
Dua hari berlalu setelah itu, Thea mulai menunjukan perubahan sikap. Dokter memang sudah mengijinkannya pulang. Tapi, yang jadi masalahnya, Thea kini jadi pendiam dan murung. Ia seolah masih larut dalam kesedihannya yang belum bisa ia lupakan.
Selama berada di rumah sakit, Galang selalu berusaha menghiburnya, apapun ia lakukan demi membuat istrinya itu kembali tersenyum meskipun tipis. Wingky, Pangeran, dan Aida pun sering datang ke rumah sakit. Melakukan hal yang sama demi sahabat mereka.
Meskipun ada sedikit rasa cemburu saat melihat perhatian Wingky pada Thea. Namun, Galang masih berusaha berfikir positif.
"Asalamualaikum, Bi." Galang membuka pintu rumah dan mendorong kursi roda yang diduduki Thea. Pukul sembilan lebih mereka sampai di rumah setelah sebelumnya mereka pergi ke pemakaman.
"Wa'alaikumsalam, alhamdulillah ... akhirnya Non Thea pulang juga," ucap Bi Esti yang sedikit berlari kecil menghampiri Galang dan Thea.
Galang tersenyum.
"Biar Bibi bantu," ucap Bi Esti lagi seraya mengambil tas yang menggantung dipundak Galang.
"Makasih, Bi."
"Kalau begitu, lebih baik aden langsung bawa Non Thea ke kamar. Bibi sudah menyiapkan semuanya, supaya Non Thea bisa nyaman beristirahat," kata Bi Esti.
"Iya, Bi," jawab Galang.
Bi Esti pun langsung membawa tas itu dan pergi meninggalkan mereka berdua. Tapi sebelum itu, Galang melangkah kedepan dan berjongkok di hadapan Thea.
"Nah, sekarang, kan, kita udah pulang. Apa lo butuh sesuatu sebelum kita ke kamar?" tanya Galang.
Thea tak menjawab dan hanya menggelengkan kepalanya pelan.
Galang menghela napas pendek, sekarang sangat sulit membuat Thea berkata apalagi tertawa. Tapi ia akan terus berusaha, sampai Thea kembali seperti semula.
"Ya udah, kita langsung ke kamar aja, ya." Namun, belum sempat ia mendorong kursi rodanya ia mendengar satu teriakan yang membuatnya menoleh seketika.
"Thea!" teriak Aida yang baru datang dari luar dan langsung berlari menghampiri mereka. Tanpa basa-basi lagi ia memeluk Thea yang masih berada di dekat pintu masuk.
"Thea! Aku kangen banget sama kamu, kangen, kangen, kangen!" ucap Aida berteriak dan memeluk erat Thea yang terlihat datar dengan kedatangannya.
"Eh, ini apaan si maen peluk-peluk aja, lepasin!" Galang langsung menyerobot dan melepaskan pelukan Aida pada Thea.
"Kenapa? Aku kangen sama sahabat aku, emangnya salah?" gerutu Aida.
"Jelas salah lah, Thea itu istri gue. Dan gak ada yang boleh meluk dia kecuali gue!" timpal Galang.
Aida semakin merengut kesal. "Lebay!"
Galang berdecak malas, apalagi setelah ia lihat Pangeran dan Wingky juga datang ke rumah beramai-ramai.
"Hei, hei, sudahlah. Kenapa kalian berdua selalu saja berdebat jika bertemu? Aku bosan mendengarnya." Pangeran dengan logat bahasa bakunya yang masih khas menempel.
"Sama! Ge juga bosen liat kodok sama anggota teletubies mulu setiap hari!" sindir Galang pada mereka yang masih berdiri.
Ia benar-benar jadi kesal karena mereka bertiga terus saja datang, meskipun tujuan mereka sudah jelas tapi ia risih dengan apa yang dilakukan Wingky jika sudah berada didekat Thea. Jelas sekali pemuda itu ingin mengambil kesempatan dari situasi ini.
"Ck, berenti manggil dia kodok!" Aida sedikit mencubit lengan Galang.
"Bodo, lagian kalian bertiga tuh dateng-dateng ucap salam dulu ke, maen masuk-masuk aja."
"Asalamualaikum," sambar Aida cepat.
"Wa'alaikumsalam, telat!"
Setelah berucap, Galang kembali mendorong kursi roda Thea menuju ruang tamu, karena mendadak ada tamu tak diundang datang ke rumahnya.
