Jodoh Yang Tidak Diinginkan

Jodoh Yang Tidak Diinginkan
JYTD 29


__ADS_3

Begitu memasuki restoran milik Galang. Lidah Thea telah dimanjakan dengan berbagai macam menu yang tersedia di dalam. Ia yang selama ini hanya makan masakan rumahan pun akhirnya bisa merasakan bagaimana nikmatnya hidangan ala kebarat-baratan.


Apalagi, hidangan tersebut dibuat oleh suaminya sendiri. "Ini pasti mimpi," gumam Thea. Ia berusaha menyadarkan diri dari apa yang ia lihat. Sebab, tak pernah terbayangkan sebelumnya. Seorang Galang Harun bisa memasak dan jadi Owner restoran Prancis!


Entah kenapa Thea merasa Galang sangat sexy di matanya kali ini.


"Cobalah. Ini kubuat sesuai seleramu ...."


Galang menyodorkan sebuah hidangan spesial di hadapan Thea. Makanan serupa panekuk tipis yang digulung dengan isian stroberi manis asam dan dilapisi cokelat itu pun membuat Thea meneguk saliva.


Sebenarnya, ini termasuk makanan penutup. Setelah sesaat sebelumnya, Thea telah menghabiskan dua jenis hidangan utama.


"Beneran bisa dimakan? Gak dikasih pelet, 'kan?" tanya Thea.


Galang tertawa renyah. "Itu tak berguna. Tak perlu pelet apapun kau sudah mencintaiku."


"Dih, geer!" Thea balas tertawa. "Aku makan, ya. Tapi kamu juga harus makan."


Thea mulai melahap hidangan yang terasa begitu nikmat di lidahnya. Tak lupa, suapan besar diberikannya kepada Galang hingga mulutnya terisi penuh dan ia terdengar sedikit menggerutu tak jelas.


"Maaf mengganggu, Pak. Semuanya sudah menunggu di ruangan Bapak," kata salah seorang pegawai Galang.


"Oh, ya. Saya akan ke sana." Galang mulai beranjak dari kursi. Namun sebelum pergi, ia lebih dulu berpamitan pada Thea. "Apa kau tidak keberatan menunggu di sini. Aku akan meeting sebentar bersama mereka."


Thea mengangguk. "Gak papa, kok. Kamu fokus kerja aja, aku juga gak akan ke mana-mana."


Mereka berdua saling tersenyum sebelum Thea melihat Galang benar-benar pergi meninggalkannya. Thea mengerti, sekarang suaminya menjadi lelaki dengan segudang kesibukkan.


Usaha yang dirintisnya sejak satu tahun lalu ini masih dalam tahap pengembangan. Jadi wajar saja jika Galang begitu berusaha keras agar restoran ini menjadi tempat teryaman bagi pelanggan yang datang.


***


Sekitar setengah jam kemudian, Thea mulai dilanda bosan. Galang juga tampaknya takkan selesai dalam waktu cepat. Akhirnya, ia pun memutuskan pergi ke toilet untuk sekedar membasuh wajah sekaligus menghilangkan rasa kantuk.


"Huft ... apa Galang udah selesai?" Thea berjalan kembali setelah wajahnya mulai segar setelah tersentuh air dingin. Ia menjadi lebih fresh dan merapikan pakaian serta make up yang dipakainya.


"Apa kau tidak punya mata?! Lihat, dengan gajimu sebulan pun kau tidak akan sanggup mengganti jas mahalku!"


Pekikan suara terdengar oleh Thea setelah ia sampai di meja miliknya lagi. Tampak seorang lelaki berbadan tegap tengah mengelap jasnya yang terkena tumpahan saus dari salah satu pelayan.


Di depannya, tampak juga tiga orang wanita yang mencoba menenangkan lelaki tersebut. Namun, usahanya gagal.


"Sa-saya minta maaf, Tuan. Saya tidak sengaja, saya kaget karena Tuan tiba-tiba ada di depan saya," kata pelayan wanita itu.


"Oh, jadi kau menyalahkanku atas perbuatanmu?! Pelayan macam apa kau?! Sekarang, panggil pemilik restoran ini ke hadapanku!"


"Ta-tapi, Tuan."


"Panggilkan atau aku akan menghancurkan nama baik restoran ini karena pelayanannya buruk!"


