Jodoh Yang Tidak Diinginkan

Jodoh Yang Tidak Diinginkan
JYTD 33


__ADS_3

"The. Lo beneran bakal pindah ke Jakarta? Trus gue di sini gimana? Pasti sepi kalo nggak ada lo," kata Yasa. Wajahnya tak kalah kusut dari benang bekas. Ia keberatan Thea pergi dari kota Makassar. Sekarang saja, ia masih membuntuti Thea walau Galang melarangnya ikut.


"Maafin aku, Yas. Aku harus ngikut sama Galang, itu udah kewajibanku. Tapi, kamu jangan khawatir. Aku pasti sering dateng ke sini, kok. Bisnis kita masih jalan, 'kan?"


Yasa mengangguk paham. Sekarang, usaha yang dirintisnya bersama Thea telah dilimpahkan penuh padanya. Tapi, itu sama sekali tidak membuatnya senang. Karena gantinya, ia harus merelakan Thea pergi.


"Tetep aja gue gak rela lo pergi," kata Yasa seraya menghela napas berat. "Ini semua gara-gara lo, biang rusuh! Dia jadi pergi."


Galang yang menjadi incaran kemarahan Yasa hanya menyunggingkan senyum miring. Ia membebaskan Yasa memarahinya sejak tadi karena apapun hasil akhirnya, Thea akan tetap pergi bersamanya ke Jakarta.


"Yas, udah, deh. Jangan mulai," sela Thea sampai pemuda itu berhenti.


"Tapi, lo beneran bakal sering ke sini, 'kan? Kalo nggak di izinin sama suami astral lo, bilang sama gue. Ntar gue bantuin nabok."


"Cih. Makanya cepet punya pasangan, biar gak gangguin istri orang terus," celoteh Galang.


Yasa mendelik tajam, setajam ucapan yang akan terlontar dari mulutnya untuk Galang.


"Lo tuh yang gangguin kebahagiaan gue--"


"Stop!" cegah Thea menengahi. "Atau masih mau lanjutin berantem? Silakan! Lanjut sampe sukses!" Thea menarik kopernya dengan keras dan meninggalkan kedua lelaki itu.


Galang menyusul, sampai dalam pesawat, Thea masih saja menggerutu hebat melampiaskan amarah.


***


"The ... kamu masih marah soal tadi?" tanya Galang pada Thea yang berada di sebelahnya.


Sesampainya mereka di Jakarta dan memasuki taxi, Thea masih mendiami Galang. Menyingkirkan tubuhnya ketika lelaki itu berusaha mendekat. Sekarang saja, Thea memalingkan wajah, memilih menatap ke arah luar kaca mobil ketimbang berbicara.


"Aku minta maaf, The. Aku janji tidak akan bertengkar lagi dengan jin toma ... eh, Yasa. Tapi kamu jangan mendiamiku begini, Thea." Galang berusaha membujuk Thea. Istrinya hanya terusik sedikit, itu pun untuk menyingkirkan tangan Galang di bahunya.


"Arasella Theana Poland. Kamu tetap mau mendiamiku begini?" tanya Galang sekali lagi memastikan reaksi istrinya.


"Pak, berhenti." Galang meminta menghentikan taxi yang ia tumpangi di pinggir jalan. Tampaknya Thea masih ingin mempertahankan amarahnya sekarang.


"Di sini, Mas?"


"Iya," jawabnya seraya melirik ke arah Thea sekali lagi. "Nanti tolong antar istri saya ke tujuan, ya. Saya turun di sini."


Galang turun dari taxi dan melangkah menyusuri sisi jalan. Cuaca terik membuatnya menaikkan satu lengan saat ada pantulan cahaya dari kaca spion ke arahnya. Galang tersenyum ketika melihat sebuah minimarket di depan.


Ia pun memilih masuk ke sana. Dinginnya AC sedikit menguarkan peluh dalam tubuhnya. Galang membuka kulkas untuk mencari air minum di sana. Tak lupa, ia juga mengambil 5 batang cokelat berukuran besar dan membayarnya di kasir.


