
Thea kini memegang sebuah gawai di tangannya. Ia berkali-kali menghela napas saat menghidupkan gawai ini. Mencoba menguatkan dirinya lagi, bahwa keputusan yang akan ia ambil adalah cara yang terbaik untuk semuanya.
"Thea?"
Thea diam beberapa saat.
"Akhirnya kau menelpon juga, bagaimana? Apa kau sudah mengambil keputusan?" tanya orang itu lagi.
"Iya, Ky," jawabnya sangat pelan.
Suara seorang pemuda dari balik telpon itu pun terdengar terkekeh kecil setelah mendengar jawabannya.
"Lalu?"
"Aku akan menuruti permintaanmu, tapi dengan dua syarat," ucap Thea.
"Apa itu?"
"Setelah kau mencabut tuntutanmu, ijinkan aku menemaninya hingga ia keluar dari rumah sakit, setelah itu aku akan pulang bersamanya dulu. Aku ingin mengambil barang-barangku dari rumahnya."
"Apa itu harus? Kau akan mendapatkan segalanya denganku, tinggalkan saja barang-barangmu itu."
"Harus, Ky. Jika kau tak menuruti syaratku, aku akan menghilang selamanya. Dan kau takan pernah bisa menemuiku lagi," ucap Thea.
"Apa kau sedang mengancamku?"
"Tidak, ini serius, Ky."
Terjadi keheningan beberapa saat, sampai akhirnya Wingky bersuara lagi di telpon.
"Baiklah, aku terima syaratmu. Tapi, hanya sampai dia keluar dari rumah sakit. Aku akan menjemputmu hari itu juga. Jika tidak, kupastikan dia akan mati."
Thea diam tak menjawab.
Dan Ia pun langsung mematikan telponnya.
***
Hubungan Galang dan Bi Esti kini mulai merenggang, Galang tak pernah bicara ataupun menyapanya lagi. Ia selalu menghindar setiap kali Bi Esti memberikan perhatian terhadapnya. Sikapnya yang begitu berubah drastis dan menjadi dingin membuat Thea tak tau apa yang harus ia lakukan. Apa yang terjadi di antara merekapun ia tak tahu. Baik Galang ataupun Bi Esti, mereka berdua tak ada yang ingin bercerita. Lagi-lagi ia harus berada di posisi seperti ini. Sebuah posisi dimana ia tak tau menau tentang masalah keluarga suaminya.
Wingky pun sudah menepati janjinya, yaitu mencabut tuntutannya pada Galang. Ia tak henti mengubungi Thea untuk menagih janji, agar Thea bisa meninggalkan Galang sesuai kesepakatan mereka.
Namun, Thea masih ingin mengulur waktu, seperti apa yang direncanakan. Memang tak mudah menangani orang seperti Wingky. Ia harus hati-hati, dan menjalankan apa yang sudah diniatkan dari awal.
Dan hari ini, tepat di hari sabtu setelah hari kebelakang yang cukup rumit itu. Galang masih terlihat diam, ia yang sudah diperbolehkan pulang oleh dokter pun sedang bersiap mengenakan jaketnya.
"Thea, Papa ingin bicara dengan Galang. Bisa?" tanya Pak Yahya yang baru masuk ke dalam ruangan.
Thea yang menemani Galang pun melihat lagi ke arah suaminya, Galang tak menoleh dengan kedatangan Pak Yahya ini. Ia bersikap tak acuh, bahkan kepada ayahnya sendiri.
"Iya, Pah," jawab Thea seraya perlahan melangkah meninggalkan mereka berdua diruangan.
Setelah berada di luar, Thea menutup pintu. Ia tak pergi ke mana-mana lagi. Berdiri di depan pintu. Sebenarnya ia sangat penasaran dengan apa yang akan mereka berdua bicarakan. Dalam hatinya terus mengganjal sebuah pertanyaan 'apa yang terjadi?'
Ia pun menengok ke sana ke mari. Bi Esti tak ada di sini.
"Lang, apa harus kamu bersikap begini pada Bi Esti?"
Terdengar suara Pak Yahya memulai pembicaraan.
Thea mendekatkan tubuhnya ke pintu.