Pelayan wanita itu semakin ketakutan. Begitu pun Thea tang termat khawatir pada Galang. Ia sungguh takut Galang akan mendapat masalah. Tampaknya, lelaki yang tengah diselimuti amarah itu dari kalangan atas.


Thea pun berjalan sedikit cepat menghampiri mereka, pelayan wanita itu telah pergi. Pasti memanggil Galang.


"Maaf, kalau boleh tau. Ini ada apa, Pak?" tanya Thea. Ia takut sebenarnya. Namun, sedikit banyak ia sering mengalami hal semacam ini karena ia sendiri pun seorang pedagang.


"Apa kau pemilik restoran ini?!"


"Thea?"


"Ma-Mama?"


Thea kaget bukan main. Ternyata wanita yang ada di hadapannya adalah Bu Rini. Wanita paruh baya itu sedikit tersentak. Wajahnya melukiskan kekhawatiran pada kondisi ini.


"Jadi ini anak Ibu?" tanya lelaki itu bernada sinis. Sesekali tangannya masih membersihkan sisa sausnya dengan tissu dan tersenyum miring.


"Iya ... ia adalah men--"


"Ia istri saya. Dan saya adalah pemilik restoran ini, saya minta maaf atas ketidaknyamanannya. Jika anda merasa tidak nyaman atas pelayanan kami. Silakan bicara agar kami memperbaiki kesalahan."


Galang tiba-tiba muncul dari arah belakang mereka. Ekspresi wajahnya begitu datar dan tak menengok ke arah Bu Rini sama sekali. Hingga tak begitu jelas terlihat bagaimana perasaan Galang sebenarnya.


"Oh, jadi mereka berdua anak dan menantumu? Aku benar-benar terkejut mendengarnya. Melihat nama besar perusahaanmu, kau memiliki anak yang bahkan tak becus mengelola restoran kecil."


Perkataan itu jelas melukai perasaan mereka yang mendengarnya. Sebab, situasi ini membuat keadaan menjadi rumit.


"Aku benar-benar kecewa dengan pelayanan tempat ini. Para pelayanmu tidak becus bekerja sampai mengotori jas-ku yang mahal. Apa kau tahu, aku bisa saja menghancurkan restoran kecilmu ini dengan mudah." Lelaki itu berbicara sangat angkuh kepada Galang.


Bu Rini segera tersadar dari keterpakuannya terhadap anaknya. "Tidak. Tolong jangan lakukan itu. Saya akan mengganti kerugian yang Bapak alami. Katakan saja berapa nilainya," kata Bu Rini.


"Nilainya sangat mahal. Yaitu seharga kontrak kerjasama kita."


"A-apa?"


Thea mendapati Bu Rini mendadak bungkam sesaat mendengar jawaban itu. Mungkin, kontrak kerjasama mereka sangat besar nilainya. Mengingat perusahaan ibu mertuanya itu memang cukup besar. Atau, harga itu hanyalah ancaman dari pemutusan kontrak sepihak dari lelaki itu.


"Jangan pernah libatkan pekerjaan dengan orang lain. Saya tidak ada sangkut-paut sama sekali dengan client bisnis anda. Client anda mungkin merasa tidak nyaman dan mengaku sebagai orang tua saya. Tapi, itu semua jelas tidak benar. Dalam urusan ini. Sepenuhnya tanggungjawab saya sebagai Owner. Jadi, saya akan mengganti kerugian anda."


Begitu tegas Galang berkata. Ia tak melihat Bu Rini yang menguarkan aura kesedihan di hadapannya. Sedangkan, lelaki paruh baya angkuh itu kembali mengabsen setiap wajah yang ia lihat.

__ADS_1


"Tidak. Aku sudah terlanjur kecewa. Kali ini kau bebas, karena sikapmu yang lumayan berani mengakui kesalahan," katanya pada Galang. "Tapi tidak dengan kerjasama kita, Bu Rini Setyowati. Karena kecerobohan sekretarismu yang merekomendasikan tempat ini. Aku menyatakan kerjasama kita batal."


Lelaki itu pergi begitu saja tanpa adanya pencegahan dari Bu Rini. Tapi Bu Rini sama sekali tak peduli, ia merasa kerugian yang akan dialaminya tak sebanding dengan Galang. Karena saat ini, Galang telah menjadi prioritas utama dalam hidupnya.


