Jodoh Yang Tidak Diinginkan

Jodoh Yang Tidak Diinginkan
(JYTD)~02


__ADS_3

Dua hari kemudian.


"Mama," ucap Galang pelan seraya melangkahkan kaki menuju ibunya dengan senyuman manis.


Raut wajahnya semakin cerah dan senyuman melebar kala ia dengan sangat jelas melihat hal yang sudah lama ingin ia lihat. Perasaan bahagia terasa meskipun ia belum menghampiri hal yang membuatnya bahagia itu.


Seorang wanita berperawakan tinggi semampai dengan pakaian sangat rapih yang biasa ia panggil mama itu terlihat ada di dalam rumah ini.


Ia terlihat sibuk berjalan kesana-kemari sembari menjinjing tas kecilnya, sesekali ia mengangkat telpon yang terus berdering di ponselnya dan sesekali juga ia membenarkan kedua anting dengan terus berjalan keluar masuk kamar.


Yah, itulah ibunya.


Ibu Rini Setiyowati seorang wanita karier dengan segudang kesibukan di setiap hari.Wanita itu jarang sekali pulang, ia hanya pulang satu hari dalam seminggu. Itupun hanya dalam waktu beberapa jam saja. Sesudah itu, ia akan menghilang lagi dalam waktu sangat lama. Bahkan sampai tiga bulan sekali.


"Rini, mau kemana lagi kamu?" tanya Pak Yahya yang tiba-tiba datang menghampiri Bu Rini mendahului Galang.


Galang berhenti melangkah karena melihat ekspresi yang kurang enak di tunjukan Pak Yahya pada ibunya.


Hingga ia kini hanya melihat mereka di balik dinding.


"Ya, mau kerjalah, Mas," jawab Bu Rini bernada datar dan hanya melihat suaminya sebentar.


"Ambilah cuti beberapa hari, Rin. Diamlah di rumah. Galang sangat membutuhkan perhatianmu, jika bisa berhentilah dari kerjaanmu sekarang," ucap Pak Yahya yang kini terus berdiri di tempatnya dan mengajak Bu Rini bicara.


"Apa? Enggak, Mas. Kerjaanku lebih penting dari segalanya. Lagipula, berhentilah Mas membicarakan tentang anak itu, aku tidak suka," ucap Bu Rini seraya duduk di sofa, karena ia sudah selesai bersiap diikuti pak Yahya yang juga duduk di sana.


Galang tertegun di tempatnya.


"Rin, mau sampai kapan kamu bersikap dingin sama dia? Dia itu anakmu. setidaknya kalau kamu pulang, temuilah dia sebentar, tanyai bagaimana kabarnya. Jangan terus sibuk dengan urusanmu sendiri," ujar Pak Yahya lagi membujuk.


"Hhhh, aku tidak peduli. Mas sendiri sudah tau apa jawabanku tentang anak itu, jangan terus bicarakan dia ketika aku datang, Mas." Ketus. Bu Rini jelas tak suka dengan topik pembicaraan mereka.


Galang mengeratkan tanganya di balik dinding. Perasaannya tak karuan, napas mulai naik turun dan matanya terasa berair.Setiap kali, kenapa harus seperti ini?


Ah, harusnya ia sudah terbiasa. Tapi tetap saja hal ini selalu menyakitkan baginya.


"Aku masih mempertahankan dia karena aku masih menghargai Mas di rumah ini, selebihnya terserah Mas mau bagaimana. Jangan libatkan aku jika itu menyangkut anak itu," ucap bu Rini lagi.


Galang menunduk.


Tak terasa air matanya jatuh begitu saja, mendengar perkataan ibunya barusan.


Apa sebegitu bencinya wanita itu padanya? Bahkan menyebutkan namanya saja ia tak bisa.


"Den," ucap seseorang dari arah samping Galang.


Mendengar ada yang memanggilnya, Galang buru-buru tersadar dan menghapus air matanya untuk menoleh ke arah orang itu.


"Eh, Bi Esti," ucapnya kemudian dengan senyuman tipis.


"Aden sedang apa? Ayo sarapan dulu, ini sudah siang nanti Aden terlambat," ucap Bi Esti dengan suara lembut.


Galang hanya mengangguk pelan, sekali lagi ia melihat ke arah ibu dan ayahnya, mereka berdua masih terdengar ribut membicarakan tentangnya.