"Kenapa? Kalian menganggap apa yang aku lakukan ini salah, tapi kalian membenarkan apa yang kalian lakukan padaku, apa itu adil?" Suara Galang terdengar pelan. Namun, tak mengurangi kemarahannya pada Pak Yahya.
"Lang, Papa bukannya gak ingin kamu tau. Tapi Papa sama Bi Esti sudah menyetujui semua kesepakatan sebelum Papa membawamu pulang 13 tahun lalu, Papa ...."
"Apa? Papa mau bilang, kalau ibuku sendiri tak menginginkan keberadaanku? Kalau orang yang selama ini mengasuhku ternyata adalah ibu angkatku? Kalian berdua bersandiwara, membodohiku dengan segala kenyataan yang ada."
Thea mengeratkan pegangan tangannya di gagang pintu. Perkataan Galang barusan. Apa artinya, dia adalah anak dari Bi Esti?
"Kalau saja aku tau ini dari awal, aku ga akan pernah jadi kayak seorang pengemis dihadapan Mama. Aku bodoh, selalu ingin diakui oleh Mama. Padahal aku memiliki seorang ibu yang berada didekatku."
"Dengarkan Papa dulu, Esti melakukan itu karena ada alasannya. Dan kamu pun sudah Papa beritau yang sebenarnya sejak awal kedatanganmu ...."
"Cukup, Pah. Semua alasan itu omong kosong. Dan lagi, tentang operasi itu--"
Thea lebih mendekatkan tubuhnya kepintu. Galang terdengar sangat keberatan saat mengatakan tentang operasinya.
"Aku gak akan pernah melakukannya."
Mata Thea membulat tak percaya, bagaimana mungkin Galang bisa mengatakan hal itu. Padahal operasi itu sangat penting baginya.
Klek!
Pintu tiba-tiba saja dibuka dari dalam.
Thea terperanjat kaget, karena ia lihat ternyata Galang yang membuka pintunya. Wajahnya masih terlihat agak marah dan kusut.
Dan Galang juga langsung menarik tangannya cepat saat Pak Yahya berusaha menahan kepergiannya tanpa ada kata lagi.
Galang begitu erat menarik tangannya menjauhi Pak Yahya. Sampai pada akhirnya langkah mereka terhenti saat Bi Esti berada di arah yang berlawanan menghampiri mereka berdua.
"Aden, aden sudah siap? Ayo Bibi bantu."
"Gak perlu, aku bisa sendiri."
Thea lagi-lagi menoleh ke arah Galang. Ia benar-benar terlihat datar pada Bi Esti. Tak seperti biasanya selalu manis dan sangat dekat. Sepertinya, kekecewaan Galang pada Pak Yahya dan Bi Esti sudah sangat besar. Hingga membuatnya bersikap seperti ini.
Bi Esti juga langsung terdiam.
Hingga Galang menarik tangan Thea lagi meninggalkan rumah sakit itu dengan tanpa menggunakan mobil Pak Yahya.
Ia lebih memilih menggunakan angkutan umum daripada harus bersama mereka.
Saat mereka sudah berada di dalam sebuah bis menuju Jakarta. Galang masih terlihat diam. Tatapannya kosong keluar kaca jendela.
Thea berdeham.
Mencoba membuyarkan lamunan Galang.
Namun, Galang tak merespon dan masih menatap keluar kaca jendela. Thea merengut, karena sejak tadi ia didiamkan.
"Apa kamu lapar? Aku punya roti, mau?"
Galang diam.
Thea kembali memasukan rotinya ke dalam tas, ia berdecak malas dan menyandarkan tubuhnya dengan sedikit merengut. Ini benar-benar sangat menyebalkan saat Galang bersikap seperti ini.
Saat Thea hendak mencari cara lain untuk menghibur Galang. Ia merasakan ponsel dalam tasnya bergetar.
Satu buah pesan.
Dan tertera jelas nama pengirimnya adalah Wingky saat Thea melihat ponselnya.
Thea menghela napas yang terasa sesak saat melihat nama itu lagi dimatanya, ia melihat ke arah Galang. Pemuda itu masih dengan kediamannya. Ia pun membuka isi pesannya diam-diam tanpa sepengetahuan Galang.
"Hari ini, akan kutagih janjimu padaku, Thea."
Begitulah kira-kira isi pesannya.