"Tolong rapikan lagi," perintah Galang pada salah satu pelayannya. Dan langsung dilaksanakan dengan cepat. Ia pun melihat ke arah Bu Rini, wanita itu masih ada di depannya.


"Aku minta maaf atas kejadian ini, Nyonya. Jika kerjasama yang baru saja dibatalkan membuat perusahaan anda merugi. Aku akan bertanggungjawab sepenuhnya," kata Galang pada Bu Rini.


Tubuh Bu Rini terasa terpatri di tempat saat Galang menyematkan sebutan Nyonya padanya. Sebuah sebutan yang begitu asing dan pasti ditujukan untuk orang asing.


Apa Galang begitu membenciku? Sampai ia memanggilku begitu? Bu Rini membatin.


"Tidak. Mama tidak peduli lagi berapa besarnya nilai itu. Karena kamu lebih penting dari segala yang mama miliki di dunia ini. Jangan kamu pikirkan lagi, ya," jawab Bu Rini. Ia masih berusaha setenang mungkin menghadapi sikap Galang. Ia yakin, sikap ini adalah efek operasi yang dilakukan Galang. Karena ia tahu sifat alami anaknya takkan pernah jahat pada orang lain. Ia mengusap bahu Galang untuk meyakinkan.


"Oh, ya. Apa ini sungguh restoran-mu? Kalau begitu, mama beritahu papa dulu, ya. Supaya papa bisa datang ke sini dan kita akan makan bersama. Sudah lama kita tidak makan ber-empat," ujar Bu Rini lagi dengan wajah penuh harap.


Thea pun akhirnya merasa mendapat celah dari keadaan ini. Walau pastinya nanti Bu Dewi marah. Tapi, ia benar-benar tak tega melihat usaha Bu Rini yang kuat ingin bersama Galang.


"Lang. Jangan ditolak, ya. Please ... kali ini aja." Thea meraih telapak tangan Galang dan digenggamnya erat. Ia memasang wajah paling memelas seperti anak kecil yang meminta hadiah pada ayahnya.


Galang diam sesaat sebelum ia menghela napas dalam. "Terserah kalian." Ia langsung berlalu begitu saja tanpa permisi.


***


Selagi menunggu kedatangan Pak Yahya. Bu Rini tampak antusias bertanya banyak hal mengenai Galang dan Thea. Tentang Galang yang telah melakukan operasi. Ia juga akhirnya tahu sebab alasan Galang masuk sel tahanan saat terakhir kali berada di rumahnya. Ternyata, itu hanya fitnah belaka agar anak dan menantunya bercerai.


Dari jawaban yang di dapat dari semua pertanyaannya, ia semakin yakin kalau anaknya benar-benar telah menjadi seseorang yang bertanggungjawab dan begitu menjaga orang-orang di sekitarnya.


Galang tak ikut bergabung dalam percakapan mereka berdua. Ia lebih memilih menjauhi dan menyibukkan diri demi menghindari orang yang terus memanggilnya anak.


Galang baru bergabung bersama mereka setelah kedatangan Pak Yahya dan Thea mengajaknya makan siang bersama mereka.


"Papa senang, akhirnya kau mau duduk bersama kami sekarang. Kau tahu? Mamamu sudah lama menunggu saat ini, Lang," kata Pak Yahya.


Terlihat mereka sesekali tersenyum satu sama lain. Karena hal ini baru terjadi selama sejarah kehidupan mereka.


"Oh, ya?" Galang berbicara datar. Ia tak melihat siapapun dan fokus kepada makanan di hadapannya.


Bu Rini mengangguk. "Kapan-kapan kamu mau, kan, makan di rumah mama? Nanti mama masakin makanan kesukaan kamu sama Thea juga," katanya dengan semangat.


Thea dan Pak Yahya mengangguk setuju.


"Boleh juga."


"Bagaimana? Kamu setuju, 'kan?" tanya Bu Rini lagi.


Senyum semringah Bu Rini dan Pak Yahya melebar. Mereka berharap, ini adalah awal hubungan baik antara mereka dan Galang setelah perpisahan.


"Tapi dengan satu syarat," imbuh Galang.


"Apa? Apa kamu mau request makanannya? Katakan ...."


