Thea pun mengikuti langkah kaki Galang di depannya sebelum ia benar-benar sampai di toilet.


Orang itu sudah membuatnya malu setengah mati tadi dan ia pasti membalas perbuatan si tengil itu saat ini juga.


"Heh, tunggu!" ucap Thea sedikit berteriak setelah ia cukup dekat di belakang Galang.


Galangpun menoleh ke belakang.


"Eh, hah heh hah heh! Gue punya nama! Ngapain lo ngikutin gue?" tanya Galang balik seraya bertolak pinggang tak ingin kalah pada Thea yang tampak emosi padanya.


"Ish, gak sudi aku nyebutin nama kamu, dasar biang rese! Gara-gara kamu aku jadi malu tau nggak! Maksud kamu apa ngeledek aku kaya tadi? Jangan mentang-mentang kamu anak orang kaya yah, kamu jadi seenaknya sendiri ngejek aku," ucap Thea bertubi-tubi bernada marah.


Galang malah terkekeh lagi karena mengingat kejadian tadi.


"Adeh, itu si salah elo sendiri. Lagian apa salah gue coba? Gue kan cuma ngebantuin lo gimana cara makan daging tadi," ledek Galang lagi.


Thea semakin naik darah, kenapa orang ini selalu saja mengesalkannya setiap saat? Iapun mengambil ancang-ancang untuk menendang tulang kaki Galang lagi.


Namun dengan cepat Galang menggeserkan kakinya ke belakang hingga tendangan Thea meleset.


"Et, gak kena! Gak kena!" ejeknya kemudian.


"Awas ya kamu!" ucap Thea agak berat menderam seperti beruang ngamuk. Iapun melepaskan alas kakinya sebelah untuk ia lemparkan ke arah Galang.


"Awas, ada banteng ngamuk!" ucap Galang seraya berbalik arah hendak berlari menjauhi kemarahan Thea padanya.


Namun, baru beberapa langkah berlari ia malah menabrak seorang pelayan yang tengah membawa segelas minuman di tangannya.


BYUR!


Minuman itu tak sengaja tumpah dan membasahi baju seseorang di samping pelayan itu.


Seseorang dengan perawakan tegap dan berbadan besar tengah menatap Galang dengan bola mata yang hampir keluar seluruh nya.


"Apa yang kamu lakukan, hah?" ucap laki-laki itu kemudian, menarik kerah baju Galang hingga tubuh ringkih itu terangkat ke atas.


Dag dig dug detak jantung Galang tak beraturan, sangat cepat seperti ingin mengajak balapan dengan lamborghini.


Rasa rasanya, terkena satu pukulan saja dari orang ini ia pasti sudah masuk ruang ICU.


"M- ma- maaf, gue gak sengaja," ucap Galang terbata seraya menyatukan kedua telapak tanganya.


Theapun menghentikan gerakan tangannya yang memegang high heels, karena melihat si tengil itu sudah terkena masalah lain, ia tersenyum puas.


"Saya minta ganti rugi! Apa kamu tau kalau baju saya ini sangat mahal? Ganti rugi sekarang!" ucap laki-laki itu, sangat keras. Mengeratkan peganganya pada kerah baju Galang, ia mengancam.


"Iya iya iya, gue ganti. Tapi lepasin dulu, engap!" jawab Galang.


Laki-laki itu pun perlahan melepaskan cengkraman tangannya namun tetap menatap tajam ke arah Galang.


"Satu juta!" teriaknya kemudian setelah ia melepaskan tangannya.


Thea terkekeh kecil karena merasa lucu sendiri melihat tingkah laku Galang. Satu juta turun pangkat menjadi sepuluh ribu? Itu adalah harga yang tak sebanding.


Namun beberapa saat kemudian.


BUK!


Sebuah hantaman mentah di daratkan laki-laki itu di wajah Galang hingga ia tersungkur ke belakang dan menubruk tubuh Thea.


"Adededeh, sakit. Eh, lo ko beneran si? Gue kirain bercanda doang," ucap Galang, meringis kesakitan memegangi rahangnya yang terasa ngilu.