"Bi," ucap Galang menahan langkah Bi Esti yang hendak meninggalkan nya.


"Ya,"


GREP


Galang memeluk tubuh wanita paruh baya yang sudah ia anggap sebagai ibu keduanya itu tiba-tiba.


Mencoba menyembunyikan perasaanya dan menegarkan hatinya di sela pundak Bi Esti adalah pilihan terbaik.


Karena saat ini, ingin sekali rasanya ia menangis dan mati saat ini juga. Tapi, ia tak ingin hal itu terus berlanjut di pikiranya, karena ia masih yakin, ibunya akan berubah suatu saat nanti.


Meski pun ia tak pernah tau, apa alasan sang ibu sangat membenci kehadirannya selama ini. Mendapati wanita itu baik baik saja itu sudah lebih dari cukup.


"Aden kenapa?" tanya Bi Esti.


Galang melepaskan pelukanya dan tersenyum manis.


"Aku cuma lagi kangen sama bibiku yang paling cantik ini," jawab Galang.


"Aden ini, bibi selalu ada di rumah masa bilang kangen."


"Ih, kenapa? Kan kalo aku sekolah, kita gak ketemu seharian. Wajar dong kalo aku kangen," ucap Galang.


Bi Esti terkekeh kecil dan mengusap pundak Galang lembut.


"Iya bibi tau, ayo. Aden sarapan dulu," ajak Bi Esti kemudian.


"Ayo, aku udah gak sabar pengen makan masakan bibi." Galang bersemangat dan memegang kedua pundak Bi Esti mengajaknya ke ruang makan.


Celotehan kecil keluar dari mulut Bi Esti karena Galang menuntunnya terlalu cepat, tapi Galang tak peduli karena ia berusaha mengalihkan perasaanya dari mereka yang tak mempedulikannya.


***


Pagi ini.


Thea datang ke sekolah dengan wajah murung, masih terus saja memikirkan kejadian kemarin yang membuatnya tak pernah bisa tertidur nyenyak.


Apa benar Galang sudah melakukan hal itu padanya? Apa benar ia akan menikah dengan pemuda itu secepatnya?


Lalu jika hal itu benar terjadi, apa ia akan kehilangan semuanya?


Keinginannya memanglah tak terlalu tinggi, ia hanya ingin membuat ibunya berhenti dari pekerjaan sekarang dan ia akan menggantikan posisi ibunya mencari penghasilan dari pekerjaan lebih baik.


Apapun itu, bahkan jika bisa ia ingin melanjutkan pendidikannya ke universitas.


Itulah yang menjadi beban pikirannya saat ini.


Thea berjalan menyusuri setiap lorong sekolah dengan membawa seluruh perasaan. Hingga pada akhirnya langkah kaki Thea terhenti karena ia menabrak seseorang.


"Maaf, aku gak sengaja," ucapnya pelan dengan tanpa melihat siapa yang ia tabrak.


"Thea, kamu kenapa?"


"Enggak, Ky. Maaf, aku mau langsung ke kelas," jawab Thea, melihat ke arah Wingky sebentar dan sesudah itu ia melangkahkan kakinya melewati pemuda itu.


Yah. Itu adalah Wingky Manassero. Salah satu sahabatnya di sekolah.


"Tunggu, The. Selama dua hari ini kamu gak masuk, apa kamu udah baik-baik aja? Aku denger kamu sakit," tanya Wingky bertubi-tubi seraya mengikuti langkah kaki Thea.


"Emh, itu ... udah." Singkat. Seraya terus berjalan menuju kelasnya yang sudah ada di depan mata. Thea masih murung.


"The, tunggu." Lagi-lagi Wingky menahan langkah Thea memasang wajah peduli pada gadis itu.


"Bilang sama aku, kamu kenapa? Wajah kamu keliatan pucet, Apa kamu masih sakit? Kita ke UKS aja, ya."


"Ky, bukannya tadi aku udah jawab pertanyaan kamu, sekarang aku udah baik-baik aja," jawab Thea.


Ia melepaskan pegangan pemuda itu padanya pelan. Sungguh, ingin sekali rasanya ia menumpahkan seluruh kegelisahan hatinya saat ini pada seseorang.


Tapi ia tahu, ini bukanlah sesuatu yang pantas ia ceritakan pada orang lain, termasuk Wingky.