Galang mengambil struk dan membawa barang belanjaannya menuju pintu keluar. Namun, langkahnya terhenti saat melihat seorang wanita berdiri tegap dengan dua buah koper di sisi kanan dan kirinya.


"Kenapa berdiri di situ? Katanya masih marah. Sana pulang sendiri. Aku mau makan," kata Galang jutek. Ia melangkah melewati Thea begitu saja.


Sedangkan di belakang. Thea susah payah menyeret dua kopernya dengan napas terengah-engah. Langkah lebar Galang cukup meyakinkan kalau ia kesal dengan sikap Thea padanya.


Galang berbalik arah. "Kenapa masih mengikutiku? Perlu kupanggilkan taxi ke sini?" katanya lagi. Ia menggigit cokelat besarnya di hadapan Thea, jelas sekali wanita itu berusaha menelan saliva melihat cokelat favoritnya begitu menggiurkan di tengah panas matahari.


Thea sangat kesal sebenarnya. Galang pasti sengaja melakukan itu untuk memancingnya keluar. Tapi kenapa harus cokelat? Godaan cokelat bahkan lebih dahsyat baginya daripada baju baru atau makanan di restoran mahal.


"Mau ...."


Kurang ajar! Thea mengutuk mulutnya sendiri yang susah diatur jika menyangkut makanan itu. Bagaimana bisa ia melepas harga diri demi sebatang cokelat?! Tidak. Bukan itu maksud Thea. Ia hanya ingin bicara jujur kepada Galang mengenai sesuatu yang dirasanya sejak tadi.


"Mau apa? Maaf? Telat. Aku sudah terlanjur marah. Dari tadi kau mendiamiku seolah-olah aku ini makhluk tak kasat mata."


"Mau muntah."


"Apa?" Perkataan Thea yang sangat pelan memancing langkah Galang mendekat sendiri tanpa diperintah. Apalagi Thea mendadak menutup mulut dan menekan pelan perutnya seolah menahan sesuatu.


"Kenapa? Kamu sakit?"


"Jangan deket-deket! Aku mau ... hoekk."


Thea yang berusaha menahan desakan dari kerongkongannya mulai lepas kontrol. Ia mencoba menahan Galang, tapi sia-sia. Celana Galang sudah kotor akibat terkena muntahannya. Bahkan lebih dari satu kali ia muntah.


"Ma-maaf. Celana kamu jadi kotor," kata Thea dengan suara lemah.


"Jangan pikirkan aku. Ayo kita cari tempat istirahat dulu." Galang menuntun Thea ke sebuah kursi kayu di depan toko. Ia teramat khawatir melihat kondisi Thea di dekatnya. Ia segera memberi air untuk Thea hingga berhenti muntah lagi.


"Apa sudah baikan?" Galang kembali bertanya. Namun, Thea malah memberikan jawaban lain.


"Lang. Celana kamu kotor. Basuh dulu gih, nanti baunya gak enak."


"Sudah kubilang jangan pikirkan aku dulu. Yang penting itu kamu, Thea! Kamu! Setidaknya, jawab pertanyaanku." Kali ini Galang bersuara tegas. Ia tak habis pikir mengapa Thea bersikap aneh. Ia lihat mata Thea sedikit menyipit membalas tatapannya.


"Galang. Kepala kamu kenapa jadi ada dua?" Thea memijat pelipisnya pelan. Berharap pandangannya kembali normal.


Bug!


Tubuh Thea mendadak limbung setelah berkata. Sontak saja Galang kaget bukan main. Ia yakin saat ini bukan tipuan Thea untuk mencari perhatian. Wajah istrinya begitu pucat. Galang merogoh gawai di sakunya dengan cepat.


"Assalamu'alaikum, Pak. Tolong jemput saya di Jalan Melati, depan toko makanan. Cepetan, Pak!" Perintah Galang kepada sopir Bu Dewi.


***


Galang menggenggam tangan Thea kuat. Tanpa lepas satu detik pun pandangannya kepada wanita yang masih betah berdiam lama di tempat tidurnya.


