
Bu Rini terlihat tak tenang di pagi hari, ia yang sudah bersiap dengan pakaiannya tampak berjalan ke sana ke mari tak menentu. Ia gelisah saat menunggu suaminya yang menghubungi beberapa kenalannya agar menemukan keberadaan Galang. Ia sudah tak sabar ingin bertemu dengan anaknya itu. Ia tak sabar ingin memeluknya dan ingin meminta maaf atas sikapnya selama ini terhadap Galang.
"Bagaimana, Mas?" tanyanya.
"Tunggu kabar sebentar lagi, Rin," jawab Pak Yahya seraya memencet kembali tombol panggil di gawainya.
"Mas, tolong cepat. Aku sudah tak sabar ingin bertemu dengannya," ucap Bu Rini tak sabar.
Beberapa saat kemudian, Pak Yahya tersenyum kearah Bu Rini setelah ia menelpon anak buahnya.
"Bagaimana?" tanya Bu Rini dengan masih penasaran.
"Galang ada di Jakarta, Rin. Katanya, dia akan berkunjung ke rumah temannya."
Bu Rini tersenyum lebar, perasaan bahagia menyelimuti hatinya saat ini. Kedua telapak tangannya menyatu dan saling menggenggam, sungguh. Ia begitu tak sabar menunggu kedatangan anaknya.
***
Meskipun agak terlambat, Thea yang sudah sampai di rumah Pangeran dan Aida pun mengikuti acara syukuran yang diadakan kedua sahabatnya itu. Dan semenjak datang ke sini, matanya sudah seperti stereo mencari seseorang yang sudah sangat ia tunggu kedatangannya. Apakah Galang datang? Apa ia akan bertemu dengannya? Seperti apa lelaki itu saat ini?
Terakhir kali ia melihat lelaki itu enam tahun lalu saat ia kebetulan melewati rumah Pak Yahya pukul sebelas malam. Yang sampai saat ini, itu selalu menjadi mimpi buruk, karena Galang tiba-tiba menghilang tak ada kabar lagi.
Ia sangat penasaran dan ingin mengetahui peristiwa apa yang menimpa Galang hingga ia meninggalkan rumah orang tuanya.
Tapi saat itu, waktunya sangat terbatas karena tempat tinggalnya juga pindah ke Makassar. Jarak memisahkan mereka, tapi hatinya benar-benar tak bisa mengenyahkan lelaki itu dalam pikirannya.
Bahkan sampai acara hampir selesai, ia tak melihat kedatangan Galang.
"Hei, sudahlah. Jangan terus memajukan mulutmu seperti itu, tampangmu sudah cukup jelek," ucap Pangeran.
"Hah?" Thea menoleh karena kaget, bahkan ia tak menyadari kedatangan Pangeran di sebelahnya.
Pangeran terkekeh kecil melihat tampangnya yang masih menganga.
"Ck. Apaan sih." celetuknya pada Pangeran.
Lagi-lagi Pangeran terkekeh kecil. Namun, ia masih juga menatap kedepan melihat ke arah kerumunan orang-orang yang mulai meninggalkan rumah ini.
"Dia sepertinya tak datang," ucap Pangeran.
Thea terdiam dan menghela napas pendek. Memang terasa sesak saat ia merasa kecewa tak bisa bertemu dengan lelaki itu hari ini.
"Sudahlah, apa tak lebih baik kau move on saja? Ini sudah terlalu lama. Dan Galang juga mungkin sudah jadi milik orang lain saat ini," ucap Pangeran lagi.
Thea mengernyitkan kening dan menoleh kearah Pangeran.
"Kamu itu peramal, ya?"
"Maksudmu?"
"Kamu ko selalu bisa baca pikiran aku? Baru aja sedetik tadi aku mikirin itu. Kamu udah ngomong duluan," ucapnya seraya mengambil sebuah gelas berisikan air minum di atas meja tempat mereka berdiri.
"Bukan, tapi memang wajahmu terlalu ngenes untuk dilihat. Itu sangat jelas kalau kau memang gagal move on," ucap Pangeran bernada meledek dengan gaya bicaranya yang kaku.
Thea merengut.
"Emh! Iya terus! Terus aja kamu ledekin, gagal move on! Jomblo ngenest! Ketuaan! Keluarin lagi semua ledekan kamu, ish ...!" Thea benar-benar marah. Tapi pangeran malah semakin tertawa.