"The, lo tunggu dulu di sini bentar, ya. Gue mau panggil Bibi dulu buat nyiapin minuman," ucap Galang pada Thea setelah mempersilahkan ketiga tamunya duduk.
Thea tak menjawab.
Lagi-lagi Galang harus menghela napas karena sedih melihat raut wajah Thea tak menunjukkan ekspresi apapun.
Setelah Galang pergi meninggalkan mereka, Aida langsung menghampiri Thea dan duduk di sebelahnya.
Wajah sahabatnya itu masih tampak pucat dan layu, apalagi sekarang ia juga sudah menjadi yatim piatu.
"Thea, kamu bicara dong. Sekali aja, bilang apa yang kamu rasain sekarang. Kita dateng ke sini buat kamu kok. Kita mau ngurangin kesedihan kamu, dan aku sedih kalo kamu kaya gini terus," ucap Aida pelan dan memegang pundak Thea.
Thea diam.
"Mungkin, apa kita harus membawanya ke tempat yang tenang? Sepertinya itu bagus untuknya," ucap Pangeran.
"Maksud kamu?" tanya Aida.
"Maksudnya, kita bawa dia ke villa-ku yang ada di Bogor. Di sana tempatnya nyaman dan asri, Thea pasti mendapat ketenangan," ucap Wingky menambahkan.
Wajah Aida menjadi cerah, itu bagaikan ide terbaik yang mungkin bisa mengurangi kesedihan sahabatnya ini.
"Wah, itu ide bagus! Ya udah, kita bereng-bareng aja ke sana. Iya kan, The? Kamu mau kan ikut sama kita ke villa?" tanya Aida pada Thea.
"Gak boleh!" jawab Galang cepat setelah ia kembali lagi dari dapur.
__ADS_1
"Kenapa? Ini kan demi pemulihannya Thea tau."
"Ck, justru demi pemulihannya dia gue gak ijinin. Tar kalo dia cape di jalan, atau dia drop lagi di sana, siapa yang makin sakit? Lo bertiga? Mendingan dia di rumah, istirahat. Itu baru bener," ucap Galang panjang lebar.
Thea tampak datar tak memberi respon.
"Lalu, bagaimana jika tak ada perubahan padanya? Apa kau tak ingin mencoba sedikit usaha ini?" tanya Pangeran.
Galang terdiam dan melihat ke arah Thea.
"The, ayolah. Kamu mau, kan? Kalo kamu setuju, besok lusa kita akan ke sini buat jemput kamu. Supaya aku sama kamu bisa satu mobil dan kita bisa satu kamar! Aaaa, itu pasti sangat menyenangkan. Kita akan mengobrol sampai puas dan berjalan-jalan," ucap Aida dengan nada memelas dan bersemangat.
"Eh, eh, eh. Apa maksud lo tidur sekamar? Enggak! Enak aja, dia gak boleh tidur sama siapapun kecuali sama gue!" ucap Galang menyerobot. Matanya melotot pada Aida karena ia semakin kesal.
Pangeran mendehem, sedang Wingky mengalihkan pandanganya.
"Ck, possesive banget si jadi orang! Jadi gimana? Boleh apa enggak?" tanya Aida lagi.
Galang melihat lagi ke arah Thea, apa mungkin sebaiknya ia menerima ajakan mereka? Melihat Thea yang seperti ini, nyatanya membuat ia merasa kehilangan.
Kehilangan sosoknya yang selalu marah dan selalu ingin berkuasa padanya. Apalagi tendangan kuat wanita itu juga hilang terbawa kediamannya ini.
"Apa lo mau pergi?" tanya Galang pelan setelah ia bertekuk lutut lagi di hadapan Thea demi bicara dengannya.
Thea masih diam.
"Kalo emang itu bisa ngebuat lo seneng, kita pergi."
Galang dan yang lainnya menunggu jawaban.
Sampai pada akhirnya Thea sedikit mengangguk pelan mengiyakan ajakan mereka.
Galang tersenyum manis dan menggenggam erat tangan Thea. "Baiklah, kita bakal pergi," ucap Galang.
Ia berharap, hal yang akan mereka lakukan ini bisa menghibur Thea meskipun hanya sedikit. Setidaknya, membuat Thea kebali bisa bicara seperti biasa itu sudah lebih dari cukup untuk waktu dekat. Ia yakin, lama kelamaan Thea pasti akan kembali seperti semula.
Apapun akan ia lakukan untuk Thea.
