
Setelah pekerjaan rumah selesai pukul sembilan tepat, Thea mulai merapihkan tas dan pakaiannya bersiap kembali pulang ke rumah Galang. Karena semenjak ia menikah, ibunya selalu saja mengusirnya dari rumah.
Meskipun ia tau bukan itu maksudnya, tapi kali ini ia sedang kesal pada Galang hingga membuatnya malas pulang ke rumah itu.
"Berikan ini pada suamimu, sampaikan salam ibu untuknya ya," ucap Bu Lestat seraya memberikan sebuah rantang berisikan makanan.
"Ibu, kenapa aku harus pulang sekarang sih? Ijinin aku tinggal di sini ... dua hari aja," ucapnya sedikit memasang wajah memelas pada ibunya.
"Ck! Sudah sering ibu bilang, setelah menikah. Kamu bukan tanggung jawab ibu lagi, dan sebagai istri, tak baik meninggalkan rumah tanpa seijin suami. Harusnya kamu ngerti dong kewajiban kamu sekarang," jawab Bu Lestat.
Thea merengut, harusnya ia juga sudah tau ibunya akan terus memojokkannya seperti ini.
"Iya iya, kalo gitu aku pulang," jawabnya bernada malas seraya menyalami tangan ibunya.
***
Sesampainya di rumah, Thea membuka pintu kamar dan mengucapkan salam. Tak ada jawaban dari siapapun.
"ke mana dia?" tanya Thea pada diri sendiri seraya meletakan tasnya.
Ia pun berjalan menuju kamar mandi, pemuda itu tak ada.
Tirai jendelapun tampak masih tertutup dan mendadak ia buka untuk membiarkan cahaya matahari masuk ke dalamnya.
Setelah cukup lama berada di dalam, ia mulai heran.
Kenapa Galang tak terlihat, padahal ini masih termasuk jam pagi.
"Apa dia pergi ketoko?" tanyanya lagi pada diri sendiri seraya berjalan menuju dapur untuk mencari Bi Esti.
Makanan yang ia bawapun masih belum ia buka dan ia letakan didapur, karena saat ia datang tak ada siapapun di dalam.
"Non Thea?"
"Astagfirullahal adzim, Bibi." Thea agak kaget saat mendengar ada seseorang yang tiba-tiba memanggilnya. Dan ia lihat, Bi Esti tengah berjalan kearahnya dengan barang belanjaan yang cukup banyak.
"Bibi, Bibi abis dari supermarket? Sini aku bantu," ucap Thea seraya mengambil satu kantong plastik besar bawaan Bi Esti.
"Iya Non, terimakasih banyak. Oh ya, apa ibu Non Thea sehat di rumah?" tanya Bi Esti.
"Emh, alhamdulillah sehat Bi," jawab Thea.
Ia dan Bi Esti kini berjalan menuju dapur untuk meletakan barang belanjaan itu sebelum menyusunnya di dalam kulkas.
Bi Esti tersenyum tipis. "Lalu, apa Den Galang betah menginap di sana?" tanya Bi Esti.
"Hahh? Galang?"
"Iya, Den Galang. Masa Non Thea lupa sama nama suami sendiri,"
Thea terkekeh kecil mendengarnya. "Bibi nih ada ada aja, tapi semalem Galang gak nginep di rumah aku Bi. Ini aja aku pulang karena disuruh ibu, soalnya aku belum ijin sama dia."
"Loh, Bibi pikir Den Galang ikut menginap di rumah Non Thea. Sebab semalam Den Galang tak pulang ke rumah,"
Thea mulai mengernyitkan keningnya karena heran setelah mendengar perkataan Bi Esti.
"Dia gak pulang? Tapi, dia beneran gak ikut sama aku loh Bi. Trus dia ke mana ya?" ucap Thea.
"Astagfirullahal adzim, apa Den Galang menghubungi Non Thea sebelumnya?"
Thea menggelengkan kepalanya pelan.
Dan ia lihat, raut wajah Bi Esti terlihat murung dan memegangi dadanya.
"Bibi kenapa?" tanya Thea kemudian.
.