Preasaan Galang buyar. Ia sungguh bingung antara sedih dan senang. Keduanya berdampingan memenuhi seluruh isi kepalanya. Thea hamil. Itulah penyebab ia sering mual dan muntah belakangan ini. Dan sekarang istrinya harus istirahat total akibat kandungannya sedikit lemah. Usia janin yang baru saja menginjak 2 minggu itu masih terlalu rapuh untuk diajak berjalan jauh oleh tubuh Thea.


"Asslamu'alaikum, Juno."


"Waalaikumsalam." Galang menoleh saat nama itu disebut untuknya. Bu Dewi muncul dari balik pintu dan melangkah sedikit tergesa ke arahnya.


"Bagaimana? Thea sudah bangun?" tanya Bu Dewi.

__ADS_1


Galang menggeleng. "Belum. Dia sepertinya kelelahan sekali, Bu. Tapi, kata dokter dia sudah baik-baik saja sekarang. Bahkan, dia boleh pulang kalau sudah bangun nanti."


"Alhamdulillaah. Dari rumah, ibu sudah mengkhawatirkannya. Takut terjadi sesuatu yang buruk menimpa menantu dan calon cucu ibu," kata Bu Dewi. Ia baru bisa bernapas lega setelah mendengar jawaban anaknya.


Galang tersenyum tipis. Ditatapnya wajah Bu Dewi beberapa saat, mengingat betapa beruntungnya ia telah dikirim seorang malaikat seperti Bu Dewi untuk kehidupannya.


Setelah Galang mengetahui siapa dan dari mana asala usulnya. Tak sedikit pun amarah terlintas dalam benak untuk wanita paruh baya itu walau Bu Dewi telah merahasiakan kebenarannya. Yang ada, hanya kasih sayang yang semakin mendalam untuk semua jasanya selama ini.


"Ibu ...." Tanpa banyak kata terucap. Galang memeluk Bu Dewi, ia yang berada di posisi rendah bisa merasakan wanita itu mengusap lembut rambutnya.


"Ada apa?"


"Tidak ada," kata Galang. Ia sedikit mendongak dengan senyuman manis. "Aku hanya ingin memeluk ibuku yang paling cantik, paling baik di dunia. Kalau ibu tidak ada, mungkin saja aku tidak akan ada dan merasakan kebahagiaan ini sekarang. Terima kasih, karena sampai detik ini, Ibu selalu menemaniku."


Bu Dewi tersenyum. "Kau akan jadi seorang ayah. Jadi jangan terlalu manja sama ibu. Ucapan terima kasih itu tidak perlu, karena ibu akan terus ada buat kamu sampai kapan pun, Juno," kata Bu Dewi. Ia seolah dihujani beribu kebahagiaan setelah melihat garis senyum di wajah anak kesayangannya melebar. Sebab, itulah yang selama ini diinginkannya sebagai seorang ibu.


"Galang ... Ibu."


Suara lemah Thea membuyarkan keduanya. Galang secepat kilat meraup tubuh Thea seolah ingin membendung perasaan yang bisa saja membuncah tak terkendali. Dikecupnya kening Thea sedikit lama, istrinya hanya terusik sedikit seraya menatap heran.


"Bagaimana keadaanmu, humh? Masih mual?" tanya Galang. Ia membantu Thea yang ingin duduk di tempatnya.


"Tenggorokanku kering. Mau minum," jawab Thea dengan suara masih berat. Galang dengan sigapnya mengambil air dan memberikan segelas air untuknya


"Alhamdulillaah. Ibu senang kamu sudah siuman, Nak. Kedepannya, tolong jaga istrimu sebaik mungkin, Juno. Agar hal ini tidak terulang lagi. Supaya Thea bisa melahirkan dengan sehat dan selamat nantinya."


Uhukk!


"Emh, Thea! Pelan-pelan, kau membuat bajuku basah lagi." Galang mengelap wajahnya yang terkena semburan air minum Thea. Padahal baru saja ia berganti pakaian setelah terkena muntahan.


Sedangkan Thea sendiri tidak begitu paham dengan ucapan Bu Dewi. Melahirkan?


"Ma-maksudnya apa?" tanya Thea.