Thea memejamkan kedua matanya, mencoba menenangkan dirinya setenang mungkin yang ia bisa.
"Enggak, aku gak boleh ragu. Ini demi Galang, aku harus siap menerima apapun resikonya." gumam Thea dalam hati.
***
Setelah sampai di rumah, mereka berdua masuk ke dalam dengan masih membawa kemelut dalam hati mereka yang belum juga bisa terhapus.
Rumah ini masih tampak sepi, sepertinya Bi Esti dan Pak Yahya belum datang. Thea pun membantu Galang kekamar dan membereskan tempat tidur untuknya beristirahat.
Setelah apa yang Galang lakukan selama ini, kali ini ia harus lebih dari apa yang dilakukan Galang untuknya.
"The, tunggu." Galang tiba-tiba menahan langkahnya yang hendak mengambil minuman hangat ke dapur.
"Kenapa?" tanya The. Ia melihat Galang sepertinya tengah memikirkan sesuatu, ia yang berbaring ditempat tidur itupun terlihat diam untuk beberapa saat setelah menahan langkahnya.
"Lo gak akan ninggalin gue, kan?" tanya Galang dengan suara pelan dan masih memegang lengan Thea.
"Ngh? Itu ... aku."
__ADS_1
"Janji sama gue, lo gak bakal ninggalin gue, The," ucap Galang lagi seraya mengeratkan pegangan tangannya.
Thea masih belum menjawab dalam waktu beberapa detik.
"Pokonya, lo lakuin apa yang diminta sama Papa. Lo gak boleh ke mana-mana, keluar rumahpun lo harus ditemenin. Sampe kita punya cukup bukti buat bikin semuanya jelas. Kalo gue gak bersalah, dan ini semua cuma fitnah. Papa akan menjamin keselamatan elo, dan gue juga bakal ngejagain lo apapun yang terjadi."
Thea menunduk dan mengangguk pelan.
Ia mengeratkan pegangan tangannya pada Galang, usulan dari Pak Yahya memang sudah ia ikuti sampai sejauh ini, yaitu memutus kontak dengan Wingky setelah pencabutan tuntutan mendadak olehnya. Tapi ia tahu persis sifat Wingky.
Wingky yang ia kenal, akan selalu berusaha mendapatkan apapun yang ia inginkan. Apalagi, sudah sangat jelas kemarin ia sampai memfitnah Galang dengan cara itu. Ia sangat yakin, Wingky pasti akan melakukan hal nekat lagi lebih daripada itu jika ia tak menuruti permintaannya.
"Tapi, Lang. Aku ingin tanya sesuatu sama kamu."
"Apa itu?"
"Kenapa kamu gak mau di operasi?"
"Apa lo nguping omongan gue sama Papa?"
Thea diam saat Galang bertanya kembali padanya.
"Gue gak pengen semuanya diulang dari awal lagi, itulah alasannya."
Thea mengernyitkan kening tak mengerti. "Maksud kamu?"
Galang pun mencoba untuk duduk dan menghadap seluruhnya ke arah Thea.
Thea pun terus menatapi suaminya yang masih sedikit pucat itu. Mencoba mencari jawaban tentang apa yang membuatnya penasaran ini.
"Kadang, gue ngerasa kalo kehidupan itu mainin gue. Tapi, disatu sisi, gue masih percaya kalau Allah gak akan ngasih ujian melebihi kemampuan manusia."
Galang terdiam sejenak sebelum ia melanjutkan kata-katanya. "Apa lo tau, dikepala itu terdapat memori yang nyimpen ingatan dari apa yang udah kita lewatin selama ini."
Thea diam.
"Gue gak pengen memori itu hilang, The."
Thea masih diam mendengarkan, wajah sayu sumaninya itu nampak semakin berat saat berkata. Ia paham. Karena beban masalah yang dipikul Galang di rumah ini begitu sulit dan berat.
"Resiko yang akan gue dapet. Bahkan yang paling buruk, gue bakal ...."
"Enggak, tolong jangan terusin kata-kata kamu," ucap Thea yang menahan ucapan Galang dengan sentuhan lembut dipipinya.
Ia menatap dalam-dalam sepasang mata sayu dihadapannya. Tak ingin terlewat satu detikpun. Ia tak berkedip.
Galang tersenyum manis.