Thea mendengkus kesal, ia meletakkan gelasnya lagi setelah meneguk habis isinya.
"Aku kayaknya gak lama deh, Ran. Masih ada urusan soalnya, aku mau ke tempat Aida dulu, ya," ucap Thea dan disambut anggukan kecil Pangeran.
"Ok--"
__ADS_1
"Ih, kamu mau pulang? Jangan dong. Nginep di sini ya ... please." Tiba-tiba Aida datang menahan langkah Thea.
"Maaf, Ai. Tapi aku lagi ada urusan penting."
"Urusan apa sih? Sampe lupa sama hari bahagia sahabat sendiri. Padahal kamu udah jarang banget ke Jakarta." Aida memasang wajah paling mengerikan bagi Thea, ia bertingkah seperti anak kecil padahal ia sudah punya anak sekarang.
"Tapi, Ai--"
"Aden, maaf. Di luar ada yang mencari Den Pangeran sama Non Aida," ucap asistant rumah tangga Aida. Membuat ketiga orang di hadapannya menoleh.
"Siapa, Bi?" tanya Aida.
"Bibi tidak tahu. Tapi orang itu sudah menunggu di ruang tamu."
Pangeran dan Aida mengernyit. Mereka berdua pun menuju ruang tamu dan tangan Aida lekat menggandeng lengan Thea agar wanita itu tidak kabur ke mana pun. Bayi yang baru ia lahirkan sekitar empat puluh hari itu pun sekarang masih lelap di kedua tangan ibu mertuanya.
Setelah mereka sampai di ruang tamu. Alangkah terkejutnya Thea melihat pemandangan di hadapannya. Langkah Thea melambat, ia tak lagi berontak kasar memaksa ingin pulang seperti tadi.
Pandangannya tertunduk dan hanya menatap ke bawah, tak berani membalas tatapan heran dari kedua orang yang sudah lama sekali tak ditemuinya.
"Maaf. Om dan Tante ini siapa? Temannya mamaku, ya?" tanya Aida dengan polosnya. Ia heran, ada dua orang tua paruh baya yang sepertinya seumuran dengan orang tuanya. Tapi ia dan Pangeran belum pernah melihat mereka.
"Bukan."
"Thea ... kamu? Kamu Thea, kan? Menantuku?"
Pertanyaan dari seorang wanita membuat Thea kian tertunduk lemas. Perasaannya tak karuan, apalagi melihat tatapan lelaki di sebelahnya yang begitu mengisyaratkan kebencian.
"Dia sudah bukan lagi menantu kita, Rin," kata Pak Yahya begitu jujurnya seraya menatap Thea yang masih tertunduk.
"Mas ... please. Aku cukup bahagia melihatnya," kata Bu Rini. Ia pun menghampiri Thea dan dipeluknya tubuh wanita itu sesaat. "Thea, Mama bersyukur masih bisa bertemu denganmu. Dan Mama juga tidak menyangka akan bertemu denganmu di sini."
Kantung mata Thea mulai basah oleh air mata yang ingin merembes dari sana. Mendapat sentuhan hangat dari orang yang tak pernah ia sangka sama sekali.
Ini bagai mimpi di tengah hari bolong. Wanita yang selama ini ia kenal begitu kasar dan ketus memperlakukannya dengan baik?
"Oh ... jadi. Om sama Tante orang tuanya Galang?" tanya Aida.
"Ya. Dan kedatangan kami ke sini, untuk menanyakan langsung apakah Galang ada atau tidak di sini. Karena istriku ingin bertemu dengannya," jawab Pak Yahya.
Pangeran, Aida dan Thea saling bertemu pandang, mereka tak dapat menjawab pertanyaan itu dalam sesaat. Mengingat saat ini mereka pun tengah menunggu salah satu sahabat mereka itu.
"Sudah enam tahun ini dia pergi dari rumah. Dan saya mendapat informasi kalau Galang akan datang ke sini. Apa itu benar?" tanya Pak Yahya.
"Ya. Itu memang benar, Om. Tapi sejujurnya, Galang juga belum datang. Dan aku tidak bisa menjamin dia akan datang. Karena ...." Pangeran menggantung kalimatnya. Ia menatapi satu persatu wajah cemas diliputi kerinduan itu sejenak.
"Karena apa? A-apa terjadi sesuatu dengannya? Katakan pada Tante ... please. Tante ingin sekali bertemu dengannya."