Untuk istrinya dan demi kebahagiaan istrinya.
***
Semenjak mereka pulang ke rumah.
Seharian ini Galang terlihat agak sibuk dengan pekerjaanya. Bukan pekerjaan 'normal' yang ia lakukan. Tapi terdengar sedikit tidak normal bagi seorang laki-laki. Yah, apalagi jika bukan pekerjaan rumah. Membersihkan kamar, melipat baju, mengepel lantai kamar, dan lain-lainnya yang sering dilakukan Thea. Karena Thea paling tidak suka kamarnya dibersihkan orang lain, bukan tak menghargai pekerjaan Bi Esti, tapi mungkin karena ingin melakukan tugasnya sebagai seorang istri yang baik.
Saat melipat bajupun ia tak mengerti hingga melipatnya asal dan memasukannya ke dalam lemari.
"Hahhhhh! Akhirnya selesai juga!" Galang mengempas tubuhnya ke atas sofa di ruang keluarga setelah ia selesai merapihkan kamar sebelum mereka tidur.
Sekarang, sudah pukul delapan malam lebih dan Thea juga berada disebelahnya karena ia berkata bosan di dalam kamar. Wajar saja, karena Thea sudah cukup lama tak keluar rumah semenjak ia sakit.
"The, gila ya. Padahal cuma kamar doang, tapi ko bisa pegel-pegel gini si badan gue. Apalagi Bibi sama elo yang beresin rumah segede gini, huft! Gak kebayang gue gimana rasanya," ucap Galang sedikit menggeliat disamping Thea, berharap istrinya itu akan memberi respon dan sekedar bertanya.
Thea diam.
Galang merengut.
Ia lihat tatapan Thea memang ke arah tv, tapi apa yang Thea lihat? Tv nya saja bahkan terlalu banyak semut alias runyek. Jelas sekali bahwa fikiran Thea tak berada di sini sekarang.
"Lo liatin apaan si The? Tv rusak gini lo liatin, mending liatin gue nyanyi, mau nggak?" tanya Galang seraya melihat ke arah Thea dengan cengiran lebar dan tengil.
Thea diam.
Tanpa mendapat persetujuan Thea, Galang pun beranjak dari duduknya dan berdiri dihadapan Thea menghalangi pandanganya dari arah tv.
"Lo mau gue nyanyi apa? Sayang? Goyang dombret? Goyang kerawang, pacitan, magelang? Atau? Oh, iya lagu yang sekarang itu tuh The! Yang, syantikkkkk. Syantikkkkk," ucap Galang bertubi-tubi seraya menirukan joget Sibad.
Thea diam.
Galang tak putus asa, Ia pun memutar otak lagi, lagi dan lagi.
"Hoh! Lo tau lagu anak korea gak? Yang tiga ekor beruang? Waktu gue SD, sodara gue sering banget ngajakin gue nonton film korea. Ck, kenapa gue malah jadi inget sama lagu itu ya? Padahal, gue bukan penggila drakor? Ah, pokonya lo harus dengerin gue nyanyi. Liat ya, liat. Ekhm! Ekhm!"
Galang terlihat mengoceh sendiri, mencoba mengajak bicara Thea atau apapun yang bisa mengalihkan perhatiannya.
Thea masih diam.
Sedangkan Galang kini mulai bersiap, ia mengambil ancang-ancang untuk bernyanyi.
"Ekhmmmm! Ekhm! KOM SEMA-RI-GA HAN CHI-BE-YI-SO! APPA GOM! OMMA GOM! AE-GI GOM!"
Galang mulai bernyanyi dengan suara sangat keras, suara cemprengnya bahkan terdengar menyakitkan menusuk telinga. Tak lupa juga ia berjoget menggerakan bokongnya kekanan dan kekiri dengan full ekspresi.
Mata Thea mulai terangkat ke atas memperhatikan tingkah konyol Galang. Tapi ia masih diam.
__ADS_1
"APPA GOMMUN TUNG TUNG? TUNG ... TUNG? apaya?" Galang malah bertanya pada Thea karena ia lupa liriknya.
Thea sedikit tersenyum.
"Hoh, gue inget! APPA GOMMUN TUNG TUNG TUNG TUNG HE!"
Galang mulai gila, ia semakin berteriak dan semakin menggeolkan bokongnya keberbagai arah.
Thea mulai terkekeh kecil.