Wingky terdiam beberapa saat, karena sampai saat ini Thea masih saja belum menatap matanya sama sekali.


"Apa kamu ada masalah sama ibu kamu? Atau, kamu butuh sesuatu? Cerita sama aku The, siapa tau aku bisa bantu kamu," tanya Wingky yang kembali mengeratkan peganganya pada Thea.


Thea mengalihkan pandanganya ke arah lain, matanya mulai berkaca-kaca lagi. Entah kenapa perasaanya ini sangat sensitif padahal Wingky hanya berusaha peduli.


Ia diam.


"The, kenapa?" tanya Wingky sekali lagi.

__ADS_1


Thea pun mulai mengangkat wajahnya yang ia tundukan, ia ingin menghargai kepedulian pemuda itu walau tak bisa menjelaskan apapun padanya.


Tapi, tiba-tiba saja pandanganya malah terpusat pada seseorang yang tak jauh di belakang Wingky yang tengah berjalan dengan santainya menuju ke arah mereka.


Orang itu ...


Theapun melepaskan pegangan tangan Wingky padanya dan langsung berjalan dengan cepat menghampiri orang itu.


"Thea, kamu mau kemana?" tanya Wingky sedikit berteriak.


Thea tak menoleh dan malah terus berjalan menjauh.


"Ikut, aku pengen bicara sama kamu," ucap Thea seraya menarik tangan Galang cukup keras dan membawanya ke tempat lain.


Wingky yang melihat hal itu pun tampak heran mengapa Thea tiba-tiba saja menarik tangan si tengil itu dan mengabaikannya, hingga ia berinisiatif mengikuti mereka dari belakang untuk mencari tau apa yang terjadi.


Thea memilih UKS sebagai tempat untuknya bicara dengan pemuda ringkih itu, karena tempat ini cukup sepi di pagi hari.


Iapun menutup pintu ruangan dan menghadapkan tubuh ringkih pemuda itu padanya.


"Eh, apaan si lo pagi-pagi udah narik-narik gue," gerutu Galang setelah mereka di dalam.


"Jangan pura-pura amnesia deh, kamu tau alasan aku ngajak kamu kesini. Aku cuma mau tanya soal ... itu." Thea sedikit ragu menanyai Galang.


"Apaan? Soal malem kemaren?" tanya Galang dengan wajah tak acuhnya terhadap gadis itu.


"Lang, ini tuh masalah serius! Kenapa kamu keliatan santai banget, sih? Beasiswa aku di pertaruhin, masa depan aku juga di pertaruhin. Dan itu semua gara gara kamu!" ucap Thea bertubi-tubi dan bernada serius. Napasnya mulai naik turun karena emosi kenapa pemuda ini malah terlihat biasa saja.


Galangpun menoleh ke arah Thea dengan tatapan malas.


"Eh, lo ko jadi nyalahin gue?! Lagian, lo ngerasa ada yang berubah dari badan lo gak? Enggak kan! Itu karena gue gak ngapa-ngapain elo! Dan itu cuma khayalan yang dibikin nyokap lo doang! Salahin nyokap lo aja sanah!" ucap Galang tak ingin kalah.


"I- itu ..." Thea terdiam beberapa saat.


Ia memikirkan kembali apa yang di katakan oleh Galang barusan. Yah, memang tak ada yang berubah pada dirinya yang ia rasakan.


Tapi.


BUK!


Tiba-tiba saja Thea menendang tulang kaki Galang karena jengkel sendiri melihat ekspresi yang di tunjukan pemuda itu pada nya.


"Adededehhh, eh! Sakit tau! Lo apa-apaan si, emang gue salah apa sama lo?" gerutu Galang sambil memegangi kakinya.


"Rasain! Baru kali ini yah, aku ketemu orang kaya kamu! Gak peduli masa depan sendiri. Kamu tau nggak, kemaren papah kamu dateng lagi ke rumah ngebicarain soal pernikahan kita? Dan sekarang? Kamu malah keliatan kaya orang yang gak punya dosa sama sekali! Lang! Ini nyangkut masa depan aku sama kamu! Kamu mikir gak sih?! Kecuali kamu emang gak punya pikiran!" ucap Thea bertubi-tubi setelahnya dengan sedikit berteriak marah.


Di luar ruang UKS, Wingky mencoba untuk mendengar pembicaraan mereka berdua. Ia sangat penasaran dengan sikap Thea pagi ini. Tak biasanya gadis itu ingin berbicara dengan si tengil hanya berdua saja.