"Jangan memanggilku dengan nama itu lagi. Aku merasa nama itu tidak pantas digunakan untuk orang sepertiku. Apalagi kalian berdua terus menganggapku anak. Apa ... itu tidak salah?"


Pak Yahya mengernyitkan dahi. Begitu pun Bu Rini yang tak kalah heran dengan pertanyaan itu.


"Tidak salah, Lang. Itu nama kamu, sebuah nama yang diberikan alrmarhum ayahmu dulu saat kamu bayi," jawab Bu Rini.


"Benarkah?" Galang mengernyit.


"Tak apa kalau kamu belum mengingat semuanya. Mama yakin, lambat laun kamu pasti mengingat kami. Ini hanya masalah waktu, kita akan membantu kamu mengingatnya, Nak."


Thea melihat Galang di sampingnya tertunduk. Ia memijat pelipisnya seolah berusaha mengingat semua hal tentang mereka di masa lalu. Thea sadar, jika Bu Dewi sampai tahu bahwa Galang sudah bertemu dengan orang tua kandungnya, ia pasti marah besar.


Tapi nyatanya, keadaan lagi-lagi mendesak mereka untuk bertemu. Mungkin, ini adalah petunjuk dari Allah swt agar mereka bisa memperbaiki hubungan keluarga.


"Aku tidak ingin mengingatnya. Kurasa itu lebih baik," kata Galang.


"Tidak ingin? Kenapa?"


Galang diam sesaat. "Maaf ... sepertinya aku harus kembali lebih dulu. Kau juga bisa pulang ke rumahku, The." Ia kemudian beranjak dan berpamitan kepada mereka tanpa memberi jawaban lagi.


"Galang ... tunggu!" Thea berlari kecil menyusul Galang, ditariknya lengan lelaki itu sampai benar-benar berhenti. Dan Thea bisa berdiri di hadapannya lagi. "Kenapa kamu gak mau ingat mereka? Dulu, kamu adalah orang yang paling menyayangi mereka. Kamu selalu berharap satu hari nanti kalian akan berkumpul jadi satu keluarga utuh. Walaupun sekarang kamu hilang ingatan, seenggaknya kamu mengakui kalau mereka adalah orang tua kandung kamu. Masa lalu yang terlupakan enggak harus berakhir buruk, 'kan." Ia sedikit menegaskan perkataannya.


Bu Rini dan Pak Yahya menghampiri lagi untuk ke sekian kali. Walau akan berujung sakit, Bu Rini lebih siap menerima sikap Galang padanya.


Galang menghela napas dalam melihat orang-orang itu terus membututi bagai bayangan diri.


"Aku bukan tidak mengakui, The. Sudah kukatakan, aku benar-benar buta mengenai kalian. Apa salah kalau aku bertanya? Sedangkan yang aku tahu selama ini, cuma ibu yang ada buatku setiap waktu. Tapi mereka tiba-tiba datang dan mengaku sebagai orang tua kandungku. Kau pikir bagaimana posisiku sekarang?" tanya Galang. Sekali lagi ia melihat satu per satu wajah mereka. Tapi, pandangannya tak berani menatap Bu Rini.


Galang terdiam lagi. Aneh sekali. Jika ia bisa berlapang dada memaafkan Thea dalam hatinya, tapi ia malah tak bisa melihat mata Bu Rini walau hanya sebentar.


"Aku merasa ada sesuatu yang salah di antara kita. Sebenarnya anda itu siapa? Kalau benar aku adalah anakmu, lalu kenapa aku diasuh oleh Bu Dewi?" tanya Galang kepada Bu Rini.


Galang menunggu jawaban dari wanita itu karena ia tidak bisa menebak sejauh mana hubungan mereka dulu. Hanya saja, ini sungguh mengganggunya. Namun, melihat di antara mereka tak ada satu pun yang menjawab pertanyaannya. Ia mulai menyadari sesuatu.


"Kau ... membuangku. Benar, 'kan?"


"Galang ... mama tidak pernah bermaksud membuang--"

__ADS_1


Perkataan Bu Rini terhenti. Galang menahan kalimat itu hanya dengan gerakan tubuh yang tak lagi nyaman. Galang bingung harus bagaimana mengungkapkan perasaannya sekarang. Antara, kecewa, marah, benci. Mereka semua seolah bekerja sama mematahkan hatinya dalam sekali tusukan.