"Kamu hamil, The. Makanya kalau punya badan itu dijaga, jangan makan sembarangan apalagi telat makan. Biar tidak sakit dan membahayakan orang. Kau mau anak kita ikutan sakit juga, huh?"


Beberapa detik kemudian Galang menyesali setiap perkataannya barusan. Seharusnya ia berkata lembut agar wanita itu tidak stress, tapi karena terlalu khawatir ia malah berkata demikian. Ia sungguh membenci sikap tak terduganya ini.


"Juno, kenapa kamu memarahi Thea?"


"Enggak apa-apa, Bu. Aku yang salah, kok. Dari pagi aku belum makan karena mual. Tapi, aku nggak tahu kalau--"


"Mengandung." Thea meraba perut ratanya. Ia tidak menyangka akan ada benih cinta dalam rahimnya. Itu artinya, harapan Galang dulu bisa terwujud. Thea tersenyum kecil. Bayangannya tentang hari-hari yang akan ia jalani bersama Galang dan anak mereka bermunculan. Membuat perasaannya seolah ditaburi bunga sakura.


"Kalau begitu bilang dulu ke perawatnya. Thea akan pulang sekarang," kata Bu Dewi.


Galang mengangguk. Sesudah itu, ia mengambil langkah keluar untuk mengurus kepulangan Thea.


Usai diperbolehkan pulang. Thea sedikit enggan memasuki mobil yang sudah menanti di depannya. Baru selangkah masuk mobil, perutnya sudah berontak akibat wewangian di dalamnya.


"Kenapa?" tanya Galang.


"Bau?" Galang mencoba masuk lebih dulu. Bu Dewi yang telah berada di dalam pun mengernyit. Sebab hanya terdapat satu pengharum mobil yang menggantung di depan kemudi. Aroma jeruk menguat dan menyejukkan.


"Tidak, Thea. Mobilnya wangi, kok."


"Tapi aku nggak suka. Pokoknya, aku nggak mau naik mobil itu kalau pengharumnya nggak dibuang. Tadi di taxi aja aku nahan mual dari bandara gara-gara itu. Baunya bikin kepalaku pusing," keluh Thea. Tanpa diminta pun air matanya sudah jatuh membasahi pipi.


"Eh ... iya iya iya. Jangan menangis juga dong." Galang segera mengambil sikap. Ia pun masuk dalam mobil lebih dulu. "Pak. Tolong buangin pengharumnya, ya. Istri saya tidak suka katanya."


Perintah Galang langsung dituruti oleh sopir. Sedangkan Galang sendiri mengibas-ngibas seluruh isi mobil sampai wewangiannya sedikit berkurang. Entah hal macam apalagi yang diminta Thea. Bu Dewi di depannya hanya tersenyum kecil.


"Wanita hamil memang sensitif. Kau harus terbiasa dengannya, Nak."


"Hmh. Iya, Bu."


***


Thea bergerak tak nyaman, padahal kasur yang ditempatinya sangat besar, bersih dan wangi. Jarum jam juga telah menunjukkan pukul 22:00. Sudah waktunya ia tidur nyenyak bersama mimpi indah. Tapi, kali ini serasa ada yang kurang.


Entah kenapa, ia terpikirkan ingin berada di bawah langit malam dan langsung menatap bulan dan bintang tanpa penghalang. Menikmati desau angin di depan perapian kecil bersama secangkir susu cokelat panas. Sepertinya menyenangkan.


Tapi, semenjak ia hamil. Galang selalu saja mengekangnya melakukan apapun. Dua bulan berlalu, kerjaannya di rumah hanya itu itu saja. Jadi untuk sekarang, ia ragu mengutarakan keinginannya pada Galang. Lelaki itu pasti tidak mengizinkannya.


"Tidur, Thea. Ini sudah malam, aku mau kerja besok pagi." Galang bicara dengan suara serak khas bangun tidur.


"Aku nggak bisa tidur."


"Emh ... kenapa? Mau apa lagi? Katakan ...."


Walau menjawab perkataan Thea. Kedua mata Galang masih tertutup rapat. Lelaki itu tampak lelah setelah seharian bekerja dan mengurus identitas yang dipakainya selama ini. Thea jadi tidak tega mengusiknya begini.