Galang makin beraksi gila. "OMMA GOMMUN NAAAA NAAAAA HE! E-GI GOMMUN NA BUL AUOO AIOUUOOO! OOOOOOHHH KE'SEEEEL! KE'SEEEEL! GUE GAK APAL, BAAAA!"
Galang mengakhiri lagunya dengan menirukan gaya cherrybelle nan imut-imut. Mengangkat satu kakinya kebelakang dan menempelkan dua telunjuk di kedua pipinya. Mengarahkan wajahnya sedekat mungkin dengan wajah Thea.
"Hei, sedang apa kamu?" ucap seseorang yang baru datang.
Galang mati gaya.
KRIKKK!
KRIKKK!
KRIKKK!
Suara jangrik lewat saat ia lihat ayahnya tengah berdiri dan melihatnya dengan posisi nungging disertai gaya cherrybelle-nya yang masih belum ia turunkan.
"Huahahahaha!" Thea tertawa terbahak-bahak, melihat ekspresi Galang yang kaku karena kepergok bertingkah konyol seperti perempuan.
Pak Yahya terkekeh dan menggelengkan kepalanya.
"Hehehe, aku lagi belajar jadi foto model, Pah. Siapa tau aja masih laku," ucap Galang dengan cepat menurunkan kakinya. Ia menggaruk belakang kepalanya padahal sama sekali tak gatal. Ini benar-benar garing dan memalukan!
Tapi ia buru-buru menghampiri Thea karena melihatnya masih tertawa sejak tadi. Sedangkan Pak Yahya yang baru pulang bekerja pun sudah berjalan menuju kamarnya lagi.
"Hah? Lo ketawa? Berarti lo suka dong sama lagunya? Lagi ya?" tanya Galang.
"Jangan," jawab Thea dengan masih tertawa.
"Lagi?"
"Jangan, itu konyol banget. Kamu beneran keliatan kaya orang gila," ucap Thea.
"Eh, gak papa gila, yang penting lo ketawa. Lagi? Lagi? Lagi?"
"Jangan, ih. Apaan, si."
"Nah! Gitu dong, lo ketawa gini. Kan asik, hidup itu kayanya perlu belajar dari bulu ketek, meskipun selalu kejepit! Tapi dia tetep kuat! Tumbuh subur dan semakin banyak, hmhh!" ucap Galang dengan ekspresi lebay.
"Hah?" Thea sedikit melongo.
"Huahahaha, ih. Kamu jorok! Minggir sanah! Jangan deketin aku! ih!" ucap Thea seraya menjauhkan tubuh Galang disampingnya.
"Eh, kenapa? Emang gue salah ngomong, ya? Perasaan omongan gue gak salah deh, kenapa gue diusir?" tanya Galang dengan terkekeh juga.
Ia terus memperhatikan wajah Thea yang tengah tertawa di hadapannya. Bahagia, itulah yang ia rasakan. Bisa melihat Thea tertawa lagi, adalah satu hal yang harus ia lakukan lagi, lagi dan lagi.
Tawa Thea mulai berkurang, ia mengusap ujung matanya yang berair akibat terlalu banyak tertawa.
"Apa lo ngantuk? Gue anter ke kamar yah?" tanya Galang.
Thea hanya tersenyum dan mengangguk pelan.
Karena sudah mendapatkan jawaban, Galang pun lalu berjongkok membelakangi Thea memberikan punggung nya di hadapan istrinya itu.
"Kamu mau ngapain?" tanya Thea.
"Gendong lo, gue anterin ke kamar."
Thea tersenyum manis dibelakang. "Ck! Aku bisa jalan sendiri, minggir!" ucap Thea seraya beranjak dari duduknya.
"The. Gue tuh khawatir sama lo. Entar kalo lo naek tangga terus kecapean sampe sesak napas lo kumat lagi, gimana?"
"Ih ... lebay banget, sih. Aku bukan orang lemah tau!"
Galang berdecak malas. "Oh, jadi lo mau gue gendong cewe lain aja? Oke!"
GREPP!
Tanpa basa-basi lagi Thea memburu punggung itu dan melingkarkan tangannya di leher Galang.
Thea langsung diam.
Galang tersenyum manis dan berdiri dengan membawa Thea di punggungnya. Berjalan menuju kamar, menaiki anak tangga. Tanpa merasakan berat sama sekali.
"Dasar, masih aja gengsi sama suami sendiri," ucapnya kemudian.
__ADS_1
Thea tak menjawab atau berkata apapun. Ia hanya mengeratkan pelukanya pada Galang.