Jodoh Yang Tidak Diinginkan

Jodoh Yang Tidak Diinginkan
JYTD 08


__ADS_3

Thea duduk di bawah pohon belakang kampusnya, membaca buku dan berkali-kali mencerna pelajaran yang ia dapatkan dari dosen.


Sebulan berlalu ia sudah menikah dengan Galang dan selama itu juga ia tak pernah bertemu lagi dengan Wingky.


Ayda pun turut menghilang setelah mendengar kabar bahwa ia sudah menikah dengan Galang, karena ia sendiri tahu kalau Ayda sangat menyukai Galang sewaktu SMA dulu, wajar saja jika gadis itu sekarang menjauhinya.


Teman-teman yang ada di kampus memang ramah, tapi nyatanya tak semenarik waktu sekolah menengah. Rata-rata mereka berasal dari keluarga berada dan ia tak bisa mengimbangi mereka jika sudah menyangkut soal keuangan. Baik itu hanya untuk sekedar maka ataupun jalan ke luar.


Sedangkan di rumah, Galang memang sangat mengesalkan. Dia selalu mengerjainya, memerintah, ataupun mengatainya dengan seenak hati.


Apalagi kalau malam sudah tiba, di tempat tidur orang itu tak mau mengalah sama sekali.


Ia yang belum terbiasa tidur satu ranjang dengan laki-laki pun tak ingin kalah. Hingga pada akhirnya mereka selalu ribut saat hendak tidur.


Tapi dibalik itu semua, ada satu hal yang membuatnya heran sekaligus merasa iba pada Galang.


Selama ia tinggal di rumah itu, tak ada satupun mertuanya yang pulang kerumah. Semenjak akad nikahnya satu bulan lalu, Pak Yahya bertugas di luar kota dan belum kembali sampai hari ini.


Sedangkan ibu mertuanya, ia sama sekali belum pernah bertemu dengannya. Ia hanya bisa melihat wajah ibu mertuanya itu dari foto yang terpajang di dinding rumah. Seperti apa sifat dan sikapnya ia tak pernah tahu sampai detik ini.


Tak jarang juga ia melihat Galang selalu termenung sendiri di depan pintu kamar orang tuanya. Berdiri menatapi kamar kosong di depannya. Entah apa yang Galang pikirkan, tapi sepertinya pemuda itu tengah merindukan kedua orang tuanya.


Dan ia rasa, sifat Galang yang mengesalkan selama ini karena ia merasa kesepian.


~kesepian, itu adalah hal yang tak pernah diinginkan oleh siapapun~


"Hai," ucap seseorang tiba-tiba dari arah samping Thea.


Theapun menoleh karena mendengar seseorang mendekatinya dan duduk disebelahnya.


Ia kaget, sangat kaget malah. Saat melihat siapa orang yang berada di sampingnya ini.


Wingky, mengapa pemuda itu datang menghampirinya? Tubuh yang memang agak kurus itu kini semakin terlihat kurus, bahkan ia terlihat tak bersemangat saat menyapanya.


Namun senyuman tipis yang dipancarkan Wingky agak membuat Thea heran.


"Ky?" ucap Thea kemudian seraya menutup buku bacaanya dengan cepat.


"Kamu apa kabar?" tanya Wingky dengan suara pelan.


"A-aku baik-baik aja, k-kamu ko bisa ada disini sih?" tanya Thea balik sekaligus menjawab pertanyaan Wingky.


Ia menoleh ke sana-kemari, siapa tahu Pangeran atau Ayda ada bersamanya.


Ternyata tak ada.


"Aku sengaja datang kesini buat nemuin kamu, The," ucap Wingky.


Thea terdiram sejenak karena melihat raut wajah Wingky yang masih terlihat sayu.


"Nemuin aku?" Ia penasaran hal apa yang membuat Wingky datang menemuinya lagi, meskipun kejadian itu sudah berlalu tapi ia dan Wingky nyatanya pernah berada dalam situasi rumit.