"Seperti yang sering kamu ucapkan, semuanya akan baik-baik aja. Aku percaya. Dan aku akan selalu percaya sama kamu, bahwa kamu akan kuat dalam keadaan apapun. Kamu harus bertahan dengan ataupun tanpa ingatan di masa lalu. Karena orang-orang yang sayang sama kamu, pasti akan berusaha menemani kamu, sampai kebahagiaan itu datang."
Galang masih tersenyum saat ia perlahan mengangkat tangannya membalas usapan lembut Thea dipipinya.
"Apa itu termasuk elo?" tanya Galang balik.
Thea hanya mengangguk pelan dan tersenyum menjawab pertanyaan Galang padanya.
"Baiklah, gue bakal lakuin apapun. Asal ada lo disamping gue, The," ucap Galang seraya menarik wajah istrinya itu kehadapan wajahnya sedekat mungkin.
Thea terdiam saat Galang memberikan satu kecupan dalam di keningnya. Ia pun masih bertahan menunaikan kewajibannya sebagai istri bagi Galang untuk hari ini.
Sungguh, ia pasti akan menjadi seseorang yang paling buruk yang pernah ada diingatan Galang.
Hatinya bagai tersayat berkali-kali. Ini sangat perih saat ia harus mengambil keputusan terberat dalam hidupnya.
***
Malam pun datang menyelimuti sebagian belahan dunia, tanpa bisa terulang kebelakang suara detik jarum jam terus melaju dengan beraturan. Mengingatkan bahwa apa yang sudah berlalu, tak mungkin bisa terulang kembali.
Tepat pukul setengah sepuluh malam, dingin dari AC yang mulai menusuk kulit tipisnya, Galang mulai terusik dari tidur.
Ia merentangkan tangannya kesamping, hendak meraih tubuh hangat istrinya. Tak ada.
"The?" Ia mulai memanggil nama itu pelan.
Tak ada jawaban.
Ia terbangun dan duduk, dengan masih samar. Ia menatap ke kamar mandi. Pintunya tampak terbuka sedikit, menandakan bahwa tak ada orang di dalamnya.
Ia pun turun dari tempat tidur, dan melangkah keluar kamar. Dengan masih merasakan kantuk karena efek obat yang ia minum, ia berjalan menuruni anak tangga. Entah apa yang ia mimpikan tadi, dan ia tiba-tiba terbangun mendadak, yang jelas sekarang ia merasa tenggorokannya begitu kering. Ia juga berharap akan menemui Thea di dapur jika ada.
"Den, Galang?"
Galang terdiam, melangkah terus ke dapur tanpa menjawab sapaan Bi Esti padanya. Bi Esti pun mengikuti langkahnya, seolah tak ingin menyia-nyiakan waktu saat melihat kedatangannya ini.
"Biar Bibi buatin teh hangat saja ya, Aden tunggu dulu sebentar," ucap Bi Esti menahan gerak tangan Galang yang sudah memegang sebuah teko.
Galang masih diam. Saat Bi Esti membuat satu cangkir teh untuknya. Ia melihat ke sekeliling, Thea tak berada di sini.
ke mana ia pergi? Ingin sekali rasanya ia bertanya pada Bi Esti. Tapi ia tak mungkin lupa tentang kebohongan Bi Esti padanya selama ini.
"Ini teh nya, Den ...," ucapan Bi Esti tiba-tiba saja terpotong saat hendak menyodorkan teh yang sudah selesai ia buat karena orang yang berada didekatnya tadi kini sudah menghilang.
Bi Esti menghela napas, meletakan kembali cangkir itu di atas meja dengan lesu.
Galang. Sampai kapan ia akan mendiaminya seperti ini?
***
Galang melangkah ke setiap sudut rumah, ia penasaran kenapa ia tak melihat Thea si mana pun.
Perasaannya mulai tak enak, padahal Thea terlihat baik-baik saja seharian ini.
Ia terus memanggil-manggil nama istrinya. Namun, tetap tak ada jawaban dari wanita itu. Di mana dia?
Sampai ia kembali lagi kekamar, ia tak mendapatkan istrinya ada di sini. Ia memeriksa keseluruh lemari pakaian.
Semuanya masih ada, semua baju Thea masih ada di sini.