"Heh, sembarangan aja lo ngomong gue gak punya pikiran! Gue udah tau, bokap gue juga udah ngomong sama gue kemaren," ucap Galang.


"Terus?" tanya Thea singkat dengan penuh rasa keingintahuan. Ia kini menatap dalam-dalam orang yang berada di hadapanya ini.


.


"Kita bakal tetep nikah, itu udah gak bisa diganggu gugat lagi," jawab Galang bernada malas seraya mengalihkan pandanganya ke arah lain.


"Hah?" Mata Thea terbulat sempurna saat mendengarnya. Setelah Galang memberikan jawaban dari pertanyaan, entah kenapa pandanganya langsung berputar-putar.


Napasnya semakin tak beraturan, kepalanya terasa sangat berat, hingga pada akhirnya ia tak mampu menopang berat tubuhnya sendiri.


GREPP


Galang menangkap tubuh Thea yang hampir terjatuh itu di kedua tangannya.


Gadis itu tak sadarkan diri saat ini.


Beberapa saat, Galang masih menatapi wajah sayu Thea di kedua tangannya dan belum membaringkan gadis itu di tempat tidur UKS.


Ia paham, Thea pasti sangat syok dengan apa yang terjadi saat ini.


Tapi.


Suara pintu dibuka oleh seseorang dari luar.


Galang menoleh.


Sedangkan Wingky sangat kaget bukan main karena melihat Thea sudah tak sadarkan diri di kedua tangan Galang, hingga ia langsung berlari ke arah mereka berdua.


"Thea?" ucapnya kemudian seraya mengambil alih tubuh gadis itu dari kedua tangan Galang.


Gadis itu benar benar sudah tak sadarkan diri, rasa khawatir dan kesal bercampur aduk di benak Wingky saat ini. Apalagi ia belum dengan jelas mendengar perkataan mereka berdua, karena mereka bicara sangat pelan sekali.


Dan Thea seperti ini pasti karena orang ini lagi, padahal tadi Thea sudah mengatakan padanya bahwa ia baik-baik saja.


Iapun membaringkan gadis itu di atas tempat tidur.


Galang masih diam di tempatnya.


"Eh, ini pasti gara-gara lo, kan? Lo apain dia?" tanya Wingky tegas seraya mendorong tubuh Galang ke belakang.


"Hhhh, salahin aja gue terus! Urusin tuh cewe lo, biar gak nyusahin gue mulu," ucap Galang bernada sinis seraya berbalik arah hendak keluar dari ruang UKS itu.


Namun Wingky buru-buru menarik kerah baju seragamnya dan menatap dengan tajam.


"Gue gak akan ngebiarin lo ngelakuin ini lagi, awas aja kalo lo berani kaya gini sama Thea. Urusan lo sama gue," ucap Wingky sedikit mengancam.


"Kata-kata basi," ucap Galang singkat seraya melepaskan pegangan Wingky di bajunya dengan ekspresi tak peduli. Iapun berbalik arah lagi dan benar-benar meninggalkan Wingky yang masih dengan kekesalanya.


Dan setelah sampai di luar.


Langkah kakinya terhenti lagi karena seperti ada perasaan aneh yang ia rasakan saat ini.


Hingga Iapun kembali berbalik arah dan mengintip dari kaca jendela ruang UKS. Thea masih belum sadarkan diri dan Wingky duduk di sebelahnya dengan setia menemani gadis blonde itu.


Galang menghela napas panjang, karena pada kenyataanya masalah ini juga cukup mengganggu pikirannya.


"Hhh, Padahal gue belom selesai ngomong," gumamnya pelan seraya terus melihat ke arah Thea si dalam sana.


***


Galang menghentikan langkahnya di taman sekolah, setelah kejadian tadi entah kenapa ia merasa bersalah juga pada gadis blonde itu, ini adalah kali kedua Thea terlihat menyedihkan seperti tadi.


Pikiranya berkemelut sendiri, segala hal yang terlintas di kepalanya terasa rumit ia rasakan.


Sesekali Galang menghela napas, mencoba untuk lebih tenang dan mengatur segala perasaanya. Melihat ke depan dan mengalihkan perhatiannya sendiri.