Thea hanya mampu menatap nanar wanita paruh baya itu. Pikirannya melintas jauh pada keinginan Galang tempo dulu. Di mana harapan kecil Galang adalah saat Bu Rini memanggil namanya dan mengakuinya sebagai anak.
Dan sekarang, ia lihat dengan jelas Bu Rini tengah menahan tangis karena tak dapat melihat Galang di sini. Jika saja Galang tahu semua ini, apa ia akan senang?
"Ga-Galang?"
Ucapan spontan dari mulut Aida membuat orang di sekitarnya tersentak. Mereka semua menoleh ke tempat di mana Aida memusatkan pandangannya.
Iris mata Thea menyipit, diterkanya lagi ciptaan Allah yang semakin jauh lebih sempurna lagi jika dibandingkan terakhir kali melihatnya. Kemeja putih polos yang sedikit basah bagian atasnya membuat lekuk tubuh atletis itu semakin menonjol.
Itu benar Galang. Ia ada di sini dan membuat degup jantungnya berkali lipat seolah akan berhenti kapan saja. Bulir-bulir air mata dengan sekejap menumpuk dan menghalangi jarak pandangnya. Thea berusaha sekeras mungkin tak menangis.
"Bibi! Tolong bawakan handuk kecil, cepetan!" perintah Aida pada asiatant rumah tangganya kerena melihat tamunya dalam keadaan setengah basah kuyup.
"Tidak perlu. Ini tak terlalu basah, terima kasih." Lelaki itu mengampiri mereka, dan kedatangannya pun disambut hangat oleh Pangeran. "Maaf. Sepertinya aku datang terlambat," ujarnya lagi seraya menjabat tangan Pangeran.
__ADS_1
"Jangan khawatirkan itu. Kukira kau tak datang hari ini. Kebetulan ada yang ingin bertemu denganmu. Mari ...."
Pangeran pun mengajaknya menghampiri yang lainnya di sofa ruang tamu.
Bu Rini seolah terkesima melihat keadaan lelaki dengan usia matang di hadapan mereka ini. Ia bagai melihat kloningan suaminya pada diri lelaki itu sehingga tak perlu ia ragukan lagi kebenaran mengenai siapa anak kandungnya.
"Galang, anakku ...." Bu Rini mengulurkan tangan ingin meraih tubuh lelaki itu. Tapi hal tersebut tak tercapai karena ia malah mundur selangkah menghindarinya.
"Tunggu ... kau memanggilku apa?" Lelaki itu mengernyit ketika pertanyaan dari mulutnya membuat Bu Rini terpaku beberapa saat.
"Galang, anakku." Bu Rini berucap lirih dengan linangan air matanya yang tak bisa tertahan lagi. Apalagi melihat respon yang ia dapat tak sesuai harapan.
"Lang. Orang tua kamu dateng ke sini buat ketemu sama kamu, di sini juga udah ada Thea--"
"Anak?" Galang mengernyit.
"Tolong duduklah dulu. Biarkan salah satu dari kami menjelaskan semuanya padamu, agar kau tidak salah paham," ucap Pangeran menengahi.
Pandangan Thea tak pernah teralih barang satu detik, ia terus menatap Galang sampai lelaki itu duduk di sofa di seberang meja kaca yang jadi pembatas antara mereka.
Lelaki itu menyisir rambut basahnya ke belakang, terasa jelas Galang yang dulu petakilan, semaunya sendiri juga keras kepala itu semua menghilang saat ini. Yang ada, aura gelap dan dingin yang menyelimutinya.
Ada apa? Apa ia sudah tak mengingat kami? Atau Galang memang tak mau mengingat masalalu kami? Thea membatin. Bahkan Galang tak menatapnya sama sekali saat ini.
"Katakanlah. Waktuku tidak banyak," ucap Galang.
"Galang ... ini Mama. Mama dan Papa sengaja datang ke sini untuk mencari kamu. Dan akhirnya kita bisa bertemu di sini, Mama sungguh bahagia, Sayang. Mama juga mau minta maaf atas perlakuan--"
"Tunggu. Mama?" Galang berdesis seraya memijat pelipisnya pelan. Sekali lagi ia lihat wanita paruh baya itu. "Kenapa anda terus berkata begitu? Maaf, sepertinya anda salah orang. Aku bukan anakmu."