"Mana ganti rugi kamu! Sini!" ucapnya lagi, mendekati Galang dengan tatapan tajamnya.


"Heh, kalo dia gak mau kamu mau apa, hmhh?" tanya Thea balik serta nada sedikit menantang.


Ia yang maju ke depan kini menghalangi tubuh Galang dari laki-laki itu.


Galang mengernyitkan kening, heran. Mengapa Thea malah membelanya seperti ini? Apa dia benar-benar akan melawan orang itu?


"Siapa kamu? Minggir! Atau saya tak akan melepaskan kalian berdua."


"Hhhh, satu juta itu kemahalan, seratus ribu? Deal ...," ucap Thea kemudian.


Orang itu malah semakin naik darah dan malah benar-benar hendak menyerang Thea.


Galang mengkerut dan sedikit berteriak serta melindungi kepalanya dengan tangan karena saking takutnya.


Dan.


BUKKK!


Thea menangkis pukulan itu, sigap dan balas menyerang laki-laki itu dengan skil karate yang ia miliki.


Galang melepaskan kedua tangannya di kepala dan melihat bagaimana Thea melawan laki-laki bertubuh amat besar itu dengan tenaganya. Matanya terbelalak lebar, mulutnya terbuka karena saking kagetnya ia.


BUK!


BHUAK!


Laki-laki itu agak mundur ke belakang akibat terkena serangan Thea.


"HUAA! KEREENNN ...! Ayo The, pukul dia, emh! Mati lo! Mati lo!" teriak Galang bersemangat menyemangati Thea.


Sedangkan Thea masih terus saja membela diri dan bertahan dari serangan laki-laki itu, ia masih memakai high heels sebelah dan gaun warna putih berenda bunga biru muda pun sesekali ia rapatkan karena terus berkelebatan.


"Mati lo! Mati lo!" teriak Galang lagi.


Tapi setelah di fikir lagi.


"Matiiiiiiiii dia kan calon bini gue? Tar kalo gue ada salah jangan-jangan gue bakal kena hantam kaya gitu lagi? Bisa-bisa bukan ICU, tapi gue langsung dianter ke kuburan! HUAA! ENGGAKK!" teriak Galang kemudian seraya memegang kepalanya.


Yah, itulah yang ada di pikiranya saat ini.


Jika orang sebesar itu saja bisa tumbang oleh Thea, apalagi kalau ia kena hantam gadis itu? Tubuhnya pasti sudah melayang ke udara.


Ah! Itu sangat mengerikan!


Namun ia dan Thea belum menyadari bahwa mereka bertiga kini tengah menjadi pusat perhatian di dekat pintu keluar toilet.


Thea yang sudah mulai terpepet agak sedikit mendorong tubuh laki-laki itu hingga ia mundur kebelakang dan setelah itu ia menarik tangan Galang untuk pergi dari sana.


"Ayo lari!" ucapnya kemudian seraya menarik tangan Galang.


Mereka berdua berlari terbirit-birit meninggalkan restaurant itu dan melupakan rencana awal mereka datang ke tempat ini.


Hujan masih turun dengan derasnya di luar, namun mereka terus berlari di pinggir jalan menerobos hujan dengan cepat.

__ADS_1


Thea berlari dengan terjingkit jingkit, karena high heelsnya masih ia pakai sebelah dan yang sebelahnya lagi ia tinggal di restaurant tadi saat melawan laki-laki itu.


"Ah, kenapa juga aku harus berpakaian kaya gini?" gerutunya kesal, melepaskan high heelsnya hingga ia kini berlari dengan tanpa menggunakan alas kaki.


Setelah jauh mereka berlari meninggalkan tempat itu, Galang dan Thea berhenti melangkah untuk mengatur napas mereka yang tak beraturan.


Seluruh pakaian mereka basah kuyup tak ada yang kering satu benang pun.


Galang menoleh ke belakang, sepertinya laki-laki itu sudah tak mengejar mereka lagi.


Lariannya melambat sebab merasakan sesuatu bereaksi di kepalanya, sakit. Sampai akhirnya ia berhenti total dan bertopang pada pagar besi.