"Bibi hanya khawatir Non, tak biasanya Den Galang tak pulang tanpa menelpon Bibi. Bibi hanya takut terjadi apa-apa padanya Non,"
"E- Bibi. Jangan berpikiran buruk dulu, siapa tau Galang semalem nginep ditoko. Nanti aku cari dia yah, bibi gak usah terlalu khawatir," ucap Thea seraya mengusap pelan pundak Bi Esti untuk menenangkannya.
Ia faham, Bi Esti pasti sangat khawatir pada Galang. Karena mereka berdua sudah sangat dekat.
Karena melihat Bi Esti yang semakin murung, setelah sholat dzuhur akhirnya Thea memutuskan untuk langsung mencari keberadaan Galang.
Ponsel pemuda itu tak bisa dihubungi bahkan setelah puluhan kali ia mencoba menelpon.
Pukul setengah dua siang saat Thea sampai di toko, lagi-lagi ia tak menemukan jawaban yang ia harapkan. Galang tak ada.
Ia tak ada di sini, toko ini masih terkunci rapat bahkan lampu depannya masih menyala. Menandakan kalau belum ada seseorang yang datang ketempat ini.
Thea sekali lagi merogoh ke dalam tasnya, mengambil sebuah ponsel dan memencet tombol panggil.
lagi-lagi mailbox.
Ia menggerutu kesal, sebenarnya ke mana Galang hingga menghilang tak ada kabar seperti ini.
Atau jangan jangan Galang pergi ketempat Nayla? Fikir Thea.
"Ck! Dasar orang egois!" gerutunya pada diri sendiri.
Thea pun akhirnya pulang ke rumah dengan tanpa membawa kabar apapun. Perasaanya sedikit 'aneh' saat Galang tiba-tiba menghilang seperti ini. Tapi ia buru buru menepiskan semua pikirannya karena terlalu kesal dengan suaminya itu.
Saat sudah sampai lagi di rumah, Thea membuka pintu sendiri karena tak ada jawaban yang menyambut ucapan salamnya. Ia pun berjalan lagi menaiki anak tangga di dalam rumah menuju kamarnya. Sedikit berharap bahwa Galang sudah berada di rumah saat ia datang.
Namun, langkah terhenti karena ia mendengar dengan samar suara seseorang tengah bicara. Ia mengernyitkan kening, karena meskipun samar tapi suara itu terdengar begitu mengganggunya.
Ia pun memundurkan lagi langkah kaki ke bawah untuk melihat siapa yang berbicara itu.
Dan ia lihat.
Ternyata Pak Yahya dan Bi Esti yang tengah bicara diruang keluarga.
Thea mendekati mereka dengan langkah pelan, bukan bermaksud menguping tapi ia penasaran apa yang membuat Bi Esti terdengar menangis.
"Tenanglah Esti, Galang pasti bisa ditemukan. Insya Allah, dia akan baik baik saja," Terdengar suara Pak Yahya yang berbicara saat Thea mulai mendekati mereka.
"Tapi tetap saja saya tak bisa tenang Tuan, tak biasanya Galang pergi tanpa kabar seperti ini. Setidaknya dia selalu mengabari saya kalau ia menginap di rumah temanya, tapi sekarang dia tiba-tiba menghilang. Bagaimana saya bisa tenang," ucap Bi Esti pelan dibalik isakan tangisnya.
"Percayalah pada saya Esti, saya sudah menyuruh anak buah saya untuk mencarinya. Bukannya dia sudah sering pergi seperti ini? Saya akan bisa menemukan dia secepatnya, saya sangat mengerti dengan kekhawatiran kamu. Dan ...."
"Tapi tuan, bagaimana kalau terjadi sesuatu yang buruk padanya? Dia terlalu sakit untuk berada di luar sana, Tuan!"
__ADS_1
Thea mengernyitkan kening saat ia mendengar perkataan Bi Esti barusan. "Apa maksudnya itu?" tanya Thea pada diri sendiri seraya terus mencoba lebih dekat.
BRUKK!
Tanpa disengaja ia menyenggol sebuah vas bunga hingga terjatuh dan membuat Bi Esti dan pak Yahya menoleh kearahnya.
"M- maaf, aku gak sengaja nyenggol ini," ucap Thea yang jadi salah tingkah sendiri seraya membenarkan posisi vas bunga iru ketempatnya lagi.
Pak Yahya dan Bi Esti langsung berhenti bicara.