Tapi dimana dia?
Hingga tak berapa lama kemudian, ia mendengar dering ponsel berbunyi nyaring di atas meja.
Ia pun segera berlari mengambilnya. Sebuah pesan yang berasal dari ponselnya.
"Jangan cari aku. Karena mulai saat ini, aku akan pergi dari hidup kamu, Lang. Aku ingin kita bercerai, karena selama ini aku tidak pernah mencintaimu. Mulai saat ini, kita jalani hidup masing-masing. Berbahagialah tanpa adanya aku."
Itulah pesan yang ia dapat dari sebuah nama diponselnya.
'Istriku'
"Thea? Enggak! Ini gak mungkin!"
Galang mulai mempercepat langkah, karena hatinya mulai semakin cemas dan gusar tak menentu. Ia pun berjalan menuju ruang tamu dan hendak mencari Thea di luar rumah.
Siapa tahu Thea hanya sedang mencari udara segar diluar. Ia berharap begitu. Berusaha tak percaya dengan isi pesannya. Ia yakin Thea takkan meninggalkannya dalam keadaan seperti ini.
Tidak.
Dia tak boleh meninggalkannya. Jika memang Thea pergi, ia pasti akan mencarinya saat ini juga hingga dapat. Ia yakin Thea mencintainya juga.
Pikiran Galang mulai kacau.
Klek!
Pintu rumah ia buka.
Ia mematung di tempat saat melihat seorang wanita tengah berdiri di hadapannya dengan tatapan benci penuh amarah.
Plak!
Sebuah tamparan sangat keras menghantam pipi Galang oleh wanita yang ternyata adalah Bu Rini.
Galang makin terdiam, ia tak memegangi pipinya yang terasa kesemutan karena tamparan Bu Rini padanya. Rasa sakit di pipinya, ini tak seberapa jika dibandingkan rasa sakit di hatinya sekarang.
"Masih berani kamu pulang ke rumah ini? Apa belum cukup masalah yang kamu buat untukku, hah?"
Galang menunduk, Bu Rini pasti sudah mengetahui masalahnya saat ini. Kemarahan wanita itu terlihat begitu besar padanya. Napas yang tak beraturan dan suara yang sedikit bergetar itupun semakin menandakan bahwa Bu Rini akan meluapkan seluruh emosinya.
"Dasar pembawa masalah!" Bu Rini mendorong-dorong tubuh ringkih itu kebelakang, saat Galang tak mengambil sikap apa pun. Ia semakin meluapkan kekesalannya.
__ADS_1
"Kenapa kamu harus datang ke rumah ini! Kenapa kamu harus ada di hidupku! Aku menyesal telah menerima kamu, dasar anak pembawa sial!" bentaknya lagi dengan satu dorongan keras yang membuat Galang terjatuh ke lantai.
Galang masih diam dengan perlakuan ibunya, isakan tangis dan luapan amarahnya. Ia akan terima apapun itu, karena ia tahu pasti sudah sangat mengecewakannya.
Bahkan saat ini Bu Rini terus saja mencaci makinya tiada henti.
"Astagfirullahal adzim, hentikan, Nyonya! Ada apa ini?" ucap Bi Esti yang tiba-tiba datang seraya menyingkirkan tangan Bu Rini yang terus memukuli Galang.
"Kamu seharusnya tidak pernah ada! Pasti hidupku takan hancur berantakan seperti ini! Gara-gara kamu! Semua gara-gara kamu!" bentak Bu Rini lagi dengan keras serta isakan yang ikut menjadi.
Bi Esti pun membawa Galang ke dalam pelukannya, menghalangi perlakuan kasar Bu Rini yang semakin menjadi-jadi itu.
"Gara-gara kamu kontrak pekerjaanku batal! Karena masalah kamu, aku dipermalukan orang-orang! Dasar anak pembawa sial! Pembunuh! Harusnya kau mati saja dari dunia ini!"
Bu Rini terus saja mencari celah untuk memukuli Galang dari pelukan Bi Esti. Ia berteriak, mencaci dan terus meluapkan emosinya. Hingga Pak Yahya yang baru datang pun sangat kaget dengan keributan yang terjadi di rumahnya ini.
"Rini! Kenapa kau seperti ini? Hentikan, Rin!" ucap Pak Yahya seraya menjauhkan Bu Rini dari tubuh Galang.