Sedangkan Thea di depan sana sudah menemukan tempat berteduh dan beristirahat sejenak. Hingga Galang sedikit memaksa tubuhnya mengikuti gadis itu.


****


Mereka berdua pun duduk di depan sebuah toko yang sudah tutup di pinggir jalan, hari sudah semakin gelap karena waktu menunjukan pukul enam sore, hujan pun mulai reda di atas langit.


Galang yang sedari tadi menunggu hujan reda pun mulai agak risih dengan gadis yang ada di sampingnya ini.


"Kenapa lo?" tanya Galang basa-basi.


"Pake tanya kenapa lagi! Aku kedinginan tau! Gak peka banget si jadi cowo," jawab Thea sedikit berteriak, iapun mengeratkan tanganya yang ia selipkan di sela perut dan lututnya.


"Oh, lo tunggu dulu disini bentar. Tar gue balik lagi," ucap Galang bernada malas seraya beranjak dari duduknya.


Diikuti Thea yang juga berdiri dari duduk dengan cepat dan mengikuti langkah kaki Galang di belakang hingga Galang pun menoleh karena risih.


"Gue 'kan nyuruh lo nunggu di sana, kenapa lo ngikutin gue?" tanya Galang heran.


Thea berhenti melangkah.


"Aku mau pulang, tapi aku gak tau jalan pulang, aku gak punya uang dan aku juga lapar! Gimana bisa aku percaya kamu gak akan ninggalin aku! Kamu harus tanggung jawab gara-gara kamu aku jadi kelaparan dan kedinginan kaya gini," ucap Thea bertubi-tubi.


Galang terkekeh kecil. "Lo tenang aja lagi, gue bakal balik lagi ko. Tunggu gue lima menit, okeh," ucap Galang.


"Beneran?"


"Hmmmh," jawab Galang singkat.


Theapun kembali duduk di atas lantai toko sedikit kesal, ia tak berkata apa-apa lagi dan langsung memeluk tubuhnya lagi seperti tadi.


****


Thea melihat lihat kesana-kemari, kenapa si tengil itu belum kembali juga? Padahal ini sudah hampir sepuluh menit ia menunggunya disini.


"Ish, Jangan-jangan dia ninggalin aku lagi. Argh! Harusnya tadi aku gak ngebiarin dia pergi," gerutu Thea pada dirinya sendiri.


BRUK!


Tiba-tiba ada yang melemparkan sesuatu ke arahnya dengan cepat hingga ia spontan menangkap benda itu.


Sebuah kantung plastik dan ternyata itu di lemparkan oleh Galang yang sudah kembali lagi kesini.


Theapun agak mendongakkan kepalanya ke atas, pemuda itu bahkan sudah berganti pakaian.


Gayanya yang tadi sangat rapih kini kembali lagi memakai setelan jeans dan kaos oblong di sertai jaket.


"Apaan nih?" tanya Thea kemudian seraya beranjak dari duduknya.


"Baju, katanya tadi lo kedinginan," ucap Galang bernada datar.


Thea tersenyum tipis dan melihat isi kantong itu, benar saja. Ada setelan baju di dalamnya. Iapun melihat ke arah Galang lagi, ia tak menyangka pemuda itu akan berinisiatif seperti ini.


Sedangkan Galang kini tengah celingukan kesana-kemari seperti mencari sesuatu.


"Kamu nyari apa?" tanya Thea heran.


"Mesjid, di sana ada mesjid. Emang lo mau ganti baju disini? Tar lo ganti bajunya di toilet mesjid. Sekalian kita salat Maghrib, abis itu kita nyari makan dan gue bakal anterin lo pulang," jawab Galang.


Mata Thea agak sedikit terbelalak saat mendengar perkataan Galang barusan, mulutnya terpenganga karena ada kata yang ia tak menyangka akan di keluarkan dari mulut si tengil itu.


"Hah? Salat? Orang kaya kamu bisa salat? Aku gak percaya," ucap Thea sedikit terkekeh meledek ke arah Galang.


Namun kekehannya tak berlangsung lama karena ia lihat Galang tak menunjukan reaksi apapun dan malah menatapnya semakin datar.