"Aku mau minta maaf sama kamu, karena waktu itu aku pernah mau nyelakain kamu. Maafin aku Thea, aku bener-bener gak sengaja ngelakuin hal itu ke kamu."


"Ky, harusnya aku yang minta maaf, karena hal itu juga karena kesalahan aku sendiri. Aku yang salah, karena aku gak pernah bisa jujur sama kenyataan saat itu." jawab Thea.


Ia sesekali melihat ke arah Wingky, pemuda itu masih tampak tersenyum meskipun tipis.


Entah apa yang ada di pikiran pemuda itu sekarang, yang jelas rasa bersalah itu masih saja menempel pada dirinya.


"Sekarang, aku udah bisa nerima semuanya The." ucap Wingky.


Suaranya sangat pelan saat bicara, terlihat dengan jelas apa yang Wingky katakan sungguh berbanding terbalik dengan apa yang ia rasakan.


Thea diam.


"Aku sadar, kalau aku hanya bisa mencintai kamu dari jauh, tapi asal kamu tau. Aku udah cukup bahagia bisa melihat kamu tersenyum The, jadi mulai sekarang aku udah putuskan, kita berteman." ucap Wingky seraya mengulurkan satu tangannya ke arah Thea dengan sedikit senyuman.


"Ky ...."


.


"Jangan nolak aku lagi."


Thea tersenyum tipis karena melihat Wingky kini memancarkan senyuman manis kepadanya. Iapun membalas uluran tangan Wingky. Meskipun sangat berat, nyatanya kini mereka berdua harus menerima kenyataan bahwa apa yang direncanakan manusia hanya menjadi 'rencana' saja jika Tuhan sudah berkata lain.


"Emh, mulai besok kamu boleh kerja lagi di caffe," tambah Wingky lagi.


"Apa? Tapi maaf, kayanya aku gak bisa," ucap Thea sedikit kaget saat mendengarnya.


"The, aku tau. Orang seperti kamu gak akan mudah bergantung sama orang lain, kamu terima aja. Itung-itung ini sebagai permintaan maaf dari aku."


Thea terdiam sejenak.


Memang benar apa yang dikatakan Wingky, ia masih membiayai kuliahnya sendiri. Dan selama ia tak bekerja di caffe, ia hanya membuat suatu kerajinan tangan berbentuk bros di rumah Galang.


Meskipun penjualannya laku, tapi itu tak cukup untuk membiayai kebutuhan kuliahnya yang cukup tinggi.


Theapun hanya tersenyum tipis menjawab perkataan Wingky padanya, menandakan bahwa jawaban yang ia berikan pada Wingky adalah iya.


***


Malam harinya di rumah.

__ADS_1


Thea tengah sibuk menyusun satu persatu bahan bahan kecil untuk membuat aksesoris jualannya.


Pita warna-warni beserta manik ia susun teliti menggunakan tangan. Keahliannya itu ia dapat setelah belajar dari warnet jika ia mengerjakan tugas sekolah dulu.


Desainnya pun ia sendiri yang menggambar, ketertarikannya pada seni menggambar ia salurkan untuk menyusun rangkaian benda-benda kecil itu menjadi sebuah kreasi yang bisa menghasilkan uang.


Uang uang dan uang, hal itulah yang ada di pikiranya. Bagaimana caranya ia bisa menghasilkan uang dan tak bergantung pada Galang ataupun mertuanya.


"Asalamualaikum istrikuh!"


Terdengar suara cempreng begitu keras melengking memenuhi rongga telinga Thea, ia menoleh malas melihat siapa yang menyerukan sebutan itu padanya.


"Waalaikum salam," jawabnya singkat seraya terus mengerjakan kegiatan sampingannya ini.


Galang yang baru datang ke rumah pun langsung meletakan tas dan jaketnya asal di mana saja. Dengan cengiran tengilnya ia menghampiri Thea yang tengah sibuk dengan pekerjaan sendiri.