Galang pun masih bertahan dengan kediamannya. Sejenak ia lupa. Bahwa ia sedang mencari Thea. Ia lihat dua orang wanita sedang menangis karenanya. Ia tak ingin berkata. Sebab kemarahan Bu Rini sangat beralasan.
"Jangan hentikan aku lagi, Mas! Ini sudah keterlaluan! Dia sudah berani mencoreng nama baikku! Dia sudah melemparkan kotoran ke wajahku!"
"Rin, redakan sedikit emosi kamu, saya bisa menjelaskan semuanya tentang masalah itu. Kamu sudah salah faham. Galang tak bersalah dari masalahnya."
"Tidak! Aku tidak ingin mendengarkan penjelasan apapun lagi darimu, Mas!" ucap Bu Rini dengan keras.
Ia pun kembali menghampiri Galang yang masih berada dilantai bersama Bi Esti dengan tatapan penuh kebencian.
"Dasar pembunuh! Kau memang pantas dipenjara karena kesalahanmu! Kau sudah membunuh suamiku! Kau hancurkan hidupku! Gara-gara kamu aku kehilangan suami! Dan sekarang kamu memberi masalah yang sama! Apa belum cukup kau membuat masalah, hah? Bunuh saja aku sekalian agar kamu puas!"
Bu Rini terus berkata. "Kau tak pantas menyandang nama belakang suamiku! Kau tak pantas memakai nama anakku! Nama itu terlalu berharga untuk kau pakai, dasar pembunuh!"
Lagi-lagi kata-kata itu terucap oleh Bu Rini.
Tatapan Galang mulai kosong, Bi Esti semakin mengeratkan pelukannya. Pak Yahya pun masih terus memisahkan Bu Rini dari Galang.
"Esti, cepat bawa Galang masuk kekamar!" perintah Pak Yahya yang tengah memegangi Bu Rini.
Namun, beberapa saat kemudian, Galang mulai bergerak. Ia melepaskan pelukan Bi Esti padanya perlahan.
Ia berdiri tepat dihadapan Bu Rini dengan masih menundukkan kepalanya. Ia belum berkata apa-apa. Sampai pada akhirnya, ia memerosotkan lagi tubuhnya ke lantai dengan lutut sebagai topangan tubuhnya.
Bi Esti semakin terisak menangis saat melihat Galang bertekuk lutut di hadapan Bu Rini.
Pak Yahya diam. Bu Rini pun masih dengan tatapan kebenciannya.
"Maafin aku, Ma."
Terdengar sangat pelan suara Galang saat bicara.
"Maaf karena aku gak bisa menjadi seperti apa yang mama harapkan. Aku gak bisa menjadi anak yang seperti Mama inginkan. Maaf karena aku selalu saja membuat Mama menderita semenjak kedatanganku. Maaf, aku benar-benar minta maaf sama Mama,"
"Maaf? Apa hanya itu saja yang bisa kamu lakukan, hah? Itu saja belum cukup untuk menebus semua kesalahanmu padaku!"
"Kalau memang ada hal yang bisa membuat Mama memaafkanku, aku akan lakukan. Apapun itu, asal Mama bisa sedikit menerimaku sebagai anak. Meskipun hanya sedikit dan hanya sekali. Aku akan melakukan permintaan Mama padaku," ucap Galang pelan.
"Apa kau benar akan melakukan apa yang kuminta?"
"Iya, apapun itu. Saat aku melakukan apa yang Mama minta, aku gak akan minta apa-apa lagi selain bisa mendengar Mama menerimaku dalam kehidupan Mama. Meskipun hanya sedikit dan sekejap mata. Aku hanya ingin Mama mengakuiku."
"Baiklah, akan kukatakan sebuah permintaan dan saat itu juga akan kuakui kau sebagai anak."
Galang, Pak Yahya dan Bi Esti menunggu beberapa saat ingin mendengarkan apa yang akan dikatakan Bu Rini. Semoga saja ia benar akan melakukan apa yang ia ucapkan itu.
"Matilah ... itu adalah penebusan dosamu karena telah membunuh suamiku, baru aku akan memaafkanmu seumur hidup," ucap Bu Rini pelan dan bernada datar.