"Jadi benar aku adalah anakmu dan kau membuangku. Harusnya aku sudah menebak ini dari awal. Dan seharusnya kita tidak pernah bertemu! Sekarang kalian semua datang hanya untuk mengingatkan kalau aku tak diinginkan oleh siapapun?! Benar begitu?" Napas Galang tersengal karena emosi.


"Galang. Jangan berpikiran buruk dulu. Tenangkan dirimu, kita bicarakan ini baik-baik," ujar Pak Yahya menengahi.


"Bicara apa lagi? Sudah cukup jawaban itu lebih masuk akal mengingat selama bertahun-tahun aku tinggal bersama ibu." Galang memundurkan langkah saat Bu Rini berusaha mendekat. Wanita itu menangis, tapi hatinya terlalu perih menerima kenyataan ini.


"Biarkan keadaan ini bertahan dengan semestinya. Aku tetap akan tinggal bersama ibu dan kita jalani hidup masing-masing. Berhenti memanggilku Galang. Karena aku hanyalah anak buangan yang tidak pantas menyandang nama itu."


"Tidak, Galang. Mama tidak bermaksud membuangmu. Semua ini salah paham, dan mama mengakui sepenuhnya kesalahan mama."


Galang mengernyit. "Salah paham?" Ia pun memberanikan diri menatap mata Bu Rini. Melihat wanita itu dari dekat, mendadak pikirannya kacau.


***


"Dasar pembunuh! Kau memang pantas di penjara karena kesalahanmu! Kau sudah membunuh suamiku! Kau hancurkan hidupku! Gara-gara kamu aku kehilangan suami! Dan sekarang kamu memberi masalah yang sama! Apa belum cukup kau membuat masalah, hah? Bunuh saja aku sekalian agar kamu puas!"


Bu Rini terus berkata. "Kau tak pantas menyandang nama belakang suamiku! Kau tak pantas memakai nama anakku! Nama itu terlalu berharga untuk kau pakai, dasar pembunuh!"


***


Tiba-tiba terdengar suara begitu lantang mendengung di kedua telinga Galang. Itu adalah kilasan perkataan yang dilontarkan Bu Rini. Tak salah lagi.


***


"Maafin aku, Ma."


"Maaf karena aku gak bisa menjadi seperti apa yang mama harapkan. Aku gak bisa menjadi anak yang seperti Mama inginkan. Maaf karena aku selalu saja membuat Mama menderita semenjak kedatanganku. Maaf, aku benar-benar minta maaf sama Mama,"


"Maaf? Apa hanya itu saja yang bisa kamu lakukan, hah? Itu saja belum cukup untuk menebus semua kesalahanmu padaku!"


"Kalau memang ada hal yang bisa membuat Mama memaafkanku, aku akan lakukan. Apapun itu, asal Mama bisa sedikit menerimaku sebagai anak. Meskipun hanya sedikit dan hanya sekali. Aku akan melakukan permintaan Mama padaku."


"Apa kau benar akan melakukan apa yang kuminta?"


"Iya, apapun itu. Saat aku melakukan apa yang Mama minta, aku gak akan minta apa-apa lagi selain bisa mendengar Mama menerimaku dalam kehidupan Mama. Meskipun hanya sedikit dan sekejap mata. Aku hanya ingin Mama mengakuiku."


"Baiklah, akan kukatakan sebuah permintaan dan saat itu juga akan kuakui kau sebagai anak."


"Matilah ... itu adalah penebusan dosamu karena telah membunuh suamiku, baru aku akan memaafkanmu seumur hidup."


"Astagfirullahal adzim, Tidak! Jangan dengarkan itu! Jangan! Tutup telinga dan mata kamu, Nak. Jangan dengarkan apapun. Jangan dengarkan apa kata Nyonya."


"Ini sudah keterlaluan! Kenapa Nyonya bicara seperti itu? Galang adalah anak kandungmu! Dia adalah anak kandungmu! Teganya Nyonya menyuruh dia mati!"


"Bukan! Dia bukan anakku! Anakku sudah meninggal! Lagipula, apa urusanmu dengan keluargaku? Kau hanyalah pembantu di rumah ini, aku bisa kapanpun memecatmu Esti!"


"Rin! Jangan keterlaluan! Sudah, hentikan pertengkaran ini. Esti, cepat bawa Galang masuk ke kamar. Sekarang!"