"Nggak papa. Kamu tidur lagi aja. Sebentar lagi aku tidur, kok."


"Benarkah? Tapi kelihatannya kau mau mengangguku lagi. Katakan saja, mumpung aku masih belum tidur."


Thea manyun. Orang ini terlalu sensitif sekarang. "Aku mau berkemah."


"Emh? Iya iya, nanti aku buat ... hah?" Galang terperanjat. Matanya mendadak terbuka dan mengarah langsung kepada istrinya. "Kemah?"


"Iya. Aku pengen deh. Tidur di dalem tenda sambil mandangin bintang. Ditambah ada api unggun sama cokelat panas. Kayaknya itu menyenangkan, Lang," kata Thea.


Galang terbangun. Ia memijat pelipisnya sejenak untuk mencerna setiap perkataan Thea. Ini sudah kali ke seratus Thea meminta hal aneh selama kehamilannya. Dari metik buah jeruk bali di kebun tetangga sampai mencari buah kecapi yang harus didapatnya dari luar kota. Dan Galang sudah cukup bersabar untuk itu.


"Astagfirullah, Thea. Jangan mengada-ada. Apa kau tidak lihat ini jam berapa, huh? Udara malam tidak bagus untuk ibu hamil. Yang lain saja, ya. Katakan, kamu mau apa lagi?" tanya Galang.


"Aku nggak mau yang lain. Aku maunya kemah di luar sekarang!" Thea menjawab tegas. Kedua lengannya berlipat di dada. "Anggap aja kita lagi kencan. Dari dulu sampe sekarang, kita berdua gak pernah kencan. Aku juga mau kaya orang lain. Pacaran, nonton, jalan-jalan, teleponan sampe pagi dan ngelakuin hal sederhana."


"Ya. Apa di situ disebutkan berekamah?"

__ADS_1


"Iyyy ... enggak." Thea menutup mulut. Hampir saja bibirnya mengerucut. Namun Galang lebih dulu bergerak dari tempat tidur. "Mau ke mana?"


"Nyiapin kemah dadakan."


"Hah? Beneran?" Wajah Thea mendadak berbinar. Senyumnya melebar setelah ia pikir akan patah hati malam ini. "Asyik! Kalau gitu aku mau bikin cokelatnya dulu. Kamu mau, nggak?"


"Buatkan aku kopi susu saja."


"Siap, Bebi!"


Thea sedikit melonjak dari tempat tidur, kakinya terjingkit kecil untuk menyamai tubuh Galang dan memberi kecupan di pipi suaminya sejenak sebelum berlalu ke arah dapur.


Galang tersenyum. "Dasar bocah."


***


Di dapur, Thea semangat mengaduk cokelat panasnya. Tak lupa kopi susu spesial untuk suaminya. Ada beberapa camilan juga di atas piring, seperti biskuit dan roti tawar isi selai stroberi kegemarannya. Masa bodoh dengan berat badan yang pasti akan melonjak drastis, justru ia ingin itu agar bayi dalam perutnya juga tumbuh besar.


"Apa Galang udah selesai? Kasian juga kalau dia masang tenda sendiri," gumam Thea.


Sebelum membawa camilannya, Thea lebih dulu melangkah keluar rumah ingin memastikan. Bu Dewi tak berada di sini, sebab Galang sudah memutuskan supaya mereka hidup mandiri. Mereka juga sudah berkata hal yang sama kepada Bu Rini. Ah, ya. Tentang Bu Dewi dan Bu Rini, mereka berdua belum mengatakan yang sejujurnya mengenai hubungan Galang dan Bu Rini telah membaik. Galang khawatir, masalah yang akan ditimbulkan dari itu akan berimbas pada kehamilan Thea. Hingga, Galang memutuskan akan berkata jujur setelah Thea melahirkan anak pertama mereka.


Sesampainya di luar. Mata Thea dipaksa membulat, ia tak percaya. Halaman rumahnya yang begitu luas masih kosong dan sepi. Tak ada apapun yang menandakan bahwa Galang akan memasang tenda di sana.