Rentetan kalimat itu seakan menghujam dada Bu Rini menggunakan belati. Sungguh perih, bahkan air matanya telah jatuh semakin banyak melihat ekspresi dingin Galang padanya.
"Tidak! Kau anakku, tolong jangan hukum Mama seperti ini, Nak. Mama minta maaf, Mama mengaku salah karena dulu tak pernah mengakui keberadaanmu. Sekarang Mama sudah tahu kebenarannya, Mama harap kamu bisa memafkan Mama dan ikut pulang ke rumah," ucap Bu Rini.
"Lang. Udahlah, kamu jangan pura-pura lupa sama orang tua sendiri. Kasian tau, papa kamu juga udah nyari kamu selama enam tahun ini. Dan kamu juga gak mungkin lupa gitu aja kan sama mereka? Kita? Apalagi sama Thea, kamu gak mungkin lupa cinta kamu ini." Aida menambahkan kata seraya memegang kedua bahu Thea.
Pandangan Galang dan Thea pun akhirnya bertemu, cukup lama. Semakin lama Thea menatap iris mata tajam itu, semakin pedih perasaanya. Rasa besalah yang begitu besar kian menekan dada membuat napasnya sesak.
Galang kehilangan kesabaran. Ia pun beranjak dari sofa dan meraih jas hitamnya. "Sudah cukup. Aku datang ke sini karena undangan kalian, bukan untuk mendengarkan penjelasan yang tidak masuk di akal."
Semua orang ikut berdiri. Jantung Thea semakin berdegup cepat, Bu Rini menghampiri Galang lagi dan sekarang berdiri tepat di hadapan anak semata wayangnya itu.
"Please ... please. Mama minta maaf. Bukankah dulu kau bilang ingin Mama mengakuimu. Sekarang itu sudah terwujud, Sayang. Mama janji hal itu tidak akan terulang lagi. Mama akan memberi kasih sayang penuh padamu," ucap Bu Rini. Sekali lagi ia meraih lengan Galang "Mama akan memasak makanan kesukaan kamu setiap hari, membangunkan tidur saat kamu kesiangan, atau mendengar keluh kesahmu. Kita akan lakukan semuanya seperti yang kamu minta ke mama dulu. Please, Galang. Ikut Mama pulang, ya."
Tak ada reaksi apapun dari Galang. Ia membiarkan wanita itu bicara dan menumpahkan perasaannya.
"Tolong beri kesempatan pada mamamu, Nak. Kali ini mamamu telah bicara jujur," kata Pak Yahya.
Masih tak ada reaksi yang ditunjukkan Galang. Sebelum akhirnya tangan itu melepas pegangan Bu Rini perlahan dengan tatapan sendu.
"Maaf ... aku tidak mengenalmu. Sepertinya anda wanita baik-baik, tapi perlu anda ingat. Aku bukan anakmu. Ibuku sudah memberikan apa yang kumau selama ini. Tidak ada yang lain. Sekarang mungkin saja ibuku sedang menunggu di rumah, dan aku tidak ingin mengecewakannya. Jadi aku akan pulang ke rumahku."
Bu Rini merasakan seolah kedua telapak kakinya tak bertenaga lagi untuk menopang tubuh. Melihat jelas Galang melewatinya begitu saja setelah mengucapkan kalimat bagai karma dari perbuatannya dulu pada Galang.
"Satu lagi." Galang menghentikan langkahnya tepat di hadapan Thea. Melihat wanita berambut cokelat gelap itu menangis tanpa suara sejak tadi. "Kita juga tidak saling mengenal. Bukankah begitu, Nona?"
Hati kecil Thea bergemuruh hebat menatapi punggung nan kokoh milik Galang yang semakin menjauh dari pandangan setelah berpamitan. Sesaat kemudian, tak terasa langkahnya membawa tubuh berlari mengejar Galang yang telah memasuki mobil hitam mengilat dan hendak pergi.
"Tidak! Galang!" Thea mengerang frustrasi, Galang tak mendengar dan telah menghidupkan mesin mobilnya pergi dari sana.
Thea secepat kilat masuk ke mobilnya sendiri dan mengejar Galang di depan. Air matanya tak henti mengalir sejak tadi, padahal ia harusnya senang. Galang tak mengingatnya, itu berarti akan mudah bagi mereka saling melupakan.
Tapi kenapa hal ini justru melukai hatinya lebih dalam?
__ADS_1