***


Galang fruatrasi. Suara-suara itu begitu jelas terdengar dan sangat menyakitkan baginya. Tak pernah sebelumnya ia merasakan sakit hebat seperti ini. Karena ingatan itu bagai tombak yang menancap tepat pada hatinya.


Galang ingin menolak ingatan itu. Ia tak bisa bertahan, kelemahan yang mendadak datang dan ia merasa pernah mengalami ini sebelumnya. Terkurung dalam lingkaran kesedihan tanpa celah, dan ia sendirian.


"Tidak ... itu tidak benar." Napasnya tersengal berat. Ia meremas rambutnya kencang, ingin mengalihkan rasa sakit. Tak ada lagi suara nyata yang ia dengar kecuali suara-suara keras penolakkan dari seorang wanita padanya.


Prak!


Sebuah vas bunga terjatuh setelah tak sengaja Galang menyenggolnya. Lelaki itu berniat berpegangan pada sudut meja, namun usahanya gagal.


"Apa yang terjadi, Lang? Kepalamu sakit?" Thea berusaha membantu Galang berdiri tegap. Ia khawatir setengah mati melihat lelaki itu tampak tersiksa.


Galang tak menjawab. Ringisan-ringisan kecil menguar dari mulutnya menahan sakit luar biasa.


"Jangan memaksakan diri, Nak. Tak apa kalau kau belum mengingatnya sekarang. Atau bahkan melupakan semuanya pun tak apa, mama tidak bisa melihatmu begini, Lang," kata Bu Rini. Pak Yahya pun mencoba lebih dekat untuk membantu. "Kita ke rumah sakit, ya. Kali ini dengarkan mama."


Galang tak menolak uluran tangan mereka padanya. Lebih dari itu, sekarang matanya fokus kepada wanita yang terlihat menangis. Cukup lama ia memandangi wajah Bu Rini, tanpa terasa air mata sialan itu merangsek keluar. Kenapa hatinya begitu sakit bahkan hanya melihat wajahnya?


"Apa salahku sampai kau tidak menginginkan kehadiranku? Katakan ...."


Lirih suara Galang membuat pergerakan semua orang terhenti. Untuk pertama kalinya, Thea melihat Galang menitikan air mata. Lelaki yang biasa terlihat tegar dan paling bisa mengubah keadaan itu tampak rapuh.


"Kenapa kau sangat membenciku? Apa semua masalahmu adalah salahku? Bahkan, jika aku dilahirkan ke dunia walau dalam keadaan terpaksa. Apa aku berdosa pada kalian? Apa ... anak sepertiku tidak layak hidup?"


Bu Rini terpaku menghadapi situasi. Pegangan erat Galang di bahunya, mengingatkan ia akan seorang anak yang selalu ia maki, menolak kehadirannya, mematahkan harapannya, bahkan berucap hal yang tak pantas. Tapi, anak itu selalu saja berlari mengejarnya seolah tak kenal lelah dan terpuruk.


"Katakan padaku, kenapa aku begitu menyayangimu bahkan saat kau memintaku mati? Tolong jawab pertanyaanku ...."


Bu Rini tak mampu berkata lebih banyak. Bahkan membalas tatapan sendu Galang padanya pun ia tak bisa. Merasakan pegangan Galang melonggar, reaksi tubuhnya ternyata lebih cepat dari yang ia kira. Ia memeluk tubuh itu dengan erat. Menangis dan menumpahkan semua perasaan.


"Galang!" Bu Rini akhirnya ambruk, ia sedikit menggerakkan tubuh Galang ketika bebannya bertumpu penuh. Namun, sayangnya pemuda itu tak merespon. Sampai ia menyadari sesuatu yang buruk. Kedua mata Galang sudah menutup rapat di pelukannya.


Rasa bersalah dan kasih sayang. Keduanya begitu kompak menyerang sampai dasar hati paling dalam. Galang adalah buah cintanya dengan almarhum Puguh, entah berapa banyak ia melukai hatinya.


Jika saja waktu bisa berputar kembali. Ia pasti membuang jauh sikap egois yang menjadi raja di hatinya. Membuka mata dan hati, saat Galang hanya meminta satu hal sederhana dalam hidupnya.


Yaitu kasih sayang seorang ibu

__ADS_1


__ADS_2