"Istrikuh lagi apa nih?"


Thea menghela napas dan meletakan pekerjaan sejenak di atas meja untuk melihat sepenuhnya kearah Galang.


"Berhenti manggil aku kaya gitu, aku gak suka," ucapnya kemudian pelan namun tetap tak mengurangi kekesalanya.


"Oh, trus kalo lo gak suka kenapa lo masih mau jadi istri gue?"


"Terpaksalah, apa lagi? Kalau bukan karena ibu, males tau gak punya suami yang nyebelinnya kaya kamu!" ucapnya lagi dengan masih ketus menatap pemuda yang berada dihadapannya ini.


Namun yang ia lihat, Galang malah semakin melebarkan cengiran seraya mengambil sesuatu dari dalam tasnya dan ia sembunyikan di belakang tubuhnya.


"Hemhh, lo pasti nyesel udah ngomong gitu, sebab sekarang gue bakal ngebuat lo ngucapin rasa SYUKUR YANG SEBESAR-BESARNYA KARENA TELAH DIBERIKAN SUAMI SEBAIK DAN SEGANTENG GUE!" ucap Galang dengan ekspresi lebay dan dengan suara cemprengnya yang khas jika sudah berteriak.


Thea tersenyum, kadang-kadang ia selalu merasa lucu sendiri saat melihatnya seperti itu selama sebulan terakhir.


"Kenapa emang?" tanya Thea.


"Coba liat gue bawa apaan?" ucap Galang kemudian seraya menyodorkan sebuah kantong plastik pada Thea.


Thea sedikit mengernyitkan kening saat ia menerima kantong plastik itu di tangannya. Karena ini adalah hal yang sangat tak mungkin dilakukan Galang. Apa dia hanya ingin mengerjainya?


"Apaan nih? Isinya bukan bom kan?" tanyanya kemudian.


"Iya, itu adalah bom yang bisa ngebuat lo meledak ledak! Bummhhh! Buka, dong."


Thea terkekeh kecil, tapi ia penasaran juga dengan apa yang diberikan Galang padanya ini.


Dan setelah ia lihat. Matanya langsung terbulat sempurna, senyuman melebar seketika dan entah kenapa ia merasa sangat senang bukan main. Hingga dengan cepat ia mengeluarkan isi kantong plastik itu.


"Hp?" tanya Thea tak percaya.


"Serius ini buat aku?" tanya Thea memastikan lagi.


"Yah, kalo lo gak suka ya udah balikin sini, tadinya sih gue pikir kalo lo ada hp kan lo bisa jual dagangan lo di internet. Tapi ..."


GREP


Tiba-tiba saja Thea memeluk tubuh ringkih itu dengan cepat, ia berjingkrak-jingkrak karena saking bahagianya dan karena saking tak percaya Galang melakukan hal ini.


"Aku suka, aku suka! Aku suka banget! Makasih, yah," ucapnya kemudian seraya masih memeluk Galang dengan erat.


"Thea?"


Mata Thea langsung terbuka lebar saat galang berkata. Ah, kenapa bisa ia sampai memeluk pemuda itu?


Iapun dengan cepat langsung melepaskan pelukanya pada Galang, semua kata-katanya terkunci rapat karena ia jadi salah tingkah sendiri saat ini.


"Ma-maaf."


"Cieeee, yang lagi seneng. Sampe segitunya lo meluk gue, liat noh pipi lo udah kaya tomat, eh apalagi idung lo nih. Udah mau terbang kayanya, hehehe," ucap Galang bernada meledek.


Thea diam, ia membiarkan saja pemuda itu meledeknya ataupun mengatainya lagi. Kali ini ia takan marah atau menendang kakinya lagi. Karena apa yang diberikan Galang ini sangat penting untuk melanjutkan usahanya.