TEG!
Kecuali Galang, mata Pak Yahya dan Bi Esti terbulat sempurna saat mendengar ucapan Bu Rini barusan.
Bi Esti pun segera berhambur memburu tubuh ringkih Galang yang masih bertekuk lutut di lantai.
"Astagfirullahal adzim, Tidak! Jangan dengarkan itu! Jangan! Tutup telinga dan mata kamu, Nak. Jangan dengarkan apapun. Jangan dengarkan apa kata Nyonya," ucap Bi Esti seraya menutup kedua telinga Galang dengan tangannya. Isakan tangisnya semakin pecah saat ia melihat ekspresi kosong Galang saat ini.
"Ini sudah keterlaluan! Kenapa Nyonya bicara seperti itu? Galang adalah anak kandungmu! Dia adalah anak kandungmu! Teganya Nyonya menyuruh dia mati!" ucap Bi Esti dengan nada marah pada Bu Rini.
"Bukan! Dia bukan anakku! Anakku sudah meninggal! Lagipula, apa urusanmu dengan keluargaku? Kau hanyalah pembantu di rumah ini, aku bisa kapanpun memecatmu Esti!" timpal Bu Rini dengan keras.
"Rin! Jangan keterlaluan! Sudah, hentikan pertengkaran ini. Esti, cepat bawa Galang masuk ke kamar. Sekarang!" ucap Pak Yahya yang sedari tadi melerai pertengkaran diantara mereka.
Keadaan semakin kacau, kemarahan, emosi, tangisan kesedihan. Semua seolah sudah tumpah ruah malam ini.
Galang pun semakin diam.
"Tidak, Tuan. Sudah saya putuskan, mulai saat ini saya akan mengambil kembali Galang bersama saya," ucap Bi Esti dengan tatapan penuh keseriusan pada Pak Yahya.
"Silahkan saja! Ambilah dia! Singkirkan dia jauh-jauh dari kehidupanku! Bila perlu, jangan bawa dia kembali ke rumah ini lagi!" potong Bu Rini menyela perkataan Pak Yahya yang hampir berkata.
Galang memejamkan kedua mata. Perih, ini sangat perih ia rasakan. Saat ia mendengar dengan jelas di hadapannya, Bu Rini dengan lantang menolak keras kehadirannya di rumah ini.
Tidak.
Bu Rini sudah menolak keras dirinya dalam hidupnya.
"Baik, jika dia memang tak diinginkan oleh ibu kandungnya, saya akan membawanya pergi dari sini, saya akan membuat dia melupakan semua tentang anda!"
"Esti, tolong jangan mengambil keputusan seperti itu. Bagaimana bisa kau melupakan janjimu pada Puguh. Galang adalah anak kandung mereka, kau tak bisa mengambil keputusan sepihak itu Esti," ucap Pak Yahya.
Bi Esti terus menangis, ia kini berada disamping Galang lagi dan menatapi tatapan kosong seorang pemuda di hadapannya.
"Saya bisa melakukannya. Karena saya masih ibunya sampai saat ini, sejak bayi saya yang mengasuhnya, saya yang memberikan asi untuknya, bahkan sampai detik ini, saya terus bersamanya. Menjaganya sebagaimana seorang ibu. Saya membawanya ke sini karena Pak Puguh mengatakan kalau wanita ini hampir gila setelah kehilangan anak! Tapi, apa yang didapat Galang di sini? Hanya penderitaan."
Dalam tangis, Bi Esti mengarahkan pandangan kosong Galang kearahnya. Membuat hal yang diinginkan Galang selama ini terwujud dan takan menjadi harapan lagi.
"Selama ini, saya sudah bersalah karena saya sudah membiarkan dia menderita. Jika dia dianggap tak berharga oleh ibu kandungnya, tapi saya menganggapnya sebagai berkah. Berkah dari Allah karena sudah membuatnya ada di dunia. Dan hari ini, saya akan menghentikan penderitaannya. Saya akan membuatnya merasakan kehangatan kasih sayang seorang ibu. Saya akan melakukan apapun demi kebahagiaannya. Saya ...," ucapan Bi Esti tersendat karena isakan tangisnya sendiri saat ia melihat Galang mulai balas menatap matanya dengan tatapan sendu.