"Non, apa sudah ada kabar dari Den Galang?" tanya Bi Esti yang langsung memburunya dengan pertanyaan.
"Enggak ada Bi, Galang gak ada ditoko. Aku juga gak tau nomer temen-temenya, maafin aku Bi," jawab Thea.
Bi Esti terlihat semakin menangis.
"Sudahlah, lebih baik kalian berdua istirahat saja. Biar ini jadi urusan saya, saya akan mengabari kalian jika sudah menemukannya," ucap Pak Yahya.
Thea dan Bi Esti terdiam. Setelah bicara, Pak Yahya pun meninggalkan mereka berdua.
"Bibi, Bibi tenang, aku yakin Galang pasti baik-baik aja. Dia pasti pulang, karena ada Bibi yang selalu nunggu dia," ucap Thea seraya memeluk tubuh Bi Esti yang tengah menangis terisak di dekatnya.
Bi Esti tak berkata apa-apa. Namun, air matanya begitu mengisyaratkan bahwa ia begitu mengkhawatirkan Galang dan begitu takut Galang tak kembali padanya.
***
Malam harinya, Thea merebahkan tubuhnya ditempat tidur setelah semua kegiatan yang biasa ia lakukan bersama Galang ia lakukan 'sendiri'.
Termasuk membuat aksesoris untuk dagangan ditoko kecilnya.
Thea berkali kali membenarkan posisi tidur, tapi tak terasa nyaman saat ia melihat ke arah samping.
Biasanya Galang menemaninya saat tidur, atau ia akan bertengkar lebih dulu dengan suaminya itu untuk mempertahankan posisi.
Sudah dua malam ini ia tak tidur bersama Galang, jika kemarin karena ia menginap di rumah ibunya.
Tapi kali ini?
Thea memegangi dada saat melihat bantal tak berpenghuni disampingnya. Terasa aneh, seperti ada yang hilang dalam dirinya.
Apa mungkin?
Saat seperti ini, ia baru menyadari satu hal dalam dirinya.
Yaitu....
'Ia merasa kehilangan Galang'.
Benarkah? Tanya Thea pada dirinya sendiri.
***
"Thea," ucap seseorang mendadak hingga membuat lamunan Thea buyar seketika.
"Eh, ky. Maaf, maaf, ada apa?" tanyanya balik pada Wingky yang kini berada disebelahnya.
"Ada apa? Harusnya pertanyaan itu untuk kamu The, ada apa? Kenapa kamu ngelamun terus dari tadi?" tanya Wingky.
"Emh, itu ... Gak ada, gak papa ko," jawabnya singkat seraya tersenyum tipis.
"Buat apa? Aku lagi kerja loh, ini dipotong gajih gak?" tanya Thea.
Wingky terkekeh kecil. "Sogokan, aku mau minta kamu nemenin aku ke suatu tempat," jawab Wingky.
"ke mana?"
"Ke apartemen"
"Hahh?"
Lagi-lagi Wingky terkekeh kecil, mungkin menertawai ekspresinya yang agak melongo.
"Serius, tapi kamu tenang aja. di sana udah ada Aida sama Pangeran ko, bukan cuma kita berdua," sambung Wingky.
"Oh, kirain. Emang ada acara apa? Tumben, aku jadi kebanyakan libur gini," ucap Thea lagi seraya menyeruput ice coffe miliknya.
"Tuh kan, pasti lupa?"
"Hmhh?"
"Hari ini kan Aida ulang taun The, jadi kita bakal ngerayain acara kecil kecilan, kenapa milih apartemen. Soalnya kebetulan itu tempat Aida nginep dan tempatnya juga deketan sama lokasi syuting dia. Yah, kamu tau sendiri sekarang dia super sibuk banget,"
"Hahhh? Astagfirullahal adzim, aku beneran lupa! Ya udah ayo, tunggu apa lagi?" ucapnya kemudian seraya langsung beranjak dari duduknya.
Ia benar-benar merasa bodoh karena telah sampai melupakan ulang tahun sahabatnya sendiri.
"Mau ke mana?"
"Ke sana, katanya Aida ada di sana? Ayo,"
"Itu, seragam gak mau diganti dulu?"
"Hahhh," Thea kaget, Ia pun melihat ke seluruh tubuhnya.
