
Setelah berada di dalam kamar, seperti biasanya Galang yang merapikan tempat tidur. Memberikan perhatian lebih pada Thea adalah satu hal yang kini menjadi keharusan baginya.
"Apa lo butuh sesuatu? Lo mau gue buatin teh hangat?" tanya Galang.
Thea hanya mengangguk pelan mengiyakan perkataan Galang.
Galang tersenyum manis. "Lo tunggu dulu di sini bentar ya, gue ambilin," ucapnya kemudian.
"Tunggu." Thea tiba-tiba menarik tangan Galang sebelum ia pergi hingga pemuda itu menengok lagi ke arahnya.
"Kanapa?"
"Makasih," ucap Thea singkat seraya tersenyum manis.
"Sama-sama," ucap Galang seraya tersenyum manis juga, setelah itu Ia pun langsung berjalan meninggalkan Thea menuju dapur di rumah ini.
***
Galang pun mulai melangkah menuju dapur, sebab setelah ia keluar kamar sepertinya Bi Irah yang mengantarkannya tadi sudah pergi entah ke mana.
Saat ia berjalan itu, ia samasekali tak tahu ke mana arah menuju dapur. Vila ini cukup besar, banyak ruangan yang berada di dalamnya. Dan sudah dua kali ia belok ke ruangan yang salah.
"Ck, ini rumah kagak ada dapurnya apah?" gerutunya pada diri sendiri seraya terus berjalan.
Dan setelah cukup lama berjalan, akhirnya ia menemukan juga tempat yang ia cari itu. Ia pun tersenyum dan terus berjalan tanpa tahu apa yang tengah berada di balik pintu dapur yang tingginya hanya setengah pinggang itu.
Ia mulai membuka pintu.
Arah pandanganya yang sejak tadi tak ke mana-mana pun mulai memutar. Mengitari sekelilingnya untuk melihat seisi dapur ini.
Tapi.
Langkahnya terhenti seketika, matanya terbulat sempurna saat pertama kali menginjakan kakinya masuk ke dalam dapur itu. Ia kaget bukan main, melihat dua orang yang tak jauh di hadapannya tengah terperanjat dengan kedatangannya ini.
Dua orang, yang samasekali ia tak pernah menyangka akan melihatnya dengan keadaan seperti itu.
"Ga-Galang," ucap Nayla seraya membenarkan atasan bajunya yang sedikit terbuka.
Galang langsung berjalan cepat ke arahnya dan menyingkirkan seseorang yang berada di dekat Nayla dengan agak kasar.
"Lagi ngapain kalian?" tanyanya dengan bernada marah pada Nayla dan Wingky.
"Galang, aku ..."
"Heh, apa urusannya sama lo? Dia itu udah jadi cewe gue sekarang, jadi gue sama dia berhak ngelakuin apapun. Jangan so ikut campur deh," ucap Wingky bernada sinis seraya mendorong tubuh Galang.
"Apa?"
Galang semakin tersentak kaget. Mereka berdua memiliki hubungan? Sejak kapan? Sedangkan yang ia tahu, selama ini Nayla tak pernah berhubungan dengan lelaki mana pun kecuali dengan seseorang yang bernama Tristan.
"Ky, apa kamu bisa tinggalin aku sebentar sama Galang? Nanti aku akan menyusul," ucap Nayla pada Wingky.
__ADS_1
Wingky tersenyum manis. "Baiklah, sayang. Aku pergi duluan, ya," ucap Wingky seraya mencium pipi Nayla.
Mata Galang lagi-lagi terbulat sempurna melihat hal itu dihadapannya langsung. Ia kesal, bukan karena cemburu, tapi ia kesal sekaligus tak pernah menyangka mereka melakukan ini di tempat umum dengan tanpa memiliki ikatan yang sah.
Setelah kepergian Wingky, Nayla pun mengambil sebuah gelas dan menuangkan air dingin yang berada di dalam kulkas tanpa memperdulikan apa yang sudah terjadi tadi.
"Nay."
"Emh, kenapa?" tanya Nayla balik.
"Kenapa kamu sekarang berubah? Kenapa kamu ngelakuin hal itu? Itu salah, Nay! Kamu gak boleh ngelakuin itu sama dia!" ucap Galang bernada agak tinggi memarahi Nayla.
TUKK!
Nayla meletakkan gelasnya di atas meja dengan sedikit keras, ia bersikap datar dan melihat ke arah Galang.
"Kenapa? Apa kamu cemburu?" tanyanya kemudian.
"Nay, ini bukan masalah cemburu apa enggak, tapi apa yang kamu lakuin tadi itu dosa! Meskipun kalian beruda udah pacaran, tapi kalian belum benar-benar sah," ucap Galang dengan masih terlihat marah.
Nayla tersenyum tipis. "Apa sekarang aku terlihat seperti sampah?"