"Lo kan sekarang udah punya hp, jadi lo bisa promosiin dagangan lo, di rumah ini ada wifinya kok. Jadi lo bisa sepuasnya pake internet," ucap Galang.


Thea masih diam kala pemuda itu mulai melangkah menjauhinya. Tapi ia lihat Galang malah balik lagi ke arahnya.


"Oh, ya satu lagi, gue udah nyari tempat sewaan juga buat lo dagang, kecil sih tapi tempatnya cukup rame. Tar kita pergi ke sana buat ngedekor ulang tempatnya biar menarik."


"Lang."


"Hmhh?"


"Kamu kenapa jadi ngelakuin semua ini buat aku? Ini ..."


"Karena gue gak mau bergantung ama bokap. Gue ini gak kuliah, pengangguran dan gak ada kerjaan. Jadi, gak ada salahnya dong gue ngasih fasilitas ke elo buat usaha. Entar gue bisa bantu jaga toko atau yah dikit-dikit tangan mulus gue digunain buat bros, gak papalah."


Thea terdiam sesaat. "Trus kenapa kita gak sama-sama kuliah aja? Kamu kan kaya, punya banyak uang dan pasti gak sulit buat bayar kuliah, kenapa kamu malah bantuin aku?" tanya Thea penuh selidik.


Heran juga. Kenapa Galang tak melanjutkan pendidikan dan malah berdiam di rumah, padahal ia punya segalanya.


"Gue ... males."


Kening Thea mengerut. Galang mengalihkan pandangan dan menjawab datar. Apa iya?


"Udahlah, gak penting juga ngurusin gue. Mendingan kita salat dulu, supaya usaha kita dilancarkan oleh Allah. Ayo!" ajak Galang. Ia beranjak lebih dulu dari tempatnya.

__ADS_1


Thea hanya mengangguk seraya tersenyum tipis.


Mengikuti langkah kaki Galang menuju tempat biasa mereka Salat, meskipun sangat mengesalkan ternyata memang inilah yang membuat Galang terlihat berbeda dari pemuda kebanyakan.


Ia sama sekali tak pernah bisa mengira hal apa yang akan dilakukan Galang, apa yang ada di pikiran Galang, ataupun apa yang Galang rasakan.


Thea menatapi punggung pemuda yang sudah menjadi suaminya selama satu bulan ini di depannya. Terasa sangat nyaman saat Galang mengajaknya salat berjama'ah seperti ini. Thea tersenyum sebelum ia memulai salat. Benar apa yang dikatakan Galang.


Ia bersyukur telah memiliki suami sepertinya.


Setelah selesai salat berjama'ah, mereka berdua berjalan menuju kamar.


"Emh, lang." Thea menahan langkah kaki Galang sebelum mereka berdua memasuki kamar.


"Malam ini, eumh ... itu, emh." Thea agak menggigit bawah bibirnya saat hendak berkata, bahkan ia kini belum selesai dengan perkataanya dan Galang terlihat heran dengan sikapnya ini.


"Apaan?"


"Malam ini, kamu ... itu, boleh tidur di kasur sebelah aku," ucap Thea sangat pelan seraya mengalihkan pandanganya saat bicara.


"Hah? Beneran?" tanya Galang.


Thea hanya mengangguk pelan menjawabnya.


"Alhamdulillaah, akhirnya gue gak tidur dilantai lagi!" ucap Galang bersemangat seraya tersenyum lebar.


Saat mereka berdua tengah bicara, terdengar suara petir saling bergemuruh dengan kerasnya di atas langit malam mereka hingga membuat lampu di rumah padam seketika.


Gelap.


"Yah, mati lampu lagi. Lang, kamu mau nunggu apa gimana? Aku mau nyari senter nih," ucap Thea.


Iapun hanya bisa melihat sedikit Galang di hadapanya. Karena gelap, wajah pemuda itu tak terlihat jelas.


Galang tak menjawab.