Ia baru ngeh' kalau ia masih memakai seragam caffe.
"Hehe, iya. Ini ... Aku lupa lagi," ucapnya dengan nyengir garing.
Thea membalikan tubuhnya membelakangi Wingky, menepuk jidatnya sendiri karena merasa malu.
Ah! Bagaimana bisa ia sampai tak bisa fokus seperti ini? Ingatan tentang Galang benar-benar sudah meracuni pikirannya.
***
Sesampainya di apartemen, Aida dan Pangeran sudah berada di sana, saat sudah berada di dalam ia melihat tempat ini sudah di penuhi dengan makanan.
Meskipun Aida mulai menapaki kariernya di dunia entertainment, tapi sepertinya porsi makannya tak berubah.
Gadis itu sangat menyukai makan, bahkan porsi makannya melebihi ia Wingky ataupun Pangeran.
Tapi hebatnya, tubuhnya tak memberi efek apapun.
Selalu terlihat ramping.
__ADS_1
Ia pun duduk di soffa saat semua teman-temannya bercanda membicarakan tentang kebiasaan kebiasaan mereka dulu atau hal lain yang meramaikan suasana.
Ia tak ikut bicara dan hanya tersenyum tipis saja, entah kenapa hatinya merasa tak nyaman hari ini.
Lagi-lagi, pikiran tentang Galang terus memenuhi setiap rongga di otaknya.
***
Waktu sudah menunjukan pukul delapan malam, tak terasa acara sudah selesai begitu saja.
Saat ia melakukan sholat maghrib dan isya, ketiga teman-temannya itu malah menertawainya.
Karena mereka heran sejak kapan ia mementingkan sholat dibanding bercanda dengan mereka?
Benar sekali.
Sejak kapan hal itu terjadi?
Galang, biasanya orang itu yang selalu mengingatkannya sholat lima waktu.
Lagi-lagi ia teringat tentang Galang!
Thea memukul-mukul pelan kepalanya, mencoba untuk menghilangkan bayangan tentang sitengil itu dari dalam otaknya.
"The, kamu kenapa?" tanya Wingky.
"Hahh, enggak. Itu aku cuma ngerasa pusing aja ky," jawabnya memberi alasan pada Wingky.
"Kamu sakit?"
Thea terdiam sejenak melihat Wingky yang mulai khawatir padanya. "Emh, sedikit. Kayanya, aku gak bisa lama-lama di sini deh ky. Aku mau pulang," ucapnya kemudian.
"Aku anterin kamu ya, aku takut terjadi apa-apa sama kamu kalo pulang sendirian," ucap Wingky.
Thea kaget, karena merasakan tangan Wingky memegang tangannya saat bicara. Entah kenapa ia merasa tak nyaman disentuh laki-laki lain seperti ini. Padahal sebelumnya itu menjadi hal biasa baginya.
"Emh, gak usah ky. Aku bisa sendiri ko," jawabnya pelan seraya melepaskan tangan Wingky darinya.
Ia pun beranjak dari duduknya dan berpamitan pada Aida dan Pangeran, meskipun Aida terlihat kecewa tapi ia benar harus pulang karena ia semakin tak nyaman.
Thea mulai melangkah menuju pintu keluar. Namun, Wingky membuntutinya dari belakang dan tetap dengan tawaran yang sama. Ingin mengantarkannya pulang sampai ke rumah. Hingga terpaksa ia mengiyakan ajakan Wingky itu.
Dan saat mereka tengah berjalan, tiba-tiba gerak matanya terhenti pada dua orang yang baru keluar dari dalam sebuah kamar. Kedua orang yang sangat ia kenal dan sangat membuatnya kaget setengah mati.
Ia menghentikan langkahnya di tengah jalan.
Menatapi mereka berdua yang tengah tersenyum manis bersamaan.
"The, itu Galang kan? Dia ngapain ada di sini?" Pertanyaan Wingky terdengar begitu menyayat hatinya.
Ia terdiam dan belum melanjutkan langkahnya menatapi mereka.
"Dia sama cewe itu lagi, mereka berdua datang ke sini. Sepertinya mereka memang memiliki hubungan," Lagi, ucapan Wingky semakin terasa perih dihatinya.
Thea masih diam.