Semua orang di depannya terlihat begitu ceria, bercanda tawa, mengobrol, mengerjakan tugas bersama dan terlihat juga ada yang tengah 'berpacaran' di bawah pohon mangga.


Galang tersenyum tipis.


Pasti sangat bahagia jika ia juga memiliki teman, bisa seperti mereka dan merasakan bagaimana indahnya masa masa SMA.


Ingin.


Itulah yang saat ini ia rasakan, ia ingin seperti mereka. Mereka seolah tak memiliki beban sama sekali.


Ia pikir, semua masalah akan terlupakan walaupun sejenak jika kita memiliki banyak teman.


Tapi ia?


Galang menghela napas lagi, namun kali ini rasanya begitu sesak ia rasakan.


Kenapa? Karena tak ada satu orang pun yang bisa ia jadikan teman.


Setelah banyak hal yang ia lalui, ia merasa kini semakin sedikit orang orang yang bisa dijadikan teman.

__ADS_1


Karena tak sedikit dari mereka yang berteman karena mereka sedang ada keperluan saja. Selebihnya, mereka akan menghilang entah kemana.


Meskipun ia tak memungkiri juga itu di rasa lebih baik daripada tak punya teman sama sekali.


"Ehm." Terdengar suara dari arah samping Galang.


Galang menoleh, ia agak sedikit kaget sebenarnya kenapa tiba-tiba orang ini ada di sebelahnya.


"Eh, ada kodok. Sejak kapan lo disini?" tanya Galang, meledek.


Ia adalah Pangeran. Emh? Nama yang terdengar unik, bukan? Tapi itulah keyataan. Namanya adalah Pangeran. Berperawakan jangkung dan selalu berpakaian formal, termasuk gaya bicaranya.


"Lima menit lalu," jawab Pangeran singkat dan datar.


"Hah, masa? Ko gue gak ngeh' lo ada disini?" tanya Galang lagi seraya melihat ke arah Pangeran dengan sedikit kerutan di keningnya.


"Itu karena kamu terlalu sibuk memikirkan orang lain, sampai kau mengabaikan seseorang yang ada di dekatmu," jawab Pangeran dengan masih tampak datar.


Galang terkekeh kecil.


"Adehh, Kodok, kodok, lo itu lucu ya. Ekspresi lo, gaya lo, cara ngomong lo, lempeng banget! Kalah pamor penggaris sama lo, Dok." ucap Galang lagi.


Pangeran tak merespon. Bahkan tersenyum pun tidak.


Hingga beberapa saat, mereka berdua berada dalam keheningan.


"Terimakasih, " ucap Pangeran tiba-tiba di sela kebisuan.


"Buat apaan?"


"Kemarin, harusnya aku berterima kasih padamu karena kau telah menyelamatkanku dari para preman itu."


"Emh, ucapan lo kadaluarsa! Eh, gara-gara lo kemaren gue hampir mati tau gak! Untung aja gue bisa selamat, kalo gue mati. Orang pertama yang gue gentayangin pasti elo," ucap Galang bertubi-tubi dan bernada kesal.


Pangeran terlihat tersenyum walau pun sangat tipis.


"Eh tapi, gue masih penasaran. Emang kemaren lo abis ngapain si?" tanya Galang lagi.


Pangeran diam.


"Oh. Lo gak mau jawab. Dasar kodok buduk." Galang mulai heran, orang ini ... kenapa dia begitu datar? ia jadi bingung sendiri.


"Aku melakukannya karena ingin menyelamatkan seseorang," ucap Pangeran.


Galang mengernyitkan keningnya sebentar. "Maksud lo?"


"Kau lihat di sana," ucap Pangeran seraya menujuk ke arah seorang gadis yang tengah duduk di kursi panjang depan kelas.


"Aida?"


"Kemarin dia di ganggu oleh preman itu, dan aku ingin menyelamatkannya,"


Galangpun melihat ke arah Aida sebentar dan sesudah itu ia melihat lagi ke arah Pangeran.


Tatapan yang di tunjukan Pangeran begitu dalam terhadap gadis itu meskipun Aida sangat jauh di ujung sana.


"Lo suka sama dia?!"


Pangeran agak sedikit tersentak dan terlihat jadi salah tingkah sendiri.


"Itu ... tidak, sepertinya kita sudah terlalu banyak bicara. Aku hanya ingin mengucapkan terimakasih saja padamu," ucap Pangeran seraya beranjak dari duduknya.