Ia pun langsung menarik tubuh ringkih itu ke dalam pelukannya dengan hangat.
"Ibu akan membawamu pulang ke rumah, Nak. Kita akan memulai hidup baru, dan kamu akan menggunakan nama yang ibu berikan padamu. Juno, anak ibu," ucap Bi Esti seraya mengusap lembut rambut Galang di pelukannya.
***
Galang dan Bi Esti sudah mengemasi barang-barang mereka dalam tas. Perkataan Bi Esti semalam, sepertinya Galang sudah memutuskan untuk pergi dari rumah sesuai permintaannya.
Bu Rini menatap datar pada langkah mereka yang hendak keluar dari dalam rumahnya. Ia menyempatkan waktu hanya demi melihat kepergian mereka. Kepergian mereka adalah keinginan terbesar dalam hidupnya.
Sesaat kemudian, ia melihat Galang meletakkan tas di depan pintu keluar. Wajahnya terlihat begitu sendu. Namun, ia tak menangis. Pemuda itu kini malah berjalan ke arahnya dan berdiri dihadapannya.
"Aku sudah putuskan ikut sama ibu, kalo emang Mama gak mau melihatku lagi," ucap Galang.
"Lang, tolong dengarkan Papa. Sekali ini saja, jangan memutuskan sesuatu dengan cepat tanpa berlikir panjang. Mamamu bicara begitu karena dia sedang emosi, kau tak perlu meninggalkan rumah ini," cegah Pak Yahya yang masih mencoba menahan keputusan yang diambil Galang.
"Enggak, Pah. Aku ... udah nyerah, aku gak mau nyusahin Mama lagi. Aku cuma ngasih masalah, dan aku akan pergi dari kehidupan Mama sejauh yang aku bisa."
Bu Rini kini semakin melihat ke arah Galang. Ia belum berkata hingga Galang memutuskan untuk pergi dari rumah ini. Dan Pak Yahya juga tengah mencoba membujuknya agar Galang mengurungkan niatnya untuk pergi.
"Tapi sebelum itu, apa boleh aku meluk Mama? Sekali aja," ucap Galang kemudian dengan pelan dan menatap ke arah Bu Rini.
"Tidak! Sampai kapanpun, aku tak ingin kau menyentuhku!" Tapi tanpa kata lagi dan tanpa persetujuan darinya, Galang dengan cepat memeluk begitu erat.
"Lepaskan aku! Aku tak sudi disentuh oleh pembunuh sepertimu! Lepas!" ucap Bu Rini seraya mencoba melepaskan pelukan Galang. Namun, Galang malah semakin erat memeluknya.
"Ini adalah harapan terakhirku, sebelum aku pergi ...."
Terdengar sayup suara Galang didekat telinganya. Bahkan ketika ia masih mencoba melepaskan pelukan Galang. Pemuda ini masih terus berkata.
"Aku sayang sama Mama, aku begitu menyayangi Mama di seluruh kehidupanku. Makasih karena Mama sudah berusaha menjaga dan melahirkanku ke dunia ini. Aku bersyukur udah dipertemukan dengan Mama lagi. Meskipun Mama gak pernah melihatku, tapi aku bahagia. Aku sangat bahagia."
Bu Rini tiba-tiba terdiam dari usahanya melepaskan pelukan Galang.
Perasaan ini, kenapa orang yang begitu ia benci ini malah berterima kasih padanya? Dan lagi, apa anak ini tengah menangis? Bahkan suaranya terdengar seperti berbisik saat berkata. Apa ia sudah begitu melukainya? Kenapa sekarang ia malah merasa bersalah? Tidak. Perasaanya begitu sakit. Padahal harusnya ia merasa bahagia karena anak ini akan pergi dari kehidupannya.
"Di kehidupan berikutnya. Aku berharap jadi anak Mama lagi."
Sesaat kemudian, Galang melepaskan pelukannya. Dan Bu Rini pun malah menatapi dengan heran sikapnya ini. Galang terlihat semakin menundukkan kepala. Bu Rini terpaku saat Galang mencium tangannya sebagai tanda perpisahan mereka.
Berat dan sangat perih
Kenapa hatinya malah sepeti ini, sekali lagi Bu Rini mencoba menepiskan segala perasaannya
__ADS_1