Thea segera meluncur ke lantai atas. Ia kesal, Galang sudah ingkar janji. Padahal ia mengatakan mereka akan berkemah di luar rumah.


"Galang. Kamu itu gimana, sih. Katanya mau--"


Perkataan Thea terhenti. Matanya membulat sempurna melihat keadaan kamarnya seolah disulap menjadi tempat perkemahan dadakan. Sebuah tenda berwarna putih berukuran sedang bertengger tepat di atas tempat tidur, itu hampir jadi dan sangat indah. Gorden besar yang berada di sudut kamar dibiarkan terbuka hingga menampilkan malam indah mereka yang sempurna.


"Sebentar lagi jadi. Apa kopinya sudah ada? Aku haus," kata Galang. Sesekali ia menoleh ke arah Thea walau tangannya sibuk menata tempat tidur.


Sejenak Thea masih terpaku di tempatnya. Sungguh, ia ingin sekali marah. Tapi hal itu tenggelam oleh keindahan yang tidak pernah dilihatnya di mana pun. Galang benar-benar membuatnya terhanyut dengan segala sikap tak terduganya.


"Astagfirullah. Kenapa kau melamun? Aku haus, The."


"Eh? Iya iya. Aku ambilin dulu di dapur."


Thea segera berbalik arah kembali lagi menuju dapur. Diambilnya minuman dan makanan yang sudah ia siapkan tadi hingga Galang dapat melepas lelahnya dengan secangkir kopi.


Thea duduk di tepian kasur. Menyeruput cokelat hangatnya seraya menikmati televisi besar yang menampilkan film komedi romantis. Tampak Galang di sebelahnya juga menikmati ini walau ia kelihatan lelah.


"Di sini?" tanya Thea dengan senyum di bibirnya.


"Terima saja. Jangan geer juga, aku melakukan ini bukan untukmu, tapi untuk anakku," jawab Galang seadanya.


Thea dapat melihat sedikit senyum di wajah Galang. Perkataannya terkadang memang seperti belati. Tapi Thea tahu lelaki itu begitu mengkhawatirkan dan peduli padanya melebihi apapun. Hanya saja, Galang selalu menutupinya dengan sikap tak acuh.


"Iya." Thea melingkarkan lengannya di lengan Galang. Bersandar di bahu kokoh suaminya dengan nyaman. "Makasih banyak Papi. Aku seneng banget sekarang," kata Thea menirukan suara anak kecil seraya mengusap perut.


Seperti yang Thea harapkan, mereka pun menikmati malam ini seperti orang-orang yang melakukan kencan atau berlibur ke hotel mewah --versi Galang pastinya. Dan Thea tidak akan menyesali ini.


Beberapa saat kemudian, sedikit keanehan terjadi. Thea merasa ada yang tidak beres pada gerak-gerik suaminya yang terus menunduk dan memegang dada. Tak ada secuil pun kata dari mulut Galang, kecuali ringisan kecil yang membuat jantung Thea berdegup dua kali lebih cepat.


"Kamu kenapa? Bilang sama aku." Thea mendadak panik. Tubuh Galang telah tergolek lemah di kasur empuknya tanpa menjawab pertanyaan darinya. "Galang, jangan bercanda! Ini gak lucu."


Thea mengusap sedikit keras rambut Galang, menepuk pelan pipinya agar lelaki itu terbangun dan menghentikan kekonyolan ini. Gurauan semacam ini sungguh tidak lucu di malam romantis mereka berdua. Namun, tampaknya Thea harus menelan dalam pemikiran itu. Galang tak kunjung membuka mata setelah tubuhnya diguncang beberapa kali.


Air mata Thea tumpah. Dalam keadaan panik dan tak tahu harus berbuat apa, tangannya bergetar hebat meraih gawai di dekat mereka. Nomor yang tertera di paling atas kontaknya ia tekan. Pikirannya terlalu kacau untuk memilih siapa yang akan dihubunginya.


"Mama ... hiks. Tolong aku."


"Ada apa? Kenapa kamu menangis, Nak?"