Galang mengerucutkan bibir.


Lagi-lagi ia di tinggalkan, padahal ia masih ingin bicara banyak saat ini.


"Dasar kodok buduk, cuman gitu doang pake datengin gue segala," ucapnya pada diri sendiri. Ia menggerutu, namun juga tersenyum tipis setelahnya.


***


Galang memarkirkan motornya di dalam garasi.


Seperti biasa, dia memang tak selalu datang terlambat jika pulang sekolah, tapi ia akan terlambat pulang jika ia sudah pergi dari rumah ini kemudian setelah ia mengganti pakaian.


"Asalamualaikum, Bibi ...!" teriak Galang setelah ia memasuki rumahnya. Ia melihat lihat ke seluruh isi rumahnya ini, tampak sepi.


"Bi," ucapnya lagi seraya berjalan menuju dapur.


Setelah ia menemukan seseorang yang ia panggil itu, senyumnya melebar dan ia langsung menyalami tangan Bi Esti.


"Asalamualaikum bibiku cantik," ucap Galang dengan senyuman manis nya.


.


"Waalaikum salam, Aden sudah pulang. Kenapa tidak langsung ke kamar, Den? Ganti baju aden, nanti badan aden gatal-gatal," ucap bi Esti.


Galang malah merengut dan melangkahkan kakinya menuju sofa yang berada di ruang tamu, ia sedikit membanting tubuhnya saat duduk dan melihat Bi Esti yang juga mengikutinya.


"Nanti dulu, Bi," ucap Galang bernada malas seraya membuka sepatu.


"Kenapa? Apa aden ada masalah di sekolah?"


Galang menghela napas pendek dan membenarkan posisi duduknya menghadap ke arah Bi Esti. Ia menggelengkan kepala menjawab pertanyaan Bi Esti barusan.


"Lalu?"


"Dua bulan lagi aku ujian di sekolah, apa menurut bibi aku bisa lulus? Sedangkan, udah banyak banget masalahku di sekolah," ucap Galang kemudian.


Bi Esti tersenyum manis, ia yang duduk di atas karpet lantai itupun menghadap kan wajahnya ke arah Galang.


"Aden pasti bisa, apa aden ingat? Dulu sebelum aden masuk SMA, aden selalu juara kelas dan aden selalu bersikap baik di sekolah. Jadi bibi yakin, kalau aden mau sedikit berubah, aden pasti bisa lulus," ucap Bi Esti pelan.


"Bibi. Bibi itu lagi muji apa lagi ngeledek aku? Jadi maksud bibi, sekarang aku nakal? Bodoh? Gitu maksud bibi," tanya Galang dengan sedikit kekehan kecil.


"Iya," jawab Bi Esti singkat.


Galang semakin tertawa.


"Iya deh iya, aku nakal. Tapi bibi tau aku gak bodoh, emh. kalo misalkan aku lulus apa hadiah bibi buat aku?" tanya Galang.


Bi Esti terdiam sejenak seperti memikirkan sesuatu.


"Rahasia," jawabnya singkat.


"Ih kenapa gitu?"


"Nanti aden akan tau, tapi kalau aden tidak lulus nanti, bibi akan langsung berhenti kerja dari sini."


Galang merengut.


"Ih, anceman bibi gak lucu!" ucap Galang seraya beranjak dari duduknya dan meninggalkan bi Esti begitu saja menuju kamar.


Bi Esti hanya terkekeh namun senyumannya kian menipis setelahnya seraya menatapi kepergian Galang.


"Lang ... tunggu," ucap seseorang dari arah belakang Galang.


"Papah, tumben jam segini ada di rumah? Kenapa?" tanya Galang heran.


"Sekarang, batalkan semua acara kamu di luar. Karena kita berdua akan pergi," ucap Pak Yahya.


Galang mengernyit. "Pergi? Kemana?"


"Nanti kamu akan tau, segera lah berganti pakaian. Papa tunggu di bawah," ucap Pak Yahya seraya berbalik arah memasuki kamarnya.


Galang terdiam di tempatnya beberapa saat, menanyai dirinya sendiri kemana kira-kira sang ayah membawanya pergi.

__ADS_1


Ah, lagipula ingin pergi kemanapun ia tetap tak bisa menolak. Karena jika tidak, itu akan jadi masalah sendiri.


__ADS_2