Ia agak heran sebenarnya, mengapa tiba-tiba si tengil itu tampak bisu sekarang.


"Iya deh iya, ayo." ucap Thea kemudian.


***


Setelah mereka berdua sampai di sebuah masjid tak jauh dari tempat mereka berada, Thea yang sudah berganti pakaian pun sudah berwudhu dan memasuki area dalam masjid.


Memang hanya ada segelintir orang di dalamnya dan Thea pun mengambil mukena yang terletak di dalam sebuah lemari kaca di sudut mesjid.


Tubuhnya sudah lebih hangat saat ini dan pakaian yang di belikan Galangpun terasa cukup nyaman. Bahkan sekarang ia lihat pemuda itu sedang melakukan salat sunat sebelum salat Maghrib di mulai.


Di balik tirai berwarna hijau, Thea tersenyum manis. Ternyata, ada juga hal yang bisa membuatnya tak begitu membenci kelakuan si tengil itu.


Hingga beberapa saat kemudian salat Maghrib pun di mulai dan mereka yang berada dalam masjid mulai khusuk dan hening kecuali suara lantunan ayat yang di keluarkan imam di depan mereka.


Setelah bacaan salam mengakhiri salat Thea, ia pun mengangkat kedua tangannya untuk berdoa. Masih mendengarkan lantunan ayat suci ia pun larut dalam do'anya sendiri.


Manusia takan pernah tahu, apa yang terjadi kedepannya. Manusia takan pernah tahu hal apa yang akan di alami satu detik kemudian.


Manusia takan pernah sadar, jika belum merasa kehilangan.


Apa yang ia rasakan sekarang, adalah kebimbangan. Jika memang ia benar akan menikah dengan orang yang tak pernah ia cintai, memang itu akan jadi salah satu masalah.


Tapi yang membuatnya sedih adalah. Ayahnya takan mungkin ada saat ia menikah nanti. Satu hal terpenting dalam hidupnya, padahal ia ingin sekali kedua orang tuanya bisa hadir di hari penting itu.


Dan kini, hanya tinggal ibu yang akan menjadi saksi pernikahannya. Tapi, ia cukup menyadari bahwa apa yang ada di dunia sudah pasti akan kembali pada penciptanya.


Saat semuanya masih larut dalam doa, tiba-tiba saja lampu di masjid itu padam. Hingga gelap gulita menyelimuti mereka, namun sang imam masih terus dengan do'anya yang belum selesai. Hingga beberapa saat mereka masih berkusyuk dan belum ada yang memeriksa saklar lampu masjid itu.


Thea pun membuka mukena dan melipatnya lagi dengan rapih, lampu di atas mereka pun sudah menyala. Lima menit yang ia lewati tadi cukup membuatnya bisa tenang dan bisa berfikir positif lagi.


Ia tersenyum.


Sepertinya kali ini ia harus berterima kasih pada si tengil itu karena sudah membawa nya kesini.


Iapun berdiri dan langsung meletakan mukena itu di dalam lemari kaca lagi.


Namun saat ia hendak melangkahkan kakinya keluar, ia berhenti melangkah karena melihat orang di dalam masjid itu tampak sedikit ribut dan terlihat panik.


Thea penasaran, sebenarnya apa yang menyebabkan hal itu terjadi hingga ia berbalik arah dan melangkahkan kakinya ke arah kerumunan orang-orang yang berada di balik tirai saf laki-laki.


"Apa ada yang mengenalnya?" ucap seseorang dari balik tirai itu terdengar jelas oleh Thea.


Thea semakin penasaran dan langsung membuka sedikit tirai itu untuk melihat apa yang terjadi.


Saat ia sudah benar-benar melihatnya.


Matanya terbulat sempurna karena ia cukup tersentak kaget dengan apa yang ia lihat ini.


Apa ini lelucon?


Atau ia sedang salah lihat?


"Galang," ucapnya sangat pelan dengan masih memegang tirai yang ia buka tadi.


Karena kini pemuda ringkih itu tengah terbaring tak berdaya di atas hamparan sajadah masjid yang ia tempati tadi dengan di kelilingi orang orang yang berusaha membangunkannya.

__ADS_1


__ADS_2