"Harusnya kamu gak nikah sama orang seperti itu The. Lihat, dia udah jelas keluar dari dalam kamar bersama wanita lain. Apalagi mereka cuma berdua, mereka pasti udah melakukan sesuatu di dalam sana."
TEG!
Mata Thea terbulat sempurna saat mendengar perkataan Wingky barusan. napasnya terasa mulai sesak dan tangannya mengepal dibawah, ia tak berhenti menatapi Galang dan Nayla yang berjalan menuju kearahnya.
Saat melihat mereka berdua, darahnya perlahan naik keatas kepalanya. Tidak! Darahnya terasa bergejolak merangsak ke atas kepalanya. Itu terasa panas hingga tak terasa matanya memerah dan mengeluarkan sedikit air yang hampir menetes.
"Thea." Terdengar suara Galang memanggil namanya saat mereka berempat berpapasan. Galang terlihat kaget saat Thea menatapnya dengan tatapan sinis dan tajam.
Nayla pun terlihat sama. Namun, gadis itu seolah tak perduli dengan tatapan Thea padanya.
"Lagi ngapain kamu di sini?" tanya Thea bernada pelan. Namun, terdengar sinis. Ia melihat ke arah Galang, suaminya itu terlihat kusut dan agak pucat.
Sebuah kapas yang menempel dipelipis dan perban yang melingkar ditangannya, belum lagi baret-baret kecil terlihat masih merah di wajah sebelah kanannya, menandakan bahwa telah terjadi sesuatu menimpa suaminya itu saat menghilang kemarin.
"Gue, gue lagi ...."
"Lang, ayo. Aku akan mengantarmu pulang," ucap Nayla yang memotong perkataan Galang seraya memegang satu pemuda itu.
"Kamu belum jawab pertanyaan aku, Lang, sedang apa kamu di sini? Kamu keluar dari dalam kamar sama wanita lain? Aku ini istri kamu kan?" tanya Thea bernada datar dan tak mempedulikan perkataan Nayla ataupun hal yang dilakukan Nayla dihadapannya.
"Itu bukan urusanmu, lagipula Galang tak pernah peduli kamu istrinya atau bukan." lagi-lagi Nayla yang menjawab pertanyaan Thea.
"The, udah. Kayanya dia emang gak peduli sama kamu, kita pergi aja dari sini. Gak usah mikirin suami yang gak bertanggung jawab kaya dia." sambung Wingky.
Galang dan Thea terdiam dan saling menatap satu sama lain.
"Apa lo gak percaya sama gue?" tanya Galang.
"Enggak," jawab Thea singkat.
Mereka berempat terdiam. Apalagi Thea yang kini terus menatap Galang dengan mata yang berkaca-kaca menahan tangis dan emosi yang hampir keluar.
"Aku percaya sama kamu, karena kamu suami aku." tambah Thea.
Galang tampak tersenyum lega, sedangkan Nayla dan Wingky terlihat kesal. Tanpa basa-basi lagi, Thea langsung melepaskan pegangan tangan Nayla dari Galang.
Tapi ....
BUKKK!
Satu tendangan keras menghantam tulang kering Galang oleh Thea tanpa di duga.
BUKKK!
BUKKK!
BUKKK!
Tak berhenti sampai disitu Thea melancarkan serangan ke perut Galang dengan tangannya yang sudah mengepal sejak tadi, hingga membuat Galang meringis kesakitan memegangi perutnya.
"Eh buset! Istri macem apa lo? Ini beneran sakit tau! Kenapa lo mukulin gue?!" tanya Galang yang masih terbatuk batuk kecil setelah menerima hantaman Thea yang bertubi tubi.
"Sakit? Bagus kamu ngerasa sakit! Masih mending kamu gak aku bunuh!" ucap Thea bernada ketus.
"Hahhh?" Galang melongo melihat sikap Thea padanya, melihat kemarahan istrinya itu membuatnya bergidik ngeri sekaligus lucu sendiri.
__ADS_1
Sedangkan Nayla dan Wingky kini terdiam seribu bahasa.
"Dan kamu! Jangan hubungi dia lagi arena aku gak suka! Satu lagi, aku berhak tau urusan Galang di luar rumah. Karena dia suami aku!" ucap Thea bernada sinis pada Nayla.