"Bukan itu maksud aku. Aku cuma pengen ngingetin kamu--"
"Ngingetin soal apa? Soal kamu yang udah ngebuang aku seperti sampah? Bukan aku yang berubah, Lang. Tapi kamu, kamu yang udah ngerubah aku jadi kaya gini," ucap Nayla pelan memotong perkataan Galang yang belum ia selesaikan.
Galang terdiam, melihat tatapan datar Nayla padanya.
Sampah? Kenapa Nayla malah menganggap dirinya sendiri seperti sampah? Apa keputusannya mengakhiri hubungan mereka tempo hari sudah sangat menyakitinya?
Ah! Bodoh sekali. Ia pasti sudah sangat menyakiti Nayla.
Nayla yang ia tau, adalah seorang gadis yang baik. Yang bisa menjaga harga dirinya sebagai seorang wanita.
Ia pun kini menghadap ke arah Nayla dan memegang kedua pundak gadis itu.
"Apapun alasanya. Kamu gak boleh ngelakuin hal itu lagi, ini demi kebaikan kamu, Nay. Aku gak mau kamu terjerumus," ucap Galang pelan.
"Kenapa kamu masih peduli padaku sekarang? Apa kamu sadar kalau kamu masih menyukaiku? Kau pasti masih mencintaiku, iya kan?" tanya Nayla dengan tatapan serius.
"Galang," ucap seseorang tiba-tiba terdengar pelan membuyarkan obrolan Galang dan Nayla.
Galang menoleh.
Dan ia tersentak kaget melihat Thea tengah berdiri di depan pintu dengan tatapan marah.
Apalagi setelah bicara Thea pun langsung berbalik arah dan meninggalkannya dengan tanpa menoleh kebelakang lagi.
"Thea!"
GREPP!
__ADS_1
Ia merasakan sebuah tarikan pelan ditangannya saat ia ingin mengejar larian Thea.
"Kita belum selesai bicara."
"Maaf, Nay. Tapi aku harus pergi nyusul Thea," ucapnya kemudian seraya melepaskan pegangan tangan Nayla padanya dan perlahan pergi meninggalkan gadis itu.
***
Galang yang berlari menyusul Thea pun mengikuti ke mana arah istrinya itu berusaha menjauhinya.
Entah kenapa Thea tiba-tiba berlari seperti ini? Ia tak mengerti, padahal ia dan Nayla tak melakukan apapun.
"Thea! The, tunggu."
Galang berhasil menyusul Thea dan menarik pelan lengan Thea dan menghadapkan tubuh istrinya itu kehadapannya.
Tapi Thea buru-buru menepiskan pegangan tangannya hingga terlepas.
"Lepas," ucap Thea bernada marah.
"The? Lo kenapa sih? Kenapa lo tiba-tiba marah kaya gini? Dan kenapa lo lari-larian kaya tadi, lo itu lagi sakit The." Ia semakin khawatir melihat Thea yang tampak tersengal akibat berlarian menjauhinya.
"Kenapa? Kamu bilang mau ngambil teh buat aku! Tapi apa? Kamu cuma bikin alesan aja kan supaya kamu bisa ketemuan sama Nayla?"
Galang kaget, tapi belum sempat ia menjawab perkataan Thea barusan. Aida dan Wingky datang menghampirinya dengan cepat.
"Thea? Ya ampun, kamu kenapa? Kamu berantem sama Galang?" tanya Aida yang baru datang.
Thea tak menjawab.
"Thea, please. Yang lo bilang tadi itu gak bener, gue beneran gak ada maksud kaya gitu." Galang memegang satu tangan Thea lagi untuk meyakinkanya.
Tapi lagi-lagi Thea menepiskannya dan masih dengan tatapan yang sama.
"The, udah. Lebih baik kamu ikut sama aku aja yah, kita ke taman. Supaya kamu bisa nenangin pikiran kamu, ayo." Aida memegang kedua pundak Thea dan menuntunnya pergi meninggalkan Galang.
"Thea!"
"Jangan ikutin aku! Aku mau pergi sama Aida," ucap Thea dengan tanpa menoleh samasekali saat Galang memanggilnya.
Karena mendengar kemarahan Thea, Galang berhenti melangkah. Membiarkan istrinya bejalan menjauhinya dalam keadaan salah faham.
Mengerjarnya terus pun akan terasa percuma, sepertinya kali ini Thea benar-benar marah padanya. Tapi semoga saja, kemarahannya ini tak berlangsung lama. Karena ia percaya, Thea akan tetap percaya padanya.
Ia pun melihat ke arah Wingky, ia masih berdiri dihadapannya padahal Thea dan Aida sudah pergi.
Dan tatapannya itu? Kenapa ia menatapnya seperti itu?
Sebuah tatapan dengan sedikit senyuman kepuasan seolah tergambar jelas diwajahnya.
Hingga tak berapa lama, Wingky pun pergi meninggalkannya begitu saja.
__ADS_1