"Aku gak tau kenapa. Tadi Galang baik-baik aja. Tapi sekarang Galang tiba-tiba sakit, dia pingsan. Aku bingung harus berbuat apa. Di sini nggak ada orang, aku khawatir, Ma." Thea berbicara dengan suara bergetar. Tangisnya menjadi ketika kepanikannya mulai mengambil alih. Apalagi, hanya ada ia dan Galang di rumah. Asisten rumah tangga mereka izin pulang sore tadi dan baru kembali besok pagi.


"Kamu tenang, Nak. Sementara cari bantuan dulu ke satpam komplek. Mama segera menyusul ke sana--"


"Percuma saja menolong suamimu, Manis."


Sebuah suara berat mengagetkan Thea. Gawai di tangannya dilempar jauh oleh seseorang yang telah berdiri tegap di belakangnya. Tubuh Thea menegang, ia kaget. Melihat seorang lelaki menyusup masuk kamarnya.


"Ya-Yasa? Kamu--"


Thea memundurkan tubuhnya ketika lelaki jangkung itu mendekat dengan seringai lebar. Ia shock, kenapa harus Yasa yang ia lihat seperti iblis kejam baginya.


"Ada apa? Lo kaget? Harusnya, lo gunain kesempatan ini buat ngeliat wajah suami astral lo untuk terakhir kali. Karena, reaksi racun ditubuhnya akan bekerja maksimal 1 setengah jam lagi. Setelah itu, dia akan menghilang dari dunia ini sama temen-temen astralnya."


Plak!


Tamparan keras dilayangkan Thea pada Yasa. Tampak pipi lelaki itu memerah, tapi Yasa tetap tersenyum puas. Air mata Thea tak berhenti terjatuh, napasnya tersengal berat melihat tubuh Galang tidak bergerak sedikit pun. Apa perkataan Yasa itu benar? Itu artinya ....


"Tega kamu, Yas! Aku pikir kamu orang baik yang bisa aku percaya! Tapi kamu sama aja kaya iblis, kejam! Kurang ajar!"


"Nggak ada orang baik di dunia ini, The! Itu semua halu! Manusia harus punya imbalan atas jasa yang mereka kasih buat seseorang. Dan gue mau nuntut itu dari lo, Thea ...."


"Lebih baik aku mati dari pada harus menyerahkan diri padamu!"


"Thea!"


Thea meraih sebuah lampu tidur di atas meja. Memukulkan benda itu begitu kuat ke arah kepala Yasa hingga ia bisa mencari celah melarikan diri. Namun lelaki itu sangat cepat, tampaknya pukulan itu tak berpengaruh sampai Thea hanya bisa bersembunyi di kamar mandi.


Thea menguci rapat pintu. Napasnya masih tersengal dan keringat menetes dari pelipisnya. Ia menangis, jika saja ia tidak hamil. Ia bisa saja blas menyerang Yasa dengan skill karatenya. Tapi, berlari seperti ini saja sudah membuat perutnya ngilu dan sedikit sakit.


"Ahhh ...." Thea menekan pelan perutnya, menahan ngilu. Sementara tubuhnya menopang pintu yang terus digedor hebat dari arah luar.


"Percuma saja kau terus menghindar dariku, Thea. Usahaku tidak akan pernah putus untuk mendapatkanmu. Kau tahu betul sifatku, 'kan? Ayo buka pintunya, Sayang. Sudah cukup kita bermain kucing-kucingan selama ini."


Suara itu. Thea mengeratkan pegangan pada gagang pintu. Tubuhnya bergetar menyadari suara yang begitu familier di telinganya. Ia mulai dilanda panik dan kekhawatiran hebat. Keadaan Galang dan dirinya sama-sama tidak menguntungkan. Apalagi kandungannya yang baru memasuki bulan ke tiga. Apa hidup mereka memang harus berakhir begini? Setelah melihat Yasa. Ia sungguh tidak bisa memercayai siapapun lagi.

__ADS_1


"Aku tidak akan menyerahkan hidup kepada siapapun kecuali untuk suamiku. Apalagi untuk iblis sepertimu, Ky!"


__ADS_2