Hingga iapun langsung melangkahkan kakinya untuk mencari senter.


Akhirnya ia menemukan juga apa yang ia cari itu di sebuah laci dekat mereka. Rumah sebesar ini, kenapa begitu menyeramkan jika gelap.


Bi Esti pun sepertinya sudah tertidur lelap dan rumah ini pun semakin tampak sepi. Thea melangkahkan kakinya lagi menuju Galang setelah ia menyalakan senter yang ia dapat itu.


Dan saat ia hampir sampai ke tempat suaminya, mata Thea membulat sempurna. Apa itu? Apa ia tak salah lihat?


"Lang? Kamu kenapa?" tanyanya kemudian setelah ia berdiri di dekat Galang.


Namun Galang tak menjawab pertanyaannya, ia kini terduduk di sudut dinding sambil memegangi kepalanya erat.


"Lang, kamu baik-baik aja, kan?" tanyanya lagi.


Ia kini mulai melihat gelagat aneh yang ditunjukan Galang di hadapanya, Iapun memegang pundak Galang untuk mengetahui apa yang terjadi.


Cahaya senter yang ia bawa pun kini menampakan dengan jelas kondisi Galang di hadapanya.


Napas pemuda itu tak beraturan dan ia terus memegangi kepalanya, ringisan kecil pun sayup terdengar dari bibir Galang hingga membuat Thea berpikir pasti ada yang tengah Galang rasakan saat ini.


Ia menengok ke sana-kemari melihat sekelilingnya, tampak sepi. Tapi Galang terlihat semakin meringis kesakitan.


"Tolong ... akh! Sakit. S-sakit."


Terdengar ucapan pelan yang membuat Thea menoleh lagi kearah Galang.


"Lang. Kamu kenapa, sih?"


Thea makin panik. Galang tampak jadi seorang depresi berat yang tak mampu mengontrol diri. Atau, apa ia tengah sakit?


"Tolong! Bibi! Bi Esti, tolong!" teriak Thea kemudian, sangat kencang. Seraya berusaha menenagkan Galang di hadapannya.


Tak ada yang menyahut, hingga Thea berlari cepat kemana pun agar ia bisa meminta bantuan. Sampai di satu titik, ia lihat Bi Esti tengah berbicara dengan seseorang di luar.


"Kenapa lampunya bisa padam? Bagaimana kalau Den Galang kumat lagi? Tuan pasti memarahi kita habis-habisan!" Bi Esti marah.


"Iya maaf. Saya ketiduran, saya akan cek secepatnya sekarang." Laki-laki yang berbicara dengan Bi Esti pun pergi.


"Bibi?"


"Eh, Non. Ada apa? Apa Den Galang sudah tidur?" tanya Bi Esti cepat.


"Belum. Justru karena itu, aku mau minta bantuan bibi. Galang keliatan kaya orang sakit, Bi. Sekarang dia masih ada di depan ruangan tempat salat."


"Apa?"


Bi Esti lantas berlari cepat. Thea pun menyusul dari belakang merasakan keganjilan dari situasi ini.


Benar saja.


"Astagfirullaah, ya Allah. Aden!" seru Bi Esti. Mengincar sesosok tubuh yang tak lagi bergerak di lantai bersamaan dengan menyalanya lampu rumah.


Thea tercekat, Galang? Ada apa? Suaminya sudah tak sadarkan diri dengan sedikit darah yang mengalir dari hidung.


Thea yang tak tahu apa-apa itu pun turut membantu Galang berdiri. Ada rasa iba dalam hati, melihat laki-laki yang biasanya ceria tiba-tiba menurun drastis.


Thea dan Bi Esti membaringkan Galang sementara di sofa. Bi Esti segera menelpon seseorang dan sepertinya itu Pak Yahya. Ia menangis, terdengar dari pembicaraan mereka Pak Yahya marah besar dan memintanya membawa Galang ke rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2